Istri Muda Miliarder Tampan

Istri Muda Miliarder Tampan
IMMT Eps 95


__ADS_3

Dariel masih sibuk dengan berkas dimeja kerjanya ketika sebuah ketukan pintu terdengar dari arah luar.


"Masuk!"


Jonathan menggeser handle pintu begitu izin didapatnya. Dengan langkah ragu-ragu ia masuk kedalam ruangan luas yang didominasi warna abu-abu itu.


"Ehem!" Dariel melirik sedikit begitu didengarnya suara berdehem itu dekat sekali.


"Ternyata kau,.. Tumben sekali mengetuk pintu?" Dariel kembali fokus pada kertas ditangannya. Jonathan tersenyum miring. Merasa sahabatnya itu tak kunjung menyampaikan maksudnya, Dariel menoleh lagi setelah memutuskan menutup sebentar map penting yang barusan diperiksanya.


"Ada apa Joe?ada sesuatu yang ingin kau sampaikan? Apa itu yang kau bawa?" menunjuk dengan dagu sebuah amplop coklat digenggaman Jonathan.


"Kau sedang sibuk, sebaiknya nanti saja kita bicarakan." jawab Jonathan ragu. Tiba-tiba perasaan menyesal menyerangnya. Harusnya ia tidak gegabah memberitahu Dariel. Tapi sudah kepalang basah.


"Tidak masalah, katakan saja sekarang jika ada yang mengganggumu, aku ingin cepat pulang dan bertemu istriku."


Nampak Jonathan menarik napas.


"Baiklah, ini..." Jonathan meletakkan amplop coklat itu diatas meja dan langsung disambar Dariel. "Seseorang mengirim itu, disitu tertera untuk CEO ING GROUP. Berarti kau."

__ADS_1


"Apa ini? Siapa yang mengirimnya?" tanya Dariel sambil membuka jalinan benang yang mengunci penutup amplop. Jonathan menggeleng.


"Aku juga tidak tau, belum kuperiksa detail siapa pengirim sebenarnya, Kurir mengirimnya tadi pagi pada satpam yang bertugas dan mereka memberikan itu padaku untuk disampaikan padamu. Tapi, kusarankan kalau suasana hatimu buruk jangan membukanya dulu." Dariel Lee mengerutkan dahi mendengar pernyataan itu.


"Kau pikir untuk alasan apa suasana hatiku tidak bagus? kau meragukan Rea kah? Aku bahkan merasa malas meninggalkan rumah sekarang," Tanpa pikir panjang Dariel membukanya. Mata indahnya yang tadi menatap teduh membulat begitu melihat amplop yang berisi beberapa foto Andrea dengan seorang pria.


"Istrimu sepertinya mengenal Damian." komentar Jonathan datar setelah memastikan Dariel melihat jelas isi amplop itu, ia sadar Dariel cukup terkejut, tadinya ia juga demikian. "Aku sudah melakukan pengecekan lokasi, sepertinya mereka bertemu bukan dinegara ini, kemungkinan besar saat Andrea di Paris beberapa waktu lalu." tambah Jonathan.


"Tapi, bagaimana bisa mereka saling kenal? mereka punya hubungan?! Bagaimana aku bisa tidak tau ini semua?!" Amuk Dariel.


"Tenanglah, jangan menaruh curiga dahulu, mungkin saja mereka memang sudah berhubungan sebelum mengenalmu, maksudku, hubungan pertemanan. Yaaa, bisa saja karena Andrea juga merasa tidak penting untuk membicarakan siapa saja temannya kepadamu,kan?"


"Periksa siapa orang yang mengirim ini. Dia mengirimnya kepadaku tentu untuk suatu tujuan tertentu,bukan? Cari dia." Geram Dariel. Jonathan mengangguk.


"Dimana Andrea?" tanyanya begitu mereka tersambung.


"Nyonya masuk kesebuah pusat perbelanjaan, Tuan. Sepertinya mencari pakaian untuk bayi." Dariel memutuskan panggilan sepihak setelah mendengar jawaban ajudan yang ditugaskannya untuk menjaga Andrea dari jarak jauh. Beralih mencari nomor Istrinya. Setelah lama menunggu akhirnya Andrea menerima panggilan video darinya.


"Selamat siang Ayah.." Senyum sumringah diwajah Andrea malah menambah gusar dihati Dariel, Andrea menggendong anak mereka dengan satu tangan dan tangan lainnya memegang ponsel untuk diarahkan kemereka. "Sayang, lihat Ayah. Itu Ayah jelekmu, lihat?" Canda Andrea. David kecil nampak memperhatikan arah yang dimaksud Ibunya. Dariel tersenyum tipis.

__ADS_1


"Kau sedang tidak sibuk? Ada apa meneleponku?"


"Tiba-tiba ingin melihat wajahmu. Kau sedang apa?"


"Kami sedang mencari pakaian baru untuk anak kita." jelas Andrea.


"Kau sendirian? Harusnya bilang padaku kalau ingin keluar, aku bisa menemanimu. Atau paling tidak kau membawa Dira untuk menemanimu. Jangan sendirian." Andrea mengangguk dan mengalihkan kameranya kepada Dira yang nampak berdiri beberapa meter darinya. Gadis itu nampak menunggu dengan sabar sambil mengemban beberapa tas belanjaan.


"Aku tau, jangan mengomeliku sayang. Simpan tenagamu itu untuk bekerja, jangan sampai kelelahan, Tadinya aku ingin ditemani Mama, tapi tiba-tiba temannya menelepon dan Mama menyuruh Dira yang menemaniku. Sengaja tidak bilang, takut kau sibuk dan terganggu,."


"Kau bukan pengganggu, lagipula aku tidak akan marah meskipun kau memang sengaja mengganggu." Dariel menyela cepat. Membuat Andrea tertawa kecil.


"Iya, gombal saja terus! sudah yaa, kami akan mencari makanan dan kembali kerumah setelah ini, cepat pulang Ayah, kami merindukanmu. Umuah!" Panggilan diputus sebelum Dariel sempat berkata-kata. Sudut-sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. Bahkan untuk beberapa saat tangannya masih terangkat seperti saat video call tadi, masih terasa bayangan wajah dan senyum Andrea menghiasi layar pipih itu. Senyum yang selama ini begitu menawan dimatanya bahkan sampai hari ini, tapi benarkah semuanya, termasuk senyumnya yang Andrea berikan kepadanya adalah tulus? Dariel tiba-tiba merasa ragu sendiri. Hubungan apa yang dimiliki Andrea dengan Damian? Berapa lama mereka berhubungan? Apa saja yang sudah mereka lakukan saat ia tak ada disisi Andrea? Pertanyaan-pertanyaan sejenis itu mengecoh pikiran jernihnya. Tapi benar yang dikatakan Jonathan barusan, tidak seharusnya ia langsung mencurigai Andrea apalagi sampai memarahinya sebelum memastikan kebenaran semua foto-foto itu. Tapi bahkan otaknya tanpa bisa dicegah seolah sudah merangkai situasi terburuk yang bisa terjadi menyadari ada keakraban yang tercetak disana. Meski hatinya masih juga menguatkan bahwa Andrea mencintainya sama seperti ia mencintai wanita itu.


"Ada apa?" tanya Dariel tak sabar begitu melihat laju mobil mengendur. Ia sudah diperjalanan pulang sekarang, beberapa waktu yang lewat terasa menyiksa karena ia harus bertahan diperusahaan sementara pikirannya sedang tak ditempat. Dariel memutuskan untuk pulang setelah dirasa keberadaannya tidak diperlukan lagi.


"Sepertinya ada kemacetan, Tuan. Sebentar akan saya cek." jawab supir sambil melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil meninggalkan Dariel yang nampak menahan kesal, dihempaskannya punggungnya kesandaran kursi penumpang itu, kemudian menggerakkan tangannya memijit kepalanya yg terasa pening karena beban pikiran yang barusan menimpanya. Supir yang tadi keluar nampak sudah kembali. Duduk ditempatnya dan menghadapkan tubuhnya condong kearah Dariel dengan posisi kepala menunduk.


"Maaf, Tuan. Ada kecelakaan didepan. Sebentar lagi polisi akan bergerak untuk mengatur lalu lintas kembali normal." Dariel mengangguk sekilas menanggapi. Kemudian membuang pandangan kearah luar jendela. Tepat disebrang jalan sana berdiri sebuah restoran seafood yang nampak ramai pengunjung bahkan saat hari masih sore begini, karena memang selain cita rasanya menakjubkan tempatnya juga nyaman dan berkelas. Dariel terkenang istrinya yang sangat suka makan seafood saat hamil, tiba-tiba ia merasa ingin membelikan Andrea beberapa hidangan dari sana.

__ADS_1


"Aku akan membeli makanan dahulu, kita kerestoran itu."


Dariel melangkah pasti. Disaat pikirannya masih kalut belum mendapatkan kebenaran, dan seolah takdir sedang mengujinya, Dariel dipaksa harus melihat semua yang tidak ingin ia lihat, bahkan dalam mimpinya pun ia tak pernah inginkan semua ini. Kebetulan yang sangat tidak diharapkannya. Tanpa sempat memesan, Dariel membawa kembali dirinya keluar. Menghubungi seseorang.


__ADS_2