
"Papa, aku ingin udang yang besar lagi!" suara bocah yang duduk tak jauh dari Andrea mengalihkan perhatian wanita itu.
"Kau sudah menghabiskan semuanya, eits, jangan mengambil milik adikmu," Seorang pria berusia sekitar 30 tahun nampak menahan tangan sibocah laki-laki yang sudah memegang garpu hendak menancapkannya kemakanan milik anak perempuan disampingnya.
"Kakak rakus, berhenti menjajah milikku," protes si adik sambil menjauhkan piringnya.
"Kau pelit, Ibu, lihat, kau mengajarkan kita harus sering berbagi,bukan? lihat betapa pelitnya dia, dia tidak begitu suka udang tapi pelit kepadaku."
"Akan kupesankan lagi untukmu, jangan bertengkar."
Andrea tersenyum lembut menyaksikan itu, masih menunggu makanan yang ia pesan tiba ketika dari arah belakang sebuah suara membuatnya menoleh.
"Aku baru sampai dan langsung menemukanmu, mungkinkah berjodoh?" Senyum lembut itu sungguh Andrea sangat mengenalinya.
"Damian? Kau disini?" Seraut wajah tampan dengan lesung pipi menggoda itu nampak mengulas senyum.
"Syukurlah aku masih dikenali, hehe."
"Cih, siapa juga yang melupakanmu, dasar konyol!"
"Oh ya? Meskipun sudah menikah dan menjadi Ibu satu anak rupanya kau masih belum bisa move on dari mantan pacarmu? Kabar baru untukku, kemarin saat diparis kau tidak mau mengakuinya." Andrea tertawa kecil.
"Leluconmu tidak lucu."
"Boleh aku bergabung? Apa kau sendiri?"
"Aku bersama asisten rumah kami. Dia sedang ketoilet tiba-tiba mulas katanya.." Damian mengangguk menanggapi, pandangannya jatuh pada seonggok tubuh mungil nan gembul digendongan Andrea.
"Dia malah tidur saat aku datang." ucap Damian menatap wajah damai yang terlelap itu. Andrea mengangguk pelan.
"Tertidur saat kubawa kemari.."
"Tanganmu pasti pegal, kenapa tidak menggunakan troller? Biar aku carikan untukmu." Damian sudah hendak bangkit dari duduknya ketika suara Andrea menyela cepat.
"Tidak perlu, Dam. Suamiku sudah menyediakan segalanya dirumah, aku memang ingin menggendongnya saja supaya lebih mendalami peranku sebagai Ibu, hehe.."
"Baiklah, anakmu cukup gemuk, dia pasti kuat sekali menyusu, apakah dia laki-laki? aku merasa wajahnya mirip seseorang, tapi aku lupa siapa." Damian nampak berpikir.
"Heemm, mirip Ayahnya. Sangat. Aku terkadang iri, kenapa aku yang mengandung dan melahirkan malah dia lebih memihak Ayahnya. Harusnya anak Laki-laki lebih spesifik ke Ibunya, kan?" Damian manggut.
__ADS_1
"Kebanyakan anak laki-laki memanglah milik Ibunya tapi tidak menutup kemungkinan juga sebagian memihak Ayah mereka." Damian nampak sendu ketika berucap.
"Apa yang membawamu pulang? Tidak di Paris lagi?" pertanyaan Andrea memecah jejak kesuraman yang sempat tercipta diwajah Damian tadi.
"Ah, itu.. Aku ada sedikit pekerjaan disini. Aku akan kembali ke Amerika setelah urusanku selesai." Melihat Andrea hanya memberikan senyumnya sebagai respon, Damian melanjutkan bicara. "Rea, aku merasa sepertinya hubunganmu dan suamimu baik-baik saja? Kau mengatakan padaku kalian akan bercerai tapi kau kembali padanya, bahkan meninggalkan Paris secara tiba-tiba. Kau juga mengganti nomor ponselmu, aku sempat cemas karena kehilanganmu." Andrea menipiskan bibir.
"Dia ingin kami meneruskan pernikahan, dia menjemputku ke Paris dimalam yang sama saat kita melihat kembang api. Maaf karena membuatmu cemas karena menghilang tiba-tiba, tapi, tau darimana aku kembali kesini?"
"Feeling." Damian memainkan sebelah matanya menggoda, menutupi kekecewaannya atas jawaban Andrea.
"Bercanda saja terus!"
"Dulu kita suka bercanda, kau bahkan juga suka menggodaku kalau aku sedang marah.." Andrea tersenyum, dalam benaknya membenarkan.
"Kalau diingat-ingat lagi kisah kita tidak begitu buruk, harusnya tidak jadi masalah besar kalau kita mengulang bagian yang manis-manisnya kan?"
"Aish, kau ini," meninju pelan baju Damian. "..mana bisa seperti itu, aku sudah punya suami dan anak, tidak bisa sering bertemu teman, mereka adalah prioritasku saat ini."
"Apakah kau benar-benar mencintai suamimu?"
"Kenapa bertanya begitu. Kalau tidak cinta aku tidak akan ada disini sekarang."
"Benar-benar penasaran siapa pria beruntung yang sudah mencampakkanmu tapi kau masih menerimanya. Apa aku ini sudah sangat terlambat ya untuk menarikmu kembali?"
"Kenapa kalian tidak pergi bersama?"
"Dia sedang ada pekerjaan,"
"Apakah dia seorang pengusaha?" Andrea mengangguk. "Wah, sepertinya lain waktu aku akan menemuinya, siapa tau kami bisa melakukan kerjasama yang menguntungkan. Apa nama perusahaan suamimu?"
"Namanya,"
"Permisi, Nyonya, tuan, makanannya.." Andrea tak jadi melanjutkan kata-katanya begitu beberapa pelayan menengahi mereka. Membiarkan mereka menghidang dengan gerakan elegan dan sopan.
Sementara itu didalam toilet Dira masih sibuk dengan perutnya.
"Aish, aku ini kenapa... Sepertinya aku salah minum obat, perutku malah semakin mulas." ujar Dira dengan suara lemah memegangi perutnya sambil bersandar diwastafle. Ia sudah bolak-balik wc hampir satu jam. "..Bisa gawat kalau tuan Dariel tau aku meninggalkan kak Rea terlalu lama sendiri, Oh perut bersahabatlah. Aku tidak mau dipecat."
Detik selanjutnya dering ponselnya bergema memenuhi ruangan.
__ADS_1
"Tuan Dariel?!" Dira terperanjat ketika melihat nama yang tertera dilayar.
"Saya tuan?" jawab Dira dengan takut-takut.
"Dimana kau?"
"Saya sedang di toilet tuan, sakit perut.." Dira mengecilkan suaranya diakhir kalimat.
"Aku akan membawa Rea pulang bersamaku, kau pergilah kerumah sakit." tanpa menunggu jawaban Dira sambungan telepon diputus Dariel sepihak.
"Pulang bersamanya katanya?? Tuan Dariel disini? kenapa bisa tau? Pasti para pengawal itu yang mengadukanku! Awas saja aku akan mengomeli mereka!" Dira mencari kontak seorang pengawal yang ditugaskan Dariel menjaga istrinya, kebetulan karena salah satu dari mereka adalah sepupunya, Dira merasa tidak perlu segan lagi bertindak.
"Ada apa?" suara khas pria terdengar diujung sana.
"Kalian mengadu apa pada Tuan Dariel? Bagaimana dia bisa disini?"
"Kami tidak melakukan apapun. Tuan Dariel muncul sendiri, kami juga tidak sadar ketika ia datang, kami sedikit teledor karena kelaparan. Tuan Dariel tiba-tiba menelepon dan menyuruh kami semua kembali kerumah. Ntahlah, mungkin saja hari ini terakhir kali aku bernafas.."
"Astaga, habislah kita!"
Andrea nampak antusias begitu pelayan selesai menghidang beberapa menu seafood dimeja, aroma harum setiap masakan terasa menggugah seleranya, begitu menggoda dengan asap tipis yang masih mengepul dari masing-masing masakan. Damian menyunggingkan senyum melihat reaksi Andrea, sudah lama sekali ia tidak melihat wajah antusias itu, Damian menyadari Andrea masih secantik saat pertama kali ia menatap. Kenapa dulu ia begitu gegabah memutuskan? Harusnya ia lah yang akan menjadi satu-satunya lelaki untuk Andrea. Menjadi suami dan Ayah dari anak-anak mereka.
"Makanan sudah datang tapi dimana asistenmu?"
"Aku akan menghubunginya."
"Hallo, Kak." tak lama Andrea dan Dira telah tersambung.
"Suaramu lemah sekali, kau baik-baik saja?"
"Iya kak, tidak apa apa."
"Kau dimana? Makanan sudah datang, kenapa lama sekali? Apakah ada masalah serius diperutmu? Kita kerumah sakit saja ya?"
"Tidak usah kak, aku akan kerumah sakit sendiri, kakak lanjut saja makannya bersama tuan Dariel."
"Maksudmu?"
"Bukankah tuan Dariel disana?"
__ADS_1
Andrea mengerutkan dahi. Bingung, jelas-jelas ia bersama Damian bukan Dariel. Tapi belum sempat Andrea bertanya suara Dariel lebih dulu menginterupsi mereka.
"Makan dengan Pria lain tanpa seizin suami bukanlah tindakan yang pantas,Rea.."