
"Kau mau mati?Beraninya kau menciumku?!Sheril berang dan mendorong tubuh Pria itu menjauh. "Dasar mesum! mengambil kesempatan dalam kesempitan!!"
"Kenapa kau yang marah?Kau yang menabrakku tadi!"
"Salahmu kenapa lewat jalan ini! "
"Lalu aku harus lewat jalan mana?"
"Terserah!" Sheril bangkit dan membersihkan debu yang mungkin menempel dibajunya.
"Dasar orang orang tidak berguna!" Omelnya. Sheril ingin pergi tapi langkahnya tertahan ketika tangan pria itu mengapit lengannya.
"Apa yang kau lakukan?!Singkirkan tanganmu!" Sheril berusaha melepaskan diri tapi sulit.Cengkraman pria itu terlalu kuat.
"Kau benar benar ingin mati ya?"
"Berhenti marah marah! Ikut aku!" Katanya sambil menarik tangan Sheril.
"Eh, mau kau bawa kemana aku?! Lepas! Atau aku akan teriak!!"
"Teriak saja!!" Pria itu mendorong tubuh Sheril masuk kedalam toilet wanita.
"Aaa! tolong! tolong!" Sheril berteriak karna merasa was was dengan kelakuan Pria itu.
"Kenapa kau berteriak? Apa kau pikir aku ingin memperkosamu? Jangan gila!" Kata kata Pria itu membuat Sheril sedikit lega.Detik berikutnya Sheril dibuat tertegun karena Pria itu menyalakan keran dan membasuh kakinya.
Apa apaan sih Pria ini? Kenapa baik padaku?
Sheril meringis merasakan pedih ketika air menyentuh sebuah luka goresan yang tak sengaja didapatnya saat kabur dari serangan ular tadi.Tanpa sengaja Ia mencengkeram bahu Pria yang sedang berlutut membersihkan lukanya.
"Kenapa kau bisa sampai terluka?"
"Bukan urusanmu!"
Pria itu mengeringkan kaki Sheril dan menempelkan sebuah plaster dibagian kaki yang tergores.
"Sudah." Katanya sambil berdiri. Sheril menatap kakinya yang sudah diplaster.
"Lain kali kalau terluka segera diobati.Takut nya kakimu yang bagus itu infeksi!"
Ya jelas bagus,aku mati matian merawat tubuhku tau! kalian para lelaki miskin pasti jelalatan melihat nya!!
Sheril memasang kembali heelsnya. Lalu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan memberikan nya pada Pria berkaca mata itu.
"Ambil!" Katanya. Pria itu nampak menautkan alisnya. "Ini untuk membayar ganti rugi plaster milikmu yang sudah kupakai! Cukup kan?" Pria itu tertawa kecil.
"Terimakasih kau menghargai ku, tapi aku tidak membutuhkan nya!"
"Sudahlah jangan jual mahal begitu! Aku tau modus nya orang orang seperti mu, menolong hanya untuk uang bukan?"
"Kau ini lucu sekali.Sudahlah simpan uangmu.Aku tulus menolongmu."
"Cih, yasudah kalau tidak mau!" Sheril kembali memasukkan uangnya kedalam tas. Ia ingin beranjak dari tempat itu tapi kembali ditahan.
Sheril menatap tajam tangan Pria yang menyentuh kulit mulusnya.
"Kalau kau masih ingin punya tangan yang lengkap maka lepaskan tanganmu ini!!" Pria itu menurut.
"Kau galak sekali.Tidak takut wajahmu keriput?"
"Diam kau! Eh Dengar ya, bukan berarti kau sudah mengobati luka ku maka aku akan jadi baik padamu! Jangan mimpi! dan aku harap setelah ini kau tidak menampakkan wajah jelekmu itu didepanku! Mengerti?"
"Bagaimana kalau kau yang merindukan wajah ini?" Goda Pria itu.
"Cih,Mimpi saja sana!!"
Sheril berlalu.Ia melangkah kesal menuju kelasnya.
__ADS_1
"Sheril?" Livya nampak menahan senyum melihat raut kesal Sheril ketika sampai dikelas. "Kau sudah datang?"
Sheril memukulkan tasnya ke bahu Livya.
"Aw,kenapa memukulku?"
"Kenapa kau meninggalkan ku, bodoh?"
"Aku tidak meninggalkan mu,kau saja yang lambat! "
"Berani kau mengatakan aku lambat,hm?" Sheril menarik gemas rambut Livya.
"Sheril, sakit!!"
"Dasar menyebalkan!" Sheril berdecak dan duduk didepan Livya.
"Sheril, Livya, kalian berdua terlihat manis!" Seorang mahasiswa lain yang sedari tadi memperhatikan tingkah kedua gadis itu nampak mengomentari. Sheril dan Livya saling pandang.
"Kenapa kalian tidak berteman saja?"
"Mau kubunuh kau?!" Bentak Sheril. Mahasiswa itu langsung terdiam.
"Tuh kan,lebih baik kita bersahabat saja, jangam bermusuhan,relakan saja Ryuga untukku, oke?" Livya mengerling nakal.
"Tidak akan pernah!"
~
Livya dan Andrea kini tengah menikmati waktu mereka.Setelah tadi supir kiriman Dariel menjemput, Andrea dan Livya memilih sebuah Mall untuk mereka kunjungi.
"Wuua, itu tasnya bagus!" Ujar Livya.
"Itu lihat kak, cantik ya sepatunya?" Andrea tersenyum. Kemudian sebuah dering ponsel milik Andrea membuat langkah keduanya terhenti.
"Sebentar, suamiku menelfon!" Hallo?" Ucap Andrea setelah terhubung dengan Dariel.
'Kau sudah pergi?'
'Apa supir sudah memberikan kartu yang kutitipkan?'
"Sudah,aku sudah menerimanya.Tidakkah itu berlebihan?
'Berlebihan apanya,selama menikah aku belum memberikan uang pegangan untukmu, Kartu itu milikmu sekarang ,Belanja lah sesukamu, Oke?'
"Kenapa kau baik sekali? Bahkan aku tidak pernah bermimpi punya kartu tanpa batas ini"
'Kau istri Dariel lee, bukan istri tukang tambal ban! itu tidaklah seberapa bagiku, nikmatilah, awas kalau kau tidak menggunakan nya!'
"Apa kau akan marah?"
'Tentu saja! Itu berarti kau tidak menghargaiku! Pakailah sepuasmu!'
"Terimakasih sayang..."
'Begitu saja?'
"Lalu apalagi?"
'Tentu saja ciuman terimakasih, apalagi?'
"Tuan, ada Livya disini." Livya yang berdiri tepat disamping Andrea pura pura batuk .
'Kalau begitu nanti malam saja,double kiss!'
Andrea tertawa ringan.
'Aku merindukan mu!'
__ADS_1
"Hentikan Tuan! Aku akan tutup telfonnya!"
'Baiklah,sampai ketemu.'
Andrea memutuskan panggilan.
"Cieeee," Ledek Livya.
"Diamlah!" Andrea mengulum senyum.
"Kak,sebenarnya kau ingin membeli apa sih?"
"Belum tau! Kau ingin apa?"
"Banyak!"
"Pilihlah barang yang kau inginkan, aku akan membelikannya!"
"Kau serius?" Livya senang tak terkira ketika Andrea mengangguk.Ia langsung memilih barang barang yang disukainya. Selesai berbelanja, Andrea dan Livya pergi kesebuah restoran mahal untuk pertama kali.
Tak henti hentinya mereka takjub dengan kemewahan yang ada didalam restoran itu.
"Aku pesan ini, ini, dan ini!" Tunjuk Livya pada buku menu yang diberikan pelayan.
"Aku ingin kepiting saus pedas dan juga nasi goreng cumi!" Ujar Andrea. Pelayan itu mengangguk dan permisi.
"Oh, ya ampun,akhirnya kesampaian juga bisa makan direstoran mewah! Semua ini berkat Istri tuan Dariel satu ini! Terimakasih Nyonya, sering sering yaa, hehe" Andrea tertawa kecil.
"Dasar kau! Mengajakmu sering sering bisa bisa suamiku bangkrut, lihat belanjaanmu!" Livya tergelak menatap sepuluh kantong plastik miliknya yang berisi baju, sepatu dan tas mahal.
"Maaf, Aku hilang kontrol, kapan lagi bisa punya barang barang mahal, biasanya juga beli dipasar loak!"
"Kau senang?" Tanya Andrea.
"Tentu saja!"
Teruslah bahagia Livya!
"Kak, maafkan aku ya?"
"Kenapa kau minta maaf padaku?"
"Aku sudah banyak menyusahkan mu! Kau sudah banyak berkorban untukku"
"Sudahlah Livya, ini memang sudah jalan hidupku, dan aku bahagia.Kuliah saja dengan benar,supaya kau cepat lulus!"
"Kak, aku sayang padamu!"
"Aku lebih sayang padamu!"
"Aku lebih lebih sayang padamu!"
"Aku lebih lebih lebih sayang padamu!"
"Aku lebih lebih lebih lebih sayang padamu!"
Andrea dan Livya tertawa bersama.
"Eh, aku ketoilet sebentar ya?" Livya mengangguk.Andrea segera beranjak dari duduknya.Saat sampai dipintu toilet tak sengaja dari arah besebrangan Ia bertabrakan dengan seorang wanita paruh baya.
"Eh, maaf, maafkan aku." Andrea menunduk sopan.
"Kau?" Wanita itu menunjuk Andrea. Andrea menautkan alisnya.
"Maaf, apa anda mengenal saya?" Tanya Andrea.
"Ternyata benar,kau lebih cantik saat dilihat langsung!" Wanita itu tersenyum sambil memperhatikan penampilan Andrea dari ujung rambut sampai ujung kaki.Andrea makin heran dibuatnya.
__ADS_1
"Maaf, maksudnya apa ya?"
"Dariel itu anakku!"