
"Tuan, Kenapa kau cemberut saja dari tadi?" Tanya Andrea begitu Ia selesai membersihkan diri dan melihat Dariel uring uringan disingle sofa dikamar.Semua anggota keluarga telah kembali. "Kau tidak pulang?"
"Ini juga rumahku." Jawab Dariel ketus.Andrea menghela nafasnya,lalu memilih duduk dipinggir ranjang sambil tangannya sibuk mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
"Alasan apa yang kau pakai untuk bisa menginap disini?"
"Itu urusanku." Andrea menautkan alisnya.
Apalagi sekarang? Apa aku salah bicara lagi?
"Aku minta maaf kalau ada salah Tuan." Dariel melirik Andrea. Tapi tidak berkata apapun.
Andrea bersenandung pelan.Berusaha mengusir keheningan yang tercipta. Ia tidak tahu Dariel sedang merajuk karna apa lagi. Ia merasa tidak berbuat kesalahan.
Setelah selesai dengan rambutnya,Andrea dengan masih berjubah handuk berniat keluar. Ingin mengambil sesuatu yang bisa dimakan sekaligus menghindari Dariel yang keukeuh dengan sikap kekanakannya. Tapi begitu Andrea melewati Dariel menuju pintu, Tangan Pria itu menahannya.Andrea menoleh.
"Mau kemana?" Tanyanya.
"Aku ingin memakan sesuatu."
"Aku juga ingin makan sesuatu."
"Kau ingin apa? Nasi goreng?" Tanya Andrea. Dariel menggeleng. "Ayam goreng?" Menggeleng lagi. "Ingin buah?" Tetap menggeleng.
"Ingin aku?" Goda Andrea.Dariel mengangguk manja.Bibir Andrea melengkung menciptakan senyuman. Tangannya terulur mengacak gemas rambut lebat Dariel yang sudah tersisir rapi. Andrea tidak jadi keluar,malah duduk dipangkuan Suaminya.
"Kau kenapa tadi?" Tanya Andrea sambil bergelayut manja memainkan cuping telinga Dariel.
"Sedikit... kesal." Dahi Andrea berkerut. "Rea, seharusnya aku yang mendapat suapan pertama kue ulang tahunmu tadi!"
Oohhhhh... Jadi karna itu! Ya Tuhan pria ini..
"Aku suamimu.Kenapa aku yang mendapat suapan kedua?"
"Sayang, Paman itu lebih tua darimu.Dan yang terpenting Dia adalah orang yang merawatku sedari kecil,Dia sudah seperti orangtua kandungku. Didunia ini orangtua adalah hal pertama yang harus kita dahulukan,bukan?Jadi jangan bertingkah seperti ini lagi oke? Lagipula..,Jika kau tidak bisa mendapat hidangan pembuka,Kau masih bisa kok menikmati hidangan penutup!" Dariel menautkan alisnya.
"Hidangan penutup?" Tanyanya tak mengerti. Andrea mengangguk.
"Hidangan penutup apa yang kau maksud?"
"Aku! Aku hidangan penutup nya, Hehe.."
__ADS_1
"Cih,bisa yaaa..." Dariel mencium gemas pipi Andrea.
"Bukannya kau bilang ingin makan tadi?" Sambil menanyakan itu Andrea sudah menarik keatas perlahan lahan kaos yang dikenakan Dariel dengan satu tangannya, membuat perut roti sobek itu sedikit terlihat.Dariel menahan senyum mendengar suara penuh godaan yang ditujukan untuknya itu.Dariel menghentikan tangan nakal Andrea. Menggenggam nya.
"Oh,jadi sudah tidak berselera lagi ya? Baiklah aku akan cari makanan lain." Andrea berniat bangkit tapi tentu tidak semudah itu lepas dari kandang buaya.Tenaga Dariel tetap lebih kuat.Andrea cekikikan begitu Dariel yang tanpa aba aba langsung menciumi tubuhnya. Membuatnya kegelian.Geli sebentar sebelum bibir nya berubah mengeluarkan desahan halus ketika tangan kekar itu membuka ikatan jubah handuknya dan mempermainkan titik titik sensitif Andrea.Meski masih terkesan agresif,Dariel tetap melakukan kewajibannya dengan hati hati semenjak perut Andrea membesar.
"Aduh!"
Satu kata itu saja sudah bisa meruntuhkan pertahanan Dariel.Ia langsung menghentikan aksinya dan menatap Andrea.
"Apa yang sakit?" Tanya Dariel cemas. Andrea terkekeh.
"Siapa yang mengatakan sakit?" Andrea balas bertanya.
"Kau mengaduh tadi..."
"Iya,aduh,aduh enak maksudnya! Haha" Dariel benar benar tak habis pikir menghadapi celotehan Andrea.Membuat kepalanya sakit. Sakit kepala dalam artian saking pintarnya Andrea memainkan situasi.Dan membuatnya lebih bergairah.
"Kalau begitu jangan harap aku akan melepaskan mu Istri nakal!" Dariel menggendong tubuh Andrea naik keranjang.
Tapi sebelum Dariel benar benar melancarkan aksi erotisnya,Ia berbisik.
"Aku ada sesuatu untukmu."
"Untukmu." Katanya membuat Andrea tak bisa berkata kata.Sebuah cincin berlian putih yang sangat indah.
"Ini indah sekali.." Gumam Andrea.Dariel tersenyum dan meraih jari manis Istrinya untuk menerima cincin itu.
"Tuan ini sungguh untukku?" Dariel mengangguk.
"Hadiah ulang tahun dariku."
"Ini kelihatan mahal! Kenapa membuang buang uang untuk sesuatu yang tidak penting?"
"Tidak penting apanya? Kau penting untukku."
"Suamiku,tidak perlu seperti ini,kau mengajak keluargaku datang saja aku sudah sangat bahagia.. Ini berlebihan aku merasa tidak pantas menerima nya..."
Dariel menghela nafas kasar.Kesal.Andrea selalu merasa apa yang dilakukannya berlebihan.Merasa tidak pantas.Dariel muak. Ia bangkit dari ranjang dan keluar dari kamar. Membuat Andrea tersadar kalau suasana hati suaminya memburuk.
Andrea diam tak langsung menyusul Dariel.Ia menatap cincin berlian yang kini melingkar dijari manisnya. Ia sungguh tak enak hati.Tapi Dariel selalu seperti ini, marah jika Ia tak menerima dengan senang hati pemberiannya.
__ADS_1
Tak lama Dariel kembali lagi dengan sekotak buah yang sudah dipotong potong. Meletakkan nya diatas nakas tanpa bicara apapun. Lalu melangkah menuju balkon. Mengacuhkan Andrea yang memperhatikan gerak geriknya dari atas ranjang. Andrea tertawa geli dalam hati menyadari makna Dariel membawakan buah itu kekamar.
Suamiku, kenapa kau manis sekali? walau sedang marah pun kau masih perhatian padaku. Tidak jadi memakan mu kau membawakan buah sebagai ganti nya Hehe
Andrea mengambil tupperware berisi buah itu dan membawanya kebalkon dimana Dariel berada.Andrea tersenyum melihat Dariel yang tampan sedang menatap langit malam yang tanpa bintang itu.Kedua tangannya Ia masukkan kedalam saku celana.
Dengan langkah ala Bumil Andrea mendekati Dariel,menyentuh bahu berotot milik Pria itu. Dariel menoleh sekilas dengan ekspresi datar kemudian beralih pandang lagi.Bahkan tidak sempat melihat senyum secerah mentari yang dikeluarkan bibir wanitanya. Andrea mengapit lengan Dariel sambil tangan satunya memegang kotak buah.
"Sayang..." Memanggil dengan suara manja. Dariel diam tak menoleh lagi. "Anakmu ingin disuap Ayahnya..Kau tau?Baby marah padaku karna membuat Ayahnya merajuk lagi.." Ungkap Andrea penuh kebohongan.
"Bujuk dia saja kenapa membujuk ku?"
Aaaaaaaa lihat wajah merajuknya itu! menggemaskan!!
"Dia menendang ku tadi,tidak mau diajak kompromi.Kau tidak kasihan padaku?" Masih dengan suara dan ekspresi manja andalan nya. Dariel menoleh.
Yes berhasil!!
"Kau nakal! pantas kalau dia marah padamu. Jelas dia akan membelaku,Dia anakku."
"Hu'um.. Aku mengaku salah deh...Jadi bagaimana?" Dariel diam sebentar. Menghirup udara dan membuangnya perlahan.Tersenyum.
"Rea?"
"Heemm?"
"Kau sayang pada ku kan?" Andrea mengangguk. "Kau mencintaiku?" Andrea diam tak langsung menjawab. Sayang dan cinta memang dua hal yang berbeda.Tak salah jika Dariel mempertanyakan nya. Andrea bingung,bukan karna malu jika ditolak, tapi memang Dia tidak berhak untuk itu. Jadi haruskah Ia jujur?Bahkan walaupun mungkin Dariel sendiri sudah bisa menebaknya.
"Kenapa diam?Aku bertanya padamu apa kau mencintaiku?"
"Kenapa menanyakan nya?"
"Hanya ingin memastikan saja."
"Aku haus,aku akan ambil minum dulu." Andrea melepaskan tangannya tapi Dariel malah menarik nya kembali.Andrea merasa debaran dihatinya berubah cepat, serasa tak beraturan. Kedua mata indah Dariel menatap nya lekat.
"Aku merasa kau mencintaiku.. Aku tidak tau firasatku benar atau tidak,tapi Aku mencintaimu Rea.Aku sangat mencintaimu." Bola mata Andrea berkaca kaca.Hatinya yang pernah gersang Seperti kejatuhan hujan, basah seketika,Namun ini adalah hujan disiang yang panas.Hujan yang disebut sebut membawa penyakit. Jadi harus bahagia atau sedih?
"Aku sadar aku adalah laki laki brengsek, aku sudah mematahkan hati Aletta, satu hal yang selalu kujaga aku yang merusak nya sendiri. Semua kulakukan karena aku jatuh cinta padamu.Dan sepertinya aku tidak bisa melepaskanmu.Aku tidak mau melepaskanmu."
Dua butir air bening sudah keluar turun melewati pipi Andrea tanpa suara.
__ADS_1
"Setelah baby lahir,Maukah kau tetap menjadi istriku saja? Aku memilihmu."