
Arjuna yang akan memasuki usia dua bulan terlihat semakin lucu dan menggemaskan, badannya yang montok dan tentu saja semakin ganteng, putra yang selalu membuat Aditya dan Hana ingin cepat pulang ke rumah sungguh Hana sangat menikmati perannya sebagai seorang ibu, rasa yang sangat luar biasa saat menjadi orang tua, melihat Arjuan tumbuh sungguh nikmat Tuhan yang tak terucapkan, Arjuna adalah pelengkap kebahagiannya dalam keluarga kecilnya, Hana sangat beruntung memiliki suami seperti Aditya yang ikut turun tangan mengurus bayi kecil mereka , walaupun seharian sibuk dengan pekerjaannya di kantor malam harinya Aditya rela bergadang menemani istrinya, tak jarang ia langsung yang turun tangan menganti popok putranya jika melihat istrinya yang tertidur karena
kelelehaan. Seperti malam ini Aditya terbangun mendengar rengekan Arjuna yang tertidur disamping istrinya , perlahan Aditya merangak ke sisi ranjang samping istrinya,
“Sayang …anak Daddy kenapa menangis sayang, apakah Anak Daddy pipis, ucap Adiya sampil memegang popok putranya, Oh.. benar ternyata si tampan Daddy pipis.” Aditya pun segera menganti popok anaknya, melihat Arjuna yang masih membuka matanya dan menatap Daddynya sambil mengoceh , Aditya pun segera mengendong Arjuna dan menciumnya gemas, setelahnya ia menyandarkan Arjuna di bahunya mencoba menidurkan Arjuna Kembali, ia
mengusap-usap lembut punggung putranya.
Aditya seperti bermimpi saja saat meningat ia memiliki keluarga kecil yang sangat mebuatnya dilimpahi bahagia yang tiada terkira, pernikahan yang selalu yang paling ia hindari, ternyata begitu saat bahagia jika menjalaninya dengan orang yang tepat, seseorang yang sangat ia cintai melebihi dirinya sendiri, kehadiran Hana yang sempat ia tolak ternyata kejaiban Tuhan yang diturunkan kepadanya, dan kehadiran putra mereka menjadi pelengkap hidup mereka.
Aditya kembali meletakan Arjuna yang sudah kembali tertidur di samping Hana, ia memberikan kecupan diwajah Arjuna, setelah itu ia pun merangkak naik ke ranjang mengusap lembut pipinya istrinya yang tertidur begitu lelap, Aditya mengecup pipi istrinya lembut kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya lalu memeluk Hana erat.
*****
Hana terbangun Ketika azan subuh mulai terdengar, perlahan Hana membuka matanya, ia melirik pada suaminya yag masih tertidur dengan memeluknya, wajah Aditya menempel di ada Hana, perlahan Hana mengusap lembut
rambut suaminya sambil tersenyum memandangi wajah suaminya yang begitu tampan dalam lelapnya,
“Sayang ..bangun..! sudah subuh..! , ucap Hana kembut sambil mengusap pipi suaminya lembut, Aditya hanya menjawab dengan gumauan sambil mempererat pelukannya dan membenamkan wajahnya didada istrinya. Hana hanya tersenyum melihat tingkah suaminya, dari dulu Aditya memang paling susah saat dibangunkan waktu subuh, dan sampai sekarang kebiasan itu masih berlaku, Tapi dengan sabar Hana selalu membangunkan suaminya itu.
Setelah mencoba berulang kali mencoba akhirnya Aditya pun terbangun, menyapa istrinya dengan suara serak khas bangun tidur, tak lupa dengan morning kiss, semua kegiatan yang tak pernah Aditya tinggalkan saat hatinya sudah terpaut pada wanita yang membuatnya dapat merasakan manisnya jatuh cinta, setelahnya keduanya turun beranjak ke kamar mandi untuk berwuduk dan sholat subuh berjemaah.
Baru saja keduanya selesai sholat, Arjuna pun terbangun dan menangis dengan keras, Hana pun segera menggendong putranya itu, lalu segera menyususi Arjuna seketika tangisnya pun terhenti ternayat bayi montok itu sudah lapar, masih dengan sarungnya Aditya duduk disamping istrinya mencium Arjuna yang terlihat begitu menikmati sarapan paginya, matanya tak henti memandangi Daddynya , terkadang ia berhenti menyusu
seperti ingin mengajak Aditya berbicara,
“Sayang setelah ini kita gantian ya, Daddy juga mau, ucap Aditya terkekeh sambl mencubit lembut pipi Arjuna,
“Sayang, jangan bicara seperti itu di depan anakmu," protes Hana.
“Arjuna masih kecil sayang tidak ngerti juga," imbuh Aditya tersenyum menggoda. “Iya tapi tidak boleh bicara begitu juga," imbuh Hana masih tidak terima, dan akhirnya Aditya pun mengiyakan perkataan istrinya.
Begitu selesai minum Asi, Aditya segera mengambil Arjuna dari pelukan istrinya , ia mengajak Arjuna mengobrol sambil menyandarkan tubuhnya di sofa sedangkankan Arjuna hanya mengamati Daddynya sambil tidur
tengkurap di dekapan Aditya, Hana pun segera beranjak menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya.
__ADS_1
*****
Sepulang dari kantor Aldo segera menjemput Dila ke rumah sakit, Aldo pun segera memarkir mobilnya begitu sampai, baru beberapa Langkah ia berjalan di loby rumah sakit, ia melihat Dila yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum, Aldo pun seketika menghentikan langkahnya menunggu Dila sambil tak henti memandangnya sambil membalas senyum Dila, ia segera mengulurkan tangnnya begitu Dila tinggal beberapa Langkah darinya, Dila pun segera menyambutnya keduanya berjalan saling menggenggam tangan.
“Apakah kita akan makan diluar atau kita makan di Apartemenku, kita masak bareng, kita belum pernah melakukannya sepertinya akan mengasikkan," tawar Aldo begitu mereka berdua sudah dalam mobil dan ikut
bergabung dengan yang lain dalam keramaian jalan .
“Kita masak bareng aja!" sahut dila cepat.
“Tapi……aku payah kalau soal dapur," ucap Dila sambil mengerucutkan bibirnya melirik Aldo yang sedang mengemudikan mobil.
“Kalau urusan yang lainnya kau tidak payah bukan? Tanya Aldo sambil melirik Dila dengan lirikan sedikit nakal, pertanyaan Aldo yang sedikit ambigu membuat wajah Dila bersemu merah, ia mengalihkan wajahnya agar tidak terlihat oleh Aldo, melihat Dila yang diam Aldo pun terkekeh karena berhasil membuat Dila malu .
Sebelum ke Apartemen Aldo mengajak Dila untuk belanja terlebih dahulu di Swalayan karena kebetulan persedia makanan Aldo sudah hampir habis, begitu Aldo memarkir mobilnya keduanya pun turun dari mobil, keduanya
berjalan saling bergandengan , Dila membantu Aldo memilih bahan makanan yang akan mereka masak nanti dan kebutuhan lainnya , Aldo pun mengikuti Dila sambil mendorong troli, beberap kali terdengar debatan dari mereka saat menentukan barang yang mereka pilih, tak butuh waktu lama keduanya pun selesai berbelanja, setelah membayar semua belanjaannya ke kasir , mereka bedua pun segera berlalu , melanjutkan perjalan mereka menuju Apartemen Aldo.
****
keduanya segera memasang Apron saling bergantian , Dila yang tidak terlalu paham ikut mebantu Aldo mencuci bahan yang akan mereka masak seperti waortel, brokoli, bawang bombay dan kentang, sedangkan Aldo terlihat sedang mencuci daging sapi karena malam ini mereka akan membuat Steak untuk menu makan malam mereka.
Dila berdiri disamping Aldo yang terlihat sibuk menumis bawang Bombay, Aldo yang terlihat begitu sudah terbiasa dengan peralatan dapur itu terlihat dari gerakannya yang sangat luwes saat menggunallan peralatan masak, Dila menatap wajah Aldo yang terlihat semakin tampan Ketika memasak,
“kau terlihat seperti Chef Juna saja! " ucap Dial terkekeh sambil menyebutkan nama seorang Chef terkenal di Indonesai ,
“Sama gantengnya sahut Aldo sambil terkekeh," Dila mencubit pinggang Aldo pelan sehingga membuatnya kaget dan hampir saja menjatuhkan Teflon ditangannya,
“Sayang…
“Maaf... ," ucap Dila dengan suara manjanya sambil menatap Aldo yang sedang menatapnya tajam, tapi Aldo tetap diam, Dila pun menarik kedua sudut bibir Aldo dengan jarinya agar Aldo tersenyum, sambil memasang wajah imutnya pada Aldo, tak tahan melihat Dila yang terlihat lucu dengan ekspresi seperti itu Aldo pun tertawa, kemudian memberikan kecupan gemas di pipi Dila, selama mereka pacarana mereka berciuman hanya untuk areal pipi dan kening saja, sedangkan yang untuk Arela lain, harus menunggu halal dulu, itulah prinsip yang
mereka berdua pakai, bukan hanya dengan Dila saat pacaran dengan Mayang pun Aldo juga demikian.
****
__ADS_1
Aldo menata makanannya diatas piring dengan cantik , kemudian segera mengangkatnya ke meja makan, disana Dila sudah menunggu sambil menyiapkan minuman untuk mereka berdua, keduanya pun segera duduk bersebelahan, Dila yang sudah tidak sabar ingin mencicipi masakan Aldo yang begitu harum dan menggoda, segera memotong steak yang ada dihadapananya itu dan segera membawanya ke mulutnya, begitu daging itu masuk dalam mulutnya Dila segera menguyahnya, baru beberapa kunyahan Dila meghentikan kunyahannya sambil melirik Aldo,
“Sayang kenapa? Tidak enak ya?."
“Bukan, ini enak sekali," ucap Dila sambil menyuapi Aldo untuk mencicipi makannya sendiri,
“Aku ini calon suami sempurnakan, sudah tampan pintar masak juga," ucap Aldo sambil menaikan kerah bajunya dan sediki mengangkat dagunya sombong.
“Mana ada orang memuji dirinya sendiri," sahut Dila dengan mulut penuh dengan sedikit mendengus.
“Jadi kau tidak mengakui itu," seru Aldo melototkan matanya.
“Bukan, tentu saja kau mengakuinya," ucap Dila sedikit takut, Aldo langsung tertawa senagn mendengar ucapan Dila.
“Tapi tadi kau bilang kalau urusan dapur kurang paham, tapi saat kau buatkan bubur untukku waktu itu sangat enak! .
“Yeee… kalau bikin bubur doang aku mah bisa, sahut Dila terkekeh. “ tapi kau tidak usah kwatir aku kan belajar memasak sebelum kita menikah.
Aldo menghentikan kunyahannya saat mendengar ucapan Dila , ia menatap wanita yang duduk disampingnya itu, merasa diperhatikan DIla pun menghantikan makannya,
“kenapa menatapku begitu?"
“Apakah kau sudah siap untuk menikah?" Tanya Aldo pelan, Dila sedikit kaget saat mendengar pertanyan Aldo.
.
.
.
.
.
Bersambungs
__ADS_1