Istri Pilihan Mama

Istri Pilihan Mama
Bab 58 Memaksa


__ADS_3

karena merasa kondisinya sudah lebih baik Hana memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, pagi-pagi sekali Aditya sudah mengantarkan istrinya itu, karena tidak berselera sarapan karena morning sickness yang selalu menyiksanya Hana membawa bekal untuk di makan di rumah sakit, ia hanya meminum segelas susunya saja sebelum berangkat, ia sungguh tidak ingin kejadian yang lalu terulang lagi.


Hana juga kangen dengan kedua sahabatnya karena sudah dua hari ini mereka tidak bertemu. Ketiganya kembali heboh ketika kembali bertemu, dan ditenga kesibukan mereka sesekal masih sempat bercanda,


"Kali ini kamu tidak akan mengusir ku lagi kan Han, seru Frans duduk di depan di depan Hana.


" Dan kamu harus bertanggung jawab, carikan aku parfum yang cocok dengan hidungmu, gak mungkinkan aku gak bakalan pakai parfum sampai anak mu lahir, sungut Frans kesal.


"Mang apa bedanya kamu pake parfum sama gak, apakah pesonamu akan berkurang, tingkah Dila cekikikan.


" Ayolah Dil, seorang Frans tidak akan pernah kehilangan pesonanya, seru Frans sambil menyisir rambutnya ke belakang.


Hana dan Dila hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.


"Masih untung Hana cuma benci sama parfum kamu, gimana kalau Hana benci liat muka kamu.


Frans langsung menepuk pundak Dila dengan buku yang ada ditangannya.


****


Siang ini Nena Ada janji dengan kliennya, mereka berjanji untuk ketemuan di sebuah restoran. Sekarang Nena sedang merintis usahanya yang bergerak di bidang desain interior, usaha nya ini benar -benar di rintis Nena dari nol, dulu Nena pernah bekerja di sebuah perusahaan yang terkenal di luar negeri, tapi ia memutuskan untuk berhenti dan pulang kembali ke Indonesia.


Dan Nena sangat beruntung usahanya kini sudah lumayan mendapat nama, karena hasil desain Nena yang selalu memuaskan kliennya. Seperti sekarang ini ia berkesempatan untuk mendesain sebuah perusahaan yang baru saja membuka cabang barunya di Jakarta.


Nena sebenarnya berasal dari keluarga kaya, ayahnya adalah seorang pengusaha yang bergerak di bidang pertambangan. Tapi Nena lebih senang dengan mendirikan usahanya sendiri dari pada pekerja di perusahaan ayahnya.


"Selamat siang, ibu Nena? tanya seorang pria muda menyapanya.


" Iya.., dengan bapak Hendra, ucap Nena tersenyum.


"Iya..!


" Silakan duduk pak, tawar Nena dengan ramah.


"Terima kasih buk Nena, maaf sudah membuat ibu Nena menunggu, ucap Hendra mendudukkan tubuhnya di depan Nena.


" Tidak apa-apa pak!


"Panggil Hendra saja, kayaknya umur kita tidak jauh beda, ucap Hendra tersenyum pada Nena.


Ternyata orangnya sangat cantik, guman Hendra dalam hati sambil memperhatikan Nena.


" Ya udah Hendra, kita langsung aja yah, ini aku sudah membawakan beberapa contoh desain, kamu boleh memilihnya atau jika tidak ada yang sesuai dengan seleramu saya bisa mendesain sesuai dengan yang kamu sukai, jelas Nena sambil menambahkan.

__ADS_1


Keduanya nampak serius mengobrol dengan sesekali tertawa lepas, Tiba-tiba Nena terkejut ada yang mencium puncak kepalanya,


"Siang sayang? seru Rendi menarik sebuah bangku dan duduk disebelah Nena.


Nena sangat terkejut dengan kedatangan Rendi yang datang tiba-tiba, ia menatap Rendi sekilas kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.


" Nena sepertinya saya menyukai desain yang ini, ucap Hendra menunjukan sebuah gambar pada Nena.


Rendi menatap Hendra tajam sambil memainkan rambut panjang Nena, Kemudian kembali menatap Nena yang ada di sampingnya.


"Baiklah, besok tim kami akan segera memulainya, ucap Nena tersenyum.


" Kalau begitu kita pesan makan siangnya, karena memang sudah waktunya jam makan, ajak Nena.


"Mungkin lain waktu saja Nena saya tidak ingin mengganggu kalian, tolak Hendra menatap Nena dan Rendi bergantian.


" Gak mengganggu kok, iya kan Ren, tanya Nena menatap Rendi.


"Baiklah gak masalah, jawab Rendi singkat.


Nena pun memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman mereka, setelah menunggu beberapa saat akhirnya pesanan mereka pun datang. Ketiganya pun memulai makan siang dengan situasi yang canggung terutama Nena yang serba salah, karena kedua pria di dekatnya tidak saling bicara.


Selesai makan ketiganya pun segera keluar dari restoran, Rendi langsung merangkul pinggang Nena saat keluar restoran, semuanya tidak lepas dari pengawasan Hendra.


" Iya Hen, ucap Nena tersenyum.


Setelah Hendra pergi Nena segera melepaskan rangkulan tangan Rendi di pinggangnya.


"Kamu apa-apa anak sih Ren, ucap Nena meninggalkan Rendi.


Rendi menarik tangan Nena masuk ke mobilnya,


" Aku bisa pulang sendiri, lagian aku juga bawah mobil, ucap Nena hendak keluar dari mobil Rendi.


"Mana kunci mobilmu nanti ada yang akan menjemput mobilmu ke sini, ucap Rendi menahan tubuh Nena.


" Aku tidak mau!, ucap Nena kesal.


"Aku tidak menerima penolakan, atau kamu ingin di antar oleh pria tadi, ucap Rendi kesal.


" Ini tidak ada hubungannya dengan Hendra, seru Nena kesal.


"Apa maksudmu bersikap seperti itu di depan kliennya ku!

__ADS_1


" Aku hanya memperingatkan dirinya bahwa kamu itu milikku, aku akan mengantar kamu kembali ke kantor mu. Lalu Rendi pun segera masuk kedalam mobil.


"Apa yang kamu inginkan dari ku, guman Nena pelan setelah Rendi mendudukkan tubuhnya di belakang kemudi.


Rendi menangkup kedua pipi Nena dan menatap kedua mata Nena,


" Menikahlah dengan ku."


"Apa yang membuat kamu begitu cepat mengalihkan hati mu, ucap Nena membalas tatapan Rendi.


" Aku tidak ingin menjadi wanita pelarianmu, aku sangat sakit mengingatnya, lanjut Nena dengan mata berkaca-kaca.


"Beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku sangat serius dengan ucapan ku, bisik Rendi pelan.


"Kita mulai hubungan ini dari nol lagi, maaf waktu itu aku telah membuat mu sakit hati, aku berpikir waktu itu kamu sama seperti putri anak orang kaya lainnya yang manja hobbynya hanya menghabiskan harta orang tua nya saja, dan aku salah langsung menyimpulkan tanpa mengenalmu terlebih dahulu, sorry Nen, bisik Rendi lirih.


Nena melepaskan dekapan tangan Rendi di pipinya,


"Kamu sudah terlambat, tiga hari lagi aku akan bertunangan dengan pria pilihan papaku, ucap Nena pelan.


Rendi langsung terkesiap mendengar perkataan Nena, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, dan menarik kedua tangan Nena ke dadanya,


" Kamu pasti bercanda kan, kamu pasti ingin balas dendam padaku kan Nena? aku akan membatalkan pesta tunangan mu itu Nen, kamu lihat saja apa yang akan terjadi kalau kamu tidak membatalkan pertunangan itu, aku akan menghancurkannya, seru Rendi menahan amarahnya


"Jangan mempermalukan dirimu Ren."


"Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan mu, ucap Rendi mencium ke dua tangan Nena


Nena memperhatikan wajah Rendi yang begitu frustasi mendengar ucapannya, ia begitu terlihat kacau di belakang kemudinya,


Maafkan aku Ren, guman Nena dalam hati.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2