Istri Pilihan Mama

Istri Pilihan Mama
Bab 90 Diluar Kuasaku


__ADS_3

Mayang dengan susah payah memusatkan perhatiannya pada Meeting bagaimana pun ia harus professional dengan pekerjaannya, dan sungguh ia tidak bisa menatap Aldo sedikit pun walaupun mereka duduk berhadapan, ketika giliran Aldo bicara ia lebih memilih untuk menundukkakn kepalanya, tapi tidak dengan Aldo, sungguh matanya tidak bisa lepas dari wanita yang ada didepannya itu, dan  sekitar dua jam mereka akhirnya menyelesaikan meetingnya, Mayang segera kembali ke kamar Hotelnya, Aldo hanya menatap punggung Mayang sampai menghilang dari balik pintu,


****


 


Aldo terpaku duduk di pinggir ranjangnya kedua tangannya mengusap wajahnya kasar dan menarik rambutnya kebelakang kepalanya,”Nama wanita yang susah payah dia lupakan dalam hatinya, sesaat Aldo hampir lupa, tapi ketika  melihat wajah itu karena penampilannya sekarang sangat jauh berbeda dari lima tahun lalu saat mereka terakhir bertemu, tapi suara itu Aldo tidak akan mungkin lupa, tapi kenapa tadi dia tidak mau menegur ku sedikit pun bahkan melirik saja ia tidak mau, apakah ia marah padaku, guman Aldo pelan. Aldo sejenak merebahkan tubuhnya dan menatap kosong plafon kamar hotel, pikirannya berputar pada peristiwa lalu.


Ini semester ketiga aku kuliah , pertemuan tak sengaja aku dengan dirinya di perpustakaan sungguh membuat hatinya tercuri, senyum manis dengan lesung pipi itu terus terbayang olehnya, wajah yang begitu cantik sehingga dapat mempesona yang melihatnya tapi bukanlah hal itu yang membuatnya jatuh cinta sedalam itu, wanita cantik begitu banyak di dunia ini, tapi dia makhluk cantik yang terpilih dengan segala kesederhanaan sikapnya.


Bukan hal yang mudah bagi ku  untuk mendapatkan hatinya, selama dua musim berlalu aku  hanya berani menatapnya dari jauh, aku mengagumi sosok itu , hingga kesempatan itu datang pada musim ketiga,


aku dan dia jadi panitia di acara temu mahasisiwa Asia yang kuliah di Amerika. Disitu kami mulai dekat , melewati waktu Bersama, sungguh dialah gadis pertama yang telah memenuhi hatiku, gadis pertama yang mengacaukan detak jantungku..


Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalin sebuah hubungan, tapi kami tidak menemukan satu titiik temu karena perbedaan keyakinan itu, bukan hal yang mudah bagi kita untuk mengakhiri hubungan ini, karena cinta


yang besar diantara kami, tapi ini akan semakin buruk bila kami lanjutkan, dan ketika aku wisuda itulah hari terakhir aku meliahat wajah itu, wajah yang tak sanggup aku pandang betapa aku melihat begitu terlihat jelas luka di matanya, dan sungguh luka itu tak akan jauh berbeda dengan diriku.


Dan ketika aku melihat wajah itu kembali betapa aku melihatnya sangat jauh berbeda dengan dia yang dulu, tak banyak lagi senyum diwajah itu kemana hilang cerianya dulu yang mampu membuatnya semakin bersinar,


apakah luka itu masih membekas di hatinya, tapi itu tak mungkin karena itu sudah terlalu lama, mungkin saja ia sudah ada yang memiliki kembali hatinya.


Lamunan Aldo terhenti ketika mendengar dering ponselnya, ia segera meraih ponselnya dari saku jasnya, kemurungan  itu seketika berubah melihat nama yang terterah di layer ponselnya.


"Hallo sayang."


"Iya , apakah kamu sudah sampai di Surabaya? Tanya Dila dengan suara manjanya.


“Sudah, maaf aku tak sempat mengabarimu, sahut Aldo pelan, Dila merasa ada yang berbeda dari suara pria yang dicintainya itu,


“Sayang, kamu baik-baik aja kan, kamu tidak sakitkan, tanya Dila kwatir.


“Tidak, aku baik-baik saja, Cuma sedikit keletihan, sahut Aldo cepat. Setelah beberapa saat mereka mengobrol, akhirnya keduanya mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


Aldo kembali turun untuk makan siang , tiba disana ia sudah melihat semua berkumpul kecuali Mayang ia tidak melihat wanita itu ada disana.


*****


Mayang duduk tersimpuh di depan jendela kamarnya, menangis melepaskan sesak dalam hatinya, menangis memang hanya yang dapat ia lakukan, itu pertama kali mereka bertemu setelah bertahun tidak melihat wajah itu,


pikirannya pun seakan mundur mengingat setiap kenangan Bersama Aldo..


Hatiku berdesir pertama kali bertatap muka dengan lelaki itu, sungguh gelanyar aneh yang belum pernah menyentuh jantungku, bagaimana mungkin lelaki yang baru sekali ditemuinya itu dapat mengusai hatinya dengan


cepat, tatapan teduh itu selalu menari dalam benaknya,, aku telah mencoba mengusir bayangan itu tapi sungguh ia tetap bertahan diam dalam hatiku.


Dan kesempatan itu akhirnya datang, bagiamana aku harus berusaha menenangkan detak jantungku yang selelu berderik -derik bila berdiri disampingnya, seperti Tuhan memberi kita jalan untuk dapat  melepaskan semua perasaan yang kita pendam.


Dua tahun dapat menjalani hubungan dengan dirimu itu merupakan hari-hari terbaik yang pernah aku alami, perhatian yang kau berikan sungguh membuat cintaku semakin hari bertumbuh semakin besar,Bahagia hanya itu


kata yang ada diantara kita, aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini karena Tuhan mengirimkan lelaki sepertimu padaku, tak henti aku melantungkan doa dibibirku semoga kau lah jodoh yang dikirimkan Tuhan untukku.


Sampai hari itu datang, kita harus mengakhiri semua cerita cinta kita karena satu titik perbedaan yang sangat sulit kita tembus, kau tau betapa kacau aku sangat kau tinggalkan , bahkan satu semesterku hancur dan


aku bangkit lagi dari segala keterpurukkanku, dan sampai aku seperti saat ini..


Tapi satu hal yang belum bisa aku lupakan adalah melupakanmu, karena dengan kenanganmu aku masih mampu bertahan sampai sekarang. Setiap malam berbicara lewat angin berharap ia menyampaikan setiap ucapanku,


betapa aku disini hidup tanpa cinta, sungguh aku tidak bisa menemukan lelaki sepertimu.


*****


Cukup lama mereka menunggu kedatangan Mayang, meraka ingin menghubungi Mayang tapi tak satupun dari mereka yang memiliki nomor ponselnyaa Mayang, akhirnya mereka melanjutkan makan siang tanpa Mayang, disaat mereka baru menyelesaikan makannya mayang pun datang,


“Mayang kau kemana saja kami tadi sudah menunggumu, ingin kami hubungi tapi sayang kami tidak memiliki nomor ponselmu, sahut Pak Bambang.


“Maafkau aku sekali lagi Pak, sahut Mayang penuh rasa bersalah, sejenak ia melirik pada Aldo yang juga sedang meliriknya.

__ADS_1


“Baiklah, sebaiknya kau makan dulu sebelum kita berangkat menuju lokasi, sahut pak Bambang.


“Tidak usah! kita bisa berangkat sekarang, sahut Mayang cepat.


“Tidak, mana boleh seperti itu Bu Mayang, aku akan pesankan makanan untukmu , silakah duduk, ucap Ryan cepat dan menarik kursi kosong disampingnya.


“Tidak usah Pak Ryan, aku belum lapar, tolak Mayang cepat. Ryan menatap wanita cantik yang berdiri didepannya itu,


“Tidak, kalau kau tidak makan kita akan pergi, makanlah walaupun sedikit! sahut Ryan cepat,”panggil namaku saja, tambah Ryan sebelum memanggil pelayan, Mayang pun mengiyakan,”Kalau begitu kau juga panggil namaku,


sahut Mayang kemudian. Ryan pun mengangguk sambil tersenyum. Mayang pun mendudukan tubuhnya disamping Ryan. Mereka berempat pun menunggui Mayang makan sambil mengobrol santai,


“Mayang kau sudah lama bekerja di Perusahaan Handoyo Grup "? tanya Ryan menatap wanita didepannya itu.


“Masih baru sekitar satu bulan ini, sahut Mayang menghentikana kunyahannya.


“Mayang dulu kau bekerja diman?, tanya Ryan yang masih begitu penasaran dengan wanita yang ada didepannya itu. Mayang hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Ryan,


Maafkan aku tidak usah dijawab kalau kau keberatan, imbuh Ryan, ia juga heran mengapa begitu ingin tahu dengan gadis yang ada didepannya itu,  cantik dan elegan itulah kesan pertama yang dia lihat ketika bertemu, sikapnya yang lembut dan sopan menambah daya Tarik dalam dirinya, kalau menurutnya bukan hanya dirinya saja yang akan tertarik melihat wanita cantik seperti itu.


“Tidak bukan begitu, dulu aku bekerrja di Dubai selama dua tahun, imbuh Mayang merasa tidak enak hati.


“Benarkah , aku sering liburan kesana kenapa kita tidak pernah bertemu ya, ucap Ryan sambil terkekeh,


“Kau pikir Dubai seluas telapak tanganmu , imbuh Pak Bambang yang ikut tertawa mendengar ucapan Ryan, “sepertinya kau begitu tertarik sekali dengan Mayang, wanita cantik seperti Mayang pasti banyak yang mau,kau akan banyak saingan, Aldo apakah kau tidak ingin bersaing dengan Ryan, lanjut Pak Bambang sambil terkekeh. Mayang langsung tersedak mendengar perkataan Pak Bambang barusan, spontan Aldo mengulurkan air minum  kepada Mayang, tanpa sadar Mayang pun segera mengambil minum itu, dan segera menghabiskannya, saat ia meletakkan gelasnya, ia melirik sekilas pada Aldo.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2