
Sama seperti cek Up sebelumnya , Mayang selalu memohon kepada Dokter yang menanganihnya untuk memberi
tahu siapa yang telah mendonorkan hatinya, Mayang menangis dan memohon karena ia ingin mengucapkan terima kasih karena telah menolongnya, sebenranya Dokter itu pun tidak tega melihat Mayang yang memohon-mohon padanya, karena itu menyangkut privasi rumah sakitnya tidak mudah membocorkan sesuatu riwayat pasien apalagi
yang memberi donor pada Mayang memintah rumah sakit untuk merahasiakannya.
Mama Nia sebenarnya juga tidak tega melihat putrinya sepeti itu, walaupun Mayanag selalu memohon pada
Dokter dibelakangnya bukan beratri ia tidak tau apa pun karena Dokternya selalu memberi tahunya.
Dan begitu pun perjalaaanan saat mereka kembali ke Indonesia, Mayanga akan diam dan akan mengurung diri selama dua hari di kamarnya, selama berkurung diri ia hanya bermenung memikirkan kenapa orang-orang menutupi semua ini semua Mayang merasa mereka ingin menyembunyikan ini dari dirinya.
Mama Nia memnadang pintu kamar Mayang yang hanya terbuka bila pelayan datang mengantarkan makanan untuk dirinya, pelahan ia mengetuk pintu kamar putrinya, Mayang melirik jam dinding di kamarnya, belum
jadwal makan siang tapi kenapa ada yang mengetuk pintu, karena ia sudah berpesan pada orang di rumah tak boleh seorang pun menganggunya selama ia mengurung diri, tapi saat mendengar suara mamanya memanggil namanya ia pun berlahan bangkit dari duduknya dan beranjak untuk mebukakan pintu,
“Sayang.., apakah boleh mama masuk?
“Mama jangan ganggu Mayang. Sahut Mayang lembut
“Sayang, sampai kapan kau akan seperti ini?, Tanya Mama Nia dengan mata berkaca-kaca, tapi tak ada jawaban yang keluar dari mului Mayang, yang semakin membuat hatiya sedih,
“Baiklah mama akan memberi tahu siapa yang telah mendonorkan hatinya untukmu, ucap Mama Nia akhirnya menyerah , mendengar perkataan mamanya Mayang menatap mamanya dengan tatapan tidak percaya,
“Tapi kau harus berjanji, siapa pun orang itu, kau tidak boleh protes dan garus menerimanya, bagiamana pun ia sudah menolongmu sayang, sehingga mama masih dapat bertemu denganmu nak, ucap Mama Nia dengan bibir bergetar, Mayang pun menganggukan kepalanya menyetujui permintaan mamanya.
****
__ADS_1
Ryan hanya tertegun menatap Mayang yang sudah berdiri di depan pintu apartemennya, ia menatap mata
gadis itu yang mulai berkaca-kaca, namun saat Ryan menyuruhnya masuk ia tidak bergeming sedikit pun dari posisinya,
“Kenapa kau tega membuat aku seperti orang bodoh!.. kenapa kau harus menyembunyikannya dariku!... seru
Mayang setelah cukup lama ia berdiam diri, Ryan hanya mengernyitkan keningnnya, mencoba mencerna maksud perkataan Mayang, tapi melihat Mayang yang mulai terisak ia mencoba menatao lekat wajah wanita yang sangat dicintainya itu,
“Kau kenapa? Masuklah..ajak Ryan lembut sambil menarik tangan Mayang, tapi dengan cepat Mayang menepisnya,”Kau masih ingin bersandiwara! Kau tau batapa menderitanya diriku karena begitu penasaran karena ingin tahu siapa orang yang telah membuat aku berutang nyawa padanya, dan orang itu berpura – pura tidak terjadi apa pun saat bagian tubuhnya ada dalam diriku, dan ia bahkan mempertaruhkan nyawanya untukku, apakah salah bila aku ingin mengucapkan terima kasihku padanya" ucap Mayang disela isaknya.
"Ini sungguh tidak adil untukku dan juga untukmu."
Ryan hanya mengusap kasar wajahnya karena ia tidak tau harus bagaimana menjelaskan pada Mayang ,”May maafkan aku, sungguh aku tidak bermaksud menyembunyikan ini darimu, aku tau kau tidak menyukaiku, aku takut
kau akan menolak kalau seandainya kau tahu aku yang telah mendonorkan hatiku untukmu,jelas Ryan sambil mencoba menyentuh ujung jari Mayang.
“Apa karena itu kau berubah.. kau tidak tau bagaimana perasaanku saat bertemu denganmu, hati ini rasanya sakit sekali, apalagi saat melihatmu tidak seperti dulu lagi sebelum aku sakit, bahkan kau tak lagi menjengukku setelah aku menjalani operasi.
“Aku tidak pernah jauh darimu May, aku hampir melihatmu tiap hari karena kamar kita bersebelahan, maafkan aku telah membohongimu, tapi aku sungguh tidak bermaksud demikan, aku hanya ingin menolongmu, karena aku sangat mencintaimu Mayang, tapi aku tidak akan memaksa mu lagi untuk menyukaiku, temukanlah pria yang kau sukai siapa pun itu aku akan mendukungmu, aku sudah bahagia telah memberikan bagian dari hatiku untukmu, setidaknya aku ada disana.
“Tentu saja kau mudah berkata seperti itu, karena pria sepertimu akan cepat menemukan wanita lagi, dan bahkan aku sudah bertemu dengannya, ucap Mayang sambil balik menatap Ryan dengan air mata yang mengalir dipipinya
“Nanda...? dia bukan kekasihku dia itu sepupuku...! sahut Ryan cepat
“Sekali lagi maafkan aku, sekarang aku akan melepaskanmu, jalanilah hidupmu yang baru, Tuhan memberimu kesempatan untuk hidup lagi, jangan isi dengan kesedihan, aku berdoa semoga kau selalu diselimuti kebahagiaan. maaf selama ini telah membuatmu tidak nyaman dengan sikapku, setelah ini kau akan lebih baik karena tak ada pria aneh yang selalu mengganggumu.”
“Dimana kau tau aku akan baik-baik saja, semua tak akan pernah sama lagi , selama ini aku selalu menolak dan menyangkalnya, meragukan perasaan yang hinggap dihatiku, aku selalu bertanya apakah ini rasa sesaat dan
__ADS_1
mudah menguap, hati yang pernah terluka ini sungguh sangat hati-hati dengan hatinya, karena takut akan terluka lagi, tapi seorang pria aneh datang mengusiknya dan bahkan ia mulai mencuri bagian itu.”
Mayang menghentikan sejenak ucapannya, dan Ryan merasakan oksigen disekitarnya seperti menghilang dan membuat dadanya sesak, tubuhnya ringan seperti sedag melayang saja, mulutnya terkunci dan mendadak lidahnya keluh, hanya tatapanya saja yang sedikit pun tidak bergeming dari wajah Mayang,
“Aku juga mencoba mencari kesungguhan perasaan pria itu, aku takut ia hanya singgah lalu pergi tanpa pernah melihatku lagi, tapi saat dia tak lagi datang , aku mersakan kosong dan kehilangan, dan aku mencoba untuk menyangkal lagi, ini hanya perasaan sesat , tapi aku malah semakin merasakan kosong jika mengingat itu, dan saat melihat dia dengan seorang wanita lain, rasanya begitu sakit, seakan ada yang meremasnya.
Ryan seketika menutup mulut Mayang dengan tangannya sambil mengegelengkan kepalanya, lalu mengusap air mata di pipi Mayang dengan lembut ,”Kau tau betapa tersiksanya aku, hanya dapat melihatmu dari jauh saja, betapa sakitnya aku berpura-pura tidak peduIi padamu, kau telah memiliki semua hatiku, kau telah membawanya pergi, aku mencintaimu May, sangat mencintaimu, bisik Ryan lembut ia pun tak mampu menahan air matanya.
Tangis Mayang bukannya mereda tapi semakin keras, “maafkan aku Ian, membuatmu menunggu terlalu lama, karena kau takut akan jatuh dalam lubang yang sama, aku…a.ku.. juga mencintaimu.”
Ryan pun segera membawa Mayang dalam pelukannya menghujani puncak kepala Mayang dengan
ciuman, tiada kata-kata karena ia seperti lenyap , hanya hatinya yang berucap syukur pada Tuhan telah membawa wanitanya kembali, ia bersumpah akan selalu membahagiakan Mayang seumur hidupnya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Bersambung