Istri Pilihan Mama

Istri Pilihan Mama
110 - TIBA DI KAMPUNG


__ADS_3

Pukul 04:20 subuh.


Laras terbangun dari tidur, matanya mulai sedikit bergerak, sepertinya tubuh wanita itu telah memiliki alarm sendiri, sebelum adzan subuh mata itu pasti dengan sendirinya akan terbuka.


Tadi malam Laras terpaksa melewatkan rutinitasnya shalat tahajjud dikarenakan sebelum tidur dia sempat bermesraan dengan sang suami sehingga membuat badannya merasa kurang bersih untuk menunaikan shalat malam.


Wanita itu merasakan tubuhnya sulit bergerak, seperti ada benda berat yang menimpanya. Dia meraba perutnya, ada sebuah tangan masih melingkar di sana, dan sebuah kaki menimpa pahanya, benar saja, Arga masih tertidur pulas memeluknya dengan erat.


Ruangan kamar masih teramat dingin karena AC tidak dimatikan semalaman, namun tubuh ramping wanita itu tidak merasakan dingin sedikit pun karena ada kehangatan yang didapat dari pelukan lelaki tampan yang semalaman terus memeluk dan tidak melepaskannya.


Pelan, wanita itu menarik tangan Arga dari pinggangnya dan menggeserkan paha laki-laki itu yang menempel di pahanya, berat sekali, rasanya Laras kesulitan mengangkat paha pria besar tinggi itu, namun dengan susah payah akhirnya dia berhasil melepaskan paha sang suami yang menghimpit pahanya.


Laras memiringkan tubuh ke kiri menghadap sang suami. Memandangi pria tampannya. Mata Arga masih terpejam, tergambar roman ketenangan di wajah tampan itu.


Bagaimana hatinya tidak tenang, istri yang nyaris hilang dari hidupnya, kini telah direngkuhnya kembali, hati, cinta, kasih sayang bahkan raganya.


Wanita itu terus memandangi Arga, alis pria itu begitu tebal hampir menyatu di antara kedua sudut alis, bibirnya yang tampak lembut, hidung yang mancung, kulit wajah yang bersih serta rahang yang kokoh, sangat sempurna di mata Laras, merekah senyum dari bibir wanita cantik itu. Dia mengusap rambut hitam sang suami dengan penuh kasih sayang.


"Mas, bangun," panggilnya lembut.


Laras membangunkan Arga, karena sesuai permintaannya semalam minta dibangunkan lebih cepat, karena pagi ini mereka akan berangkat ke kampung.


"Mas bangun, katanya mau bangun lebih cepat," Laras kembali memanggil Arga sambil terus mengusap rambut sang suami dengan tangan kanan.


Tubuh besar itu menggeliat lalu perlahan memicingkan mata dan terbuka. Mukanya tampak kusut tetapi tidak mengurangi ketampanannya. Pria itu langsung tersenyum saat melihat wanita yang sangat dicintai ada di hadapannya.


"Selamat pagi sayang," suaranya serak bangun tidur.


"Selamat pagi mas," Laras tersenyum tetap mengusap rambut prianya.


Dengan tangan kanan, Arga meraih tangan Laras yang sedang mengusap rambutnya lalu menciumnya mesra.


"Di sini!," Arga tiba-tiba berucap menunjuk pipinya dengan tangan kiri.


Laras mengernyitkan dahi melihat Arga yang baru bangun tiba-tiba menunjuk pipi.


"Mengapa pipimu? digigit nyamuk?," tanyanya mendekatkan wajah memperhatikan pipi Arga lalu meraba dengan tangan kiri, apa ada bentol di pipi itu, tetapi tidak ada.


"Tidak bentol mas," sambungnya kembali.


"Di sini," tunjuk Arga kembali ke pipinya.


"Ini," sambung pria itu lagi seraya mengetuk lembut bibir Laras.


Wanita cantik itu langsung tertawa, sekarang dia baru mengerti maksud pria tampan itu, saat tertawa seperti itu, Laras sungguh cantik di pandangan Arga.


Mengapa tidak dari dulu dia menyadari kecantikan alami sang istri, cantik luar dan dalam, pantas mamanya sangat menyukai wanita bermata redup itu dan tidak mau melepaskannya untuk dijadikan menantu.


"Aku sering tidak mengerti keinginanmu mas," Laras masih mengulum senyum.


"Ayolah sayang, ini sebagai ucapan selamat pagi, selamat bangun tidur, mulai sekarang siapa yang bangun lebih dulu, dia harus memberi hadiah di sini..," ucap Arga kembali menunjuk pipi.


Wanita itu mengulum senyum, mengangguk tanda mengerti, dan seperti biasa, Laras selalu menuruti permintaan serta keinginan Arga.


"Cup"


Cepat sekali wanita itu mengecup dan menempelkan bibir lembutnya di pipi Arga dan segera melepaskannya.


Arga terdongak memandang sang istri, kecupan itu seperti kilat lalu menghilang.


"Cepat sekali sayang?," Arga menggerutu namun wanitanya pura-pura tidak mendengarkan gerutu sang suami.


Wanita itu langsung turun dari ranjang menuju kamar mandi, mencuci muka dan mengambil wudhu'.


Selesai shalat Subuh berjama'ah, Laras langsung berkutat di dapur, memasak sarapan serta tak lupa membuatkan teh hangat kesukaan suami.


Sedangkan Arga turut membantu mengemasi pakaian dan perlengkapan yang dibutuhkan di kampung. Tak lupa membawa kalung dan cincin pernikahan yang beberapa waktu lalu sempat dilepaskan Laras saat wanita itu meninggalkan rumah.


Pukul 06:00.


Seperti yang telah direncanakan Arga, kedua insan itu sudah siap berangkat.


Namun sebelum berangkat, Arga sempat menelepon asisten Rico, Laras yang telah menunggu di dalam mobil mengamati Arga yang tampak begitu serius berbicara di ponsel.


Setelah tuntas menyelesaikan pembicaraan dengan Rico, Arga pun segera masuk mobil dan menjalankan kendaraan itu meninggalkan rumah megah yang tercatat atas nama Laras Mutiara.

__ADS_1


"Tadi mas bicara apa dengan Rico? sepertinya serius sekali," tanya Laras penasaran.


"Urusan kantor, mengapa kamu sekarang selalu bertanya sayang?," celoteh Arga tersenyum menoleh sejenak pada wanitanya kemudian memfokuskan kembali melihat ke depan.


Laras menoleh ke arah suami yang sedang fokus menyetir.


"Baiklah, besok-besok aku tidak akan bertanya lagi," sahut Laras lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela.


"Jangan sayang, jangan.., kalau kamu tidak bertanya lagi, nanti aku merasa tidak diperhatikan, jangan marah sayang," bujuk Arga langsung menggenggam jemari Laras, mukanya memelas memandang sang istri.


Laras tersenyum menatap Arga, hatinya bahagia melihat sikap pria kaya itu yang berubah drastis, sekarang sikapnya menjadi sangat manja dan sangat takut jika melihat Laras marah, bersedih, menangis apalagi terluka.


Rasanya Allah begitu adil memberikan Takdir padanya, setelah menjalani bertubi-tubi penderitaan dari suami yang pertama hingga suami yang kedua, akhirnya di detik ini dia bisa memetik Hikmah dari semua kesengsaraan selama ini, bisa merasakan dan menikmati arti dari kebahagiaan yang sesungguhnya.


"Aku tidak marah mas, mana bisa aku marah padamu, sikapmu selalu baik dan penuh perhatian, aku tidak punya alasan untuk marah padamu," ucap wanita itu merasakan hangat di tangan karena sentuhan Arga.


Arga mengecup tangan Laras.


"Kamu memang istri yang sangat baik, aku mencintaimu sayang," ucapnya yang diikuti dengan tatapan lembut dari mata redup Laras kepada sang suami, mengangguk lalu tersenyum.


Laras kembali mengedarkan pandangan dan memperhatikan ke luar.


"Mas, aku mau itu!," tunjuk wanita cantik itu tiba-tiba menunjuk sebuah gerobak yang ada di pinggir jalan.


"Ciiiitt"


Arga mendadak menginjak rem, langsung menoleh wanita di samping.


"Sayang, aku belum melakukan apa pun padamu," pria tampan itu memandang istrinya tak berkedip.


"Maksud mas?," Laras bertanya bingung, menautkan alis menoleh ke arah suaminya.


"Bagaimana mungkin kamu mau memakan rujak? Apa kamu sedang hamil sayang? bahkan malam ini kita baru mau melakukannya," sungut Arga heran.


Mulut Laras ternganga mendengar perkataan pria kaya itu.


"Mas, orang yang makan rujak tidak semuanya sedang hamil, banyak juga pria yang suka rujak. Aku dan Tina juga suka rujak, kami sering memakan rujak bersama-sama. Buktinya sampai sekarang aku dan Tina tidak hamil, hmm, mas boleh ya aku membeli rujak itu?," wanita cantik itu meminta izin.


"Jangan!," perintah Arga cepat lalu membuka pintu mobil dan turun.


Pria itu berjalan ke pintu samping dimana Laras duduk dan melambaikan tangan di balik kaca jendela pada sang istri.


"Mas, mengapa keluar?," Laras bertanya heran.


"Kamu mau buah apa?," pria itu bertanya.


Laras mendadak tertawa memandangi Arga, ternyata sang suami berkata "Jangan" karena dia sendiri yang ingin turun dan membelikan rujak itu.


"Mas, terima kasih ya," Laras menatap senang sang suami.


"Jadi mau buah apa sayang?," tanya Arga kembali.


"Jambu, pepaya dan bengkoang saja mas, mas mau rujak juga kan? mas sendiri mau buah apa?," Laras balik bertanya.


"Aku mau buah ituuu..," pria tampan itu mengerlingkan mata ke arah dada Laras yang terlihat bulat menonjol di balik baju kaos putihnya.


Laras terperanjat, refleks melihat ke bawah ke bagian dada yang tadi dilirik Arga, wanita cantik itu langsung menutupi dadanya, sambil membelalakkan mata pada Arga.


"Mas, mengapa di tengah jalan begini mas masih bisa berfikiran mesum?," Laras masih menutupi dua tonjolan di dada dengan kedua tangannya, dia menjadi sangat malu Arga menatap dadanya tajam tak berkedip.


"Benar juga, mengapa di tengah jalan aku malah melihat buah yang masih terbungkus itu? Seharusnya aku bersabar sedikit, malam ini aku akan melihat sepuasnya sayang, aku sendiri yang akan membuka dan akan melahapnya sampai habis..," goda pria tampan itu terkekeh sambil membalikkan badan berjalan menuju gerobak rujak tanpa melihat reaksi yang tergambar di wajah sang istri, telah merah merona.


Hati Laras berdesir, mendengar perkataan Arga seperti itu saja telah membuat darahnya terasa panas, bagaimana jika sampai Arga benar-benar menyentuh tonjolan di dadanya, Laras memejamkan kedua mata seraya mengernyitkan kedua alis dan menggigit bibir membayangkan hal itu. Bulu kuduknya langsung berdiri menanti malam ini yang akan segera datang.


Beberapa menit kemudian.


"Ini pesananmu," Arga duduk di jok kemudi memberikan dua kotak plastik rujak pada Laras lalu menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan.


Wanita berkulit putih itu langsung membuka kotak plastik rujak, menusuk irisan jambu lalu memakannya.


"Sayang, kamu makan sendiri?," Arga menelan air liur melihat Laras mengunyah dan begitu menikmati rujak itu.


"Oh iya, maaf mas..," Laras baru sadar.


Laras menusuk irisan bengkoang lalu memberikan lidi tusuk rujak itu pada Arga.

__ADS_1


"Aku mau disuapi," pinta Arga tidak mengambil lidi tusuk rujak itu dari tangan Laras.


"Iya, ini..," Laras menyodorkan bengkong ke mulut Arga.


Arga mengecap beberapa kali dan merasakan ada asin, manis serta sedikit pedas dari bumbu rujak itu, Arga pun meminta kembali.


"Enak juga ya sayang, aku mau lagi," pria itu membuka mulut.


Laras pun kembali menyuapi sang suami, sesekali mereka tak sengaja saling bertatapan dan keduanya sama-sama saling menikmati dan meresapi tatapan itu.


Pukul 09:00.


Mereka telah tiba di rumah, di kampung Laras, dari Jakarta mereka lewat tol, sehingga tidak memakan waktu terlalu lama, mereka telah sampai di rumah Laras.


Di perjalanan tadi mereka juga sempat mampir di mini market yang buka 24 jam, membeli sejumlah menu makanan, nugget, kornet daging, buah, roti dan semua yang diperlukan untuk persediaan selama di kampung.


Khusus siang ini dan malam nanti Arga sengaja tidak menyuruh Laras memasak supaya sang istri bisa beristirahat dan mengumpulkan tenaga untuk malam nanti.


Pukul 12:30.


Keduanya telah menyelesaikan semuanya, makan siang dan menunaikan shalat Dzuhur.


Keduanya pun istirahat dan tidur siang, siang ini Arga memilih tidur di kamar Laras, meskipun dia tidur dengan memeluk tubuh Laras namun pria tampan itu tidak mengganggu sang istri karena dia tahu, Laras pasti masih lelah setelah perjalanan jauh.


Pukul 16:00.


Suami istri itu sepertinya sangat kelelahan, tidak ada satu pun di antara mereka yang tergerak dari tidur, bahkan adzan Ashar pun tidak terdengar di telinga mereka. Keduanya masih tertidur pulas, tampak sang suami memeluk tubuh ramping itu ke dalam pelukannya. Dan wanita cantik itu pun begitu menikmati tidur di dalam dada bidang pria wangi itu sehingga dia pun ikut tertidur lelap.


"Tiin, tiin, tiiinn"


Klakson mobil memekakkan telinga.


Laras terkejut, matanya langsung terbuka lalu melebarkan telinga mendengar suara yang barusan membangunkan tidurnya.


"Tiin, tiin, tiiiinn"


Kembali suara klakson terdengar berulang kali, sepertinya suara klakson itu datangnya dari depan rumah Laras.


"Mas, mas bangun mas..," Laras menggoyang bahu Arga.


Namun pria itu masih belum membuka mata, dia sangat menikmati suasana dingin di kampung Laras karena bulan ini memang sedang musim hujan.


"Mas bangun mas, ada suara mobil di depan, sepertinya di depan rumah kita," Laras lebih keras menggoyangkan bahu suaminya.


Arga langsung membuka mata dan kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul. Namun suara klakson yang terus menggema di depan rumah, membuat pria itu tergopoh-gopoh berlari ke depan dan membuka pintu.


"Mengapa lama sekali membuka pintu? apa kamu sedang bermesraan dengan istrimu?," ucap pria di depan pintu terlihat kesal pada Arga.


"Iya, tadi kita sedang tidur, kelelahan," Arga tersenyum menatap sang pria di depannya yang telah menekuk mukanya, tampak sebagian bajunya terlihat basah.


Arga baru sadar, dan melihat cuaca di luar, sedang gerimis.


"Ayo masuklah," Arga mengajak tamunya masuk, yang tidak lain adalah Rico.


Rico berjalan masuk, kemudian sedikit membisikkan sesuatu di telinga Arga. Arga pun manggut-manggut.


Laras yang melihat tingkah kedua sahabat itu menjadi curiga, sebenarnya apa yang mereka rencanakan?


"Sayang, bisa tolong ambilkan handphone Rico ketinggalan di mobil, tapi kamu harus memakai jaketku ini untuk payung biar tidak kebasahan, di luar hujan," ucap Arga mengambil jaket tebal miliknya lalu menutupi kepala wanita cantik itu.


Laras langsung mengerutkan dahi, mengapa dia yang disuruh mengambilkan ponsel Rico, mengapa bukan Rico atau Arga saja yang mengambilnya.


"Sayang, mau kan?," tanya Arga menatap Laras dari balik jaket tebal yang menutupi kepala sang istri.


"Baiklah," sahut Laras singkat, dengan berat hati wanita itu berjalan keluar, di benaknya makin bertanya-tanya apa yang direncanakan oleh kedua sahabat itu.


Laras membuka pintu di bagian kemudi, tempat Rico menyetir, betapa terkejutnya wanita itu saat melihat siapa yang ada di dalam sana, duduk di jok samping.


"Tina!," panggil Laras dengan wajah berbinar penuh keterkejutan serta kebahagiaan, dan langsung masuk ke dalam mobil, duduk di jok kemudi lalu memeluk sahabatnya.


"Ternyata ini yang direncanakan kedua orang di dalam! dan kamu juga ikut andil dengan rencana ini kan?," Laras mengurai pelukannya kemudian menatap cemberut pada Tina yang senyum-senyum tak berdosa.


"Rico yang memaksaku ikut ke sini atas perintah suamimu, tapi tenang saja, aku dan Rico tidak akan mengganggu malam pertama kalian, bentar lagi juga kita pulang ke jakarta lagi," jelas Tina mulai menggoda sahabatnya.


"Apaan sih kamu! ayo masuk," ajak Laras keluar dari mobil.

__ADS_1


Pantas saja Arga dan Rico menyuruh Laras mengambil ponsel di mobil Rico, ternyata kedua sahabat itu memberi kejutan atas kedatangan Tina. Dan Laras pun sangat bahagia dengan kedatangan sahabatnya itu.


...*******...


__ADS_2