
Pukul 02:00 dini hari.
Laras terbangun dari tidur, wanita itu segera duduk dan membangunkan Arga.
"Mas, bangun mas," Laras menyibak selimut dan menggoyang bahu Arga.
Arga dengan muka masih sangat mengantuk, mencoba membuka mata namun tubuhnya masih belum bergerak, hanya matanya tampak memicing berusaha melihat dengan jelas wajah yang ada di depannya.
"Ada apa sayang?," tanya pria itu dengan suara serak.
"Mas, aku lapar," Laras berkata sambil berulang kali meneguk air liur dan mengelus perut buncitnya.
"Hah?" mata Arga membulat.
"Sayang ini sudah jam 2 malam, kamu mau makan tengah malam seperti ini? bukankah tadi sebelum tidur kamu sudah menghabiskan dua piring nasi? sekarang kamu sudah lapar lagi?," tanya Arga tak percaya jika sang istri tengah kelaparan.
Mata pria itu mendadak terang, rasa kantuk yang tadi menyerang seketika sirna tatkala mendengar keinginan Laras yang ingin makan di tengah malam.
"Iya mas, aku masih lapar, mas mau tidak memasakkan nasi goreng untukku?," tanya wanita cantik itu menatap penuh harap pada sang suami.
"Haaahh??," mata Arga kembali membuka lebar tak percaya dengan apa yang diminta sang istri.
"Sayang, aku tidak bisa membuat nasi goreng," sahut Arga bingung mengerutkan dahi.
"Nanti aku yang akan mengajari mas, mas tidak mau kan anak mas di dalam perutku ini kelaparan? Dan nanti saat lahir akan menjadi kurus dan kekurangan gizi?," Laras meruncingkan mulut, wajahnya terlihat lucu.
Arga tergesa-gesa mengangkat tubuh lalu ikut duduk di samping Laras.
"Jangan, jangan! Iya baiklah sayang, aku akan membuatkanmu nasi goreng, tapi kamu harus membantu dan mengajariku," ujar Arga memenuhi permintaan si Ibu hamil.
Betapa senangnya wanita cantik itu mendengar jawaban Arga, dia langsung memeluk pria tampan di sampingnya, lalu membenamkan kepala di dada suami yang sangat dicintainya.
"Terima kasih mas, mas selalu menuruti keinginan calon anak kita," ucap wanita itu terus mendekap erat Arga.
"Iya sayang, aku akan melakukan apa saja demi kamu dan calon anak kita," sahut Arga melepas pelukan dan memandangi wajah sang istri.
"Semakin hari wajahmu semakin cantik," Arga memuji Laras sambil mengusap lembut wajah cantik itu.
"Oh ya? Perasaan biasa saja mas, dari dulu wajahku seperti ini saja, tidak ada perubahan apapun," Laras menjawab apa adanya.
"Itu perasaanmu, tapi mata dan perasaanku beda, sejak aku berada di sampingmu setiap hari, aku merasa kamu semakin hari semakin cantik. Tidak ada wanita di luar sana yang bisa mengalahkan kecantikanmu sayang, baik wajah maupun hati," Arga memuji istrinya dengan jujur.
Laras tersenyum menatap Arga, wanita itu merasa tersanjung dipuji pria tampan itu.
"Aku paling malu kalau dipuji-puji terus mas. Ayolah kita ke dapur, katanya mau membuatkan nasi goreng untukku?," ajak wanita cantik itu beringsut turun dari ranjang.
"Ayo, aku gendong ya?," Arga turun dari tempat tidur kemudian membantu wanita hamil itu untuk turun dari ranjang.
"Tidak perlu mas, aku masih kuat berjalan ke dapur," tolak Laras tersenyum sambil mulai melangkahkan kaki menuju pintu, sementara tangan Arga tak lepas menggandeng Ibu hamil itu.
Sesampai di dapur, tak menunggu waktu lama, Laras langsung menyiapkan bumbu dan nasi.
Laras segera mengupas bawang, Arga pun mengambil pisau dan berniat ikut mengupas bawang.
"Mas, tidak usah mengupas bawang, biar aku saja. Mas kan tidak pernah melakukan pekerjaan ini, aku takut nanti tanganmu terluka," ucap wanita itu melarang.
"Terus, aku membantu apa?," tanya pria itu bingung.
"Nanti mas mengaduk nasi saja," Laras memberitahu.
Wanita itu memasukkan sedikit cabe dan beberapa siung bawang ke dalam gelas blender, lalu memblendernya.
"Mas tolong nyalakan kompor dan taruh wajan di atasnya," pinta Laras.
Arga segera mengikuti perkataan Laras dan mengambil wajan yang tersusun rapi di dalam kitchen set.
"Benar kan ini wajan nya?," Arga masih bertanya, pria itu takut salah mengambilkan alat yang dimaksud istrinya.
"Iya benar, mas belajar dari mana, bisa tahu kalau ini wajan?," tunjuk Laras pada benda yang dipegang Arga.
"Dulu, waktu masih tinggal dengan mama, aku sering mendengar mama meminta ambilkan wajan pada pekerja di rumah. Dan aku sempat melihat pekerja mengambil benda ini," jawab Arga memonyongkan mulut menunjuk benda yang ada di tangan lalu mengangkat benda tersebut ke atas.
Laras tertawa lalu menganggukkan kepala berulang kali.
"Ternyata mas memang pintar, hanya dengan mendengar, mas bisa langsung mendapat pelajaran tentang sesuatu hal," puji wanita cantik itu seraya mengambil wajan dari tangan Arga.
Laras menyalakan kompor dan meletakkan wajan di atas kompor lalu memberi sedikit minyak goreng di dalam wajan.
Dengan cekatan wanita cantik itu menggoreng telur mata sapi, setelah matang, segera menaruhnya di piring.
Laras juga telah selesai memblender bumbu lalu memanaskan minyak dengan api kompor yang sengaja dikecilkan.
"Sekarang tugas mas menumis bumbunya," pinta wanita itu.
Arga mengangguk, dengan sedikit ragu-ragu pria itu mencoba mengaduk bumbu yang telah dimasukkan Laras ke dalam wajan, sesekali pria itu menjauhkan kepala menghindari percikan minyak panas.
"Percikan minyak ini seperti mengejarku," ucap Arga dengan raut muka panik.
Laras tersenyum melihat sang suami yang tampak panik saat percikan minyak mengarah ke mukanya.
"Tidak apa-apa mas, apinya sudah aku kecilkan," ujar Laras sambil memasukkan nasi putih ke dalam wajan, memberi garam serta kecap manis.
"Tolong mas aduk-aduk terus nasinya biar tidak gosong, aku duduk sebentar," ujar Laras duduk di kursi plastik yang biasa digunakan bik Lina untuk duduk saat sedang memasak.
"Iya sayang, kamu duduk saja dulu, kamu pasti lelah berdiri terus," sahut Arga menoleh sejenak ke arah Laras yang telah dengan santainya duduk di kursi memperhatikan suaminya yang masih berkutat di depan kompor.
Arga masih sibuk mengaduk nasi sesuai perintah Laras, sambil sesekali tangannya masuk ke dalam wajan mengambil beberapa butir nasi lalu memasukkan ke dalam mulut dan mengunyahnya
"Enak sekali," gumam pria itu merasakan cinta rasa nasi goreng yang terasa sungguh nikmat di lidahnya.
Memang semua yang dimasak dan bumbu yang diracik Laras selalu terasa nikmat di lidah pria kaya itu, tidak pernah satu kali pun lidahnya merasakan masakan Laras hambar atau pun keasinan, semua bumbu yang diracik oleh tangan sang istri selalu pas dan cocok di lidahnya.
Saat Arga masih mengecap dan menikmati butiran nasi goreng sambil tangannya terus mengaduk nasi di dalam wajan, tiba-tiba pria tampan itu dikejutkan dengan sentuhan lembut di pinggangnya, dia merasakan ada dua tangan telah melingkar dan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Dug, dug, dug,"
Tiba-tiba jantung Arga berdegup kencang, darahnya seakan mengalir deras, merasakan sentuhan itu.
Pria tampan itu terkejut bukan main, tidak biasanya wanita cantik yang hampir satu tahun menjadi istrinya itu, tiba-tiba memeluknya erat seperti itu.
Istrinya yang pemalu dan juga sangat polos itu, kini sedang memeluknya begitu erat dengan menggunakan kedua tangan lalu menyandarkan kepala di punggung Arga.
__ADS_1
"Sayang.., terima kasih," ucap Laras lembut dari balik punggung Arga.
Untuk kedua kalinya Arga kembali terkejut.
Dalam satu menit, pria tampan itu terdiam, hanya mata dan mulutnya yang bereaksi, membuka lebar, menunjukkan keterkejutan dengan apa yang baru saja didengar serta dirasakannya.
Suasana menjadi hening, Laras masih menempelkan kepala di punggung Arga, kedua tangannya tetap memeluk erat dari pinggang sampai perut sang suami, sedangkan pria tampan itu masih tidak percaya dengan sikap Laras yang tiba-tiba memeluknya dari belakang, jantungnya terus berdegup kencang.
Selama pernikahan, pria itu tidak pernah mendengar panggilan "sayang" dari Laras, apalagi mendapatkan pelukan tiba-tiba seperti ini.
Selama ini Laras hanya akan memeluk Arga dalam situasi dan moment tertentu saja.
Selama ini Arga lah yang selalu berperan aktif dan hampir setiap hari memeluk istri kesayangannya itu.
Arga masih berdiri mematung, hatinya begitu nyaman mendapat pelukan wanita itu, tangannya terulur memegang tangan Laras yang masih erat memeluk perutnya, mengusap tangan wanita itu dengan lembut.
Kemudian pria itu mematikan kompor dan membalikkan tubuh menghadap wanita yang ada di belakangnya.
Keduanya saling berhadapan, Laras sedikit mendongak menatap sang suami, sedangkan Arga memandang istrinya tanpa berkedip.
"Apa aku tidak salah dengar? Tadi kamu memanggilku apa?," pria tampan itu memastikan ucapan Laras, mungkin saja dia salah mendengar atau Laras yang salah berucap.
"Iya, mas tidak salah mendengar," sahut Laras meyakinkan pria tampan itu.
"Terima kasih sayang..," ucap Laras mengulang perkataannya seraya menjinjitkan kaki agar tubuhnya bisa lebih tinggi, lalu mencium kening Arga.
Untuk ketiga kali, Arga kembali terkejut, mata dan mulutnya menganga mendapat ciuman dari wanita cantik itu.
Sedetik kemudian, sebuah senyuman pun tersungging di bibir Arga, matanya tak berkedip menatap Laras, mata pria itu tampak berbinar menggambarkan rasa bahagia.
"Malam ini sikapmu manis sekali sayang," ucap Arga penuh kegembiraan.
Laras hanya tersenyum sambil menutup mulut merasa malu pada Arga.
"Oh ya sayang, tadi kamu mengucapkan terima kasih, untuk apa?," tanya Arga ingin tahu.
"Karena mas sudah memasakkanku nasi goreng, dan karena mas selalu memperhatikanku dan memprioritaskanku selama aku hamil," ujar Laras memberitahu.
"Oh karena ituu..," Arga tersenyum sambil manggut-manggut.
"Pantas kamu jadi begitu manis padaku malam ini. Iya sayang, sama-sama, sudah kewajibanku memperhatikan dan memprioritaskanmu, apalagi kondisimu yang sekarang sedang mengandung anakku," ucap Arga menggapai kedua tangan wanita hamil itu lalu mengecupnya bergantian.
"Apa mulai malam ini kamu akan terus memanggilku "sayang?"..," tanya pria itu kemudian.
"Iya sayang, aku akan memanggilmu terus seperti ini," sahut wanita itu meyakinkan sang suami.
"Aku senang sekali, kamu bisa memanggilku "sayang" atau "papa" juga tidak apa-apa," ucap Arga menggoda Laras, lalu memeluk Laras dan mengecup kening wanita itu.
Laras hanya tersenyum.
"Aku wadahi nasinya dulu," ujar Arga melepas pelukan.
Pria itu segera mengambil piring dan menaruh nasi goreng dalam satu piring lalu menaruh telur mata sapi ke atasnya.
Keduanya berjalan ke meja makan.
"Duduklah," Arga menarik kursi untuk sang istri.
"Terima kasih sayang," ucap Laras menerima suapan Arga lalu mengunyahnya pelan.
"Enak tidak masakanku?," tanya Arga dengan bangga.
"Emm, enak sayang, siapa yang meracik bumbunya?," Laras pura-pura bertanya.
Arga berfikir sejenak, memutar matanya ke atas.
"Kamu," ujarnya kemudian.
"Nah, berarti yang masak nasi goreng ini aku, bukan mas,"
Mereka tertawa bersamaan.
"Tapi aku kan yang mengaduk dan menyiapkannya," pria itu tidak mau kalah.
"Iya, iya, terima kasih sayang sudah membuatkanku nasi goreng ini," ucap Laras tersenyum.
Arga pun tak mau ketinggalan, pria itu ikut memakan nasi goreng yang ada di piring, melahapnya dengan cepat.
Setelah menyantap habis satu piring nasi goreng dan menambah satu piring lagi, keduanya kembali ke kamar dan melaksanakan shalat tahajjud, setelah itu kembali melanjutkan tidur.
*****
Beberapa hari kemudian. Pukul 17:00.
Tampak Laras dan bik Lina sedang duduk santai di teras rumah, sambil menikmati kerupuk putih selebar piring berbentuk keriting yang ada di toples besar.
Setiap sore sudah menjadi rutinitas Laras menunggu kepulangan Arga di teras rumah, terkadang wanita itu menunggu di ruang tengah atau pun di ruang tamu.
Tak berapa lama, Arga pulang dari kantor, mobil mewahnya meluncur memasuki pekarangan rumah.
Pria tampan itu keluar dari mobil, Laras pun segera berdiri menyambut sang suami dan mencium tangan Arga, Arga pun seperti biasa melabuhkan kecupan di kening Laras.
"Kalian sedang makan apa?," tanya Arga melirik toples besar yang ada di atas meja.
"Ini tuan, makan kerupuk murah, tuan pasti tidak akan suka, ini makanan orang kecil," sahut bik Lina polos masih dengan kunyahan di mulutnya yang belum habis.
"Coba aku cicipi," Arga mengambil satu kerupuk dari toples.
"Kretak"
Pria kaya itu menggigit kerupuk putih dan lebar yang ada di tangannya.
"Hmmm..," lidahnya terus mengecap, mencicipi kerupuk putih itu, sementara matanya bergerak ke kiri dan ke kanan mencoba menilai cita rasa kerupuk harga seribuan itu.
"Kurang enak," jelas pria kaya itu mengerutkan dahi lalu meletakkan kembali sisa kerupuknya ke atas meja.
"Sayang, tadi kan sudah dikatakan bik Lina, mas pasti tidak akan suka, mana mungkin juga mas suka kerupuk ini, ini kerupuk harga seribuan," ujar Laras tertawa memperhatikan tingkah Arga.
"Iya, aku tidak suka, rasanya hanya asin saja tidak ada rasa bumbu," sahut Arga sambil menggandeng tangan Laras memasuki rumah.
Bik Lina hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah majikannya itu, meski pun begitu, bik Lina dan para pekerja yang lain merasa nyaman dan betah bekerja di rumah tuan kaya itu karena Arga dan Laras sangat baik memperlakukan seluruh pekerja di rumahnya.
__ADS_1
*****
Pukul 01:30 dini hari.
Arga tiba-tiba terbangun dari tidur, entah mengapa lidahnya ingin sekali memakan kerupuk keriting selebar piring yang tadi sore sempat dia cicipi.
Pria itu melihat istrinya yang tampak tidur begitu tenang di dalam selimut, Arga sengaja tidak ingin membangunkan Laras, dia tidak ingin mengganggu istrinya yang tengah tertidur pulas.
Arga segera turun dari ranjang, lalu dengan langkah pelan tanpa meninggalkan suara, pergi ke dapur.
Dia mencari toples besar yang tadi sore berisi kerupuk, pria itu membuka semua kitchen set tetapi tidak menemukan makanan yang dia inginkan, entah mengapa dia sangat menginginkan memakan kerupuk itu, rasanya dia seperti orang ngidam.
"Dimana bik Lina menyimpan kerupuk tidak enak itu?," gumamnya frustasi sambil terus mencari seisi dapur.
"Ah itu dia!," mata Arga melihat toples besar yang ada di atas lemari es.
Pria itu langsung membawa toples itu dan duduk di meja makan, langsung membuka toples itu dan memakannya satu.
"Kretak"
Arga mulai menggigit kerupuk putih dan lebar itu.
"Eemm, enak sekali, renyah," gumamnya tersenyum seorang diri.
Dalam beberapa menit, pria itu telah menghabiskan tiga kerupuk.
"Sepertinya enak kalau dimakan dengan nasi," fikirnya dalam hati.
Pria itu segera mengambil piring dan mengambil nasi dari magicom, lalu melumuri nasi putih itu dengan kecap manis.
Pria itu kembali duduk di meja makan, lalu menikmati nasi, kecap dan kerupuk.
"Eemm, enak sekali ternyata," gumamnya manggut-manggut sambil terus tersenyum seorang diri.
Sedang asyik-asyiknya menikmati nasi dan kerupuk, tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Arga.
"Sayang, kamu sedang makan apa?," tiba-tiba Laras sudah berdiri lima meter dari Arga duduk.
"Ehh sayang, mengapa kamu bangun? Ini aku sedang makan nasi dan kerupuk," jawab pria itu jujur sambil terus mengunyah dan menggigit kerupuk lebar itu.
Laras mendekat dan memperhatikan dengan saksama isi di dalam piring suaminya. Wanita itu terperanjat, mengernyitkan dahi melihat makanan yang sedang disantap Arga.
"Sayang? Benar kamu makan ini?," Laras bertanya tak percaya dengan penglihatannya.
"Iya, aku makan ini, memangnya mengapa?," Arga balik bertanya seraya berdiri dari duduknya dan menarik kursi untuk sang istri.
Laras pun duduk di kursi di sebelah Arga.
"Baru tadi sore mas mengatakan kalau kerupuk ini tidak enak," ucap Laras menatap Arga heran.
"Iya, tadi sore memang tidak enak, tapi tidak tahu tadi tiba-tiba aku terbangun ingat kerupuk ini," ucap pria itu terkekeh sambil terus menggigit kerupuk itu dengan suara garing "kretak, kretak".
Laras tertawa melihat Arga yang dengan penuh semangat menyantap makanan dengan lahap meskipun hanya nasi, kecap dan kerupuk.
"Mas pasti ngidam makanya tengah malam seperti ini makan kerupuk dengan nasi," Laras menggeleng-gelengkan kepala tersenyum menatap Arga.
"Mungkin," sahut Arga kembali memasukkan nasi ke dalam mulut dan menggigit kerupuk.
"Dulu aku juga sering makan seperti ini sayang," ungkap Laras memberitahu suaminya.
"Apa? kamu makan kerupuk ini dengan nasi dan kecap?," Arga menghentikan kunyahan menatap Laras.
"Iya mas, waktu mas memberiku uang belanja 1 juta," sahut Laras tersenyum.
Laras memang wanita hebat dan berhati luas, dia telah melupakan semua perlakuan Arga dahulu terhadapnya, sehingga detik ini dia telah bisa tersenyum ikhlas kepada suaminya.
Arga mendadak menghentikan kegiatan makannya, tangan pria itu menarik kursi lebih merapat mendekat ke samping Laras.
"Maafkan aku sayang, dulu aku sangat jahat memperlakukanmu, aku tidak tahu jika dulu kamu makan seperti ini, aku benar-benar tidak punya hati," ucap Arga menyesali.
Pria kaya itu memegang kedua tangan Laras dan menaruh tangan wanita itu di dahinya.
Mata Arga terpejam dengan penuh penyesalan menggenggam tangan Laras di dahinya, pria itu mencoba mengingat kembali kejadian masa lalu di awal pernikahan mereka.
"Semua sudah berlalu, sekarang aku sudah bahagia denganmu," ucap Laras menarik tangan dari dahi Arga.
Dengan penuh perhatian, Laras mengusap wajah suaminya yang kini tampak berubah muram dan sedih.
"Sudah, jangan sedih lagi, nanti anak kita ikut sedih," ujar Laras tersenyum menghibur sang suami.
"Ayo sayang makan lagi, nasinya belum habis. Sini aku yang suapi," sambung Laras sambil mengambil piring di dekat Arga.
Wanita baik itu menyendok nasi yang masih tersisa beberapa sendok lagi, lalu menyuapkannya ke mulut sang suami.
"Enak kan sayang makan nasi dengan kerupuk?," tanya Laras tersenyum menggoda Arga.
"Iya enak sekali," Arga pun terkekeh sambil terus mengunyah makanannya.
"Kamu tidak mau mencobanya?," tawar pria itu.
"Tidak sayang, aku masih agak kenyang,"
Setelah Arga menghabiskan nasi di piring, Laras pun mengajak Arga kembali ke kamar.
"Sayang, ayo kita ke kamar, tahajjud sebentar, setelah itu kembali tidur, aku sudah mengantuk," Laras berkata sambil menguap seraya menutup mulut.
"Baiklah," pria tampan itu menuruti keinginan Laras.
Dengan cepat dan tanpa harus meminta izin lagi, pria itu membopong tubuh Laras dan membawanya ke kamar.
"Biar aku membantumu, aku tidak akan membiarkanmu kesusahan berjalan ke kamar membawa badanmu yang gemuk ini," gurau Arga sambil membopong Laras menuju kamar.
Laras tertawa mendengar gurauan Arga sambil mencubit pelan pipi suaminya.
"Aku mencintaimu sayang," ucap Arga menatap Laras penuh cinta.
"Aku juga mencintaimu sayang," jawab Laras menatap Arga dengan sorot matanya yang begitu lembut.
Hati keduanya begitu bahagia, belum pernah mereka merasakan perasaan bahagia sebesar ini dengan pasangan mereka sebelumnya.
Baik Laras maupun Arga, mereka selalu berharap dan berdoa di setiap ibadah lima waktu serta tahajjud malam agar diberi umur panjang dan bisa menghabiskan sisa umur selalu bersama, selamanya...
__ADS_1
...*******...