Istri Pilihan Mama

Istri Pilihan Mama
120 - LARAS BIKIN CANDU


__ADS_3

Episode kali ini juga atas request reader, minta Laras dipertemukan kembali dengan mantan suaminya. Tapi ceritanya disingkat-singkat aja ya biar cepet tamat🤤


*****


Pukul 21:30.


Wanita cantik dan pria tampan itu telah masuk ke kamar, masing-masing telah selesai menggosok gigi serta membersihkan muka.


"Sayang, gantilah lingerie, kamu bawa lingerie-mu kan?," pinta pria tampan itu, yang sudah bisa ditebak si wanitanya bahwa malam ini pria itu pasti akan meminta sesuatu darinya.


"Bawa mas, tapi hanya bawa dua,"


"Tidak apa-apa, pakai saja, aku ingin melihatmu memakainya,"


Laras hanya mengangguk menjawab perkataan Arga dan langsung mengikuti keinginan sang suami.


Wanita bertubuh langsing itu mengambil tas pakaian mereka, lalu pergi ke kamar mandi, melepas baju tidur setelan yang kini dipakai, membuka bra, kemudian menggantinya dengan lingerie menerawang berwarna pink.


Arga yang duduk di sofa, menunggu sang istri dengan tidak sabar, dari tadi kepalanya bolak balik menoleh ke arah kamar mandi namun sang istri cukup lama di dalam sana.


Sudah Empat hari pria itu berpuasa, tidak menyusuri dan memberikan kecupan di tubuh sang istri serta tidak meninggalkan stempel di tubuh putih itu.


Malam ini kepalanya terasa berat dan mulai terasa sakit karena menahan hasrat yang harus segera dikeluarkan, apalagi saat sore tadi melihat Laras selesai mandi, begitu cantik dengan rambut panjang yang basah, gairah di dalam diri pria itu semakin menggebu.


"Ceklek"


Pintu kamar mandi terbuka, pria tampan itu tidak membuang waktu langsung mengalihkan pandangan ke arah kamar mandi.


Tampak wanita cantik berkulit putih muncul di sana, dengan rambut yang sengaja tidak diikat dan dibiarkan tergerai menutupi leher putih serta sebagian dadanya.


Saking banyaknya lingerie yang dibelikan Arga, membuat Laras kebingungan harus memilih dan memakai lingerie yang mana.


Malam ini Lingerie yang dikenakan Laras baru kali ini dipakainya membuat mata Arga membola mengamati lekat wanita berkulit mulus itu.


Cantik sekali!


Satu kata itu yang terbersit di benak pria tampan dan kaya itu. Matanya terpana memperhatikan sang istri dari ujung jari sampai ujung rambut.


Di Indonesia, Laras memiliki postur tubuh termasuk tinggi dan ideal, tidak gemuk, tidak juga kerempeng, tepatnya badannya kurus tetapi masih enak dipandang mata, karena kurusnya tertutupi dengan tubuhnya yang tinggi, dengan ukuran 168 cm, dan berat badan 53 Kg.


Arga tidak bisa membohongi hatinya, hingga detik ini, jantung pria itu masih saja selalu bergetar kencang tiap kali melihat penampilan sang istri yang mengenakan lingerie, membuatnya mabuk dan menjadi candu, dan dia tidak bisa bahkan tidak mampu berpaling barang satu detik pun dari wanita cantik berkulit putih serta bertubuh langsing itu.


Mungkin inilah yang dinamakan cinta mati.


( Hmm aku juga gak tau, coba tanyakan pada Romeo dan Juliet )😁


Biar pun di luaran sana, ada sejuta wanita yang cantik namun bagi pria itu juaranya tetaplah Laras, tidak ada yang bisa menandingi.


Apalagi Arga sekarang sudah begitu hafal dengan sikap dan kebiasaan Laras pada saat melayaninya di atas ranjang, wanita itu selalu menunjukkan sikap malu-malu membuat Arga semakin candu dengan sikap malu sang istri.


Pria itu justru tidak menyukai wanita atau pun istri yang terlalu agresif, dia lebih menyukai sifat Laras yang malu namun pada saat wanita itu mendesah menikmati sentuhannya, hal itulah yang menjadi candu tersendiri bagi Arga, membuat pria itu mabuk dan tak bisa berpaling dari wanita cantik itu.


Arga tak tahan, lama menunggu Laras yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar mandi, pria itu segera beranjak mendekati istrinya.


Laras masih berdiri kikuk dan menggerakkan ke sepuluh jemari supaya perasaan kikuk bisa sedikit menghilang.


"Mengapa dari tadi berdiri terus di sini? ayo naiklah ke tempat tidur," ajak Arga menggandeng tangan wanita itu yang kini mulai terasa dingin karena grogi.


Sama halnya seperti Arga, Laras juga merasakan hal yang sama, sudah puluhan kali dia tidur dan bergelut di atas ranjang menciptakan peluh bersama sang suami, namun hingga malam ini dia masih tetap merasa malu dan nervous, apalagi Arga selalu menatapnya tak berkedip tiap kali dia mengenakan lingerie yang tipis dan menerawang.


Keduanya duduk di bibir tempat tidur, Arga masih tetap seperti biasa, matanya tak lepas memandangi wanita cantik berambut panjang itu.


"Mengapa mas selalu menatapku seperti ini?," Laras mencoba bertanya, menatap balik Arga.


"Karena kamu terlalu cantik sayang, jangan salahkan mataku memandang tapi salahkan wajah dan tubuhmu yang terlalu indah," ujar Arga menyibakkan rambut Laras yang menutupi dada, lalu dengan mata elangnya dia menatap tajam ke dada sang istri yang kini terlihat jelas isi di dalamnya.


Laras bisa menangkap tatapan mata Arga ke arah dadanya, semakin hari pria itu memang semakin genit padanya, semakin mengenal Arga, Laras semakin sering mendengar kata puitis dari pria tampan itu serta puluhan tingkah genit lainnya yang sering dilakukannya.


"Kamu dengar kata-kata mama tadi?," Arga bertanya menatap Laras yang duduk merapatkan paha dan lutut bak puteri Keraton.


Sepertinya wanita itu masih merasa canggung dengan pakaian minim yang setiap malam dikenakannya.


Sebenarnya dia tidak begitu nyaman memakai pakaian kurang bahan itu, namun karena permintaan suami, yang menginginkannya setiap malam memakai lingerie, membuat wanita itu mau tidak mau harus menurut, sebagai bentuk jika dia mematuhi perintah suaminya.

__ADS_1


"Iya, aku dengar mas,"


"Kamu ingin anak perempuan atau laki-laki sayang?," Arga mencoba bertanya keinginan hati istrinya.


"Aku ingin anak perempuan mas, yang lucu dan imut, aku bisa memakaikannya dengan baju, topi, kaos kaki, sepatu, jaket, semua dengan warna pink, betapa lucunya..," decak Laras memejamkan mata membayangkan seorang bayi perempuan.


Arga tersenyum melihat perkataan sang istri, segera dia menggapai kepala Laras dan menaruh di dada, mengecup rambut wangi itu.


"Aku akan mewujudkannya untukmu sayang," bisik pria itu di telinga Laras lalu menunduk dan menggigit kecil telinga wanitanya.


Tubuh Laras sedikit bergerak, merespon gigitan lembut di telinganya, mulai ada getaran di hatinya.


"Aku mencintaimu sayang..," ucap Arga masih di belakang telinga Laras sambil terus menciumi telinga wanita berkulit halus itu.


"Aku juga mencintaimu mas..," wanita itu menjawab pelan di sela-sela rasa yang makin membuatnya bergetar akibat sentuhan Arga.


Pelan Arga merebahkan tubuh Laras ke kasur empuk itu, lalu perlahan bibir pria tampan itu mulai bergerak menyusuri tiap lekuk tubuh Laras, dan tidak ketinggalan menggerakkan tangan untuk meraba, menyentuh setiap inci tubuh mulus Laras.


Wanita cantik itu memejamkan mata dengan rapat, menikmati setiap sentuhan Arga, dan sesekali meluncur ******* dari bibirnya yang terdengar lembut di telinga Arga.


******* Laras telah menjadi candu bagi Arga hingga membuat pria tampan itu semakin mabuk.


Setetes demi setetes keringat mulai keluar dari kedua tubuh itu, apalagi sang pria yang lebih dominan bergerak, tampak deras mengalir keringat di seluruh tubuhnya, sementara sang wanita hanya terpejam menerima dan menikmati setiap sentuhan serta gerakan lembut yang diberikan sang suami.


Hingga pada puncaknya, Laras kembali mendesah panjang sementara kedua tangannya seperti biasa meremas bahu atau pun punggung sang suami untuk menahan seluruh rasa yang seperti menyengat seluruh tubuhnya.


"Maass..," desah Laras panjang seraya meremas bahu Arga dan menggigit bibir bawahnya, hanya kata ini yang selalu meluncur dari bibir wanita cantik itu setiap kali dia berada di puncak nikmat.


Secara bersamaan, sang pria pun telah sampai ke puncak, ******* panjang pun tidak mampu dihindari Arga, dia merasakan sekujur tubuhnya seakan terbang ke angkasa tanpa sayap.


"Sayaang..," pria tampan itu menyudahi gerakannya, rasa nikmat itu telah menjalar ke seluruh tubuh, hingga kini tubuh itu terbaring di samping Laras dengan nafas masih tersengal.


Setelah mengatur nafas menjadi lebih tenang, seperti biasa pria itu langsung merapatkan tubuh ke tubuh sang istri, mengusap keringat yang menetes di dahi Laras, meraih kepala wanita cantik itu, merengkuh ke dalam pelukan dan mencium keningnya.


"Terima kasih sayang, aku mencintaimu..," kata inilah yang selalu diucapkan sang pria setiap usai bercinta dengan tidak lupa meninggalkan kecupan di pucuk kepala istri tercintanya.


"Sama-sama mas, aku juga mencintaimu..," ucap Laras, kata ini juga yang selalu diucapkan Laras untuk membalas kata cinta dari sang suami.


Sepuluh menit kemudian, Laras seperti biasa akan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan.


Arga segera turun dari tempat tidur, lalu membopong tubuh istri yang teramat dicintainya.


"Mulai malam ini, jangan pernah ke kamar mandi sendiri setiap kita habis bercinta, aku yang akan mengantarkanmu..," ucap pria baik hati itu sambil berjalan ke kamar mandi.


Laras tersenyum penuh rasa syukur dan bahagia mendapat perlakuan Arga yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya akan semanis dan sebaik ini.


"Terima kasih mas," ucap Laras melingkarkan tangan kiri di leher sang suami.


Arga hanya mengangguk lalu mencium pipi Laras sebagai jawaban ucapan terima kasih sang istri.


*****


Dua Minggu kemudian.


Jumat, Pukul 11:00.


Arga sengaja pulang dari kantor lebih cepat, hari ini pria itu berencana mengajak Laras liburan ke kampung sesuai janjinya beberapa waktu lalu yang akan membawa sang istri pulang ke kampung minimal Satu bulan sekali.


Sepulang dari shalat Jumat dan selesai makan siang, keduanya langsung berangkat ke kampung menggunakan mobil Honda CRV milik Laras, yang memang lebih nyaman menggunakan mobil itu dibanding Mercedes Benz milik Arga, dikarenakan akses jalan ke kampung Laras tidaklah semulus jalan di Jakarta, di Jakarta saja masih banyak di beberapa titik jalan jelek dan berlubang apalagi di kampung Laras.


Pukul 16:30.


Tak terasa mereka telah sampai di kampung.


Sesampai di depan rumah, betapa terkejutnya wanita cantik itu melihat bangunan rumah yang telah berubah menjadi bangunan minimalis yang sangat cantik, tidak kalah cantiknya dengan bangunan rumah di perumahan elit Jakarta.


Bentuknya masih sama persis seperti bangunan awal, tidak ada yang diubah, hanya saja seluruh dinding, lantai rumah diganti dengan granit dan batu alam yang benar-benar terlihat mencolok dan sangat megah dibanding seluruh rumah di kampung Laras.


Pintu, jendela serta atap rumah pun diganti dengan bahan terbuat dari kayu dan kaca yang serba modern dan mahal, rumah itu juga saat ini telah dipagar minimalis dengan teralis serta batu alam, makin menambah kesan elegant rumah kecil itu.


Laras langsung memeluk Arga, dan menangis haru di pelukan sang suami.


"Mas, mengapa kamu begitu baik?," tanyanya terisak dalam dada pria tampan itu.

__ADS_1


Mantan wanita miskin itu tidak pernah bermimpi rumah satu-satunya peninggalan orang tuanya akan secantik dan semegah ini, justru selama dia hidup dia selalu membayangkan jika rumah orang tuanya itu suatu hari nanti akan semakin tua dan akhirnya roboh dimakan usia.


Namun tidak dengan kenyataan yang dilihatnya sore ini, rumah orang tuanya telah disulap Arga menjadi istana kecil yang begitu indah dan menakjubkan.


Laras terus menangis di dalam dekapan Arga, bukan karena dia bersedih namun karena dia terlampau bahagia mendapatkan kejutan besar dari sang suami.


"Kamu yang terlalu baik padaku sayang, dari awal pernikahan aku sudah menyakiti dan melukai hatimu tapi kamu dengan sangat tulus masih mau mengurus dan melayaniku setiap hari tanpa menyimpan dendam padaku, bahkan masih mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri. Apapapun yang sudah aku berikan padamu belum bisa menebus rasa bersalah dan perbuatan kasarku selama ini, semua yang aku lakukan ini sebagai bentuk permintaan maafku dan penebus kesalahanku padamu..," ucap Arga membelai rambut istrinya dengan lembut.


"Aku benar-benar bahagia mas, dan tidak pernah berhenti berterima kasih padamu..," Laras masih terisak saking terharunya melihat rumah baru orang tuanya.


Arga mengurai pelukan, dan menghapus air mata Laras lalu menunduk mencium kening wanita itu.


"Jangan menangis lagi," hibur pria bermata dingin itu.


Laras mengangguk kemudian bertanya sesuatu pada sang pria.


"Kapan mas merenovasi rumah ini?,"


"Sekitar dua atau tiga minggu lalu aku mengirim langsung arsitek dari Jakarta untuk merenovasi rumah kita ini, Rico yang mengurus semua, aku ingin membahagiakanmu dengan cara merenovasi rumah peninggalan orang tuamu ini,"


"Terima kasih mas, aku sangat bahagia dan beruntung memilikimu..," ucap Laras tersenyum bahagia kembali mengedarkan pandangan lalu berdecak kagum melihat bangunan cantik di depannya.


Ayo kita masuk," ajak Arga membuka gembok pagar rumah dengan kunci yang dari beberapa hari lalu sudah ada padanya.


Laras melangkah masuk mengikuti Arga, wanita cantik itu kembali terpana melihat isi di dalam rumah, dinding, plafon, kamar, dapur, dan seluruh ruangan termasuk wastafel cuci piring serta kamar mandi pun telah diganti dengan yang baru, serba modern dan mahal.


Di dapur juga telah terpasang kitchen set yang tak kalah elegant. Kamar mandi serta bak air pun telah diganti dengan granit dan beberapa buah kaca yang terlihat mewah.


Laras terpana memandangi seisi rumah yang menurutnya sangat cantik dan sempurna. Senyuman terlukis di bibir indah wanita itu, hatinya semakin bahagia menerima semua perlakuan manis dan kejutan-kejutan dari suaminya.


*****


Keesokan paginya.


Pukul 09:00.


Pagi ini Laras baru selesai mandi dan mencuci pakaian menggunakan mesin cuci, Arga masih berada di kamar mandi membersihkan tubuh.


Laras sedang di teras, menjemur pakaian, dimana ada yang beda, tempat jemuran yang digunakan Laras saat ini bukanlah seutas tali seperti hari-hari kemarin, melainkan telah dibuatkan oleh sang Arsitek dengan jemuran yang terbuat dari besi bulat anti karat dan kokoh sebesar jari telunjuk, dengan panjang 7 meter yang dipasang sedemikian rapi dari ujung dalam teras sampai ke ujung luar teras.


Mobil Laras juga telah terparkir rapi di dalam teras, teras yang sederhana dengan lebar sekitar 8 meter dan panjang 9 meter, cukup untuk menampung mobil mewah merk Honda CRV.


Jika seukuran perumahan pada umumnya, rumah Laras diperkirakan seukuran lebih kurang rumah type 46, sungguh kecil jika dibandingkan dengan rumah Arga yang bertingkat dan luas serta memiliki kolam renang.


Laras yang sedang fokus menjemur satu persatu pakaian, tiba-tiba dikejutkan dengan deru suara mobil yang berhenti tepat di depan teras.


Seseorang berteriak di dalam mobil dengan suara sedikit histeris melihat rumah Laras.


"Thar, ini rumah mantan istri kamu yang miskin itu atau bukan? apa mama sedang bermimpi?," teriak seorang wanita berumur Lima puluh tahunan dengan mata membelalak tak percaya mengamati rumah Laras yang kini telah menjelma bak istana kecil nan menakjubkan.


Wanita dengan lisptik merah berambut pirang mirip seperti tante girang, yang tak lain adalah Ema, Ibu Athar, mantan suami pertama Laras.


Kelima orang yang ada di dalam mobil terperanjat melihat rumah Laras yang tampak seperti rumah kaca karena banyak terdapat kaca yang menjadi penghias di dinding dan pilar-pilar rumah serta pagar.


Memang benar, jika kita membangun rumah dengan menggunakan jasa Arsitek, hasilnya akan beda dan sangat memuaskan, sama seperti rumah Laras saat ini, menjadi yang paling mewah dan indah di kampung itu.


Kelima orang di dalam mobil, Athar, ayahnya Hermanto, Ibunya Ema, adiknya Vera, serta istrinya Amy yang tak lain adalah sahabat karib Laras semasa gadis, kelima orang tersebut berencana hendak pergi ke kota tetapi perjalanan mereka terhenti karena melihat perubahan drastis pada rumah Laras.


Selama ini setiap mereka lewat di depan rumah Laras, mereka selalu menggunjing jika rumah itu tampak tua dan rapuh, namun pagi ini setelah hampir satu bulan mereka tidak lewat dari sana, menjadi sangat terkejut melihat rumah tua itu telah menjelma bak istana mungil.


Kelima orang tersebut keluar dari mobil lalu mendekati pagar rumah Laras, dan kelima nya kembali terperanjat melihat ada sosok wanita cantik berada di dalam teras sedang mengamati gerak-gerik mereka.


"Hei kamu! wanita miskin!," panggil Ema dari luar.


Laras tau, orang-orang di luar tersebut adalah orang-orang di masa lalunya, Laras pura-pura tidak mendengar teriakan mantan mertuanya, dia tidak ingin mempedulikan apalagi berurusan dengan orang-orang jahat itu.


Laras tidak menjawab, dia kembali melanjutkan pekerjaannya menjemur pakaian, tanpa mengalihkan pandangan kepada makhluk jahat di luar sana.


Ema yang kesal dengan sikap Laras yang hanya diam saja dan tidak menghiraukannya, nekad masuk ke dalam pagar yang diikuti ke empat orang lainnya.


Apes-nya, ternyata pagar tidak digembok karena pagi tadi Arga sempat membersihkan sampah dedaunan di luar dan lupa mengunci gemboknya kembali.


Kini, orang-orang jahat itu telah berdiri di dalam teras, mengelilingi Laras.

__ADS_1


Laras yang menyadari kelima orang itu telah memasuki teras mendadak menghentikan pekerjaannya, kemudian memandang dengan sorot mata tajam kepada orang-orang tidak tahu diri itu.


...*******...


__ADS_2