
"Aww.., mas sakiiit..," tiba-tiba Laras bersuara, meringis mencengkeram kedua bahu Arga, yang membuat pria berkulit putih itu sangat terkejut, lalu mendadak menghentikan gerakannya yang belum selesai, baru seperempat jalan.
Sebenarnya Arga belum sepenuhnya selesai membobol benteng pertahanan Laras, namun karena wanita itu terdengar meringis, dengan sangat terpaksa Arga pun menghentikan gerakannya.
Laras yang merasakan sakit tampak meringis menggigit bibirnya. Mata yang redup itu hanya menatap sendu pada sang suami yang kini telah menyudahi gerakannya.
Arga segera mengangkat tubuh dan duduk di sisi sang istri. Raut wajah pria itu terlihat begitu cemas memandangi wanita cantik yang tampak masih meringis.
"Mengapa sayang? apa aku menyakitimu?," Arga bertanya dengan penuh kecemasan.
Begitu prihatinnya pria tampan itu dengan keadaan Laras, dia tidak mau menyakiti lagi istri yang sangat dicintainya.
Cukup beberapa bulan lalu dia sudah salah bersikap terhadap Laras, telah menyakiti dan melukai hati wanita itu, namun malam ini hanya dengan mendengar ringisan Laras saja, membuat pria itu langsung merasa cemas dan takut.
Sebegitu tulus, sayang dan cintanya laki-laki itu kepada sang istri, tidak seperti beberapa bulan lalu sikapnya sangat sombong, berkuasa, tidak peduli dan memiliki hati yang kejam.
"Bangunlah sayang," Arga mengangkat tubuh Laras, menyibak anak rambut Laras yang tergerai di dahi dan mendudukkan wanita cantik itu berhadapan dengannya.
"Sayang, mengapa kamu meringis? apa gerakanku membuatmu sakit dan tidak nyaman?," ulangnya menatap penuh kecemasan pada istrinya yang tampak masih meringis.
Laras menggeleng. Muka itu terlihat sedikit pucat namun tidak memudarkan kecantikan wajahnya.
Laras terlalu grogi, gugup dan merasa ketakutan, hingga membuat wajah wanita itu menjadi pucat.
Arga mengelus dengan tangan kanan wajah pucat wanita cantik itu.
"Sayang, mukamu pucat, apa kamu sakit?," pria itu kembali bertanya, menatap makin khawatir.
"Mas, aku belum pernah melakukan ini, rasanya sakit sekali," ujar Laras jujur dengan suara pelan menjelaskan, lalu menundukkan muka.
Mata Arga membesar dan membulat, bola matanya seakan ingin meloncat keluar begitu mendengar perkataan Laras. Mulutnya terbuka lebar tak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan Laras.
Dia memang tidak tahu apa-apa jika Laras masih perawan, mamanya pun tidak pernah menceritakan hal ini padanya, pria itu menjadi terperanjat serta tidak percaya dengan apa yang baru saja dijelaskan istrinya.
Dia mengacak-acak rambutnya lalu memijit keningnya, tampak ada kebingungan serta penyesalan di raut wajah pria itu. Jika Laras merasakan sakit, apa itu artinya sang istri masih perawan? Pertanyaan itu yang menggangu fikiran dan berkecamuk di kepalanya.
Jika memang benar, ternyata Laras masih perawan, berarti tuduhannya selama ini terhadap Laras, itu adalah sebuah kesalahan yang sangat besar, telah menghina wanita itu sebagai janda kotor dan menjijikkan.
Arga terus memijit-mijit keningnya dengan keras, lalu menjambak rambut, dan mengusap muka dengan kasar. Tampak wajah itu begitu gelisah dan tergambar penyesalan dan raut kesedihan di wajahnya.
"Sayang, maksudmu, kamu masih pe..," Arga mencoba bertanya untuk mendapatkan jawaban pasti dari istrinya.
"Iya mas," Laras mengangguk cepat memotong perkataan Arga dan membenarkan tebakan pria itu.
Untuk ke sekian kali, Arga kembali terperanjat, rasanya tubuhnya tersengat listrik, dia tidak mengerti apa sebenarnya yang dikatakan sang istri, bukankah dia sudah pernah menikah. Seharusnya dia sudah melakukan ini dengan suami terdahulunya.
"Sayang, aku tidak tahu kalau kamu belum pernah melakukan ini, dan aku juga tidak tahu kalau sebenarnya kamu masih perawan," ucap Arga merasa sangat tidak percaya sekaligus merasa sangat menyesal karena selama ini dia selalu menganggap dan menghina sang istri sebagai janda kotor, menjijikkan bekas laki-laki lain.
Arga langsung mengambil selimut dan menyelimuti tubuh sang istri yang tanpa sehelai benang pun.
Arga kembali menyentuh dagu wanita cantik itu lalu mengangkat wajah Laras yang tertunduk.
"Maafkan aku sayang.., maafkan aku.., aku benar-benar menyesal, selama ini aku selalu menganggapmu wanita kotor, sampah dan menjijikkan bekas laki-laki lain, tapi ternyata kamu masih suci dan tidak pernah tersentuh pria mana pun. Aku benar-benar bodoh bisa menuduhmu seperti itu. Maafkan aku sayang, aku menyesali semua perbuatanku padamu, jika kamu mau menghukumku, aku siap sayang..," ucap pria itu turun dari ranjang dan berlutut di lantai di sisi ranjang, menghadap Laras yang masih duduk mendekap selimut di tubuhnya dengan kedua tangan.
Pria kaya itu menarik tangan kanan Laras lalu menggenggamnya, menatap penuh penyesalan pada wanita itu, sorot matanya tampak memohon agar sang istri bersedia memaafkannya.
"Sudah mas, jangan terus mengungkit kejadian itu, aku tidak apa-apa. Semua sudah berlalu, aku sudah memaafkanmu dan tidak akan memberikan hukuman apa pun padamu. Kita lupakan semuanya, yang terpenting sekarang bagiku, mas sudah berubah menjadi suami yang sangat baik seperti yang aku harapkan," ucap Laras melepaskan tangannya yang dipegang Arga lalu mengusap rambut tebal pria itu.
"Mas, bangunlah," pinta wanita itu lembut.
Arga pun berdiri dan duduk di bibir ranjang memandang sendu sang istri, wajah yang selalu tenang, cantik dan sabar, dia merasa dosanya terlalu besar pada Laras, dia telah mendzalimi seorang janda, yatim piatu, bukan orang berada bahkan sebatang kara.
Hanya karena mamanya menikahkan dia dengan Laras yang berstatus janda, membuat pria itu marah dan melampiaskan kemarahannya dengan sengaja menyakiti dan melukai istrinya, tidak memberinya nafkah lahir bahkan tidak mau menyentuhnya sama sekali.
Namun pria itu patut bersyukur karena wanita cantik dan sholeha itu masih mau memaafkannya dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri.
"Terima kasih sayang, kamu masih berbesar hati memaafkan kesalahanku yang sangat fatal. Sebelumnya kamu dan mama tidak pernah menceritakan ini padaku. Aku merasa benar-benar tidak percaya dengan semua ini. Aku sangat sedih pernah menuduhmu yang bukan-bukan, aku memang sangat kejam memperlakukanmu selama ini..," pria itu berkata dengan penuh penyesalan, wajahnya tampak sedih.
Laras masih memberikan senyuman hangat untuk sang suami, lalu menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Mas tidak perlu sedih dan tidak perlu merasa bersalah lagi. Aku sudah melupakan semuanya," wanita itu mengusap wajah sedih sang suami lalu mencubit kecil pipi Arga untuk menghibur pria tampan itu agar tidak merasa bersalah serta bersedih lagi.
Kemudian wanita itu tertawa mengusap-usap bekas cubitannya, terlihat giginya yang rapi makin menambah kecantikannya.
"Sakit tidak?," tanya wanita itu masih dengan tertawa.
Melihat sang istri tertawa, Arga pun melupakan kesedihannya dan ikut tertawa.
"Tidak sakit sayang, cubitanmu kurang keras," sahut Arga ikut tertawa.
Keduanya pun tertawa bersama, saling menatap mesra.
"Kamu cantik sekali sayang.., Di satu sisi aku sedih dan menyesal, tapi di sisi lain aku juga sangat bahagia, aku pria pertama yang menyentuhmu dan akan menjadi pria terakhir pemilik tubuhmu. Kamu sudah memberiku hadiah yang sungguh luar biasa, aku merasa mendapatkan semua yang berharga dan tidak ternilai dalam dirimu. Aku semakin mencintaimu sayang..," ucap Arga penuh rasa haru mengambil tangan Laras yang masih mengusap pipinya lalu mencium telapak tangan wanita itu berulang kali.
"Cintamu yang begitu besar, itu yang membuatku memaafkanmu mas..," sahut Laras menatap Arga dengan tatapan lembut.
"Iya sayang aku terlalu mencintaimu, sangat mencintaimu. Sekarang tolong ceritakan padaku, apa sebenarnya yang terjadi dengan rumah tanggamu dulu sehingga sampai sekarang kamu masih perawan?," tanya Arga penuh rasa ingin tahu.
Laras mulai bercerita tentang rumah tangganya bersama Athar, menceritakan semua masa lalu bersama suami terdahulunya tanpa satu pun yang terlewatkan.
Arga tercenung. Mulutnya terkunci. Sungguh perih kehidupan Laras selama ini. Dan dia menambahnya lagi dengan kepedihan yang sama setelah pernikahan kedua Laras dengan dirinya.
Pria tampan itu langsung memeluk tubuh istrinya ke dalam dekapan, menenggelamkan di dadanya, mengelus lembut kepala sang istri dengan penuh cinta dan kasih sayang. Rasa sesal pun kembali mengalir di hati pria kaya itu.
"Hidupmu sangat menderita, maafkan aku sayang selama ini tidak pernah peka, aku tidak akan membiarkanmu menderita lagi, aku berjanji..," ucap pria itu merangkul erat wanitanya dan mencium pucuk kepalanya.
Untuk beberapa saat keduanya saling berpelukan, sampai akhirnya Arga melepas pelukannya, turun dari ranjang dan memungut lingerie yang ada di lantai kemudian memberikannya pada sang istri.
"Pakailah sayang," pinta Arga menyodorkan lingerie seraya duduk kembali di sisi Laras.
"Mengapa mas menyuruhku memakai lagi lingerie ini? bukankah tadi mas yang melepaskannya?," Laras menatap Arga dengan kerutan di dahi mengisyaratkan kebingungan.
"Kita lanjutkan saja besok, malam ini aku belum mau melakukannya," sahut Arga menatap Laras yang masih mendekap selimut dengan tangan kirinya.
"Mengapa besok? apa mas marah padaku?," tanya Laras makin tidak mengerti dengan sikap Arga yang tiba-tiba berubah yang membuat Laras kian bingung.
Laras tertegun, ternyata Arga begitu mengkhawatirkan dirinya dan masih memikirkan jika mereka melanjutkan ini, pasti Laras akan merasakan sakit.
Suasana kembali hening dan sunyi, keduanya sama-sama terdiam larut dalam fikiran masing-masing, Arga dengan fikirannya, takut istri tercinta akan merasa sakit, sedangkan Laras dengan fikirannya, iba pada sang suami harus menahan hasrat yang sudah sangat lama dipendamnya.
Tiba-tiba Laras membuka selimut yang menutupi tubuhnya sehingga sekarang tubuh putih serta mulus itu sudah tidak tertutupi lagi dengan selimut.
Arga tercengang dan penuh kebingungan melihat sikap Laras. Apa yang ada di fikiran istrinya yang pemalu itu? mengapa tiba-tiba melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya? Sejak kapan istrinya menjadi seberani ini?
Wanita berkulit mulus itu mengambil kedua tangan Arga dan meletakkannya di kedua benda miliknya yang ada di dada.
Arga tercekat, matanya kembali membelalak lebar, tenggorokannya mendadak kering dan dia berusaha menelan salivanya namun terasa susah, jantungnya kembali berdegup hebat.
"Mas, lakukanlah, aku tahu mas sudah lama menunggu malam ini," ucap Laras mengerti perasaan dan keinginan sang suami.
"Tapi sayang, kamu kan masih sakit, aku tidak mau menyakitimu malam ini, kita lanjutkan saja besok," sahut Arga.
Saking cintanya dan tidak ingin menyakiti Laras, pria itu rela menahan segala hasrat yang sebenarnya telah menggebu di dalam dirinya.
Jika boleh jujur, pria tampan itu sebenarnya sungguh tidak bisa menahan hasratnya lagi karena miliknya sudah meronta ingin sesuatu yang lebih dari wanita cantik yang kini telah polos itu.
"Apa bedanya malam ini dengan besok mas? aku pasti akan tetap merasakan sakit," ucap Laras memberitahu sang suami.
Arga diam, matanya berputar ke atas menela'ah perkataan Laras.
"Benar juga, tapi aku masih mengkhawatirkanmu sayang," ucap Arga dengan pemikiran yang masih ragu.
"Aku sudah siap mas, aku tidak mau mengecewakanmu malam ini, mas sudah menunggu ini sejak lama, jadi tidak perlu mengkhawatirkanku," ucap Laras dengan sangat yakin.
"Benar sayang? apa kamu yakin?," tanya Arga dengan mata berbinar, terasa miliknya semakin berdenyut dan memanas, menggelora tak tertahan lagi.
"Iya mas, aku yakin," Laras mengangguk pasti.
"Terima kasih sayang, kamu selalu mengerti aku," ucap Arga penuh kegembiraan.
__ADS_1
Mendapat izin dari sang istri, pria tampan itu tidak membuang waktu, langsung mendekatkan tubuhnya lebih merapat ke tubuh mulus itu.
Dia membaringkan pelan tubuh sang istri, mulai mencium wanita berkulit putih itu mulai dari kening, mata dan pipi.
Lalu pria itu menyatukan bibir ke bibir wanita itu, tanpa menunggu lama, sang istri segera membalasnya, panjang sekali keduanya berciuman, saling mengalirkan perasaan, mata keduanya terpejam meresapi penyatuan bibir mereka.
Tangan pria itu tidak pernah absen untuk meraba, mengelus, menggosok dan memijit pelan paha mulus Laras.
"Mas..," terdengar Laras mulai mendesah.
Kini bibir Arga mulai turun ke leher, lalu turun menyusuri dada wanita cantik itu.
Laras terasa kesetrum sengatan listrik tegangan tinggi, saat mulut Arga menyentuh benda miliknya, tak sadar dia kembali mendesah merasakan sentuhan pria tampan itu yang begitu lembut namun membuatnya merasa merinding, seluruh bulu roma menjadi berdiri.
"Ouhh mas..," desahannya terdengar sedikit keras.
Arga pun tak kalah bergetar, sama halnya seperti Laras, tubuhnya pun terasa tersambar sengatan listrik yang begitu panas, tubuhnya kian panas dan rasa terbakar hebat, melihat, memandangi, menyentuh dan meraba setiap inci tubuh putih dan mulus milik Laras.
Hampir Empat puluh menit Arga terus menyusuri setiap inci tubuh ramping dan mulus itu, meraba, mengecup dan sebagainya.
Terdengar ******* keduanya memecah kesunyian malam.
Dan untuk kedua kalinya, Arga kembali menindih tubuh wanita berkulit putih itu, pelan memberikan hentakan, namun berkali-kali pria itu gagal menembus benteng pertahanan Laras. Dia sengaja bergerak pelan, tidak ingin terburu-buru dan kasar, takut menyakiti sang istri.
"Sayang, apa aku boleh lebih keras?," izinnya pada sang istri, menatap Laras yang juga sedang menatapnya.
"Iya mas," Laras menjawab sambil menarik nafas panjang mempersiapkan diri dan kekuatan, ucapan Tina kembali terngiang.
Wanita cantik itu telah mengultimatum dirinya untuk tidak menjerit di tengah malam seperti yang dikatakan sahabatnya.
Dasar Tina memang usil, teganya meracuni otak Laras yang masih bersih dan polos ðŸ¤ðŸ˜†
Arga mencium kening Laras, sambil mengusap rambutnya.
"Tahan ya sayang," ucapnya sambil sedikit memperkeras hentakannya.
"Aaw.., mas sakiiit..,".Laras seketika meringis, wanita itu kembali mencengkeram kedua bahu Arga dengan sangat keras.
Arga dapat merasakan bahunya tergores karena cengkeraman kuku sang istri. Tetapi pria itu tidak menghiraukan, rasa sakitnya tidak akan sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan istrinya.
"Maafkan aku sayang, tahan sebentar ya, aku akan lebih pelan.," pinta Arga dan dia terus melanjutkan gerakannya.
Sekali lagi Laras meringis.
"Mas sakiiit," ringis wanita itu dengan suara nyaris tak terdengar.
"Iya sayang, sedikit lagi ya, sabar ya sayang," ucap Arga mencium dahi Laras sembari mendorong sekali hentakan lagi.
Hingga akhirnya, Arga benar-benar berhasil menembus dinding pertahanan Laras meski pun dia harus mendengar ringis kesakitan dari bibir wanita cantik itu. Arga pun memperlambat gerakannya supaya sang istri tidak terlalu merasakan sakit karena hentakannya.
"Kamu masih kuat kan sayang? kita lanjutkan sampai selesai?," tanya pria tampan itu begitu perhatian, masih meminta izin.
"Iya mas, aku masih kuat, sudah tidak terlalu sakit, tapi terasa perih," sahut sang istri.
"Sabar ya sayang, perihnya akan berangsur hilang, aku akan melakukannya pelan-pelan saja," hibur pria tampan itu membelai rambut Laras.
Pelan, Arga terus bergerak dan tidak menghentikan gerakannya di atas tubuh sang istri, sampai akhirnya Arga merasakan serangannya telah tepat kena sasaran, terasa ada cairan hangat menyembur keluar, dan saat yang bersamaan, pria itu merasakan tangan Laras meremas bahunya dan terdengar ******* panjang dari mulut wanita cantik itu.
"Ahh, mass.., ouuhh..." desah Laras panjang menggigit bibir, lagi dan lagi mencengkram bahu Arga.
"Aaakkhhh..., sayaaang...," desah Arga tak kalah panjang dan menggelora, ******* pria tampan itu lebih bergema dibanding ******* sang istri.
Meski pun cuaca di luar hujan, ditambah dinginnya udara AC di kamar, rupanya kedua insan itu tetap saja mengeluarkan peluh dari tubuh mereka, walau peluh itu tidak sebanyak peluh jika tidak menggunakan AC, tetapi intinya, Arga dan Laras tetap saja mengeluarkan peluh meski di ruangan ber-AC sekali pun.
Tampak dahi Laras menetes penuh dengan peluh, apalagi sang prianya, dari dahi, dada sampai ke badan, semuanya mengalir peluh, sepertinya laki-laki itu begitu menikmati malam pertama mereka, malam yang sudah sangat lama dia nantikan.
Arga lemas, lututnya terasa lumpuh tak memiliki tulang, nafasnya masih turun naik, dia mengangkat tubuh dari atas tubuh sang istri lalu berbaring di samping wanita cantik itu.
...*******...
__ADS_1