
Mendengar Karin menyebutkan nama Hana air muka Rendi langsung berubah,
"Apa yang kau inginkan, ucap Rendi dingin.
" Aku tau kamu menyukai Hana, aku akan membantu kamu untuk mendapatkan Hana, dan kamu juga harus membantu aku mendapatkan Aditya, tawar Karin percaya diri.
"Tawaranmu membuat saya jijik, dengus Rendi kasar lalu bangkit dari tempat duduknya.
Melihat Rendi melangkah pergi Karin bangkit dan mengejar Rendi dan menahannya,
" Apakah kamu tidak ingin mendapatkan Hana, ucap Karin agar Rendi mempertimbangkan tawarannya.
Rendi menghempaskan tangan Karin kasar,
"Jangan pernah temui saya lagi karena saya tidak akan pernah menerima tawaranmu, ancam Rendi kemudian pergi meninggalkan Karin.
Walaupun Rendi memang sangat mencintai Hana tapi ia tidak akan pernah merebut istri sahabatnya sendiri, ia tidak akan rela hanya karena wanita persahabatan mereka hancur.
Karin menghentakkan kakinya kerena kesal, ia tidak mood lagi melanjutkan makannya, ia memutuskan untuk segera keluar dari restoran itu. Ketika ia berjalan ke parkiran untuk mengambil mobilnya secara tidak sengaja ia bertemu Aldo, Karin mencoba untuk menghindar tapi terlambat Aldo terlanjur melihatnya, Aldo pun melangkah mendekati Karin,
"Apa yang kata lakukan disini, ingin mencari cara untuk mendapatkan perhatian Aditya lagi! dengus Aldo.
" Bukan urusan mu! jawab Karin tak kalah jutek.
"Kalau berhubungan dengan Aditya akan menjadi urusan saya, paham kamu, ucap Aldo geram.
" Sayang kamu itu wanita, saya tidak suka memukuli wanita, berhenti mengganggu Aditya, kalau tidak..
"Kalau tidak apa, potong Karin cepat.
" Saya akan menghancurkan perusahaan keluarga mu, ancam Aldo kemudian berlalu dari hadapan Karin.
"Saya tidak peduli, teriak Karin.
" Dia benar-benar sudah sakit jiwa, guman Aldo pelan dan melangkah masuk ke dalam restoran.
Karin masuk kedalam mobilnya, ia memukul-mukul stir mobilnya karena sangat kesal,
"Kenapa semuanya membela Hana. Kak Adit tidak bisakah kamu mencintai ku sedikit saja, tangis Karin frustasi.
__ADS_1
****
Pukul enam pagi Hana sudah sampai dirumah sakit, dan memulai kegiatan follow up pasien. Hana merasakan tubuhnya sangat lemas, tadi pagi ia hanya sarapan dengan segelas susu dan sepotong roti tawar yang tanpa di olesi apa pun, ia benar-benar kehilangan selera makannya. Hana sudah di larang oleh suaminya untuk tidak ke rumah sakit dulu tapi Hana bersikeras untuk pergi.
Hana menghentikan kegiatan menulisnya ia merasakan kepalanya sangat pusing dan perutnya sangat mual, dengan langkah terhuyung Hana melangkah ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang sudah bergejolak.
Dila dan Frans yang baru masuk segera ke kamar mandi mendengar ada suara yang lagi muntah, mereka sangat kaget melihat Hana yang sudah terkulai lemas dekat wastafel. Frans segera menggendong Hana dan membawanya ke UGD yang diikuti oleh Dila.
Hana dengan cepat langsung ditangani oleh dokter, Dila menunggui Hana dengan perasaan cemas, sementara Frans segera menemui mamanya Aditya di ruangannya. Mama Aditya bergegas pergi begitu mendapat kabar dari Frans, sambil berjalan ke IGD beliau menelpon Aditya untuk memberi tahu keadaan Hana.
Aditya berlari di Koridor rumah sakit menuju ruang perawatan istrinya, Aditya sangat panik setelah mendapat kabar dari mamanya kalau istrinya pingsan, melihat keadaan Aditya yang panik Aldo tidak mengizinkannya untuk mengemudikan mobil sendirian, karena kondisi jalan yang macet menghambat keinginan mereka untuk sampai dengan cepat ke rumah sakit.
Belum sampai Aditya di ruang UGD seorang perawat menghampiri Aditya dan mengatakan kalau Hana sudah di bawah ke salah satu ruangan perawatan VVIP. Aditya pun segera menuju ke sana.
Aditya masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu, begitu masuk Aditya melihat istrinya yang tertidur dan di tangannya terpasang selang infus, wajah istrinya sangat pucat, mamanya tampak duduk di kursi sebelah tempat tidur istrinya. Mama memandangi Aditya yang baru sampai, Aditya berjalan menghampiri istrinya, ia mengusap kening istrinya pelan lalu mengecupnya,
"Badannya panas, ucap Aditya pelan.
"Badan Hana panas karena ia kekurangan cairan, jelas mama menatap putranya yang terlihat sangat cemas.
" Bagaimana dengan kandungnya ma? tanya Aditya menatap mamanya cemas.
" Hana juga kelelahan di tambah dengan napsu makannya yang sangat kurang, jangan terlalu kwatir mama waktu hamil kamu juga seperti itu, setelah melewat Tri semester pertama ini, napsu makannya akan segera kembali seperti biasa, lanjut mama.
"Karena kamu sudah datang mama permisi dulu, nanti kalau Hana sudah bangun kamu boleh memindahkannya ke kamar di lantai atas, Aldo apakah kamu mau ikut tante atau akan menemani Adit di sini?, tambah mama sebelum keluar ruangan.
" Aku akan kembali ke kantor tante dan nanti sekalian aku singgah ke rumah untuk menjemput barang yang di perlukan oleh Adit, jawab Aldo yang sedari tadi hanya berdiam diri.
"Baiklah sayang tante duluan, nanti tante akan membantu kamu mengurus keperluan Adit untuk di bawah kesini.
***
Perlahan Hana membuka matanya yang terasa sangat berat, kepalanya pusing seperti baru di hantam batu besar, Sama-sama Hana dapat melihat bayangan suaminya sedang duduk di sofa,
" Masss!
Walaupun pelan tapi masih bisa terdengar oleh telinga Aditya, Aditya meletakan ponselnya dengan asal dan berlari ke tempat tidur istrinya,
"Sayang.., Aditya menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1
" Tolong ambilkan air Mas aku haus, ucap Hana pelan.
Aditya segera mengambilkan air minum untuk istrinya, ia meninggikan bagian kepala tempat tidur agar Hana tidak perlu bangun, kemudian ia membantu istrinya minum. Selesai minum Aditya meletakkan gelas di meja samping tempat tidur lalu menutup gelasnya.
"Apakah masih terasa pusing sayang, tanya Aditya membelai kening istrinya lembut.
" Sedikit Mas,
"Nanti kita akan pindah ke lantai atas, seharusnya kamu telpon Mas dan ngasih tau keadaan kamu sama Mas, sebaiknya kamu menunda dulu koasmu sampai keadaan benar-benar baik untuk memulainya lagi, jelas Aditya menatap istrinya.
" Mas aku tidak mau menundanya, aku masih sanggup Mas, mohon Hana.
"Kalau kamu sanggup kamu tidak mungkin berada di sini sayang, Mas tidak ingin kamu dan bayi kita kenapa-kenapa.
Hana mulai menangis mendengar perkataan suaminya sambil menggelengkan kepalanya pelan,
" Mas aku gak mau di tunda, rengek Hana di selah tangisannya.
"Jangan menangis, pokoknya Mas gak akan ngizinin kamu, ucap Aditya mulai kesal melihat keras kepala istrinya.
Frans dan Dila hanya saling pandang di depan pintu mendengar perdebatan Hana dan Aditya. Dila dan Frans segera mengetuk pintu begitu tidak mendengar perdebatan antara suami istri itu, kemudian mereka masuk. Dila dan Frans hanya saling pandang melihat ketegangan antara suami istri itu, mereka masih melihat Hana yang sesegukan di tempat tidurnya, sedangkan Aditya duduk di sofa memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Dila segera menghampiri Hana dan menarik kursi agar dapat duduk di hadapan sahabatnya itu. Sementara Frans berjalan menghampiri Aditya.
"Dit.. bolehkah kita bicara sebentar?.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1