
...Sebenarnya cerita Laras Arga ini udh mau aku Tamatin, tapi ada request pembaca, minta Rico dan Tina disatukan....
...Ini udh aku penuhin... Tapi ceritanya padat, singkat aja ya......
*****
Beberapa hari kemudian.
Sabtu pagi.
Seperti biasa, di hari Sabtu Arga tidak masuk kerja, waktu untuk dirinya libur dan bersantai di rumah, apalagi sekarang ada Laras menemani dan mengurusnya di rumah, pria itu semakin betah dan selalu merasa bahagia setiap berada di dekat sang istri, istri yang begitu perhatian, lembut serta penuh kasih sayang.
Pukul 08:30.
Kedua pasangan yang sama-sama memiliki wajah rupawan itu, baru saja menyelesaikan sarapan, dan masih berbincang di meja makan, sang istri masih setia duduk menunggu sang suami menghabiskan teh hangatnya.
"Sayang, hari ini kita ke dealer mobil," ajak pria tampan itu.
"Untuk apa mas?," Laras bertanya heran.
"Kita beli mobil satu lagi, untuk kendaraanku ke kantor,"
"Terus bagaimana dengan mobil yang sekarang? tidak terpakai mas?,"
"Itu mobilmu sayang, jadi kamu yang harus memakainya,"
"Tapi aku tidak bisa menyetir, jangankan menyetir, duduk di jok kemudi saja aku belum pernah..," wanita itu bicara sejujurnya.
"Itu urusan mudah, nanti aku akan mengantarmu ke tempat kursus mengemudi, aku yakin dalam tempo satu bulan, kamu pasti sudah bisa menyetir,"
"Tapi aku takut mas, aku belum pernah membawa mobil, aku takut menabrak orang, aku tidak mau mengorbankan nyawa seseorang demi bisa menyetir,"
"Jangan berfikiran yang buruk, aku percaya kamu pasti bisa, kalau kamu belajar menyetir di tempat khusus latihan mengemudi, kamu akan diberi arahan, petunjuk dan diajari dengan baik bagaimana cara mengemudi yang aman dan tidak sampai mencelakakan orang lain. Kamu harus percaya padaku, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk,"
Laras hanya diam, dia masih ragu untuk menuruti permintaan Arga, rasanya sangat berat jika harus melakukan sesuatu yang seumur hidup belum pernah dia lakukan, wanita itu merasa takut dan tidak percaya diri, bagaimana jika nanti setelah kursus mengemudi, namun dia tetap tidak bisa mengemudi?
"Jangan terlalu banyak berfikir sayang, nanti cantikmu hilang..," hibur Arga mengetuk-ngetuk pipi mulus sang istri.
Laras pun tersenyum mendengar lelucon suaminya.
"Sayang, kamu harus percaya padaku, tidak akan terjadi sesuatu padamu,"
"Iya mas, aku percaya padamu,"
"Jadi, kamu mau mengikuti saranku?,"
"Tapi aku masih takut mas," ucap Laras masih dengan rasa ragu dan takut yang terlampau besar.
"Selama aku di sampingmu, kamu tidak perlu takut, aku akan selalu menjagamu, kamu hanya perlu niat dan keyakinan kalau kamu bisa melakukannya, dengan begitu kamu pasti akan lulus mengikuti latihan mengemudi,"
"Baiklah mas, aku akan mencoba, tapi mas harus menemaniku, jangan pernah meninggalkanku," pinta Laras sedikit memohon.
"Iya sayang, aku akan selalu menemanimu, nanti pada saat kamu latihan mengemudi, aku akan ikut di dalam mobil, biar Instruktur yang duduk di depan, aku akan duduk di belakang mengawasimu," Arga memberi keyakinan dan semangat untuk sang istri.
"Baiklah mas, aku setuju,"
Laras tersenyum mengangguk, menyetujui pwrkataan sang suami, ada rasa lega di hati wanita itu, jika Arga ikut bersamanya, pria itu pasti akan selalu memberi semangat kepadanya.
Pukul 10:00.
Keduanya telah meluncur menggunakan taxi, menuju dealer mobil Mercedes Benz di daerah Jakarta Selatan.
Arga sengaja menggunakan taxi menuju dealer, agar saat pulang ke rumah, bisa langsung membawa mobil baru mereka.
Beberapa menit kemudian, keduanya telah sampai di tujuan.
Satu jam setengah berada di dealer tersebut, Arga dan Laras menjatuhkan pilihan pada mobil Mercedes Benz, keluaran terbaru dengan type tertinggi berwarna merah, yang harganya bukan ratusan juta namun milyaran.
Setelah selesai menandatangani seluruh berkas pembelian mobil cash tersebut, keduanya langsung membawa mobil baru mereka menuju ke Mall Plaza Indonesia.
"Mas, mengapa kita pergi ke mall?," tanya Laras saat mobil mereka telah terparkir di pelataran parkir Plaza Indonesia.
Keduanya turun dari mobil.
"Kamu ikut saja sayang, nanti kamu juga akan tahu," perintah Arga menggandeng tangan istrinya.
Laras tidak ada pilihan lain, selain mengikuti langkah pria itu.
Setelah naik ke beberapa lantai di mall itu, Arga mengajak Laras masuk ke Samsung store, tempat resmi menjual berbagai produk Samsung. Dari harga jutaan sampai puluhan juta.
__ADS_1
Tidak menunggu lama, Arga langsung memilihkan Samsung keluaran terbaru, dengan harga 22 juta ke atas, harga yang fantastis bagi Laras sehingga membuat wanita itu termangu melihat harga barang semahal itu.
Beberapa bulan lalu wanita itu pernah membeli handphone seken seharga lebih kurang 2 juta, dan dia mendapatkan uang tersebut dari hasil meminjam dari Tina, itu pun harus menyicil, namun hari ini Arga berniat membelikan handphone dengan harga yang tidak bisa dikatakan murah, lebih dari 20 juta, wanita itu benar-benar tidak habis fikir, betapa banyak uang suaminya itu.
Mata Laras terbuka lebar, saat Arga hendak membelikan handphone 22 jutaan itu untuknya.
Laras menarik tangan Arga, membawa sang suami menjauh dan keluar dari Samsung store tersebut.
"Mas, tolong dengarkan aku, aku tidak mau membeli handphone semahal itu," bisik Laras sedikit memperlambat suaranya.
"Mengapa sayang? itu harganya tidak sampai 30 juta, bagiku kamu sangat pantas untuk memakainya,"
"Tidak mas, aku tidak mau menghamburkan uang hanya untuk membeli sebuah handphone. Handphone ku yang sekarang saja masih bisa dipakai dan masih bagus, jadi aku tidak perlu membeli handphone baru,"
"Sayang, handphonemu yang sekarang ini sudah ketinggalan zaman, aku hanya ingin membelikanmu handphone keluaran terbaru dengan fitur yang lebih canggih,"
"Aku tahu, niat mas baik, tapi aku tidak mau membeli handphone dengan harga yang sangat mahal, pokoknya aku tidak mau mas..," Laras sedikit memohon.
"Sayang, itu tidak terlalu mahal bagiku, aku hanya ingin menggantikan handphonemu dengan type yang lebih bagus," Arga masih mencoba membujuk Laras.
"Mas, tolong.., jangan memaksaku, aku tidak nyaman kalau mas membelikan barang yang terlalu mahal. Aku sudah terbiasa hidup sederhana, jadi sampai kapan pun aku tidak akan meninggalkan kebiasaanku itu. Aku terlahir dari keluarga biasa, meski pun sekarang aku sudah menikah dengan pria kaya raya, tapi aku tetap ingin menjalani kehidupanku seperti aku yang dulu, yang apa adanya..," Laras menjelaskan dengan wajah memelas, berharap sang suami memahami isi hati serta kebiasaannya.
Arga pun mengalah, dia tidak bisa melihat Laras memelas dan pria itu pun tidak mau memaksakan kehendak kepada sang istri.
"Iya baiklah, kalau begitu kamu mau membeli yang harga berapa sayang?," Arga menurunkan egonya dan memilih mengalah, dia tidak mau berdebat dengan sang istri apalagi memaksakan kehendaknya.
"Aku mau menuruti permintaan mas membeli handphone baru, tapi yang harga standar saja mas, yang harga 2 juta sampai 5 juta," ucap wanita cantik itu tersenyum lega.
Arga menarik nafas, menggelengkan kepala, kemudian tersenyum membelai rambut Laras.
"Kamu ini sangat lucu sayang, dibelikan barang mahal, kamu mau yang murah, baiklah, kita beli yang seharga itu, ayo kita masuk," pria itu merangkul pinggang Laras membawanya kembali masuk ke Samsung store.
Laras langsung memeluk lengan Arga dan tersenyum senang menatap suaminya.
"Terima kasih mas, mas baik sekali," ucap wanita itu dengan hati senang, melangkah mengikuti Arga masuk kembali ke Samsung store tersebut.
Setelah Arga membayar uang sejumlah Lima jutaan, keduanya langsung meninggalkan lokasi dan mencari restoran di dalam Mall untuk mengisi perut, karena baik Laras maupun Arga merasakan perut mereka telah keroncongan dan minta segera diisi.
Pasangan suami istri itu berjalan sambil mengedarkan pandangan mencari restoran mana yang akan menjadi tempat singgah mereka untuk menikmati makan siang, dan akhirnya mereka berdua sepakat untuk makan di sebuah restoran Prancis yang menjual makanan khas Prancis.
Keduanya melangkah memasuki restoran tersebut, tetapi secara tidak sengaja mata Laras melihat dua sosok yang sangat dikenalnya sedang berada di dalam restoran tersebut.
"Mas, itu...!," tunjuk Laras dengan tatapan terkejut melihat dua sosok yang duduk sekitar Enam meter dari mereka berdiri.
Kedua sosok yang tadinya sedang duduk dan mengobrol, serentak terkejut, mata mereka membulat menatap Laras dan Arga yang telah berdiri di samping meja mereka.
"Wah! pertemuan yang tidak diduga, ada pasangan kekasih sedang makan di sini juga rupanya," tegur Arga berdiri di samping meja Rico dan Tina.
"Kalian, ada di sini juga?," tanya Rico berdiri dari tempat duduk, tersenyum menatap Laras dan Arga.
"Memang ada larangannya kita tidak boleh datang ke sini? ini mall bukan kamar pribadi, siapa pun boleh datang ke sini, termasuk aku dan istriku," sahut Arga mengangkat sebelah bibir tersenyum memandang Rico.
"Tin, kamu juga ada di sini?," Laras mencoba bertanya pada Tina, yang juga ikut berdiri dari kursi.
"Eh, i-iya Ras..," Tina sedikit grogi.
Tidak biasanya, gadis itu berkata grogi seperti itu, biasanya dia selalu paling gemar menggoda dan mengganggu Laras.
Laras tersenyum memandang Tina dan Rico secara bergantian.
"Aku dan mas Arga boleh duduk dan ikut makan bareng di sini?," tanya Laras meminta izin pada Tina dan Rico.
"Iya boleh dong Ras. Lagi pula kita juga belum makan, tadi baru pesan, tapi makanannya belum datang," jawab Tina tidak keberatan pasangan suami istri itu duduk bersama mereka.
Ke empatnya kemudian duduk di kursi dengan satu meja, Arga memanggil pelayan restoran dan menyuruh Laras memilih menu yang akan dipesan.
Setelah melihat daftar menu, Arga dan Laras telah selesai memesan beberapa menu khas Prancis, dan kembali melanjutkan obrolan.
"Sejak kapan kalian menjadi dekat?," tanya Arga menatap Rico penuh selidik.
"Kita hanya berteman," sahut Rico cepat.
"Aku bertanya sejak kapan kalian dekat? Bukan menanyakan status kalian," sahut Arga.
"Sejak kapan ya Tin?," Rico bertanya menatap Tina.
"Sepertinya sejak aku disuruh-suruh membelikan lingerie untuk malam pertama si pengantin baru," sambung Tina tersenyum melirik ke arah Laras.
Laras mengerutkan dahi ikut menatap Tina lalu tersenyum simpul.
__ADS_1
"Oh sejak itu.., tapi aku senang melihat kalian berdua bisa dekat, aku juga berharap hubungan kalian bisa berlanjut ke jenjang yang lebih serius..," ucap Laras dengan sebuah permohonan dan doa di dalam hati untuk kebaikan sahabatnya.
Mendadak Rico dan Tina saling berpandangan.
"Sudahlah, daripada kamu jadi perjaka tua terus, tidak laku-laku, nanti lama-lama rambutmu penuh dengan uban, lebih baik kamu dengan Tina saja, aku yakin dia pasti gadis yang baik sama seperti istriku..," ucap Arga memuji Laras, menoleh dan memandang istri cantiknya yang duduk di sebelahnya.
"Emm, Maaf Co, kamu pasti sudah terbiasa mendengar ucapan pedas mas Arga, tapi kali ini bukannya aku membela mas Arga, ucapan mas Arga memang benar, Tina ini memang gadis yang baik, bahkan sangat baik. Selama aku di Jakarta, hanya dia satu-satunya orang yang sangat peduli padaku, kita bukan siapa-siapa tapi dia sudah menganggapku lebih dari saudara. Waktu itu hidupku sangat kesulitan, tapi dia tidak pernah mengeluh dan terbebani saat aku tinggal di kontrakannya, bahkan dia menawarkanku tinggal gratis tanpa harus pusing memikirkan biaya bulanan,"
Rico manggut-manggut mendengarkan dengan saksama penjelasan Laras, tanpa Laras memberitahu pun sebenarnya dia sudah yakin jika Tina gadis yang baik sama seperti Laras sahabatnya, kedua wanita itu memang sangat cocok menjadi pasangan sahabat, sama baik dan tulus.
"Aku berfikir, kamu tidak akan mendapatkan gadis sebaik Tina, makanya daripada diambil orang lain, lebih baik kamu temui Ibunya di kampung," ucap Laras tersenyum menatap Tina yang hanya diam.
"Benar yang dikatakan istriku, daripada nanti Tina diambil pria kaya, kamu pasti akan menyesal..," timpal Arga memperingatkan sahabatnya.
Baik Rico maupun Tina hanya diam mencerna ucapan pasangan pengantin baru itu.
Tak lama kemudian, beberapa pelayan sedang berjalan mengantar makanan ke meja mereka, dan ke empat sahabat itu pun memulai makan sambil sesekali bercerita dan tertawa.
*****
Malamnya, pukul 20:00.
Arga dan Laras baru saja menyelesaikan makan malam, dan mereka sedang duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi, handphone Arga yang tergeletak di atas meja, berdering.
Pria itu langsung meraih handphone tersebut.
"Halo mang? Iya, baik, tunggu sebentar," Arga langsung mematikan tombol handphone.
Pria kaya itu langsung beranjak dari sofa dan berjalan keluar rumah, yang diikuti Laras.
"Mas, siapa yang datang? mama?," tanya wanita itu ingin tahu.
"Nanti juga kamu akan tahu," sahut Arga melangkah menuju pagar.
Tampak dari kejauhan, ada Lima orang berdiri di luar pagar. Arga langsung membuka gembok dan mempersilakan tamunya masuk.
"Bagaimana kabarnya tuan?," mang Gatot langsung mengulurkan tangan dan membungkukkan badan, menjabat tangan Arga, yang diikuti oleh sang istri, bik Lina, dan tiga tamu lainnya.
"Alhamdulillah baik, bagaimana dengan mang Gatot dan bik Lina sendiri, apa sehat selama di kampung?,"
"Alhamdulillah, kami sehat-sehat saja tuan,"
"Alhamdulillah kalau begitu, Oh iya, ini kenalkan istriku, namanya Laras," Arga memperkenalkan Laras kepada mang Gatot dan bik Tina yang dulu adalah pelayan setia Arga sejak beberapa tahun lalu.
Laras mengulurkan tangan, tersenyum hangat menjabat kelima tamu Arga.
"Wah, istri tuan cantik sekali, mengapa mirip artis Korea? Song Hye Kyo," decak bik Lina kagum memandangi Laras dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Bik Lina yang memang penggemar drama Korea, hampir hafal semua artis dan aktor Korea, dan malam ini dia melihat sosok Laras seperti artis favoritnya, wanita Empat puluh lima tahunan itu begitu mengagumi kecantikan Laras, yang menurutnya begitu cantik, mulus serta sederhana.
"Bibik jadi merasa sedang mengobrol dengan artis Korea, kalau seperti ini, bibik makin betah di sini, bisa-bisa bibik awet muda tinggal di rumah tuan," sambung bik Lina dengan muka lucunya terbengong memandangi wajah Laras.
Laras tertawa lepas melihat wanita di depannya.
"Bibik bisa saja, aku malah senang, sekarang aku mempunyai teman, jadi aku bisa ada teman mengobrol saat mas Arga berada di kantor..," puji Laras memandang bik Lina dengan tatapan hangat.
"Ah nona, masa" nona mau berteman dengan bibik yang sudah tua ini, gemuk dan orang susah,"
"Bibik tidak boleh ngomong seperti itu, aku juga orang susah bik," jawab Laras cepat.
"Orang susah kok bisa cantik sekali, orang susah itu seperti bibik, gembrot dan kulitnya hitam. Kalau nona langsing dan putih, seperti orang kaya, cocok sekali dengan tuan," seloroh bik Lina tertawa.
Baik Arga maupun Laras menjadi tertawa melihat tingkah bik Lina yang apa adanya dan tidak bisa diam, selalu ingin bercerita.
"Sudah, sudah bu, dari tadi kamu bicara terus..," larang mang Gatot yang membuat mereka tersenyum.
"Tuan, ini bik Inah, ini Sapri, ini Imam yang saya bawa dari kampung," mang Gatot memperkenalkan satu persatu orang yang dibawanya.
"Baiklah, bik Inah, tugas bik Inah membantu bik Lina membereskan rumah dan memasak untuk mang Gatot, Sapri dan Imam, tapi khusus untuk saya, biar istri saya yang memasaknya. Tugas Sapri dan Imam menjaga rumah ini, kalian berdua bisa bergantian, shift malam dan siang, kalian boleh atur sendiri, dan mang Gatot berhubung di rumah baru ini tidak ada taman, jadi mang Gatot boleh membantu membersihkan rumah, kamar mandi dan kolam renang," ucap Arga membagi tugas.
"Baik, tuan," ucap kelimanya serempak.
"Baiklah, ayo masuk, dari tadi kita hanya berdiri di sini, kasihan, pasti kalian lelah habis perjalanan dari kampung," Laras mempersilakan para tamunya masuk.
"Oh iya bik Lina, di bawah kamarnya ada empat, yang satunya kamar yang paling besar, itu kamar saya dan istri saya, jadi bik Lina dan yang lain bisa tidur di tiga kamar lainnya. Besok saya dan istri saya akan pindah ke kamar atas, tolong bik Lina dan bik Inah membersihkan kamar atas," ujar pria kaya itu memberi pekerjaan untuk besok hari kepada kedua pelayan wanita tersebut.
"Beres tuan, terima kasih," ucap bik Lina senyum terpana melihat Arga dan Laras secara bergantian.
"Aduuuhh..., pasangan serasi.., aku suka kalian!..," decak bik Lina memandang kagum Laras dan Arga dengan sedikit berteriak.
__ADS_1
Mulutnya tak sengaja mengeluarkan suara yang cukup memekakkan telinga ke enam orang di dekatnya, membuat semua orang tertawa melihat kelakuan bik Lina yang lucu dan apa adanya.
...*******...