
"Dug, Dug, Dug, Dug"
Jantung Arga berdegup kencang dan semakin kencang saat matanya melihat Laras yang berdiri dua meter dari tempatnya duduk saat ini.
Mata Arga masih terbelalak melihat Laras dengan lingerie tipis menerawang sebatas paha, dari pergelangan tangan, bahu, leher, paha hingga kaki terlihat kulit yang begitu putih dan mulus.
Rahang pria kaya itu yang tadi merekat kuat, kini menjadi menganga lebar, dia tidak menyangka Laras secantik serta semulus ini, apalagi mengenakan lingerie, kecantikan wajah dan tubuhnya semakin terpancar indah dan mempesona.
Laras berdiri mematung. Terlihat begitu risih dan kikuk.
Risih? Yaa! jangan ditanya lagi.
Kikuk? Jelas! itu sudah pasti.
Dia sangat merasa tidak nyaman ditatap sedemikian tajam oleh pria tampan di depannya, mata Arga bagai seekor macan yang tengah mengintai mangsa, tajam tak berkedip mengamati Laras dari rambut sampai kaki, bagaikan hendak mengulitinya.
Kedua tangan Laras terlipat menutupi kedua tonjolan di dada, dia juga heran, mengapa sedari tadi Arga tak melepaskan tatapan dari tubuhnya. Rasanya dia mau pingsan dan kehilangan tenaga, berdiri, ditatap, dikuliti seperti itu oleh pria bermata dingin itu.
Laras menunduk ke bawah memperhatikan seluruh tubuhnya, dia begitu malu mengenakan pakaian menerawang seperti ini apalagi harus berdiri dan terus ditatap Arga dengan tajam, dia merasa seperti wanita malam yang tengah menunggu pelanggannya.
Arga beranjak dari sofa, pelan mendekati sang istri yang masih berdiri kaku di tempatnya. Pria tampan itu menarik tangan Laras yang sedari tadi bersedekap di dada menutupi benda bulat miliknya.
Arga menggandeng tangan Laras dan berjalan ke sofa lalu duduk di tempat empuk itu.
"Sayang, kamu sungguh cantik, aku merasa terkena serangan jantung melihatmu malam ini," ucap Arga terus mengamati wanita yang kini masih tertunduk tak berani menegakkan muka melihat pria bermata tajam di hadapannya, sesekali mata Arga melihat tajam ke bagian dada Laras yang tampak menyembul putih.
Kini keduanya telah duduk saling berhadapan, Arga menyentuh dagu lalu mengangkat wajah wanita berparas cantik itu sehingga terdongak.
Mata redup milik wanita cantik itu beradu pandang dengan mata dingin milik pria beralis tebal itu. Mereka saling bertatapan dalam dua menit lamanya. Sampai akhirnya sang pria berkata.
"Aku mencintaimu sayang," Arga mendekap tubuh ramping itu ke dada dan membelai lembut rambut istrinya.
Hening, sunyi, tiada kata yang terucap, mereka masih terhanyut dalam dekapan penuh cinta yang menentramkan hati dan jiwa keduanya.
Sampai akhirnya wanita cantik itu mengurai pelukan dan mencoba mengatakan sesuatu kepada sang pria.
"Mas..," panggil Laras pelan seraya melepas pelukan dan membebaskan tubuhnya dari dekapan tangan kokoh pria itu.
"Ada apa sayang? kamu mau mengatakan apa? katakanlah," sahut Arga menatap wanitanya, menunggu lanjutan ucapan Laras yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
Wanita itu menarik nafas panjang dan menghempaskannya pelan, lalu menatap sendu mata hitam sang suami. Arga pun menatap tak berkedip, menunggu tak sabar apa yang akan dikatakan istrinya.
"Aku-aku... mencintaimu mas..," kata itu meluncur pelan dari bibir wanita berkulit mulus itu.
Demi mendengar kata itu, Arga seketika terperangah dan tersentak, dia merasa sedang bermimpi dengan apa yang baru saja didengarnya, namun setelah dia sadar bahwa ini nyata, seketika itu pula hatinya langsung berbunga-bunga dan merasa begitu bahagia mendengar untuk pertama kali kata cinta dari wanita cantik itu.
Bibir pria tampan itu merekah lebar memperlihatkan senyum kebahagiaan, akhirnya malam ini keluar juga kata cinta dari mulut sang istri, yang sudah sangat lama dinantikannya.
"Benarkah sayang? benar kamu mencintaiku? Coba katakan sekali lagi, aku ingin mendengarnya," pinta Arga dengan gembira sambil tersenyum lebar serta muka berseri-seri.
Laras diam sejenak, lalu perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke wajah sang pria, lalu....
"Cup"
__ADS_1
Secepat kilat bibirnya menyentuh dan menempel di bibir Arga, sebuah ciuman diberikannya untuk sang suami, dan ini juga untuk yang pertama kali dia mencium duluan bibir sang suami, namun dengan cepat dia melepaskannya kembali.
Arga kembali tersentak dengan apa yang dilakukan istrinya, mata dan mulutnya serempak membuka lebar, dia kembali merasa tidak percaya Laras mencium bibirnya, walau hanya sekilas. Bibir itu terasa sangat lembut dirasakan Arga.
"Aku mencintaimu mas..," ucap wanita itu pelan mengulang kembali kalimatnya.
"Sayang kamu menciumku?," pria kaya itu bertanya dengan muka melongo bagaikan orang bodoh.
Laras hanya mengangguk memberikan jawaban.
Arga dengan raut wajah penuh kegembiraan langsung menggenggam kedua tangan istrinya dan mendekapnya di dada.
"Sayang, aku sangat bahagia, akhirnya malam ini aku tahu bahwa kamu juga mencintaiku, aku semakin yakin akan menghabiskan sisa umurku bersamamu..," ucap pria tampan itu penuh rasa haru mengecup kedua tangan Laras secara bergantian.
Kemudian dia merapatkan tubuh lebih mendekat ke wanitanya, kemudian mencium bibir wanita cantik itu, hanya beberapa saat, setelah itu Arga melepaskan ciumannya, lalu mengangkat tubuh wanita cantik itu dalam gendongan menuju ke kamar.
Suara gerimis hujan di malam ini terus menghempas genteng rumah, gemersik suara ranting dan pepohonan saling bergesekan ditiup angin sepoi-sepoi, rintik hujan serta hembusan angin membuat suasana malam di rumah Laras semakin dingin terasa menyengat tubuh, apalagi di kamar, Arga sengaja telah menyalakan AC dari beberapa jam lalu.
Arga membopong tubuh Laras dan berjalan menuju tempat tidur, sangat pelan serta hati-hati membaringkan tubuh ramping itu di kasur.
Laras terdiam, badannya seketika kaku, beku seperti es batu, menunggu Arga menyentuhnya, dadanya berdetak sangat kencang, rasa malu, takut dan sebagainya menyatu dalam dirinya, matanya tak lepas memandangi sang suami.
Meski sudah dua kali menikah, tetapi Laras belum pernah sama sekali melakukan hal ini, karena itu dia menjadi begitu nervous dan bingung harus melakukan apa. Apalagi sampai detik ini masih terngiang ucapan Tina sore tadi, makin membuatnya jadi deg deg an dan merasa was-was.
Pria tampan itu duduk di sisi wanita cantik itu, menyibak anak rambut yang tergerai di dahi sang istri lalu membelai rambut hitam itu.
Arga membungkukkan tubuh mencium kening wanita itu.
"Aku mencintaimu sayang..," ucap Arga kembali yang entah sudah berapa puluh kali kata itu meluncur dari mulutnya, sudah tidak terhitung.
Laras mengulurkan tangan ke atas menyentuh wajah Arga, mengelus lembut penuh cinta dan kasih sayang, kemudian membelai rambut tebal sang suami. Tatapannya tak lepas dari manik mata pria tampan itu. Arga pun tidak melepaskan tatapannya kepada wanita cantiknya.
Untuk beberapa menit keduanya saling bertatapan, saling bertukar rasa yang ada di dalam hati, tidak bersuara sepatah kata pun.
"Aku mencintaimu mas..," ucap Laras pelan hampir tak terdengar.
"Aku juga mencintaimu sayang, kamu cantik sekali istriku, selama ini aku sungguh bodoh menyia-nyiakanmu, yang bukan hanya cantik wajahmu tapi hatimu juga sungguh luar biasa..," ucap Arga membungkuk berbisik di belakang telinga Laras.
Arga kemudian melabuhkan kembali bibirnya ke bibir indah milik sang istri, memejamkan mata dan mulai menciumnya. Pria tampan itu sangat menikmati bibir lembut milik wanita itu.
Laras pun ikut memejamkan mata menerima kecupan sang suami, wanita cantik itu telah sangat siap menyerahkan semua yang dia miliki kepada Arga, laki-laki yang di awal pernikahan telah menyakiti dan melukai hatinya namun saat ini justru telah membuatnya jatuh cinta dan sangat bahagia memilikinya.
Sama seperti kemarin, tidak ada balasan dari bibir wanita itu, Laras hanya diam, menerima dan pasrah, namun setelah Arga terus menciumnya, tak sadar Laras pun mulai menunjukkan balasan, bibir indah itu bergerak pelan mulai membalas gerakan bibir Arga.
Kini kedua insan itu terus saling berciuman, Arga melakukannya dengan sangat lembut, tidak seperti kebanyakan laki-laki yang melakukan seperti macan memakan mangsa.
Keduanya terhanyut dalam ciuman panjang, jantung mereka sama-sama berdegup kencang serta darah mereka pun sama-sama mulai terasa panas.
Pria tampan itu mengalihkan kecupan ke kening, pipi, mata dan leher.
Laras ingin mendesah saat Arga mulai mengecup lehernya namun dia menahannya dengan cara menggigit bibir. Rasa gugup tetap tidak bisa lepas dari diri wanita itu. Jantung wanita itu tak berhenti berdegup. Begitu pun dengan jantung sang prianya.
Arga berpindah meraba paha wanita itu, mengelus lalu menggosok dan sedikit memijatnya.
__ADS_1
"Ouhh.., mas..," desah Laras pelan, sekuat apa pun wanita itu menahan agar desahannya tidak pecah, ternyata tidak bisa, ******* itu meluncur juga dari mulutnya.
Arga menatap sejenak wajah wanita cantik yang terpejam, sungguh cantik, Arga sangat mengagumi kecantikan Laras dan makin mencintai istrinya.
Pria tampan itu menarik tali lingerie yang terpasang di bahu putih itu dan pelan melepasnya hingga terlepas dari kaki jenjang wanita itu, lalu membuang sembarangan ke lantai.
Arga terpana. Matanya terbelalak, tubuhnya bagaikan disetrum. Jantungnya seakan ingin meloncat keluar dari dalam tubuh, darahnya berdesir panas. Nafasnya terdengar memburu.
Arga memuji dan mengagumi Laras, benar-benar sempurna!
"Sayang, kamu memang sungguh cantik..," decak Arga terkagum-kagum memandangi tubuh sang istri.
Laras membuka mata, melihat Arga yang saat ini sedang menatap tajam ke tubuhnya, wanita itu mengernyitkan dahi menahan malu kemudian kedua tangan langsung bergerak menutupi kembali dua buah tonjolan di dadanya.
"Mas, matikan saja lampunya," pinta Laras pelan di sela-sela hembusan nafas Arga yang terdengar memburu.
Laras merasa malu Arga terus menatap tubuhnya tak berkedip.
"Mengapa harus dimatikan sayang? Aku lebih suka remang-remang seperti ini..," desah pria itu terdengar menggelora.
Arga mendekatkan bibirnya dan kembali mengecup pelan bibir lembut sang istri lalu menyusuri leher jenjang itu, turun ke bahu dan turun ke dada.
"Ahh.., mas..," Laras tak kuasa menahan desahannya saat bibir Arga mulai menyentuh dan bermain di dadanya.
Darah Laras berdesir panas. Jantungnya berdegup lebih keras rasa ingin meloncat keluar, nafas mulai tak teratur saat merasakan Arga terus menyentuh dengan bibirnya dan mulai meraba dengan tangannya di kedua area sensitif di dada Laras.
"Mas..," desah Laras lagi, menahan tangan Arga yang kini mulai meraba dadanya lalu berusaha menyingkirkan tangan pria itu untuk menjauhi benda miliknya.
Namun Arga tetap tidak melepaskan tangannya dari dada sang istri. Dan terus menyentuh dan meraba kedua benda milik wanita cantik itu. Nafas Arga pun kian memburu. Dan dadanya pun makin bergemuruh kencang seakan hendak pecah.
"Ouuh.., Mas..," Laras kembali mendesah, berulang kali wanita itu memanggil sang suami di sela-sela desahannya.
Pria tampan itu segera melepas semua pakaiannya.
Laras terbelalak melihat kelakuan Arga yang tidak ada rasa malu melepas pakaiannya sendiri sehingga terpampang di mata Laras tubuh Arga yang begitu sempurna. Kulit yang sangat bersih dan tubuh yang sixpack.
Laras memejamkan mata saat melihat ke bagian paling bawah Arga, fikirannya langsung tertuju pada perkataan Tina sore tadi. Jantung wanita itu semakin berdegup kencang, Dag Dig Dug dan mendadak menjadi takut.
Arga kembali melanjutkan menyusuri setiap inci tubuh putih dan mulus itu, dari atas hingga ke bawah, wanita cantik itu semakin merasa kelimpungan.
"Mas..," desah wanita cantik itu kembali sambil memejamkan mata.
Pria itu sudah tidak kuat menahan rasa di tubuhnya yang semakin menggelora dan memanas, jantungnya berdegup kencang, nafasnya pun semakin memburu, tidak ada yang bisa menghentikan niatnya kali ini, apalagi mendengar ******* Laras yang terus memanggilnya.
Perlahan-lahan Arga menindih tubuh Laras dan mencoba menyatukan tubuhnya dengan wanita cantik itu, namun dia begitu kesulitan menembus benteng pertahanan Laras.
Arga tahu, Laras sudah pernah menikah, dia pasti tidak akan sesulit ini menembus benteng pertahanan wanita itu. Tetapi Arga malah merasakan hal sebaliknya, mengapa pertahankan Laras terlalu sulit dia robohkan.
Arga terus melakukannya, namun gerakannya selalu saja meleset dan tidak berhasil. Pria itu merasa sangat heran, mengapa sesulit ini bertamu ke istana sang Istri, wanita itu terlalu rapat mengunci bentengnya sehingga membuat Arga kewalahan mendobrak benteng pertahanan sang istri.
Setelah sekian menit, pria tampan itu tidak menyerah, dia terus berusaha menembus benteng pertahanan Laras, akhirnya kali ini dengan sangat terpaksa Arga sedikit memperkeras gerakan dan hentakannya.
"Aww.., mas sakiiit..," tiba-tiba Laras bersuara, meringis mencengkeram kedua bahu Arga, yang membuat pria berkulit putih itu sangat terkejut, lalu mendadak menghentikan gerakannya yang belum selesai, baru seperempat jalan.
__ADS_1
...*******...