
Selesai shalat Subuh, Laras melipat mukena dan hendak membuka pintu kamar akan pergi ke dapur, niatnya akan memasakkan sarapan Arga seperti rutinitasnya setiap pagi.
Namun Arga tiba-tiba memeluk tubuh wanita cantik itu dari belakang sehingga menahan langkah wanita itu menuju ke pintu.
"Mulai hari ini kamu tidak boleh capek-capek, cukup makan, tidur, jalan-jalan, shopping. Nanti aku yang akan mengantarmu ke mall atau kemana pun yang kamu mau," ujar Arga mengecup kepala sang istri.
Laras membalikkan badan menghadap pria tampan di belakangnya, lalu menatapnya lembut.
"Kalau aku hanya diam tidak melakukan apapun, aku pasti akan merasa bosan mas, mas kan tahu, aku tidak terbiasa hanya berdiam diri di rumah," jelas Laras memberitahu Arga.
"Sayang, kamu kan sedang mengandung, kamu harus jaga calon anak kita baik-baik, aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu dan juga dengan calon bayi kita," Arga berkata memberi pengertian pada Ibu hamil itu.
"Mas, banyak wanita hamil, mereka baik-baik saja dan tetap bekerja setiap hari, baik kerja kantor maupun kerja lapangan, tapi ibu dan calon bayi mereka baik-baik saja, yang penting tetap hati-hati setiap melakukan sesuatu, bukan berarti harus menghentikan semua aktivitas. Mas jangan terlalu cemas ya, Insya Allah tidak akan terjadi sesuatu denganku dan calon anak kita..," jelas Laras sambil mengusap rambut hitam pria tampan itu.
"Tapi aku tidak mau kalau kamu bekerja yang berat-berat sayang,"
"Memangnya apa yang aku kerjakan mas? Setiap hari aku hanya memasak untuk makan mas, tidak ada yang lain, paling aku hanya ikut membantu membersihkan perabotan rumah, itu pun tidak banyak," terang Laras mencoba menghilangkan kekhwatiran suaminya.
"Iya baiklah, terserah kamu saja, tapi ingat, jangan berat-berat ya sayang?,"
"Iya, aku akan menjaga calon anak kita, demi mas dan mama..," ucap wanita itu bersungguh-sungguh.
"Terima kasih sayang, kamu memang seorang istri dan menantu yang sangat baik,"
"Aku memang harus baik pada mertuaku, karena mama dari awal sudah sangat baik padaku dan aku tidak akan pernah melupakan itu," ucap Laras tersenyum.
"Terus bagaimana denganku? apa kamu hanya bersikap baik pada mama saja? dan tidak peduli padaku?," tanya Arga menunjuk mukanya dengan telunjuk.
Laras tersenyum melihat sikap Arga.
"Mas kan awalnya jahat padaku," sahut Laras tersenyum mengolok suaminya.
"Itu kan dulu sayang, sekarang aku tidak pernah melakukannya lagi,"
"Iya, iya, aku hanya becanda," sahut Laras masih dengan tersenyum.
Arga menekuk kaki dan berlutut di depan sang istri, lalu menyingkap baju Laras, pria itu lalu menyandarkan kepala di perut yang masih terlihat ramping itu, lalu mencium perut sang istri.
"Papa menunggumu nak, jangan nakal ya, kalau kamu nakal nanti tidak diberi makan oleh mama..," gurau Arga sambil kembali menempelkan bibir dan mencium perut Laras untuk kedua kali.
Mendadak Laras tertawa mendengar ocehan Arga, dia mengusap-usap kepala sang suami dengan penuh kasih sayang.
"Kamu itu ya mas, tidak mungkin aku tidak memberi anakku makan. Aku tidak sejahat itu. Mas ingat tidak? Dulu mas pernah sangat jahat padaku, tapi aku masih memasakkanmu makanan dan tetap memberimu makan, iya kan? hehe, hehe," ucap Laras terus mengolok Arga.
"Iya, aku masih ingat sayang, terima kasih kamu masih selalu ikhlas melayaniku, padahal aku tahu sesakit apa hatimu saat itu,"
"Iya tidak apa-apa, yang terpenting sekarang mas sudah berubah menjadi lebih baik, anggap saja itu sebagai pelajaran untuk mas dan juga aku, agar aku bisa menjadi istri yang selalu tulus melayani suami dan mas bisa menjadi suami yang lebih menghargai keberadaan istri,"
Arga mengangguk membenarkan perkataan Laras.
"Iya sayang, aku akan selalu menghargaimu," ucap pria itu berdiri lalu mengecup dahi wanita cantik di depannya.
Pukul 08:00.
Arga sudah berada di depan mobil yang diantar oleh istri cantiknya.
"Aku pergi dulu, jaga calon anak kita baik-baik, aku mencintaimu sayang," pamit Arga mencium kening Laras.
"Iya, aku akan menjaga calon anak kita dengan baik, aku juga mencintaimu mas, hati-hati di jalan," ucap Laras mencium punggung tangan Arga.
Setelah Arga meninggalkan rumah, Laras langsung menuju kamar mengambil ponsel bermaksud ingin mengabari sang sahabat, Tina.
Jarinya menekan kontak Tina, dan seperti biasa, sang sahabat langsung mengangkat telponnya.
"Hai hai Ras, apa kabar?," suara Tina membuka pembicaraan, terdengar gembira.
"Hai Tin, Alhamdulillah baik, kamu juga apa kabar pengantin baru?," Laras balik bertanya.
"Alhamdulillah aku juga baik,"
"Kamu sedang apa Tin?," tanya Laras ingin tahu.
"Di rumah saja, baru saja aku berniat mau meneleponmu, eh sudah keduluan kamu yang meneleponku," jelas Tina.
"Oh ya? kamu juga mau meneleponku? Memangnya kamu mau membicarakan apa?," Laras bertanya penasaran.
__ADS_1
"Aku mau memberi kabar gembira padamu Ras, aku sudah isi Ras," suara Tina di seberang, penuh kegembiraan memberitahu kabar bahagia pada sahabatnya.
"Hah!!," Laras terperanjat, mulut dan matanya spontan terbuka berbarengan.
"Yang benar saja Tin? kamu serius kan?," Laras bertanya seakan tidak percaya.
"Iya lah Ras aku serius, tiga hari lalu aku sudah testpack dan hasilnya positif, tapi baru pagi ini aku sempat mengabarimu," terang Tina memberitahu.
"Ya Allah Tin, kok bisa barengan ya," ucap Laras masih dalam perasaan tidak percaya.
"Barengan apa maksud kamu?," tanya Tina cepat, tidak mengerti arah perkataan Laras.
"Iya Tin, kok kita bisa barengan, aku tadi meneleponmu mau menceritakan tentang kehamilanku, tahunya kamu sudah duluan memberitahu kehamilan kamu,"
Tina terperangah, matanya membola, wanita itu mendadak terkejut mendengar penyampaian Laras, sama halnya dengan Laras yang tadi juga sempat terkejut saat Tina memberitahu kabar gembira tentang kehamilannya.
"Ya Allah Ras, ternyata kamu juga sedang isi? beruntung sekali nasib kita berdua, itu artinya kita bisa bareng-bareng kontrol ke dokter kandungan," ujar Tina semakin gembira.
"Iya ya, benar juga katamu, nanti kita pilih dokter yang sama saja, jadi tiap kontrol kita bisa barengan, aduh Tin, aku sangat bahagia, sayangnya kamu tidak ada di dekat aku, aku ingin memelukmu..," Laras sedikit histeris saking bahagianya.
"Aah, bosan kamu memelukku terus, memangnya tidak ingat apa? Dari awal kamu menikah dengan tuan sombong kamu itu, kamu sudah sering menangis dan memelukku, jadi aku sudah bosan dipeluk terus olehmu," gurau Tina terkekeh.
"Iih kamu Tin, mentang-mentang sudah punya Rico, sekarang melupakanku," Laras berkata sewot, tampak bibirnya meruncing.
Jika dengan Tina, sikap Laras memang selalu manja, wanita cantik itu merasa memiliki seorang kakak perempuan yang bisa dijadikan tempat berkeluh kesah serta bermanja layaknya seorang adik kepada kakaknya.
"Siapa yang melupakanmu? tidak dong Ras. Kita ini sahabat, saudara, selamanya akan seperti ini," jelas Tina menghibur Laras.
"Nah begitu dong, senang aku mendengarnya," Laras kembali tersenyum riang.
Wajah kedua sahabat itu berseri bahagia, Anugerah terbesar dari Sang Pencipta telah merencanakan semua ini, mengatur jalan hidup dan takdir mereka berdua yang akhirnya bisa menemukan kebahagiaan masing-masing.
"Tapi Tin, mengapa kamu cepat sekali sudah hamil? aku saja kosong lebih kurang Empat bulan," tanya Laras penasaran.
"Iya, setelah akad nikah, aku memang sedang masa subur, baru saja selesai datang bulan," Tina memberitahu.
"Oh.. pantas cepat ya, iya ya, aku mengerti sekarang," sahut Laras manggut-manggut.
"Oh ya, sekarang kamu masih kerja tidak?," Laras ingin memastikan tentang pekerjaan sang sahabat.
"Sudah tidak Ras, mas Rico menyuruhku di rumah saja, apalagi kondisiku sekarang yang sudah berbadan dua, dia tidak mengizinkan aku bekerja lagi,"
Setelah cukup lama berbincang seputar kehamilan, akhirnya kedua wanita hamil itu pun menutup pembicaraan, dengan senyum bahagia di bibir masing-masing.
*****
Hari berganti hari, bulan pun berganti bulan, tak terasa kandungan Laras dan Tina telah menginjak usia Tujuh bulan.
Laras dan Tina juga telah mengadakan acara syukuran Tujuh bulanan di rumah masing-masing tetapi di hari yang berbeda, sehingga keduanya masih bisa saling bergantian menghadiri acara syukuran masing-masing.
Setiap bulan, kedua wanita itu pergi bersama untuk kontrol ke dokter yang sama, dan setiap bulan pula para suami, Arga dan Rico dengan setia menemani istri mereka.
Sebuah persahabatan yang sempurna, ke empat sahabat itu sama sekali tidak memiliki hubungan darah atau pun keluarga namun persahabatan mereka berempat melebihi hubungan sedarah.
Dan dari hasil USG kandungan, terlihat janin di kandungan Laras adalah janin berjenis laki-laki dan perempuan, dengan kata lain janin yang dikandung Laras adalah kembar.
Sementara janin yang dikandung Tina adalah janin berjenis laki-laki.
Baik Arga maupun Rico, kedua calon ayah itu begitu bahagia saat mengetahui jenis kelamin calon anak mereka, terutama Arga, pria tampan itu merasa sangat beruntung dan bersyukur mendapat anugerah terbesar dalam hidupnya, seorang istri sebaik Laras dan juga akan segera mendapat anak laki-laki dan perempuan.
Pada fase mengidam, terlihat perbedaan yang cukup mencolok antara kedua wanita hamil tersebut.
Jika Tina merasakan ngidam layaknya ibu-ibu pada umumnya, kondisi badan yang lemas, mengantuk, mual hingga sampai muntah.
Beda halnya dengan Laras, Laras justru tidak merasakan ngidam apa pun, wanita itu merasakan kondisi tubuhnya sehat dan bugar, dia tidak merasakan gejala ngidam sedikit pun seperti yang dialami Tina.
Keadaan tubuh Laras sama seperti saat sebelum hamil, tetap normal, sehat dan fit, tidak ada rasa mual, pusing, muntah atau apapun itu, hanya lingkaran perutnya yang sedikit berubah, yang dulunya begitu ramping sekarang telah tampak membuncit.
Mungkin Allah ingin melepaskan semua penderitaan yang selama ini telah dialami dan dijalani Laras, sehingga segala bentuk ngidam yang pada umumnya dirasakan Ibu-ibu hamil tidak dirasakan oleh wanita satu itu.
Justru sebaliknya, yang merasakan ngidam adalah si tuan kaya yang selama ini mempunyai tubuh kokoh dan kuat, namun tidak kali ini, pria kuat itu tiba-tiba menjadi rapuh dan mudah sekali terserang mual, pusing serta muntah.
Dari usia kandungan Laras memasuki Tiga bulan hingga sekarang telah menginjak Tujuh bulan, Arga mulai merasakan ada yang berbeda pada dirinya, perutnya sering merasakan mual dan mulutnya selalu ingin disuguhi buah yang asam dan segar seperti buah nanas, kedondong serta mangga muda.
Pria itu juga tidak suka mencium bau-bau yang menyengat seperti bau durian, parfum, dan sebagainya, terkadang tak jarang pria itu sampai muntah yang membuat tubuhnya lemas dan terpaksa membuat dirinya tidak masuk ke kantor.
__ADS_1
Laras yang melihat kondisi Arga seperti itu menjadi cemas.
Sebenarnya Laras tidak tega melihat keadaan Arga seperti ini, jika boleh memilih, fase mengidam ini biar dirinya saja yang menanggung dan menjalani.
Namun Allah berkehendak lain, justru pria itu sekarang yang menjalani fase mengidam yang mau tidak mau, terima tidak terima, harus dilewatinya dengan usaha keras serta penuh perjuangan.
Setiap hari Arga begitu tersiksa menjalani hari-harinya, terkadang pria itu merutuki nasibnya mengapa bisa menjadi seperti ini, mengapa justru dia yang mengalami nasib kurang beruntung padahal di luar sana banyak calon ayah tetapi mereka dengan enjoy nya menjalani hari-hari tanpa harus merasakan hal yang dirasakan olehnya.
Namun di sisi lain, Arga merasa lega dan bahagia melihat Laras selalu terlihat sehat dan tidak mengalami sakit apapun, dan pria itu merasa ada keberuntungan tersendiri karena fase mengidam itu terjadi pada dirinya, dengan begitu Laras tidak harus menanggung rasa mual, pusing, muntah dan sebagainya.
Seperti pagi ini, pukul 07:50.
Laras duduk di tepi tempat tidur, mukanya terlihat cemberut sambil mengelus-elus perut buncitnya.
Arga yang telah bersiap-siap ke kantor memakai jas, dasi serta rambut yang telah diberi minyak rambut tertata dengan rapi.
Arga melihat Laras yang duduk manyun di tepi ranjang, lalu menghampiri sang istri.
"Sayang, mengapa wajahmu cemberut seperti ini? Tidak seperti biasanya?," tanya pria itu menekuk kedua kaki lalu meletakkan dagu di paha istri cantiknya lalu menggenggam tangan wanita itu.
"Mas, jangan ke kantor ya," pinta istri yang sedang hamil itu.
"Hah? Mengapa kamu tiba-tiba melarangku ke kantor? Selama ini kamu yang selalu mendukungku agar selalu rajin datang ke kantor meski pun aku seorang Presdir?,"
"Bukan aku yang melarangmu ke kantor, tapi calon anak-anakmu ini..," tunjuk Laras ke perut seraya cemberut.
Arga terkekeh melihat muka Laras yang tampak cemberut, tetapi entah mengapa, wajah wanita itu tetap saja terlihat sangat cantik, itu yang membuat Arga semakin hari semakin jatuh cinta pada Laras.
Dan selama pernikahan mereka, satu kali pun tidak ada sikap Laras yang membuat Arga kesal apalagi marah, wanita itu memang sangat besar memperhatikan Arga dan begitu pandai melayani suaminya dalam segala keadaan, hal itulah yang membuat Arga merasa nyaman berada di samping istrinya setiap hari.
"Anak perempuan kita nanti, pasti kalau cemberut persis seperti mamanya, sangat cantik dan menggemaskan," goda Arga tersenyum sembari menyentuh hidung Laras dengan telunjuk.
"Iya sudah, jangan cemberut seperti ini, aku akan menuruti semua keinginanmu, aku tidak akan berangkat ke kantor," ujar pria tampan itu menenangkan hati Laras.
"Alhamdulillah, benarkah mas tidak akan pergi ke kantor?," tanya wanita itu dengan wajah berseri.
"Iya sayang, aku tidak akan pergi ke kantor, sesuai keinginanmu dan calon anak kita,"
Pria tampan itu membaringkan kepala di paha Laras, hal yang selalu dilakukannya dan sesuatu yang membuat hatinya tentram berada di pangkuan wanita cantik itu.
Laras menunduk menatap Arga yang ada di pangkuannya, lalu membelai rambut yang telah kelimis itu, yang tadinya siap berangkat ke kantor namun harus dibatalkan hanya karena permintaan sang istri.
"Mas, maafkan aku ya," ucap wanita itu pelan.
Arga tertegun mendengar kata permintaan maaf yang tiba-tiba dari mulut Laras, pria itu langsung mendongakkan kepala menatap wanita berkulit putih itu.
"Mengapa kamu tiba-tiba meminta maaf? Untuk apa?,"
"Selama aku hamil, aku sering merepotkan dan menyusahkanmu,"
Arga beranjak, lalu ikut duduk di tepi tempat tidur di samping Laras.
"Itu bukan kesalahanmu sayang, itu keinginan calon anak kita, aku bisa mengerti," ucap Arga tidak menyalahkan istrinya.
"Terima kasih mas, tapi sebenarnya hari ini aku ingin jalan-jalan keluar mas, aku ingin menikmati hari berdua bersamamu,"
"Baiklah, kamu mau kemana sayang?," Arga menyetujui permintaan sang istri.
"Aku ingin membeli perlengkapan untuk calon bayi kita,"
Arga manggut-manggut tanda setuju.
"Baiklah sayang, aku ganti pakaian dulu, sebentar lagi aku akan segera mengantarmu,"
Benar saja, sekitar pukul 09:30, pria tampan dan wanita cantik itu telah memasuki mobil Mercedes Benz berwarna merah dan melesat keluar dari pekarangan rumah.
Pukul 15:30.
Keduanya baru keluar dari sebuah Mall terbesar di Jakarta, dari pagi sampai sore keduanya sibuk memilih dan membeli semua perlengkapan bayi, dari mulai pakaian, sarung tangan, kaos kaki, bantal, kasur, ranjang, kelambu, stroller, dan lain sebagainya.
Saat Dzuhur tadi, Laras dan Arga hanya menyempatkan shalat Dzuhur di Musholla yang ada di mall lalu makan siang sebentar, kemudian kembali mencari perlengkapan bayi yang mereka inginkan.
Kini, keduanya telah meninggalkan parkiran Mall dan segera menuju ke rumah.
Semua perlengkapan bayi yang telah mereka beli akan segera dikirim menggunakan jasa angkutan khusus pengantaran barang yang disediakan dari Mall.
__ADS_1
Raut wajah Laras dan Arga tampak lelah, namun rasa bahagia yang begitu besar di hati mereka menutupi dan mampu mengikis rasa lelah di tubuh mereka, senyum dan tawa terus terukir di bibir keduanya saat di dalam mobil menuju pulang ke rumah.
...*******...