
Suara Azan subuh membangunkan Hana, perlahan ia membukamatanya walaupun ia masih merasa mengantuk, tapi panggilan sholat sudah berkumandang sudah saatnya menyahuti panggilan sang pencipta, ia menatap lekat
wajah suaminya yang begitu dekat dengannya, ia merasakan sesuatu yang menimpah pinggangnya, Hana mengangkat sedikit kepalanya, ia begitu sangat terkejut melihat tangan suaminya yang memeluk pinggangnya, tatapannya cepat beralih pada suaminya,
Ia menatap kembali wajah suaminya itu dengan lekat pengusap lembut wajah itu dengan punggung tanganya, “Mungkin aku terlalu berharap agar kau cepat bangun sayang, Maaf semalam membuat tidurmu tidak nyamam sayang, ucap Hana pelan, Hana mendekatkan bibirnya pada bibir suaminya dan menciumi bibir itu lembut, Mata Hana membulat dengan sempurna ketika ciumannya itu mendapat balasan, Hana mencoba melepaskan ciumannya tapi sebuah tangan menahah tengkuknya dengan kuat, dan memeperdalam ciumannya.
“Sayang, Hana memanggil suaminya diselah ciuman mereka, Perlahan Aditya melepaskan pangutannya,
“Selamat pagi sayang, sapa Aditya tersenyum memandang istrinya yang terlihat bengong, perlahan hana mendekatkan tangannya meletakkan kedua tangannya di pipi suaminya, menatap Adirya begitu dalam dengan mata berkaca-kaca,
“Sayang, please cubit aku, sungguh aku takut ini hanyalah mimpi, ucap Hana pelan dengan air mata yang sudah berderai dipipinya. Aditya terkekeh mendengar pertanyaan istrinya, ia mendekatkan bibirnya pada bibir istrinya dan memberikan gigitan kecil disana, Hana pun tersentak, tangis Hana pecah dengan suara yang cukup keras, Aditya membawa istrinya itu dalam pelukannya, menciumi seluruh wajah istrinya,
“Jangan menangis lagi sayang, sudah terlalu banyak air mata, Mas tidak ingin melihatnya lagi, Aditya berucap sambil melepaskan pelukannya dan menatap mata istrinya bergantian
“Terima kasih sayang, sudah menuntun jalan Mas untuk pulang,I love my heart, my life, my sunshine, my everything, ucap Aditya lirih.
Banyak kata yang ingin Hana ucapkan , tapi semua tercekat ditenggorokannya, Bahagia dan haru semua jadi satu, hanya suara tangisan Hana yang semakin keras
“Jangan pergi lagi Mas, sungguh aku tidak akan pernah sanggup lagi sayang,ucap Hana diselah isaknya, Aditya pun mengiyakan sambil menghapus air mata istrinya, Hana kembali memeluk suaminya dengan begitu erat,
seperti ingin menyalurkan kelegaan hatinya,
“Alhamduliliah ya Allah, telah mengembalikan suami hamba kembali, ucap Hana lirih ia semakin mempererat pelukannya, karena begitu bahagia.
“ Aduh..! Hana tersendak ketika mendengar teriakan kesakitan suaminya, ia melepas pelukannya dan menatap suaminya dengan penuh kekwatiran
“Kenapa sayang,? apa yang sakit? aku akan memanggil dokter ya?, Hana bertanya bertubi-tubi karena begitu cemasnya.
__ADS_1
“Tidak sayang, kamu terlalu erat memeluk Mas, sehingga menekan luka didada mas, sahut Aditya mengeryitkan keningnya menahan sakit.
“Maafkan aku Mas, ucap Hana pelan sambil menyingkap piyamayang dipakai suaminya itu untuk melihat perban yang membalut luka suaminya itu.
“Aku panggilkan dokter ya sayang?
“Nanti saja, sebaiknya kamu sholat subuh dulu sayang,setelah itu baru panggil dokter untuk melepaskan alat-alat ini, karena Mas juga ingin sholat juga, sahut Aditya, Hana pun mengiyakan, sebelum turun dari tempat tidur ia kembali memeluk suaminya lagi, ia begitu enggan untuk beranjak pergi, akhirnya ia pun turun dan melangkah ke kamar mandi untuk berwudhuk.
******
Aditya duduk bersandar di ranjangnya, di sisi kanan dan kirinya duduk mama dan istrinya, sedangkan papanya duduk di bangku tepat didepan ibunya, sedangkan Aldo dan Dila berdiri di samping sisi Hana, mereka segera berdatangan ke rumah sakit begitu mendapat telpon dari Hana, suasana haru begitu terasa ketika mama Aditya datang, ia memeluk putranya itu sambil menangis, mulutnya tak henti berucap syukur,
“Sayang kau sungguh memebuat detak jantung mama seakan berhenti, ucap Mama sambil mengusap lembut rambut Aditya, Aditya menghapus bekas air mata dipipi mamanya itu.
“Terima kasih ma, sudah mengirim doa untuk Adit, ucap Aditya lembut sambil menatap mamanya itu.
“Untuk papa juga, terima kasih atas doa yang tidak terputus dari mama dan papa, lanjut Aditya. Papanya menggenggam erat tangan putra bungsunya itu, “ doa dari mama dan papa tak akan pernah terputus untuk
Untuk sesaat ruangan itu diisi oleh kesunyian, mereka semua tidak dapat menahan air matanya, perlahan papa Aditya melepaskan pelukannya, Aditya pun mengalihkan pandangannya pada Aldo dan Dila yang berdiri bersebelahan,
“Terima kasih untuk semuanya, suara Aditya tercekat, perlahan Aldo mendekat , kemudian memeluk Aditya,
“Itulah yang dilakukan oleh saudara, saling menjaga, inibelum sebanding dengan apa yang telah kau lakukan padaku, cinta dari om dan tante membuat aku merasa orangtuaku masih ada disini, ucap Aldo dengan suara
bergetar, begitu mendengar perkataan Aldo Mama segera memeluk keduanya erat,
“Kalian berdua adalah putraku sampai kapanpun akan tetap seperti itu.
__ADS_1
*****
Aldo dan Dila menghabiskan waktunya sorenya di cafe, sudah cukup lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua seperti ini, suasana kafe tidak terlalu ramai , mereka memilih duduk di agak dipinggir karena kafe ini berkonsep outdoor membuat mereka bebas menatap sekitar mereka, melihat oaring yang berlalu lalang
“Tempatnya asyik nanti kita aja Hana dan Mas Adit kesini ! seru Dila
“Boleh juga! Sahut Aldo sambil melirik Dila yang duduk disampingnya , Dila balik menatap Aldo,
“Kamu terlihat lebih kurus sekarang Al, Ucap Dila memegang pipi Aldo dan menatap dengan seksama.
“Benarkah , perasaanku biasa aja!, ujar Aldo .
“Wajahmu juga terlihat lebih pucat, jangan bekerja terlalu keras, tidurlah yang cukup, aku tak ingin kamu sakit, ucap Dila penuh kekwatiran, Aldo tersenyum mendengar ucapan Dila,
“Terima kasih sayang sudah mengawatirkanku, kamu perhatian banget, ucap Aldodengan mengedipkan sebelah matanya, yang berhasil membuat wajah Dila memerah,Aldo mengcak rambut Dila karena begitu gemas melihat kekasihnya itu.
“Aldo..! Dila..!
Keduanya langsung memalingkan wajahnya ke sumber suara, merekakaget sekaligus senang bisa bertemu Rendi dan Nena disana, keduanya pun menyauti pangilan sepasang suami istri itu, dan mengajak mereka bergabung dalam satu meja.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung