
Pukul 04:30.
Seperti biasa, Laras telah terbangun dari tidur, matanya memang sudah memiliki alarm tersendiri, dia tidak membutuhkan alarm dari ponsel atau pun jam weker, mata itu akan terbangun dengan sendirinya, untuk menunaikan shalat Subuh.
Kebiasaan ini memang telah menjadi rutinitas wanita itu sejak kecil, sudah diterapkan oleh Ibu serta neneknya.
Laras memang sudah terbangun, namun matanya belum terbuka, masih terpejam, rasanya mata itu masih sangat berat untuk terbuka, rasa kantuk masih terasa menyerang, hidungnya mencium aroma wangi maskulin, entah wangi apa, dia sendiri tidak tahu, dia sedikit menggerakkan badan lalu memaksa membuka mata.
Dia mengerjapkan mata berulang kali, saat matanya terbuka, dia baru sadar jika ternyata hidungnya menempel di dada Arga.
"Tubuhmu wangi sekali mas, padahal tadi malam kamu sudah banyak mengeluarkan keringat, tapi mengapa tubuhmu masih bisa sewangi ini?," decak kagum wanita cantik itu dalam hati sambil terus menghirup aroma sang suami.
Dia mengusap wajah Arga, tersenyum memandangi wajah tampan yang masih dengan pulasnya tertidur sambil merangkulkan tangan kiri di pinggang sang istri.
"Mas, bangun," panggil Laras pelan.
Tidak ada gerakan dari pria itu, dia masih nyaman menutup mata dengan hembusan nafas yang terlihat teratur.
"Mas, bangun mas, kita shalat subuh dulu," panggil Laras lagi tetap mengusap-usap wajah pria tampan itu.
Arga mendengar panggilan Laras, memicingkan mata lalu membukanya lebar.
"Sayang, dingin sekali..," hanya kata itu yang diucapkan Arga lalu pria itu kembali memejamkan mata dan semakin mendekap rekat tubuh Laras dengan tangan serta kakinya.
Arga bermaksud ingin melanjutkan tidur sambil memeluk sang istri. Laras merasa terhimpit dengan dekapan erat Arga, sehingga dia mencoba melepaskan rangkulan sang suami dengan cara mendorong sedikit tubuh menjauhi Arga.
"Mas, ayolah bangun, kita shalat subuh sebentar, nanti waktunya keburu habis," bujuk wanita cantik itu mengelus-elus lembut punggung sang suami.
Mendapat elusan seperti itu, rasa kantuk Arga seketika sirna dan justru membuat benda miliknya menjadi bangun dan mendadak berdenyut.
Pria itu mendadak membuka mata, menatap wanita yang ada di dadanya, lalu mengangkat dagu Laras dan tanpa izin langsung melancarkan ciuman ke bibir wanita cantik itu.
Laras yang mendapat serangan tiba-tiba dari Arga, hanya mampu terdiam dan menerima ciuman dari sang suami, Arga terus mengecup bibir lembut wanita itu, dan tanpa sadar Laras pun membalas kecupan suaminya, hingga kedua bibir itu kembali saling bertaut, begitu lama dan menghanyutkan, membuat tubuh Arga mulai memanas.
Nafas Arga mulai terdengar memburu, tangannya melepaskan selimut yang menutupi tubuh keduanya, lalu melorotkan lingerie yang dipakai Laras, kepalanya secepat kilat merosot ke dada wanita itu lalu bibirnya mulai menyentuh benda milik Laras.
Namun Laras dengan cepat menghentikan aksi prianya, menahan kepala Arga agar tidak makin tenggelam ke dadanya dan langsung menutup kembali tubuh dengan selimut membuat Arga harus menyudahi hasratnya.
Begitu jelas muka Arga tampak kecewa dan berubah kaku.
"Mas, jangan sekarang, nanti waktu subuhnya habis, kita sudah dua kali melakukannya, baru saja beberapa jam yang lalu. Mengapa sekarang mas sudah ingin melakukannya lagi?," tanya Laras memandang Arga yang kini menekuk muka.
"Sayang, mengapa sepertinya kamu selalu menghindar dan menolakku?," Arga balik bertanya dengan suara datar.
Laras tercekat mendengar pertanyaan Arga, dari nada bicaranya, Laras faham, pria itu sedang menahan kesal dan kecewa.
"Mas, aku tidak menolakmu, tapi aku fikir lebih baik kita shalat subuh dulu, aku selalu ada di dekatmu tiap waktu, kamu bisa melakukan ini kapan pun, jam berapa pun kamu mau," Laras berusaha memberi pengertian pada suaminya.
Melihat muka kaku sang suami, Laras tersenyum, kemudian mengangkat tubuh dan duduk seraya memasang kembali lingerie nya yang sudah melorot ke bawah.
Wanita itu membujuk sang suami, membelai rambut tebal Arga dengan lembut lalu sedikit membungkuk mengecup keningnya. Hati Arga menjadi tenang, dia sangat tersentuh dengan kecupan sang istri.
"Ayolah bangun, nanti kita bisa melakukannya lagi," janji Laras yang membuat Arga merasa mendapat angin segar, lalu segera mengangkat tubuh dan ikut duduk di samping Laras.
"Benar sayang?," tanyanya menatap Laras senang.
"Iya mas, ayolah kita mandi," ajak Laras lega karena berhasil membujuk sang suami.
"Sayang tunggu! Kamu tadi bangun duluan, mengapa kamu tidak memberiku hadiah di sini?," protes Arga menunjuk pipi.
Laras kembali tertegun, dia baru ingat jika kemarin Arga telah membuat kesepakatan siapa yang bangun terlebih dulu wajib memberikan ciuman di pipi.
"Oh iya, maaf.., aku kelupaan mas," ucap Laras dengan raut muka bersalah.
"Sebenarnya kamu mencintaiku atau tidak? mengapa bisa melupakan hal penting ini? padahal kemarin kita sudah membuat kesepakatan, apa jangan-jangan kamu hanya berpura-pura mencintaiku?," sungut Arga kesal melirik tajam istrinya.
"Mengapa mas bertanya seperti itu? Apa mas masih meragukan aku? Semalam aku sudah mengatakan padamu, aku mencintaimu mas... Harus berapa kali aku mengatakannya? Hati, cinta, tubuh sudah aku serahkan semua padamu, itu sebagai bukti aku mencintaimu, dan mas tidak perlu menanyakan hal ini lagi, tadi aku benar-benar lupa, aku minta maaf. Aku tidak sengaja melupakannya, mulai besok aku akan selalu mengingatnya," ucap Laras menjelaskan dan memberi pengertian kepada Arga.
Arga terdiam mendengar penuturan Laras, pria itu menjadi begitu sensitif bilamana istrinya tidak memperhatikan apalagi sampai mengabaikannya.
Laras beringsut dan duduk di atas paha Arga lalu merangkulkan kedua tangan di leher pria itu seraya menatap lembut manik mata pria bermata dingin itu, perlahan Laras mendekatkan wajahnya ke wajah Arga.
Laras memejamkan mata lalu menempelkan bibir di pipi pria itu, setelah itu bibir Laras turun perlahan menyusuri bibir Arga, dengan lembut wanita itu mencium bibir suaminya.
Cukup lama Laras menautkan ciumannya yang langsung dibalas oleh Arga, bibir wanita cantik itu terus mengecup lembut bibir pria tampan itu, sehingga membuat Arga ikut terpejam meresapi ciuman penuh cinta dari sang istri.
Arga benar-benar telah dibuat gila dan mabuk dengan bibir lembut milik istrinya itu.
__ADS_1
Selang beberapa menit, Laras melepas ciumannya.
"Jangan marah lagi ya? aku minta maaf, aku benar-benar lupa..," ucap Laras mengelus lembut pipi sang suami lalu memeluk tubuh pria itu.
"Aku mencintaimu mas.., jangan pernah meragukan perasaanku," ucap wanita itu dengan sejujurnya.
"Iya sayang, aku tidak meragukan perasaanmu, aku juga tidak marah, aku hanya tidak mau kamu melupakanku di saat kamu terbangun dari tidur, aku ingin kamu selalu memperhatikanku dan tidak mengabaikanku," Arga mengungkapkan isi hati sambil membelai rambut istri cantiknya.
"Mas tidak perlu khawatir, aku tidak akan melupakanmu apalagi mengabaikanmu, aku akan selalu memperhatikanmu," janji wanita itu berusaha menenangkan hati Arga.
"Terima kasih sayang, itu yang selalu aku harapkan, aku mencintaimu..," Arga mengecup pucuk kepala Laras.
"Aku juga mencintaimu mas, ayo kita mandi dan shalat subuh," ajak Laras segera turun dari pangkuan Arga dan melepaskan pelukannya.
"Kita mandi bersama saja biar cepat," Arga memberi saran.
"Baik, tapi mas janji, jangan melakukan sesuatu yang bisa membuat kita melewatkan shalat subuh," pinta Laras memandang curiga pada Arga.
"Iya sayang, aku berjanji, tapi nanti setelah sarapan, aku boleh meminta lagi?," pria itu masih bernegosiasi.
Mata Laras membulat lalu tersenyum menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Arga.
"Iya," sahut Laras pendek lalu berjalan ke kamar mandi.
Sehabis mandi besar dan melaksanakan shalat berjama'ah, dengan dibantu Arga, Laras segera membereskan tempat tidur dan mencuci seprei yang semalam terkena noda darah wanita itu.
Sembari menunggu cucian di mesin cuci, wanita itu pergi ke dapur, memasak dan menyiapkan sarapan untuk suaminya, yang pagi ini Arga dengan sukarela ikut membantu pekerjaan Laras di dapur.
Walau pun hanya bantuan-bantuan kecil seperti mengambilkan mangkok, menaruh makanan ke atas meja, membereskan sampah, merapikan rak piring, membersihkan meja dan selebihnya hanya duduk memandori sang istri memasak, namun membuat hati Laras bahagia mendapat bantuan kecil dari pria kaya itu.
Pukul 07:00.
Keduanya baru memulai sarapan.
"Aku makan dari piringmu saja,"
"Mengapa dari piringku? nanti mas tidak kenyang kalau makan satu piring denganku,"
"Kalau makanannya sudah habis satu piring, kan bisa ditambah lagi," Arga menyarankan.
"Iya, baiklah, aku tahu maksud mas mau satu piring, minta disuapi kan?," Laras menebak sambil tersenyum melirik suami manjanya itu.
"Iya, baiklah, aku akan menuruti keinginanmu, ini, makanlah..,"
Laras menyendok makanan di piring dan menyuapi sang suami, dengan penuh semangat Arga mengunyah makanannya sambil terus memandangi wanita cantik di depannya, setelah itu Laras menyendok makanan untuk dirinya dan memakannya.
Pria itu tidak menyangka hari ini masih bisa melihat istrinya, setelah apa yang terjadi beberapa waktu lalu. nyaris kehilangan Laras, yang membuatnya hampir gila.
Selesai sarapan, Laras masih sibuk berkutat di wastafel mencuci peralatan makan yang kotor.
Arga ikut membantu menyusun piring dan sendok di rak piring.
"Mas, apa perlakuan mas seperti sekarang ini tidak akan berubah?," tanya Laras di sela kesibukannya mencuci piring.
"Maksudmu sayang?," Arga balik bertanya, tidak mengerti.
"Mas membantu pekerjaanku, melayaniku, memperhatikanku, menyayangiku dan mencintaiku, apa akan selamanya atau hanya saat kita pengantin baru ini saja?," Laras bertanya menatap sejenak sang suami yang berdiri di samping kiri.
"Selamanya sayang, aku akan menjadi pelayanmu sekaligus suami yang akan selalu membantu, menjaga, melindungi, menyayangi dan mencintaimu. Aku dulu pernah menyia-nyiakanmu, dan aku akan menebus semuanya seumur hidupku," ucap pria itu dengan sepenuh hati.
"Terima kasih mas, aku senang mendengarnya, aku sekarang menjadi lega dan semakin yakin padamu," wanita itu tersenyum penuh haru.
Arga memeluk pinggang wanita cantik itu. Laras menoleh sekilas ke samping melirik sang suami yang tengah memeluknya dari belakang.
"Cucianmu sudah selesai sayang?," tanyanya mengendus leher putih Laras.
Laras menjauhkan lehernya dari bibir Arga, dan terus melanjutkan pekerjaannya.
"Sebentar lagi, ada apa mas?," sahut Laras masih dengan pekerjaannya mencuci piring yang masih tersisa beberapa buah.
Arga terus menciumi leher putih Laras yang membuat Laras bergidik geli.
"Aku mau menagih janjimu subuh tadi," ucap Arga menyelipkan tangan ke dalam baju Laras dan mengelus-elus perut wanita itu, membuat Laras semakin merinding.
"Mas, mengapa kamu terburu-buru sekali? aku belum menyelesaikan semua pekerjaanku," Laras sedikit protes karena dia merasa sentuhan Arga membuatnya merinding dan menjadi tidak fokus mengerjakan pekerjaannya.
"Apa kamu berniat menolakku lagi? Mengapa aku merasa kamu sering menolakku sayang?," suara Arga mulai terdengar lirih dan mengandung makna kekecewaan.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak menolakmu mas. Maksudku tunggu semua pekerjaanku selesai dulu," jelas Laras sambil mematikan kran air.
Laras tahu, jika suaminya itu tengah merajuk.
Pria itu memutar badan Laras dan menghadapkan wanita itu ke arahnya. Sehingga mereka kini telah berdiri beradu muka. Arga telah menyandarkan tubuh Laras di wastafel, dan pria itu menuntut janji yang tadi subuh dibuat oleh sang istri.
"Sayang, apa benar ucapanmu tadi malam? bahwa kamu mencintaiku? kalau kamu memang benar mencintaiku, kamu tidak akan menolakku terus, buktikan cintamu..," pria itu berkata menatap lekat Laras.
Laras menarik nafas panjang dan menghempaskannya pelan.
"Iya, aku mencintaimu mas, harus berapa kali aku mengatakannya agar kamu bisa yakin?," jawab Laras membalas menatap Arga.
"Terima kasih sayang, kamu telah membalas cintaku, aku sangat bahagia dan menjadi yakin dengan cintamu, sekarang aku ingin kamu membuktikan seberapa besar cintamu padaku, apakah sama besarnya dengan perasaanku? aku ingin melakukannya lagi, tolong jangan menolakku terus. Kamu tidak keberatan kan?," pria itu meminta kesediaan istrinya.
"Jelas aku tidak akan keberatan, aku tidak menolakmu mas, aku hanya ingin menyelesaikan pekerjaanku dulu, tapi mas sepertinya sudah tidak sabar,"
"Iya, aku memang tidak sabar, kita kan pengantin baru, wajar kalau aku menginginkannya lagi. Kalau begitu kita lakukan sekarang, tapi kamu ikhlas kan sayang? ikhlas karena cinta bukan terpaksa? karena aku merasa beberapa kali kamu berusaha menolakku..," ucap pria itu merasa cemas.
"Aku selalu melakukannya dengan ikhlas, karena cinta, bukan karena keterpaksaan, sekarang lakukanlah. Ini sebagai bukti cintaku, aku harap mas yakin dan tidak mempertanyakan tentang perasaanku lagi,"
Laras melingkarkan tangan ke punggung Arga lalu memejamkan mata menunggu pria itu menciumnya.
Hati pria itu menjadi bahagia mendengar ucapan Laras, dia memegang tengkuk sang istri lalu melabuhkan bibir di bibir Laras, mengecupnya dengan lembut, keduanya hanyut dalam ciuman hangat dan panjang.
Arga terus mencium bibir wanita itu, kedua telapak tangan Laras terpaksa bertopang di wastafel berusaha menahan tubuh Arga yang semakin merapat dan menghimpit tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, Arga melepaskan ciumannya, lalu membopong dan membawa Laras ke kamar lalu membaringkan tubuh ramping itu di kasur, tidak lupa sang pria menyalakan AC menyetelnya ke suhu yang paling dingin.
Arga langsung membuka seluruh pakaian, lalu membuka baju kaos dan hotpants yang dikenakan Laras.
Jantung Laras rasa ingin runtuh, berdetak keras, rasa gugup dan malu masih menguasai dirinya, sekuat apa pun dia menormalkan perasaannya tetap saja tidak bisa. Perasaan gugup, malu, nervous itu tetap tidak mau menyingkir dari dirinya.
Sama halnya dengan Arga, perasaannya masih tetap sama seperti pertama kali menyentuh Laras di malam pertama, jantungnya masih keras berdegup, darahnya mengalir panas serta hembusan nafas yang begitu memburu.
"Sayang..," panggil Arga menatap lembut wanita yang sudah terbaring di kasur.
"Iya mas, lakukanlah..," ucap Laras memandang teduh pria di hadapannya.
"Terima kasih sayang," ucap Arga senang.
Arga merapatkan bibir ke bibir Laras dan mencium lembut wanita itu, yang langsung disambut oleh sang istri dengan kecupan yang tidak kalah lembut.
Laras tahu, jika Arga berfikiran dan menganggap Laras selalu menolaknya, karena itu, dia berusaha akan melayani Arga dengan baik untuk membuktikan bahwa dia memang sangat mencintai pria itu.
Arga mengecup leher, telinga, hingga dada wanita berkulit putih itu dengan bibir, tidak ketinggalan tangannya menyentuh serta meraba paha sang Istri.
"Mas..," Laras mulai mengeluarkan *******.
Arga terus menyusuri setiap jengkal tubuh Laras, tidak ada satu pun yang terabaikan.
Desiran darah keduanya semakin terasa panas, jantung mereka berdegup kencang, berpacu dengan gerakan Arga yang semakin cepat.
"Sayang, sudah tidak sakit lagi kan?," pria itu di sela-sela gerakannya masih sempat menanyakan kondisi sang istri.
"Tidak mas," sahut Laras dengan mata terpejam.
Arga lega mendengar jawaban sang istri, dia pun dengan leluasa mempercepat gerakan tanpa harus takut memikirkan sang istri akan merasakan sakit karena gerakannya.
Peluh pun mulai mengalir deras membasahi tubuh mereka, hingga akhirnya ******* panjang secara bersamaan keluar dari bibir suami istri itu.
Laras terpejam sambil meremas punggung Arga dengan sangat keras, berusaha menahan segala rasa yang mengalir deras di sekujur tubuh.
Arga pun tak kalah menggelora, tubuhnya menegang dan aliran panas terasa menyambar seluruh tubuh sampai ke ubun-ubunnya.
Peluh keduanya deras menetes membasahi wajah, leher serta seluruh badan.
Arga merasa puas, dan langsung membaringkan tubuh di samping Laras dengan nafas mereka yang masih tersengal.
"Terima kasih sayang, kamu selalu membuatku merasa puas dan bahagia. Aku mencintaimu sayang..," ucap Arga menghapus peluh di dahi istrinya, mencium dahi itu lalu memeluknya erat.
Laras mengangguk lemas, dia merasa kelelahan, matanya pun terasa sangat mengantuk.
"Aku juga mencintaimu mas..," sahut Laras memejamkan mata dalam pelukan Arga dan tanpa menunggu lama, wanita itu pun langsung tertidur.
Sebelum Arga ikut memejamkan mata, tangannya meraih selimut dan menutupi tubuh mereka.
Keduanya kembali tertidur, entah berapa lama mereka bergelut di atas tempat tidur, namun yang jelas membuat tenaga mereka terasa terkuras habis.
__ADS_1
...*******...