Istri Pilihan Mama

Istri Pilihan Mama
114 - MAU LAGI


__ADS_3

Arga lemas, lututnya terasa lumpuh tak memiliki tulang, nafasnya masih turun naik, dia mengangkat tubuh dari atas tubuh sang istri lalu berbaring di samping wanita cantik itu.


Arga beringsut merapat ke tubuh Laras yang masih terlihat mengatur nafas, pria tampan itu meraih kepala sang istri dan meletakkannya di dada, mengusap keringat di dahinya lalu membelai dengan lembut rambut wanita cantik itu.


Hati pria tampan itu terasa berbunga-bunga dan bahagia tiada tara, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Dia telah mendapatkan hati serta cinta Laras, ditambah mendapat hadiah besar dari sang istri bahwa dirinya belum pernah tersentuh oleh seorang laki-laki pun, Arga ibarat mendapatkan sekarung permata yang tak ternilai harganya.


"Sayang, terima kasih banyak, aku sangat bahagia, aku satu-satunya pria paling bahagia di dunia ini. Aku merasa mendapatkan bidadari yang begitu cantik, baik dan suci. Terima kasih kamu sudah memberikan milikmu yang paling berharga untukku, aku sangat mencintaimu..," Arga mengecup dahi wanita cantik itu kemudian merangkulnya erat.


Dia tidak menyangka istri yang selama ini disia-siakannya, dihina, dicampakkan, bahkan dianggap janda kotor dan menjijikkan, ternyata menyimpan dan memiliki sejuta aset berharga di dalam dirinya yang tidak ternilai harganya.


Mulai dari wajah yang cantik, kebaikan, ketulusan, kesabaran, ketabahan, perhatian, cinta, kasih sayang bahkan kesucian, semua ada di dalam diri wanita cantik itu.


Semua yang disimpan dan dimiliki Laras, membuat Arga telah benar-benar jatuh cinta pada wanita itu, bahkan malam ini aset paling berharga yang dimiliki Laras pun telah diserahkan wanita itu padanya, membuat laki-laki itu semakin mencintai istrinya bahkan menjadi gila karenanya.


Terlihat ada tetesan air bening di kedua sudut mata indah wanita itu, Arga tertegun, langsung memegang dagu dan mengangkat wajah sang istri agar terdongak ke arahnya.


"Sayang, mengapa kamu menangis? apa masih sakit?," tanya Arga menatap cemas pada Laras yang telah terdongak menatapnya.


Laras menggelengkan kepala.


"Aku merasa bahagia mas, akhirnya aku bisa memberikan kesucianku untuk pria yang aku cintai dan mencintaiku..," tetes buliran bening itu terus mengalir pelan di pipinya yang putih.


Arga mencium buliran air mata itu, terus mengecup air bening itu dan mengeringkannya dengan bibirnya, hingga tetesan itu kini telah kering dari wajah sang istri.


"Aku juga bahagia sayang, akhirnya aku bisa merasakan semua ini pertama kali denganmu, aku juga belum pernah melakukan ini, dan aku merasa bersyukur bisa melakukannya dengan wanita sebaik dan sesuci kamu," ucap Arga membelai rambut panjang Laras.


"Jangan menangis lagi, mulai sekarang kita akan selalu bersama selamanya, aku mencintaimu sayang," Arga berkata penuh kasih sayang.


"Aku juga mencintaimu mas," Laras menjawab ucapan cinta sang suami, yang selama ini tidak pernah dilakukannya.


Tak sengaja mata Laras menangkap ada sedikit darah di bahu Arga, cukup banyak goresan bekas cakaran di sana, lebih dari Lima cakaran membekas di bahu pria itu.


"Mas, bahumu terluka," Laras meraba di pinggir luka cakaran itu.


"Iya, aku juga tidak tahu, siapa yang berani melukaiku, sepertinya orang itu sangat menyukaiku," goda Arga melirik Laras.


"Mas, aku tidak sengaja..," Laras menatap Arga dengan rasa bersalah.


"Apa kamu yang telah melukaiku?," Arga pura-pura bertanya.


"Maafkan aku mas, aku tidak tahu kalau kuku-ku melukaimu, aku tadi tidak sadar..," Laras menenggelamkan muka di dada sang suami, mukanya bersemu merah menahan malu pada pria itu.


"Iya, tidak apa-apa sayang, aku mengerti, justru aku merasa senang kamu melukaiku seperti ini, itu tandanya kamu menikmati sentuhanku sampai-sampai kamu tidak sadar telah mencakar dan melukaiku," ujar Arga mulai menggoda istrinya.


Laras terdiam membeku, di dalam hati, dia membenarkan ucapan Arga, bahwa dia sangat menikmati sentuhan pria tampan itu, begitu lembut dan menggetarkan, hingga dia tidak sadar berapa kali dia telah melepaskan ******* dari mulutnya bahkan berapa kali telah mencakar tubuh pria tampan itu.


"Padahal semua kuku-ku pendek, tidak ada yang panjang, mengapa bisa sampai melukaimu mas?,". tanya Laras bingung melihat dan mengamati ke sepuluh kuku di jarinya.


Arga tersenyum melihat Laras yang begitu polos, di wajah itu tampak tergambar rasa bersalah karena telah membuat bahu suaminya terluka.


"Kuku-mu memang pendek sayang, tapi kalau kamu mencakarku dengan sekeras-kerasnya tetap saja akan meninggalkan goresan," Ujar Arga menjelaskan pada sang istri.


Laras berfikir sejenak, memang benar yang dikatakan Arga, meski pun kukunya pendek jika dia mencengkeram dengan keras pasti tetap bisa melukai tubuh Arga.


"Maafkan aku mas.., lukanya perih gak?..," tanya Laras mendongak menatap Arga, wanita itu masih merasa bersalah atas kecerobohan yang dilakukannya.


"Iya tidak apa-apa sayang, tidak perih, tapi aku ingin tahu, apa kamu menikmati sentuhanku?," tanya Arga menatap ke bawah pada wanita yang ada di dalam dadanya.


Laras semakin terdongak mendengar perkataan Arga, tatapan mereka bertemu, desir dan degup kembali tercipta di hati masing-masing.


"Sayang, mengapa diam saja? apa kamu menikmati sentuhanku?," Arga mengulang pertanyaannya.


Laras bingung harus menjawab apa, sejujurnya dia memang begitu menikmati sentuhan Arga, dia ingin menjawab "Iya", tetapi bagaimana mungkin, rasanya dia masih sangat malu berkata jujur mengenai hal ini pada pria tampan itu. Dia menelan air ludah, kerongkongannya terasa kering ingin menjawab pertanyaan sang suami.


"Sayang?," pria itu membuyarkan lamunan Laras.


"Eh, i-iya mas..," sahut Laras terbata.


"Iya apa?," Arga terus bertanya ingin jawaban jelas dari wanita itu.


"Iya mas, aku-aku menik...matinya...," ucap Laras terputus-putus sambil meletakkan kembali wajahnya di dada pria itu dan menenggelamkan muka malunya di sana.


Pria itu tersenyum dan merasa begitu bahagia mendengar jawaban Laras. Dia merasa telah menjadi suami yang paling beruntung di dunia ini.


"Aku juga menikmatinya sayang, sangat menikmatinya...," ucap Arga mencoba mengangkat wajah Laras yang masih tenggelam di dalam dadanya.


Wajah Laras kembali terdongak, pandangan mereka pun beradu, pria tampan itu menundukkan muka lalu mencium bibir lembut Laras, refleks Laras memejamkan mata menerima sentuhan bibir sang suami dan tanpa harus diminta supaya dibalas seperti kemarin-kemarin, wanita itu langsung membalas ciuman suaminya.


Mereka terus berciuman, lembut namun lama, sang pria mulai terangsang, nafasnya mulai terasa panas dan terdengar memburu, lalu tangannya kembali bergerak mulai meraba dada putih itu.


Laras mendadak merinding saat tangan Arga telah meraba dadanya. Wanita itu langsung membuka mata lalu melepaskan bibirnya yang bertaut di bibir sang suami.


"Mas, aku mau ke kamar mandi, mau membersihkan badanku dulu," Wanita itu mencari alasan agar terlepas dari tangan Arga yang mulai meraba dadanya.

__ADS_1


Arga terlihat mengernyit, dia tahu jika istrinya sengaja menghindarinya.


Laras beranjak dari berbaring dan berpindah ke posisi duduk, dia menatap ke seluruh tubuh dan mulutnya menganga melihat keadaan tubuhnya yang penuh dengan bercak kemerahan di hampir sekujur badan, ternyata pria beralis tebal itu telah meninggalkan puluhan bahkan hampir seratus kecupan di kulit putihnya.


Laras menjadi malu, langsung menarik selimut dan menutupi tubuhnya lalu turun dari ranjang.


Baru saja berjalan dua langkah, tiba-tiba wanita itu terpekik.


"Aaww..," Laras meringis dan langsung menghentikan langkah.


Arga terkejut lalu refleks turun dari ranjang.


"Sayang, mengapa kamu berteriak?," tanya Arga yang telah berdiri di samping Laras, dia menatap Laras yang tampak meringis.


"Aku sulit berjalan mas, masih sakit," ucap wanita itu yang langsung membuat pria tampan itu faham.


"Iya, aku tahu, awal-awal, pasti kamu sulit untuk berjalan," ucap Arga langsung melepas selimut yang tadi sengaja Laras pakai untuk menutupi tubuh.


"Mas, mengapa selimutnya dilepas?," Laras masih berusaha mendekap kedua tangan di dada, sejujurnya untuk saat ini dia masih malu harus berdiri polos di depan Arga.


"Sayang, aku sudah melihat semua milikmu, jadi mulai sekarang tidak perlu malu untuk memperlihatkannya padaku," ucapnya tetap melepas selimut itu dari tubuh Laras, sambil melirik istrinya dengan tatapan nakal, membuat wajah Laras makin bersemu merah.


Pria itu langsung mengangkat dan membopong tubuh Laras dengan kedua tangan.


"Biar aku bantu ke kamar mandi," ujar pria itu segera berjalan ke kamar mandi.


Baik Arga maupun Laras, keduanya sama-sama membersihkan diri.


Setelah selesai membersihkan diri, mereka kembali ke kamar, Laras yang dibantu oleh Arga segera mengganti seprei karena terdapat bercak darah hasil perbuatan Arga yang telah mengambil mahkota sang istri.


Laras telah memakai kembali lingerie nya dan duduk di atas tempat tidur. Sama halnya dengan Arga, dia juga telah mengenakan kembali piyamanya.


"Mas, boleh tidak aku minta tolong? aku masih sulit untuk berjalan,"


"Boleh sayang," sahut Arga penuh semangat.


"Tolong ambilkan tissue basah, kapas dan Betadine di dalam laci lemari,"


Arga segera menuruti perintah sang istri dan memberikan ketiga benda tersebut.


"Untuk apa kamu meminta ini?,"


"Duduklah di sini!," Laras meminta Arga duduk di sebelahnya, dan laki-laki itu pun menuruti perintah istrinya.


"Perih tidak?," wanita itu bertanya sambil meniup bahu Arga.


"Sedikit," Arga tersenyum melihat wajah Laras yang tampak cemas.


"Maafkan aku mas, lain kali aku tidak akan mengulanginya," ucapnya merasa sangat bersalah.


"Tidak apa-apa sayang, bukannya aku sudah mengatakan padamu, aku senang kamu melakukan ini,"


"Kalau aku melakukan ini setiap kali kita.., emm.., di ranjang.., lama-lama tubuhmu nanti habis bekas cakaranku semua mas," ucap Laras sambil tertawa.


Arga pun ikut tertawa, dia bahagia melihat Laras sekarang sering melepaskan tawa, tidak seperti dulu, bibir wanita itu tidak pernah melukis tawa sedikit pun.


"Ayo mas kita tidur, aku lelah dan mengantuk," ajak Laras segera membaringkan tubuh dan memakai selimut, yang diikuti sang suami, tidak lupa wanita itu juga menyelimuti tubuh suaminya.


Arga sangat tersentuh mendapat perlakuan Laras yang selalu memperhatikan dirinya.


"Terima kasih sayang, selamat tidur..," ucap pria tampan itu mencium kening Laras lalu meletakkan kepala Laras di dada dan memeluk erat tubuh sang istri.


Pukul 01:00 dini hari.


Tiba-tiba Arga terbangun dari tidur yang lelap karena beberapa jam lalu dia baru usai bertempur merobohkan benteng Laras yang sebegitu kokohnya.


Matanya mendadak terbuka karena dia merasakan benda miliknya yang ada di bawah sana, terasa berdenyut-denyut, sepertinya benda itu menginginkan sesuatu.


Dia memandang wajah yang terlihat lelap di dalam dadanya, terlihat wajah mulus itu tertidur sangat tenang dan tampak begitu cantik.


"Ternyata kamu cantik sekali sayang," ucapnya membelai lalu mencium dahi sang Istri.


Tangan kirinya mulai bergerak atas komando si benda di bawah agar segera melakukan sesuatu, menyibak selimut lalu mulai meraba-raba mencari sesuatu di tubuh ramping itu.


Tangan itu mulai meraba dan mengelus bagian dada Laras, menyentuhnya dengan lembut.


Merasakan ada sesuatu yang menyentuh dadanya, mendadak Laras terbangun dan membuka mata, namun Arga langsung menarik tangan dari dada sang istri kemudian menutup mata berpura-pura kembali tidur.


"Mas, tidak perlu pura-pura tidur, aku tahu mas tadi melakukan sesuatu padaku," Laras menoel hidung Arga.


Pria tampan itu pun membuka mata lalu tersenyum malu menatap wanita yang kini juga sedang menatapnya.


"Sayang..," panggil Arga masih dengan tersenyum.


"Iya, mengapa mas bangun?," Laras bertanya heran, ingin tahu.

__ADS_1


"Itu.., hmm.., aku mau lagi sayang..," ucapnya dengan mimik muka seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan.


Laras membuka lebar kedua matanya, langsung mengerti maksud sang suami, pantas saja barusan pria itu meraba-raba dadanya.


"Hah? mau lagi? Mas, yang benar saja, aku masih merasa perih, tapi mas malah mengatakan mau lagi?," mata Laras membulat tak percaya.


Laras melirik jam dinding, pukul 01:10 menit.


"Iya sayang, aku mau lagi, kamu membuatku merasa ketagihan..," ujar pria itu sejujurnya tanpa basa-basi.


"Tapi aku masih perih mas, baru dua jam lalu kita melakukannya..," Laras mencoba memberi pengertian pada suaminya.


"Iya sudah, kalau kamu masih perih, ayo kita tidur lagi," ucap Arga memeluk tubuh Laras.


Tetapi tangan kiri pria itu meraih tangan kanan Laras dan meletakkannya di benda miliknya yang ada di bawah sana.


Laras terkejut dan mulutnya menganga, dia merasakan tangannya memegang sesuatu yang telah berdiri keras.


"Mas!," wanita itu terkejut menatap Arga yang juga sedang menatapnya dengan tatapan penuh harap.


Laras merasa tak tega melihat muka suaminya yang memelas, tampak pria tampan itu menahan hasratnya.


"Iya, baiklah..," Laras pun setuju menganggukkan kepala.


"Benar sayang? boleh?," tanya pria itu tersenyum lebar, penuh kegirangan.


Laras mengangguk, dia tersenyum dalam hati melihat kelakuan Arga yang baginya semakin hari semakin manja.


Tanpa rasa malu, pria tampan itu melepas seluruh pakaian yang melekat di badannya.


Laras pun tercekat dan memejamkan mata, melihat Arga telah polos, benar-benar hilang urat malu suaminya itu.


"Pelan-pelan saja sayang, aku akan melakukannya pelan, pasti kamu tidak akan merasakan sakit," ucap Arga menghibur Laras agar tidak merasa takut.


"Iya mas," sahut Laras pelan.


Pria itu langsung menarik lingerie dari bahu sang istri dan melepaskannya dengan cepat, tampak Arga kembali berdecak melihat tubuh mulus Laras yang sudah siap disentuhnya, meski pun kulit putih itu sudah tergambar banyak bekas kecupan Arga.


Tanpa mengulur waktu, Arga langsung menindih tubuh Laras dan mulai meraba serta menyentuh tubuh mulus itu.


Arga langsung merapatkan mulutnya ke bibir Laras dan mulai mencium sang istri, berpindah ke leher, kemudian ke dada.


Jantung Arga tak berhenti berdegup, darahnya semakin panas, nafasnya tak lagi normal, turun naik tak beraturan, begitu pula dengan sang istri, merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan suaminya.


Bibir Arga terus menyusuri dada Laras, menyentuh dengan mulutnya, sementara tangannya tak tinggal diam mulai meraba, mengelus dan memijit paha wanita itu.


"Mas..," Laras mendesah, tangannya mulai akan mencengkeram dan mencakar bahu sang suami, namun dia tiba-tiba ingat dan sadar bahwa dia tidak boleh melakukan hal itu lagi.


Lalu tangan Laras berpindah ke punggung sang suami dan meremasnya tanpa melakukan cakaran, dia telah berjanji tidak akan melukai tubuh suaminya lagi.


"Sayang, kamu rileks saja, aku akan pelan-pelan," desah Arga di antara suaranya yang terdengar memburu.


Laras hanya mengangguk dan memejamkan mata menikmati setiap sentuhan tangan dan kecupan Arga.


Kini Arga telah berada di atas tubuh sang istri, dan mulai melakukan gerakan, pelan namun tidak berhenti.


"Masih perih tidak sayang?," pria itu bertanya memastikan kondisi Laras.


"Tidak terlalu perih mas, hanya perih sedikit," jawab wanita cantik itu.


"Baguslah, sebentar lagi juga perihnya akan hilang, aku percepat sedikit ya sayang?," pinta pria itu, kembali meminta izin.


"Iya mas," sahut sang istri menyetujui.


Arga pun mempercepat gerakan dan tidak menghentikannya barang sedetik pun, Laras menggigit bibir menahan perih yang ternyata masih tersisa.


Hingga sampai di akhir percintaan, Laras masih merasakan perih, namun berangsur-angsur perih itu mulai menghilang, kini berganti dengan rasa yang lain, sesuatu rasa yang sampai naik ke ubun-ubun yang membuatnya tidak kuat untuk tidak mendesah.


"Oohh.., mass..," Laras melepaskan desahannya dan meremas keras punggung Arga, karena wanita itu telah duluan mencapai *******.


Sang pria pun tampak semakin bersemangat mendengar ******* sang istri dan semakin mempercepat gerakan.


"Sayaang.., aakkhh..," Arga pun ikut mendesah panjang merasakan sekujur tubuhnya terasa panas dan menegang, peluh mengalir di seluruh tubuh pria itu.


Untuk kedua kalinya di malam ini, suami istri itu telah merasakan sesuatu yang belum pernah mereka rasakan seumur hidup.


Arga langsung membaringkan tubuh ke samping Laras lalu memeluk erat tubuh wanita itu ke dalam dadanya.


"Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu..," ucapnya sembari mengusap peluh di dahi wanita cantik itu lalu menciumnya dengan lembut.


"Aku juga mencintaimu mas..," Laras menjawab lalu memeluk erat tubuh Arga.


Kemudian tangan wanita itu meraih selimut yang ada di dekatnya dan menutupi tubuh mereka, hanya beberapa detik, keduanya telah tertidur nyenyak.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2