
Laras tetap diam, menerima kecupan sang suami. Tidak ada suara, tidak ada kata, tidak ada balasan.
Sementara Arga, merasakan jantungnya semakin kencang berdegup.
Namun pria itu tiba-tiba berhenti dan menatap Laras yang masih diam membeku, hanya nafasnya terlihat tersengal.
"Sayang, aku ingin kamu membalasnya..," pinta Arga lirih di antara nafasnya yang tampak tak beraturan dengan tatapan penuh harap pada wanitanya.
Laras melihat sorot mata Arga tampak berharap lebih padanya, Laras menjadi iba melihat sang suami yang menginginkan balasan dari bibirnya, wanita itu menelan air ludah dengan kasar, lalu tampak ragu-ragu dia menganggukkan kepala.
Rasa malu memang masih teramat besar menghantui dirinya namun jauh lebih besar rasa tak teganya melihat sang suami yang begitu berharap balasan dari bibirnya.
Wanita cantik itu pun bertekad mengesampingkan semua perasaan malu serta canggung demi menyenangkan hati suami.
Laras menggerakkan tangan kanannya kemudian memberanikan diri memegang pundak kiri sang suami. Matanya yang teduh menatap lembut pria tampan di hadapannya. Lalu perlahan wanita cantik itu memejamkan mata, mendekatkan dan menempelkan bibirnya di bibir sang suami.
Pria tampan itu terkesima, lalu ikut memejamkan mata, tanpa menunggu lama, Arga pun kembali mengecup bibir sang istri.
Dan hati pria itu kian bergetar tatkala merasakan bibir Laras mulai bergerak lambat dan perlahan-lahan membalas ciumannya.
Laras terus memejamkan mata, membalas dan meresapi kecupan Arga. Begitu juga dengan pria itu.
Walau Laras terasa pelan membalas, namun pria tampan itu begitu bahagia dan menikmatinya.
Laras dapat merasakan jantungnya kian berdebar.
Kedua tangan laki-laki itu mulai bergerak di kedua paha Laras, meraba, mengelus dengan lembut. Membuat Laras semakin merinding dibuatnya. Sedangkan Arga telah semakin terbuai dan mulai tak terkontrol.
"Ahh.., mas.., tolong lepaskan tanganmu..," ******* Laras pun pecah meluncur dari mulutnya, meminta Arga segera menghentikan tangannya, tampak wanita itu meringis.
Wanita cantik berkulit putih itu berusaha melepaskan diri dari cengkeraman nakal tangan Arga di kedua pahanya. Namun pria tampan itu masih terus bermain di paha mulus sang istri dan sesekali memijatnya.
"Aww.., mas.., tolong hentikan..," desah Laras semakin terdengar meringis, menahan semua rasa yang diciptakan suaminya.
Arga tetap tidak melepaskannya, kecupan serta tangannya semakin lancar bermain.
"Mas, tolong jangan lakukan sekarang, aku ingin melakukannya di kampung. Lagi pula mas tadi bilang mengantuk dan mau tidur biar besok bisa bertenaga lagi," desah Laras pelan mencoba mengingatkan sang suami yang telah dilanda mabuk dengan bibir lembut wanitanya itu.
Kegiatan Arga seketika terhenti mendengar ucapan Laras yang ingin melakukan ini di kampung halamannya.
Arga langsung tersadar dan terpaku menatap lekat istrinya.
Laras mengusap-usap lembut pundak Arga, mencoba menenangkan gelora panas yang sempat menguasai diri suaminya.
"Mas, apa kamu mendengarku?," Laras bertanya sambil menepuk-nepuk pelan pipi Arga.
Arga pun tersadar. Dan mengerjapkan mata melihat wanita yang kini sedang lekat menatapnya.
Arga segera mengangkat tubuhnya dan mengambil posisi duduk, lalu menyelipkan tangan kanan di bawah pundak Laras dan mengangkat tubuh istrinya agar ikut duduk.
"Apa benar kamu ingin melakukannya di kampung? apa itu bisa membuatmu bahagia?," tanya Arga kembali menatap manik mata wanita di hadapannya.
"Iya mas, aku akan sangat bahagia kalau aku melakukannya di rumah orang tuaku, di kampung halamanku. Aku akan membawa suamiku ke sana, mas tidak keberatan kan?," Laras balik bertanya seraya tangannya menarik lalu menurunkan daster yang masih tersingkap hingga ke paha.
"Tidak sayang, mengapa aku harus keberatan? aku justru senang kita bisa melakukan malam pertama kita di kampung yang sejuk, nyaman, tenang, apalagi sekarang sedang musim hujan, pasti suasana di sana akan terasa sangat dingin. Kamu harus siap melayaniku setiap hari," seringai Arga tersenyum nakal memandang sang istri.
"Terima kasih mas, kamu mau mengerti dan memenuhi permintaanku," ujar Laras tersenyum manis menatap prianya itu.
"Bukankah aku sudah berjanji padamu, apa pun yang membuatmu bahagia, aku akan melakukannya," sahut Arga menggenggam tangan Laras.
"Mas sudah melakukan semua untukku, itu sudah membuatku bahagia," Laras membalas pegangan tangan sang suami.
__ADS_1
"Iya sayang, itu memang janjiku, membuatmu selalu bahagia dan menuruti semua keinginanmu," Arga membelai rambut Laras.
"Terima kasih mas, kamu sudah melakukan semua untuk membuatku bahagia," wanita itu memandangi suaminya.
"Ayo tidurlah," ajak pria itu membaringkan tubuh di kasur empuk itu.
Berbeda dengan Laras, wanita itu tidak langsung membaringkan tubuh, melainkan masih duduk melipat kedua kakinya.
Laras duduk terpaku sembari meraba dan memegangi bibirnya.
"Ya Allah, aku tidak menyangka sudah menyatukan bibirku dengan pria yang aku cintai dan mencintaiku, aku merasa sangat menikmatinya," bisiknya dalam hati sambil terus mengusap-usap bibir.
Arga yang sedang berbaring, merasa heran melihat istrinya masih duduk diam sambil memegangi bibir.
"Mengapa dengan bibirmu?," Arga cemas lalu mengangkat tubuh dan duduk di samping istrinya.
"Tidak mas, bibirku tidak apa-apa," jawab Laras terkejut dan langsung melepaskan tangannya dari bibir.
"Terus, mengapa dari tadi kamu memegangi bibirmu?," Arga bertanya ingin tahu.
"Mas, sebenarnya aku baru pertama kali seperti ini, membalas ciuman seorang pria....," ucapan Laras terputus, karena Arga telah memotongnya.
"Apa? baru pertama kali? benarkah sayang?," Arga bertanya dengan mata membuka lebar merasa tidak percaya.
"Benar mas, baru kali ini," Laras berkata dengan sejujurnya.
Dia kembali terbayang kejadian yang baru saja terjadi. Saat dirinya membalas kecupan bibir sang suami dan begitu menikmatinya. Rasanya sekarang dia merasa sangat malu jika mengingat itu.
"Sayang, berarti aku pria pertama yang menciummu?," Arga kembali bertanya dengan mata berbinar, matanya lekat memandangi mata teduh sang istri.
"Iya mas," sahut wanita cantik itu pelan.
"Terima kasih sayang, aku benar-benar sangat bahagia," ucapnya sambil mencium pucuk rambut wanitanya.
"Iya mas, aku juga bahagia bisa memberikannya pertama kali untukmu," Laras menjawab dengan anggukan, menenggelamkan kepala di dada bidang sang suami dan menikmati dekapannya.
Pria tampan itu tidak sadar serta tidak terpikirkan olehnya, jika hal sebenarnya bahwa Laras masih ORI dan belum ada satu laki-laki pun yang pernah menyentuhnya.
"Ayo kita tidur sayang, pakai selimut ini. AC nya sangat dingin, nanti kamu kedinginan," ucap Arga membaringkan kepala Laras di bantal lalu menyelimuti tubuh wanita cantik itu dari kaki sampai dada.
Begitu perhatiannya Arga pada wanita cantik itu, berbeda dengan beberapa bulan lalu, kening Laras terluka bahkan pinggangnya membentur sudut meja karena perlakuan Arga, tetapi lelaki itu sama sekali tidak peduli.
Malam ini perlakuan Arga sangat manis penuh perhatian.
Laras melirik Arga, laki-laki itu telah berbaring namun tidak memakai selimut, wanita itu heran, mengapa Arga menyelimutinya namun dia sendiri tidak memakai selimut.
"Mas tidak memakai selimut?," Laras bertanya heran.
"Memangnya boleh?," Arga balik bertanya menoleh ke arah Laras.
"Memangnya siapa yang melarang mas tidak boleh memakai selimut?," alis Laras berkerut.
"Kamu," Arga memuncungkan bibir ke arah Laras.
"Kapan aku mengatakannya?," Laras memutar bola mata ke atas mencoba mengingat.
"Fikiranmu yang mengatakannya," Arga tersenyum sengaja membuat Laras bingung.
"Fikiranku? maksud mas?," Laras semakin bingung.
"Fikiranmu takut kalau aku masuk satu selimut denganmu, aku akan mengganggumu lagi," Arga kembali terkekeh melihat kebingungan di wajah sang istri.
__ADS_1
"Aku tidak berfikiran seperti itu, ayo masuklah dalam selimut, nanti mas yang akan kedinginan karena udara AC yang dingin," ujar Laras cemas.
Laras mengangkat tubuh dan duduk, lalu menyelimuti tubuh Arga masuk ke dalam satu selimut bersamanya.
"Terima kasih sayang," ucap laki-laki itu senang.
Keduanya kemudian membaringkan tubuh.
"Sayang, besok kita bangun cepat, pagi jam 6 kita harus segera berangkat ke kampung, aku sudah tidak sabar segera sampai di kampung, aku sudah ingin melakukannya..," jelas Arga menoleh ke samping menatap Laras.
"Mengapa besok mas? Memangnya mas sudah sehat betul?," Laras pun ikut menoleh ke samping menatap Arga.
"Sudah, malam ini sebenarnya aku sudah sehat, sudah siap melakukannya, tapi karena kamu melarangku..," ucap pria itu terhenti.
Mendengar perkataan sang suami, Laras langsung memutar kembali tubuhnya ke samping kiri, menghadap Arga, menatapnya lembut lalu mengusap wajah tampan itu.
"Maafkan aku ya mas, aku sudah mengecewakanmu malam ini, mas mau kan memaafkanku?," ucap wanita itu dengan penuh rasa bersalah.
"Tidak perlu meminta maaf sayang, malah aku berterima kasih kamu tadi sudah mengingatkan dan menyadarkanku, karena sebenarnya aku juga merasa betah di kampungmu dan ingin melakukan itu di sana," ucapnya tersenyum memandang sang istri.
"Terima kasih mas," ucap Laras tersenyum hangat.
Laras mengangkat tubuhnya sedikit, terlihat anak rambutnya tergerai di dahi, lalu wajahnya mendekat ke wajah arga.
"Cup"
Tanpa disangka, wanita cantik itu mencium kening Arga sekilas dan sangat cepat. Lalu kembali membaringkan tubuh.
Arga seakan sedang bermimpi, mulutnya menganga menyadari dan mendapatkan ciuman tiba-tiba dari wanita berkulit putih itu.
"Sayang, kamu menciumku? apa ini bukan mimpi?," Arga menepuk mukanya berulang kali.
Laras tersenyum menoleh ke samping, melihat tingkah Arga yang lucu.
Arga mengangkat tubuh dan mendekati wajah wanita cantik itu.
"Cup"
Dalam sekejap, Arga pun tidak mau kalah, mencuri kesempatan mencium kening sang istri.
Kini giliran Laras yang menganga karena sang suami telah mencuri mengecup keningnya.
Laras tertawa melihat si pencuri di hadapannya, terlihat giginya yang rata dan putih, tampak sangat cantik wajah wanita itu yang disinari lampu kamar remang-remang. Arga pun ikut tertawa.
Keduanya tertawa bersama sambil terus saling bertatapan hangat.
Malam ini hati mereka sangat bahagia, perasaan saling menyayangi, saling membutuhkan, saling menjaga serta saling mencintai semakin tumbuh subur di hati keduanya.
"Mas, aku mengantuk, ayo kita tidur," pamit Laras memiringkan tubuh ke samping kanan.
Arga bergerak merapatkan tubuh ke punggung istrinya kemudian memeluk wanitanya dari belakang.
Laras yang merasakan itu mendadak gugup, takut pria itu akan membuat ulah lagi. Namun kegugupan segera hilang tatkala Arga memang tidak berniat melakukan apa pun terhadapnya.
"Selamat malam sayang, selamat tidur istriku yang tercinta, sekali lagi maafkan semua kesalahan yang pernah aku perbuat dulu..," ucap Arga menenggelamkan muka di rambut panjang Laras seraya tangan kiri merangkul pinggang ramping sang istri.
"Selamat tidur mas," Laras merasa lebih tenang karena Arga tidak berulah lagi, lalu memejamkan mata.
Untuk pertama kali suami istri itu tidur bersama dengan satu selimut, setelah hampir Enam bulan rumah tangga mereka telah mengalami banyak ujian serta cobaan.
...*******...
__ADS_1