Istri Pilihan Mama

Istri Pilihan Mama
Bab 42 Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

Setelah membayar buku yang dipilih oleh Hana, mereka segera turun. Aditya mengajak istrinya membeli salep penghilang nyeri untuk mengobati kening istrinya yang memar. Setelah itu Aditya meluncurkan mobilnya menuju kantornya,


"Sayang, Mas masih ada beberapa pekerjaan di kantor, apakah kamu tidak keberatan kalau kita singgah ke kantor Mas dulu.


" Iya Mas, jawab Hana menatap suaminya.


"Apakah kamu sudah makan?


" Sudah, Kalau Mas gimana?


"Sudah, tadi Mas ada pertemuan klien di luar karena selesainya sudah waktu makan siang jadi Mas langsung aja.


Tak lama kemudian mobil Aditya sampai di kantor, mereka pun turun dari mobil dan berjalan masuk, dua Repsisioni yang dulu membuat Hana menunggu di lobi langsung memberi hormat dan menyapa mereka sopan. Hana merasa senang karena suaminya tidak memecatnya.


Ini kedua kalinya kedatangan Hana ke kantor suaminya di jam kerja, sama seperti sebelumnya semua karyawan wanita di sana menatap Hana, ada diantara mereka yang memandangi Hana kagum karena dapat berdampingan dengan bos mereka yang sangat tampan dan seksi itu, ada juga yang menatap Hana dengan pandangan iri tapi ada juga yang menatap Hana benci, mungkin mereka berpikir Hana pasti rela mengoda Aditya dengan naik ke ranjangnya.


Tapi Hana tidak mempedulikan semua itu apalagi melihat suaminya tidak sedikit pun melepaskan pegangannya, itu membuat Hana sangat bahagia. Di gandeng seperti itu ia merasa suaminya ingin menunjukkan kalau dia adalah wanitanya. Aditya memang belum pernah mengungkapkan perasaannya kepada Hana, tapi perhatian yang diberikan oleh Aditya kepadanya semoga itu mewakili perasaannya kepada Hana. Setiap orang mungkin berbeda dalam cara mengungkapkan perasaannya, tapi perhatian Aditya kepadanya sudah cukup baginya walaupun demikian ia juga ingin suatu saat mendengar langsung ungkapan perasaan suaminya dari mulut suaminya sendiri.


Aditya langsung mengunci pintu ruangannya begitu mereka masuk, Aditya berjalan menyusul istrinya yang sudah duduk di sofa. Aditya mengambil salep menghilang nyeri dari saku jasnya, Aditya menarik wajah istrinya sehingga wajah mereka begitu dekat jaraknya tidak sampai sejengkal hidung mancung mereka hampir saja beradu. Aditya menyingkirkan rambut yang menutupi kening istrinya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya mengoleskan salep ke kening Hana yang memar dengan pelan.


Hana hanya menatap suaminya, ia dapat merasakan hembusan napas suaminya di wajahnya. Selesai mengolesi kening istrinya Aditya menatap istrinya, mata mereka beradu. Melihat bibir istrinya yang berbuka dan menggoda Aditya langsung melumatnya. Keduanya saling menggigit dan mengisap ruangan Aditya di penuhi oleh suara decakan dari bibir mereka.


Aditya menarik kemeja yang dipakai oleh istrinya sehingga semua kancingnya terlepas. Aditya menggerayangi setiap inci tubuh istrinya, sehingga desahan Hana memenuhi semua ruangan, untuk ruangan Aditya kedap suara.


Keduanya bercinta di ruangan Aditya dengan panas, entah berapa lama mereka melakukannya dengan berbagai gaya. Hana terkulai lemas di atas tubuh suaminya di atas sofa, tubuhnya di penuhi keringat. Aditya merapikan rambut istrinya yang acak-acakan dan mengecup pipi istrinya, Hana membuka matanya dan menatap suaminya. Wajah Hana langsung memerah menahan malu mengingat percintaan panas mereka,


"Sayang jangan menatap ku seperti itu, ucap Hana bangun dari pelukan suaminya.


Aditya menahannya kemudian Aditya bangkit dengan Hana masih dalam pelukannya, Hana lansung melingkarkan kakinya ke pinggang suaminya, Aditya pun melangkah keruangan khusus yang ada diruangannya. Aditya membaringkan tubuh Hana di ranjang dan menyelimuti dengan selimut,


"Istirahatlah, ucap Aditya mengecup kening istrinya.


Hana hanya menganggukan kepalanya, kemudian Aditya berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket oleh keringat habis percintaan mereka. Samar Hana mendengar suara air dari kamar mandi karena tubuhnya yang begitu letih sehingga Hana tertidur.


Aditya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya, tangannya memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Ia menatap istrinya yang sudah tertidur, Aditya menghampiri istrinya,


"Aku tidak menyangkah kamu bisa membuat aku tergila-gila seperti ini padamu, terimakasih sayang, aku sangat mencintaimu, guman Aditya pelan lalu mengecup bibir istrinya sekilas.


Aditya segera berpakaian kemudian melangkah keluar, begitu ia menutup pintu mendengar suara ketukan pintu ruangannya, Ia segera membuka pintunya begitu melihat wajah Aldo di balik pintu Aditya menyuruhnya masuk,

__ADS_1


Aldo sangat kaget melihat pakaian yang berserakan di lantai, ia menatap Aditya yang berjalan santai,


" Chiih jadi ini alasannya kamu mengunci pintu, tidak cukup kamu melakukannya di kamar mu?,dengus Aldo kesal


Aditya hanya terkekeh mendengar pertanyaan Aldo,


"Menikahlah kau akan tau jawabannya sendiri! Carikan pakaian untuk istri ku karena pakaian itu tidak layak di pakai lagi!


Aldo meletakan laporannya di meja Aditya, lalu melangkah keluar,


" Sebentar lagi pesananmu akan datang, sebaiknya kamu pungut pakaianmu itu sebelum yang lain masuk, kalau kamu tidak ingin beredar gosip Presdir baru saja bercinta di ruangannya, ucap Aldo mengoda Aditya.


"Aku akan memecatnya!! ucap Aditya tertawa.


Aldo meninggalkan ruangan Aditya sambil tertawa kecil dan mengeleng-gelengkan kepalanya,


Aditya Wisnu sudah jadi bucin!


Setelah Aldo keluar Aditya ia memungut pakaiannya dan istrinya yang berserakan di lantai dan memasukkan kedalam kantong, Aditya kembali ke meja kerja dan kembali sibuk dengan filenya.


Entah sudah berapa lama Hana tertidur, ia merasakan tubuhnya sangat letih, ia ingin mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Hana melihat ke seluruh ruangan untuk melihat pakaiannya, karena tidak menemukan bajunya Hana melilitkan selimut ke tubuhnya yang polos kemudian melangkah keluar untuk mengambil pakaiannya,


"Sayang dimana kamu membuang pakaianku, Ucap Hana berjalan kearah suaminya.


Ketika Hana mengangkat kepalanya ia kaget dan mungkin sekarang wajahnya sudah merah seperti tomat yang matang karena manahan malu.


Aditya yang melihat istrinya sangat malu dan gugup ia menyuruh sekretarisnya keluar. Ia berjalan mendekati istrinya,


"Sayang kamu sudah bangun?


" Mas.. aku sangat malu pada sekretarismu, pasti ia akan menyangkah aku...


Hana tidak melanjutkan ucapannya, Aditya menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya,


"Semua akan baik-baik saja, Mas akan mengurusnya, sekarang kamu mandi dulu, Mas sudah membawakan baju ganti untuk mu.


Hana hanya menganggukan kepalanya, Aditya melepaskan pelukannya dan mengambil kantong yang ada di meja sofa kemudian menyerah pada istrinya.


"Terima kasih sayang, ucap Hana mencium pipi suaminya kemudian melangkah masuk ke kamar untuk mandi.

__ADS_1


Setelah tubuh Hana menghilang ia menelpon sekretaris. Rika yang masih terbengong mengingat kejadian di ruangan bosnya terkejut mendengar telpnya berbunyi,


" Segera keruangan ku!


"Aduh mampus aku apakah bos akan memecatku, bathin Rika sambil melangkah cepat ruangan bosnya. Rika mengetuk pintu terlebih dahulu, baru ia masuk setelah di persilahkan oleh bosnya. Rika berjalan dengan perasaan takut.


Setelah sampai di depan meja bosnya ia memberanikan untuk bertanya,


" Bapak memanggil saya?, tanya Rika hati-hati.


Aditya mengangkat kepalanya,


"Duduklah!, perintah Aditya.


Rika pun duduk di kursi di depan meja bosnya, Aditya menatap Rika yang menundukkan kepalanya,


"Kamu sudah melihat semuanya, saya tidak ingin ada gosip apa pun di kantor ini, semua tidak seperti yang engkau pikirkan, dia istri saya, ucap Aditya tegas.


Rika sangat kaget mendengar perkataan bosnya karena ia tidak pernah mendengar kalau bosnya sudah menikah.


"Sekarang silakan keluar!


" Baik, permisi pak.


Rika keluar dari ruangan bosnya dan kembali ke mejanya,


Kalau seandainya para karyawan pemuja Bosnya tau kalau Bosnya sudah punya istri akan jadi hari patah hati nasional di gedung ini, guman Rika menahan tawa.


.


.


.


.


.


. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2