Istri Pilihan Mama

Istri Pilihan Mama
111 - CINCIN DAN KALUNG PERNIKAHAN


__ADS_3

...Jangan lupa : Subscribe, Vote, Bintang 5, Hadiah, Like dan komen....


...Yang gak kasih bintang 5 tapi terus baca tulisan ini, itu artinya kalian gak support para Author yang udah lelah menulis....


*****


Setelah shalat Ashar, mereka berempat berbincang di ruang tamu, kedua pria itu duduk di kursi usang sementara Laras dan Tina duduk di lantai.


Saat keempat sahabat itu tengah asik mengobrol, tiba-tiba ada suara deru mobil berhenti di depan rumah, ke empat orang itu serempak menoleh keluar.


Dua buah truck telah terparkir di depan rumah.


Dari keempat orang itu hanya Laras yang terperanjat dan tersentak melihat dua truck yang di dalamnya penuh berisi barang. Ketiga orang lainnya tidak menampakkan keterkejutan di wajah mereka, mereka malah tersenyum senang lalu serempak beranjak dari duduk berjalan keluar.


Laras sendiri yang masih termangu di lantai masih dengan keterkejutannya.


Ada enam pria turun dari truck dan segera menurunkan semua barang.


Ternyata ini semua ide Arga yang ingin mengisi dan mengganti semua perabotan di rumah Laras yang menurutnya tidak layak untuk dipakai lagi.


Lemari es dua pintu, kompor gas dua tungku, mesin cuci, mesin air, dua buah AC, dua buah televisi, dua buah lemari pakaian, satu set sofa ruang tamu, satu set meja makan, lemari piring, satu set meja teras, serta dua paket spring bed beserta ranjangnya, bedcover, seprei serta tak ketinggalan selimut.


Tidak lupa Arga juga telah mempersiapkan puluhan lingerie untuk sang istri, yang tidak perlu ditanya lagi siapa yang memilihkannya?Siapa lagi kalau bukan Tina, sahabat karib Laras.


Entahlah, rumah kecil itu bisa menampung barang sebanyak itu atau tidak. Demi menyenangkan hati istrinya, Arga membeli semua barang itu tanpa berfikir panjang terlebih dahulu.


Arga telah memberikan pesan pada Rico, semua barang yang dibeli haruslah menimalis tetapi tetap cantik dan mewah, sesuai dengan ukuran rumah Laras yang kecil, tetapi satu yang spesial, spring bed beserta ranjang untuk di kamar Laras harus yang ukuran nomor satu karena akan ditempati oleh mereka berdua.


Pukul 18:30.


Ke enam pria itu telah menyelesaikan pekerjaan mereka, menyusun, merapikan serta memasang semua barang di dalam rumah. Sedangkan semua barang usang di dalam rumah yang sudah tidak terpakai, dimasukkan ke dalam truck untuk dibawa ke tempat pembuangan sampah.


Ke empat sahabat itu hanya duduk mengawasi pekerjaan ke enam pria tersebut, mereka tidak membantu apa pun, hanya Laras yang sesekali ikut memberi petunjuk pada ke enam pria itu untuk membuang atau tidak barang yang ada di dalam rumah.


Kini ke enam pria tersebut telah meninggalkan rumah Laras dengan menerima bayaran yang tidak sedikit dari Arga, masing-masing diberi 5 juta/orang, karena menurut Arga sesuai dengan keringat yang telah mereka keluarkan, jauh-jauh dari Jakarta untuk mengangkut, menyusun, merapikan, memasang semua barang yang berat. Bahkan sebelum pulang, ke enam pria itu masih sempat menyapu dan mengepel seluruh ruangan.


Dan hasilnya seperti sekarang, rumah Laras berubah menjadi rumah minimalis dengan segala perabotan yang serba mahal serta tampak bersih dan rapi.


"Jadi ini semua rencana kalian bertiga?," tanya Laras mengamati ketiga orang di depannya satu persatu, saat mereka berempat telah duduk nyaman dan empuk di sofa ruang tamu.


"Ini semua ide suamimu," sahut Tina membuka hal yang sebenarnya.


Laras menoleh ke arah Arga, pria itu hanya senyum seraya manggut-manggut menatap sang istri.


"Ya sudah, yang penting rumah kalian sekarang sudah rapi dan bersih, kita mau pulang ke Jakarta sekarang, biar tidak terlalu malam sampai di sana," ujar Rico berdiri dari sofa diikuti oleh Tina.


Sampai di depan mobil, Tina mendekati Laras dan berbisik di telinganya.


"Selamat bermalam pengantin, kata orang-orang tua, pasti sakit sekali rasanya pas pertama kali. Kamu harus hati-hati ya... Dan sebelum melakukannya, kamu harus memberi pesan pada Arga pelan-pelan saja, jangan terburu-buru! Kamu tidak mau kan tetangga pada mendengar jeritan kamu di tengah malam?," bisik Tina kembali menggoda Laras sambil tertawa cekikikan, bahunya sampai terguncang saking senangnya wanita itu tertawa.


"Tinaaa!!," jerit Laras membelalakkan mata ke arah Tina, yang membuat Arga serta Rico tersentak mendengar jeritan Laras yang terdengar begitu keras.


Laras langsung menutup mulut, sadar dengan suaranya yang memekakkan telinga, kemudian wanita itu membungkukkan tubuh mengisyaratkan ucapan maaf.


"Maaf..," ucapnya menunduk.


"Ayo Tina, masuklah!," perintah Rico membuka pintu mobil lalu segera masuk.


Tina pun masuk ke dalam mobil, dan saat mobil mulai meluncur, Tina masih berteriak meninggalkan pesan pada Laras.


"Ingat Ras! jeritan di tengah malam! hati-hati yaa.., sakit rasanyaaaa....," teriak Tina melambaikan tangan sambil terus cekikikan menggoda sahabatnya.


Laras masih menatap kesal pada sahabatnya yang semakin jauh meninggalkannya, namun wanita itu kembali teringat ucapan Tina, apa benar sesakit itu? Laras semakin deg deg an dan menjadi takut karena ucapan sahabatnya itu.


"Sayang, mengapa kamu masih melamun di sini? ayo kita masuk," Arga merangkul pinggang wanitanya dan menuntunnya masuk.


"Aku sudah tidak sabar sayang," sambung Arga kembali sambil mengelus rambut sang istri berjalan masuk ke rumah.


"Deg"


Jantung Laras kembali berdetak kencang, perkataan Tina kembali terngiang di telinganya.

__ADS_1


Pukul 20:30.


Mereka telah selesai shalat Isya dan makan malam. Di luar masih terdengar suara gerimis tetesan titik hujan di atap rumah.


Kini keduanya sedang bersantai di ruang tamu, duduk di sofa empuk yang baru didatangkan langsung dari Jakarta, sambil menonton televisi yang terpasang di tembok.


"Mas, mengapa bisa mendapat ide seperti ini?," tanya Laras ingin tahu.


"Iya dong sayang, kita akan pulang ke sini setiap bulan, jadi aku fikir, fasilitas di rumah ini harus kita lengkapi, agar kamu juga betah di sini. Dan yang paling penting kamu tidak perlu menitipkan udang atau ayam di kulkas tetangga," ucap Arga tersenyum menatap Laras yang duduk di sampingnya.


"Terima kasih ya mas, karena kamu, semua isi rumah ini sekarang menjadi lengkap, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi," ucap Laras memandangi pria di sampingnya penuh rasa kagum.


"Sama-sama sayang, aku akan lakukan apa pun untuk membuatmu bahagia," jawab Arga meraih kepala sang istri dan meletakkannya di dada.


"Sayang, apa kamu bahagia bersamaku?," tanya Arga mengelus rambut indah istrinya.


Laras mendongak menatap wajah tampan yang sedang memeluknya, dan saat yang sama Arga pun menunduk menatap mata redup milik istrinya.


"Cup"


Satu kecupan singgah ke bibir Laras, hanya sebentar, tidak berlangsung lama namun cukup membuat Laras tercekat.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku?," ulang Arga kembali menatap Laras yang juga masih mendongak menatapnya.


"Iya mas, aku bahagia bersamamu, dan aku berterima kasih untuk semua yang sudah mas lakukan untukku," ucap Laras menundukkan pandangan dan menenggelamkan wajahnya di dada Arga.


"Sama-sama sayang, akan selamanya begitu, aku akan selalu membuatmu bahagia," janji Arga mendekap rekat wanita cantik itu.


Arga melonggarkan pelukannya sambil berkata.


"Tunggu sebentar," Arga berdiri dari tempat duduk.


Pria itu berjalan ke kamar, membuka ransel pakaiannya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Lalu mengambil beberapa paper bag yang sengaja disembunyikannya di dalam lemari.


Laras yang sedang menonton, langsung memutar kepala saat melihat Arga berjalan dengan membawa Enam paper bag di tangannya.


Pria tampan itu duduk kembali di samping Laras, dan menyerahkan paper bag itu pada sang istri.


"Bukalah," pinta Arga tersenyum.


Laras membuka satu paper bag, dan mengambil isi di dalamnya, mendadak mulut serta matanya terbuka lebar demi melihat benda yang berada di pegangannya.


Sebuah lingerie putih, berbahan dingin, tipis dan menerawang.


"Mas, ini?," tanya Laras menatap penuh tanda tanya pada pria tampan di sampingnya.


"Kamu belum membuka semuanya," Arga memberitahu.


Kemudian Laras membuka paper bag kedua, matanya kembali terbelalak, isinya sama lingerie. Paper ketiga sampai paper ke Enam, semuanya sama, lingerie.


Jika dihitung semua lingerie itu ada 12 lembar, dari ke semuanya tidak satu pun yang terlihat sedikit tertutup, semuanya tipis dan menerawang.


"Mas, mengapa kamu membeli lingerie sebanyak ini?," tanya Laras kebingungan.


Wanita itu tahu, harga satu lembar lingerie itu pasti cukup mahal karena bahannya terlihat halus, lembut dan elegan.


"Tidak apa-apa sayang, aku ingin kamu mengganti lingerie-mu setiap malam, besok-besok aku akan membelikannya lagi, ini hanya untuk selama kita di sini saja," jelas sang suami.


"Tidak perlu membeli lagi, ini juga sudah banyak. Aku juga tidak mungkin setiap malam memakai pakaian tipis ini, nanti aku masuk angin," Laras berkata dengan polosnya.


"Masuk angin karena aku maksudmu? itu memang yang aku harapkan sayang," ucap Arga mulai menggoda Laras.


Tangan pria itu mulai nakal merayap ke paha sang istri dan sedikit memijatnya. Laras langsung meringis, menggigit bibir berusaha menahan sesuatu yang mulai membuatnya bergejolak.


"Mas, mas belum gosok gigi, aku juga belum," Laras mencoba menghentikan tindakan Arga yang mulai membuatnya merasa geli.


"Nanti saja, aku juga mau memberikan ini padamu," ucap Arga mengeluarkan kotak perhiasan berwarna merah dari saku piyamanya.


Arga langsung membuka kotak kecil berwarna merah itu dan memperlihatkan pada Laras.


Laras menganga melihat benda mewah yang ada di tangan Arga, yang harganya ratusan juta itu. Dan benda itu juga menjadi pengikat antara dirinya dan Arga.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu mau memakai ini lagi?," Arga mencoba bertanya.


Laras masih terdiam. Wanita itu tercenung menatap benda yang ada di tangan Arga.


Arga langsung berlutut di kaki Laras, mendongak menatap penuh harap kepada sang istri.


"Aku mohon sayang.., jangan ingat masa lalu, aku tau, melihat benda ini kamu pasti akan mengingat masa lalu, tapi kamu harus ingat satu hal sayang, bahwa kedua benda ini adalah pengikat antara aku dan kamu. Kedua benda ini begitu suci, kedua benda ini juga yang telah menyatukan kita kembali, saat kamu meninggalkan kedua benda ini di kamarmu, saat itu juga aku merasa sebagian hati, jiwa dan hidupku ikut pergi bersamamu, rasanya saat itu aku ingin mati saja, tapi aku bertekad akan mencari dan menemukanmu untuk memakaikan kedua benda ini lagi di leher dan jarimu. Dan atas nama kedua benda ini, aku mohon maafkan kesalahanku yang dulu sayang, aku mohon pakailah kembali kedua perhiasan ini..," pinta Arga dengan wajah memelas penuh penyesalan.


Laras memperhatikan kesungguhan dari raut muka Arga, tanpa Arga berkata seperti ini pun, Laras telah menaruh kepercayaan yang besar terhadap sang suami dan telah memaafkannya dengan sepenuh hati dan jiwa.


Wanita cantik itu mengulurkan tangan dan memberikan jarinya pada Arga, sambil tersenyum manis dia menatap pria tampannya itu.


"Aku mau mas," ucapnya masih tetap tersenyum.


Arga terlihat senang, matanya yang tadi berkabut penyesalan, seketika bercahaya dan kembali bersinar.


Arga dengan penuh perasaan, penuh cinta, dan dengan lemah lembut memasangkan cincin itu di jari manis Laras, lalu mencium tangan wanita berkulit putih itu.


"Aku mencintaimu sayang," ucap Arga belum melepaskan ciuman di tangan halus sang istri.


Laras mengelus rambut tebal Arga.


"Mas jangan berlutut terus, aku tidak enak melihatnya..," pinta Laras menarik tangan Arga supaya segera berdiri.


"Tidak masalah bagiku berlutut seumur hidupku, asal kamu selalu di sisiku sayang," ucap Arga tersenyum membaringkan kepala di paha Laras.


Pria tampan itu merasa mendapatkan kenyamanan hakiki berbaring di pangkuan istri yang teramat dicintainya, perasaan laki-laki itu menjadi tenang dan damai.


Wanita bermata teduh itu membelai wajah Arga dengan lembut penuh kasih sayang, kian membuat pria itu tidak ingin lekas pergi dari pangkuan istrinya.


Tiba-tiba Arga teringat kalung yang belum dipasangkan, pria itu pun segera beranjak dan berdiri di belakang Laras.


"Sayang, boleh aku pasangkan kalungnya?," tanyanya meminta izin.


"Iya mas," Laras mengangguk.


Pria tampan itu menyibak rambut panjang Laras yang tergerai di belakang leher, pandangan Arga terhenti di tengkuk Laras yang begitu halus serta putih, dia menatap tak berkedip, nafasnya sedikit turun naik, dadanya berdebar kencang, namun dia berusaha menahan gejolak yang mulai bermain dalam dirinya.


Dalam beberapa menit, kalung itu telah terpasang sempurna di leher jenjang dan putih itu.


"Cantik sekali," puji Arga terpana melihat betapa cantiknya Laras dengan kalung di lehernya.


Laras hanya tersenyum tersipu mendapat pujian dari pria kaya itu, lalu menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya.


"Sayang, ayo kita gosok gigi, setelah itu pakai lingerie-mu," ajak Arga beranjak dari tempat duduk lalu berdiri menunggu Laras.


Laras kembali tertegun mendengar kata terakhir Arga, dengan susah payah wanita itu menelan saliva. Rasa deg deg an kembali menderanya.


"Mas, saja duluan, aku menyusul setelah mas selesai," ujar Laras masih duduk di sofa empuk itu.


Arga mengangguk dan segera berjalan ke kamar mandi.


Tak berapa lama, Arga telah selesai menggosok gigi.


Laras pun segera berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, tetapi langkahnya terhenti mendengar Arga memanggilnya.


"Sayang," panggil Arga cepat.


Laras berhenti melangkah dan menghadap kembali kepada Arga.


"Bawa ini, aku ingin kamu segera memakainya," sambung pria itu menyodorkan lingerie warna putih, tipis dan menerawang kepada Laras.


Tangan wanita itu terulur ragu-ragu menerima paper bag itu, lalu kembali melangkah menuju kamar mandi.


Selang beberapa menit Laras telah kembali ke ruang tamu dengan memakai lingerie mewah warna putih.


Arga yang tengah melihat acara televisi, seketika menoleh ke arah Laras yang sedari tadi telah lama dinantikannya, padahal hanya beberapa menit Laras di kamar mandi namun bagaikan berjam-jam yang dirasakan pria itu, dia sudah tidak sabar melihat wanita cantik itu mengenakan lingerie nya.


Milik bagian bawah Arga mendadak berdenyut cenat cenut, darahnya memanas, jantungnya bergetar tak tentu arah, rahangnya merekat kuat menahan gelora yang mulai berpacu dalam tubuhnya. Matanya membelalak memandangi sosok wanita cantik di depannya yang malam ini sangat menggairahkan baginya.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2