
Hana menatap suaminya yang masih terlelap entah apa yang
sedang di mimpikan suaminya itu kalau seandainya ia ada kekuatan untuk memasuki
mimpi itu ia akan mengajak suaminya itu untuk kembali, lekaslah bangun karena
ia sudah begitu rindu dengan dekapan hangat suaminya, tempat yang nyaman
baginya untuk bersandar.
Sudah empat hari sejak peristiwa itu Aditya belum juga membuka matanya, sepenjang waktu itu Hana
selalu mendampingi suaminya itu, Kemarin
kamar ini selalu ramai dengan kunjungan dari kedua keluarga mereka, hari ini
mereka kembali, kedua kakak Aditya harus kembali ke singapura dan ibu serta
bibi pulang kembali pulang ke rumah,
Hana mengusap lembut wajah suaminya mentatap lekat wajah itu, lalu menciumi seluruh wajah
suaminya itu hal yang selalu dilakukan Hana setiap Hari, ia mengusap perutnya
mearasakan gerakan bayinya , ‘ Sayang kamu pasti sudah sangat rindu dengan
suara Daddy ya, ucap Hana pelan.
“Sayang , lihat bayi kita ia semakin aktif bergerak setiap
hari, ia merindukan mu sayang, begitu pun aku, kembalilah sayang, jangan
biarkan aku terlalu lama dalam kegelapan ini, karena kau adalah bulan dan
bintang dimalamku, sulit bagiku ini membedakan siang dan malam karena semua
begitu gelap untukku, karena kau telah mencuri semua cahaya itu, kaulah
sekarang lenteraku sayang, cahaya itu akan terang bila kau ada di sampingku,
kau adalah udara dalam hidupku, tanpamu aku hampir lupa bagaimana cara bernapas
, pulanglah sayangku, pulanglah hidupku!,
jangan biarkan mimpi menguasaimu karena aku menunggumu dalam nyata !
“Jangan biarkan aku terlalu lama seperti ini, bisik Hana
dalam isaknya ke telinga suaminya.
Lana yang sedang berdiri di depan pintu tak dapat menahan
tangisnya, sekuat tenaga ia menahan isaknya, karena ia tidak ingin menambah
kesedihan kakaknya lagi, Frans menarik kepala Lana dalam pangkuannya, Lana
membenamkan wajahnya disana untuk membunuh isaknya sehingga tubuhnya
bergunjang, Frans mengusap lembut punggung Lana, dan menciumi puncak kepalanya
lembut,
“Sudahlah jangan menangis lagi , Ucap Frans menarik Lana melepaskan
pelukannya lalu mengusap air mata Lana dengan tangannya lembut. Lana
menganggukan kepala pelan sambil mengusap air matanya sendiri.
“Ayo dek, ucap Frans menarik tangan Lana masuk
“Sore kakak ipar, sapa Frans, membuat Hana memalingkan
wajahnya ke belakang. Hana menyambut kedatangan mereka dengan tersenyum
walaupun jelas senyum itu begitu di paksa, bekas air mata belum mengering di
matanya,
__ADS_1
“Ayo kakak, aku membawakan makanan untuk kakak, kasihan
keponakan aku nanti kelaparan, seru Lana sambil mengangkat makanan yang
dibawahnya , mencoba tetap riang,
“Letak disana, tunjuk Hana pada meja yang ada di sudut di
ruangan itu.
“Kakak makan ya, aku suapi !, ucap Lana.
“Nanti saja kakak belum lapar!, sahut Hana.
“Tidak Hana ayo makan, nanti kalau Adit bangun kamu terlihat
kurus ,kamu mau kami semua disini di marahinya, seru Frans mencoba bergurau.
Hana mencoab untuk tersenyum tetapi air matanya lebih mendahului,
“Ayo, jangan seperti ini Hana! ucap Frans mendekat berdiri
tepat disamping Hana, sungguh ia tidak tahan melihat Hana yang terluka seperti
itu, ia memegang kedua lengan Hana dan meletakkan dagunya di puncak kepala
Hana,
“ Kami semua disini menyayangimu, begiu banyak yang akan
terluka melihatmu seperti ini, Aditya pasti akan menemukan jalan pulang, ia kan
terus berjuang demi cinta kalian, ia dapat merasakan kesedihanmu jangan
menangis lagi, itu tidak baik untuk bayi kalian, ucap Frans lalu mengusap
kepala Hana,
Lana menghampiri Hana membawa makanan yang sudah di taruh
dalam piring, “Biar Lana suapi kakak, ucap Lana menyodorkan sendok ke mulut
makanan itu, semua terasa tawar namun tetap ia paksa untuk menelannya, kemudian
ia mengambil piring itu dari tangan Adkinya.
“Biar kakak saja.”
Frans dan Lana saling bertatapan, Frans merengkuh Pundak
Lana dan mengusap lengannya pelan, dan mengecup puncak kepalanya, mereka berdua
menatap Hana yang sedang menghabiskana makanannya, mereka mengajak Hana
mengobrol diselah makannya.
*****
Aldo masih sibuk dengan berkas yang menumpuk di mejanya,
mencoba mempelajari berkas itu satu persatu, biasanya itu adalah tugas Aditya
untuk merevisi semua berkas, tapi sejak ia terbaring tak berdaya Aldo harus
mengambil alih semua itu, sehingga Aldo jauh lebih sibuk dari sekarang.
Walaupun kak Niko ingin membantu Aldo tapi Hotel dan cabang
perusahaan yang ada di singapura tak bisa di tinggal, walaupun ada suami kak
Anes tapi ia juga punya perusahaannya sendiri untuk di urusinya, Dan Aldo pun
juga masih merasa sanggup untuk menghendel semua pekerjaan yang ada di Jakarta,
walaupun ia hanya memiliki sedikit waktu untuk istirahat, tapi ia masih
menyempatkan diri setiap hari untuk mengunjungi Aditya.
__ADS_1
Terdengar ketukan pintu ruangannya, daun pintu terbuka
setelah Aldo menyuruhnya masuk, Aldo pun segera mengalihkan pandangannya begitu
melihat siapa yang datang, ia pun segera bangkit dari kursinya,
“Silahkan duduk Lex, tawar Aldo.. Alex pun mengiyakan dan
duduk di sofa yang ada di ruangan Aldo,
“Al.., maaf mungkin kedatanganku ini sedikit terlambat
karena aku baru pulang dari tugasku, ucap Alex ketika baru saja mendudukan
tubuhnya.
“Iya kau mengerti, sahut Aldo.
“Sorry, soal adikku, kami benar-benar tidak menduga dia akan
melakukan hal gila seperti itu, sejak kejadian dulu, papa telah menghukumnya
kami kira dia akan berubah, tapi ini diluar dugaan kami, sekali lagi aku minta
maaf Al, terlihat wajh Alex yang penuh beban saat berkata
“Kedua orang tuamu sudah bertemu dengan keluarga besar Adit,
mereka sudah memaafkan tindakan Karin, tapi proses hukum harus tetap berlanjut,
dia harus bertanggung jawab dengan perbuatannya, sahut Aldo.
“Iya, aku kesini juga bukan meminta kamu untuk menghentikan
proses hukum untuk Karin, kami tau dia bersalah, biar semua urusan polisi,
tapi.
Alex menghentikan sejenak ucapannya,
“Sekarang ia juga sedang dalam perawatan dokter, ia selalu
berteriak-teriak meminta maaf pada Aditya, lanjut Alex pelan.
Sejenak mereka terdiam, sampai Alex kembali memecah
kesunyian.
“Aku baru saja tiba, aku ingin mengunjungi Aditya, aku
sungguh malu untuk bertemu dengan Hana, apakah dia akan mengijinkan aku untuk
bertemu dengannya, ucap Alex sedih.
“Hana wanita yang kuat, dia juga sudah bertemu dengan
orangtuamu, tak ada dendam sedikitpun aku
lihat di mata Hana, walaupun ia begitu terluka melihat keaadan Aditya yang juga
belum sadarkan diri, sahut Aldo dengan suara beratnya.
“Kalau kamu merasa berat seperti itu, aku akan menemani
kamu, tunggulah sebentar ada beberapa berkas yang masih harus akau periksa,
ucap Aldo bangun dari duduknya, Alexpun menganggukan kepalanya pelan.
.
.
.
..
.
__ADS_1
Bersambung