Istri Pilihan Mama

Istri Pilihan Mama
108 - SATU RANJANG


__ADS_3

...Ternyata hasil komen di Episode sebelumnya, komen terbanyak adalah minta dibikinin MP/Unboxing full dewasa....


...Malu ya hrs menulis cerita Hot😷...


...Tapi aku juga gak mau ngecewain kalian yang udah dari awal episode membaca tulisan ini....


...Aku coba penuhi keinginan kalian....


...Semoga tulisan full dewasanya, sesuai harapan kalian....


*******


Laras memperhatikan pria yang sudah lelap tertidur di pangkuannya, sambil tersenyum dia memandangi wajah Arga yang tampak begitu tampan dan tenang.


Tangannya dengan lembut tak berhenti mengusap rambut sang pria nya.


Wanita cantik itu mengambil handphone nya yang ada di atas meja di dekat mereka berada saat ini.


Dia membuka YouTube dan mencari ceramah Ustadz yang membahas tentang suami yang tidak memberikan nafkah lahir batin selama kurang lebih Enam bulan, apakah sudah jatuh talak dan harus menikah baru kembali?


Setelah mencari dan mendengarkan beberapa ceramah serta pencerahan dari beberapa Ustadz di YouTube, wajah wanita itu langsung berbinar bahagia, kepalanya manggut-manggut tanda mengerti.


Isi dari ceramah itu :


"Jika dalam Tiga bulan atau lebih, suami tidak memberikan nafkah lahir batin kepada istrinya, apakah akan jatuh talak? jawabannya "TIDAK JATUH TALAK".


Apakah status sang istri telah diceraikan atau tidak? Jawabannya "TIDAK".


Selama istri tidak melakukan gugatan cerai terhadap suaminya dan selama sang suami tidak menceraikan istrinya maka mereka akan tetap sah menjadi suami istri.


Selama tidak ada gugatan cerai dari salah satu pihak, maka Jawabannya : tidak perlu menikah baru lagi karena status mereka masih sah sebagai suami istri,".


Terukir senyum di bibir wanita berparas cantik itu, matanya kembali menunduk menatap pria kaya yang masih nyenyak di atas pahanya, sambil mengelus kepala sang suami, wanita itu bergumam sendiri mengajak sang suami bicara.


"Kita tidak perlu menikah baru lagi mas, aku masih sah sebagai istrimu dan kamu masih sah sebagai suamiku, tidurlah yang nyenyak, aku akan tetap di sini..," wanita itu mengulas senyum serta rona bahagia tergambar di wajahnya yang putih dan mulus.


Satu jam berlalu, posisi kedua insan itu masih terlihat sama seperti tadi, Laras masih duduk sedangkan suami manjanya itu tidur lelap di pangkuannya.


Namun ada yang sedikit berbeda, Laras ternyata ikut tertidur menyandarkan tubuhnya di sofa, tangannya masih terlihat berada di atas kepala sang suami.


Sepertinya suami istri itu tampak mengantuk dan kelelahan sepulang dari rumah sakit, sehingga mereka mudah sekali tertidur walau hanya posisi duduk serta rebahan di atas sofa.


Kelopak mata Arga tampak bergerak pelan, lalu terbuka perlahan, matanya mengintip suasana di sekitarnya.


Matanya langsung menangkap sosok di atasnya, yang tertidur bersandar di sofa dengan hembusan nafas terlihat begitu teratur. Wajah itu sangatlah cantik dilihat tatkala dia sedang terlelap tidur.


"Terima kasih sayang kamu masih menemaniku di sini, kasihan, kamu jadi ikut tertidur di sofa. Pasti kamu lelah menampung beban tubuhku di pangkuanmu," gumamnya mengangkat tubuhnya dari pangkuan Laras, memposisikan dari rebahan menjadi duduk.


Saat yang sama, Laras juga ikut terbangun, mengerjapkan mata berulang kali dan melihat Arga di sampingnya telah duduk sambil menatapnya.


"Kamu tertidur sayang?," ucap Arga duduk menggeser lebih mendekat ke Laras dan kedua tangannya langsung meraba paha sang istri kemudian memijatnya pelan.


Laras langsung meringis dan alisnya bertaut saat mendapat sentuhan tiba-tiba di pahanya dari tangan Arga.


"Apa yang mas lakukan?," tanyanya dengan muka masih meringis sambil menggigit bibirnya menahan sebuah rasa.


"Aku hanya ingin memijat pahamu sayang, aku tahu pahamu pasti sakit karena sudah aku jadikan bantal selama satu jam," ujar Arga kembali melanjutkan pijatannya di paha wanita cantik itu.


Kembali Laras meringis lalu dengan cepat menahan gerakan tangan Arga dengan kedua tangannya.


"Mas.., jangan dilanjutkan..," pintanya menatap Arga dengan binar mata sendu, mimik wajahnya terlihat berusaha menahan sesuatu, suaranya terdengar mendesah namun Arga tidak menyadarinya.


"Mengapa sayang? mengapa kamu melarangku memijatmu? aku melakukan ini biar pahamu tidak kram," Arga berkata dengan polos tanpa mengerti apa yang sebenarnya dirasakan wanita cantik itu.

__ADS_1


"Tapi aku tidak sanggup dipijat seperti ini mas..," Laras berkata lirih, tetap tak melepaskan pegangannya di tangan Arga.


"Apa pijatanku kurang enak dan kurang keras? makanya kamu tidak suka?," tanya Arga tetap tidak mengerti, lalu mencoba melanjutkan pijatannya dengan sedikit lebih keras.


"Aww, mas lepaskan..!," desah Laras kembali meringis menggigit bibirnya.


Untuk kali ini wanita itu tidak dapat menahan lagi rasa geli di pahanya sehingga desahannya terlepas begitu saja dari bibirnya yang terdengar jelas di telinga Arga.


Laras refleks menarik tangan Arga, langsung menjauhkannya dari paha, wanita itu tidak sanggup jika Arga terus melanjutkan pijatannya.


"Ada apa denganmu sayang? mengapa suaramu seperti kesakitan tapi seperti *******? apa pahamu sakit karena aku terlalu lama tidur di atasnya?," Arga bertanya tidak mengerti menatap Laras penuh tanda tanya.


"Tidak mas, bukan karena itu, pahaku tidak apa-apa, tidak sakit, tapi aku memang tidak bisa dipijat di bagian paha, karena.., karena terasa sangat geli," ucapnya memberitahu hal sebenarnya pada sang suami.


Muka Arga tercengang, terbengong heran dengan penyampaian Laras.


Senyum nakal tiba-tiba kembali terlukis di bibir pria tampan itu, gurat mesum tergambar dari sorot matanya, dia mengamati wanita cantik yang kedua tangannya kini telah beralih ditaruh di atas paha dengan tujuan supaya Arga tidak menyentuhnya lagi.


"Sekarang aku tahu, sesuatu yang membuatmu geli ada di paha, aku akan mengulanginya lagi saat malam pertama kita nanti sayang," seringai Arga dengan fikiran licik.


"Jahat kamu mas," sang istri menatap kesal pada suami yang masih dengan senyum nakalnya.


"Aku tidak jahat sayang, tapi aku hanya ingin mendengar desahanmu saat menahan geli, apa itu tidak boleh? Aku yakin, kamu pasti akan semakin cantik saat sedang mendesah..," sahut Arga kian genit menggoda istrinya seraya menarik sebelah bibir lalu terkekeh menatap Laras yang wajahnya nampak bersemu merah.


Namun Arga tidak mempedulikan kekesalan di muka Laras, dia justru senang karena mendapat ilmu berharga untuk persiapan di malam pertama yang sempat tertunda.


Dasar laki-laki mesum, maklum umur 30 tahun belum pernah merasakan hubungan ranjang dengan satu orang wanita pun. Hidupnya dihabiskan untuk bekerja dan mengelola perusahaan mendiang ayahnya, sehingga dia tidak sempat memikirkan hal seperti itu.


Pukul 19:30.


Sepasang suami istri itu telah menyudahi makan malam mereka.


Laras juga telah selesai mengurus sang suami, memberikan obat dokter serta satu gelas air putih untuknya.


Pukul 20:30.


Selesai menunaikan shalat Isya', pasangan suami istri itu duduk bersantai di ruang tengah sambil menikmati acara televisi dan sepiring pisang goreng buatan tangan wanita yang pintar memasak itu.


Pukul 21:30.


Setelah satu jam berbincang di ruang tengah sambil menonton televisi, tiba-tiba sang lelaki mengajak wanitanya untuk masuk ke kamar.


"Sayang, ayo kita tidur," ajakan Arga seketika menghentak wanita yang tengah asik menonton dan menghentikan tontonannya.


Laras terperangah, menoleh ke samping melihat muka suaminya, dia berfikiran jika Arga akan menagih janji padanya yang telah disepakati waktu di rumah sakit beberapa hari lalu.


Mulailah perasaannya berkecamuk, rasa takut, rasa gugup, nervous, rasa mau, siap, belum siap, senang, bahkan bahagia berbaur jadi satu.


"Ayolah sayang kita masuk ke kamar dan tidur, aku sudah mulai mengantuk efek obat dokter itu," ajak Arga lagi melihat sang istri masih duduk tercenung tanpa sahutan lalu memegang dan menggandeng tangan si istri memasuki kamar.


Laras mengikuti langkah Arga, kemudian keduanya beriringan melangkah masuk ke dalam kamar.


Arga menyalakan AC lalu pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi, dimana Laras baru saja keluar dari kamar mandi telah lebih dulu menggosok gigi dan mencuci muka.


Tak lama Arga pun telah keluar dari kamar mandi dan mendapati Laras masih duduk di sofa dengan muka tertunduk serta tubuh tampak kaku.


Ada kegelisahan menyelubungi hatinya, kakinya terasa berat untuk segera naik ke ranjang dan tidur satu tempat dengan pria tampan itu, entah apa yang ada di fikirannya, sejujurnya dia masih canggung harus tidur berdua dengan Arga.


"Sayang mengapa kamu belum naik ke atas tempat tidur?," Arga menatap heran wanita yang duduk di sofa.


"Emm, iya sebentar lagi mas," jawabannya terdengar grogi.


Arga menghampiri wanita yang masih saja tak beringsut dari sofa, dia tersenyum melihat kegelisahan di wajah putih itu. Pria itu tahu dan mengerti, jika istrinya merasa malu dan gugup berada satu ranjang dengannya.

__ADS_1


Dengan kedua tangannya, pria itu langsung membopong tubuh ramping itu membawanya ke tempat tidur.


Mulut Laras terbuka, matanya seakan ingin meloncat keluar, wanita itu tercekat dengan perlakuan Arga yang tiba-tiba membopongnya, menambah keyakinan dalam dirinya jika malam ini sang suami memang akan menagih janji padanya.


Arga membaringkan tubuh berkulit mulus itu di kasur dengan pelan dan sangat berhati-hati, pria itu terlihat begitu lembut memperlakukan istrinya, jauh berbeda dengan perlakuannya beberapa bulan lalu.


Jantung Laras sudah tidak karuan, bisa saja suara jantungnya mungkin telah sampai ke telinga Arga saking kencangnya berdegup.


Tubuhnya terbujur seperti patung yang tak bernyawa, matanya terus saja menatap curiga pada pria yang kini masih berdiri di tepi tempat tidur.


Arga mengulurkan tangan menyentuh kepala wanita cantik itu, membelai rambut hitamnya dengan lembut, kemudian dia membungkukkan tubuh jangkungnya mendekati wajah Laras, Laras refleks memejamkan mata menanti sentuhan Arga, terasa satu kecupan lembut singgah di keningnya.


Laras kembali membuka mata, mukanya tampak memerah menahan gugup, kedua matanya tak melepaskan pandangan dari pria itu, seakan takut sang suami akan memangsanya.


Arga tersenyum menggelengkan kepala, melihat kegelisahan serta kegugupan di wajah Laras, terlihat wajah putih itu tampak memerah.


"Jangan khawatir sayang, kamu tidak perlu setakut ini. Malam ini mataku sudah mengantuk, jadi aku belum bisa melakukannya," ujar Arga melangkah berputar ke sisi sebelah kiri ranjang lalu naik ke tempat tidur.


"Malam ini aku ingin tidur cepat agar besok aku lebih bertenaga," sambungnya merebahkan tubuh di samping wanita yang masih terbaring kaku bagaikan patung.


"Alhamdulillah malam ini aku selamat, mengapa aku menjadi gugup tiap kali Arga menyentuhku? menyebalkan!," batinnya merutuki diri.


Ini untuk pertama kalinya, pasangan suami istri itu berada di atas satu ranjang, setelah pernikahan mereka yang telah memasuki Enam bulan.


Laras tak mampu bicara, dia diam seribu kata, tangannya langsung menarik selimut menutupi tubuh hingga ke dada.


Kemudian wanita itu merubah posisi tubuh, memiringkan tubuh ke samping kanan, memunggungi Arga yang berada di sisi kirinya, sikapnya seperti itu bukan karena dia sedang marah kepada si suami tetapi ingin menetralkan dirinya agar lebih tenang dan tidak terlalu gugup lagi.


Laras hanya mengenakan daster biasa, pendek selutut dengan motif batik, yang dua bulan lalu dibelinya bersama Tina di pasar tempat mereka menjadi kuli panggul.


Tiba-tiba selimut yang menutupi tubuhnya melorot ke bawah, ternyata dari belakang punggungnya Arga telah menarik selimut itu hingga tersingkap sampai ke kaki, dalam hitungan detik dia merasakan tubuhnya telah dipeluk erat dari belakang, dari sisi kiri.


Tangan Arga yang kokoh telah memeluk rekat pinggang Laras sedangkan kaki pria itu melingkar sempurna di atas paha istrinya.


Laras kembali tercekat dan darahnya berdesir.


Dia memutar sedikit kepalanya mencoba melirik ke belakang dan melihat Arga telah berada tepat di belakang punggungnya.


Arga memajukan tubuh dan menyibak rambut panjang yang menutupi tengkuk putih milik Laras, kemudian tidak menunggu lama pria tampan itu langsung melabuhkan bibir mencium tengkuk putih dan mulus itu.


Darah pria itu mendadak panas, jantungnya bergetar keras tak beraturan lagi seperti sedang maraton, Dug, Dug, Dug, Dug.


Hidungnya menyesap panjang mencium aroma wangi yang menyebar dari tubuh wanita berkulit putih itu.


Pria itu terus menciumi tengkuk mulus Laras seraya mempererat pelukan di pinggang dan paha wanita itu, seakan tak ingin melepaskannya lagi.


Bulu roma wanita cantik itu mendadak berdiri saat bibir Arga menyentuh tengkuknya. Degup jantungnya kian memberontak seakan hendak meloncat keluar dari dalam tubuh.


Baru disentuh sedikit saja, Laras langsung merasakan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik.


Laras tidak sanggup menahan lebih lama lagi, dia mencoba menghentikan sentuhan Arga yang makin membuatnya bergidik dan bergetar, dia mendadak membalikkan badan, menghadap pria di belakangnya sehingga mau tak mau Arga menghentikan aksinya yang terus menciumi tengkuk wanita itu.


Kini mereka telah saling berhadapan, saling menatap tak bergeming.


Arga tersenyum mendapati wajah cantik Laras telah berhadapan dengannya, pria itu mengelus wajah mulus sang istri, menatapnya dengan lembut.


"Aku mencintaimu sayang," ucapnya pelan.


Hati Laras bergetar mendengar kata cinta itu, yang entah sudah berapa puluh kali diucapkan oleh sang suami.


Arga menggerakkan kepala, mendekat ke wajah Laras, perlahan-lahan merapatkan dan menempelkan bibirnya di bibir indah milik wanita cantik itu. Terasa begitu lembut. Arga sungguh menikmatinya.


Pria itu mengecup bibir indah itu berulang-ulang, tidak kasar, hanya kecupan biasa, lembut dan lambat, namun setelah beberapa kali kecupan, tidak ada respon sedikit pun dari sang istri. Sepertinya Laras masih malu dan canggung untuk membalas kecupan sang suami.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2