Istri Pilihan Mama

Istri Pilihan Mama
Eksra part 11 Aku memilih mundur


__ADS_3

Mayang menatap kosong dari lantai tujuh rumah sakit tempat ia menjalani perawatan, sudah hampir tiga bulan ia menetap disini,  setelah mendapat pendonor hati yang cocok dengannya keluarganya segera membawanya ke Singapura untuk menjalani operasi transplantasi hati, selama tinggal disana tak henti keluarga mengunjunginya,


Aldo dan Dila juga sempat datang berkunjung saat ia menjalani operasi, Aditya juga datang berkunjung walaupun Hana tidak bisa ikut karena tidak bisa meninggalkan Arjuna. Dan tak ketinggalan Ryan ia juga sering mengunjungi Mayang sebelum menjalani operasi.


Mayang tersenyum mengingat kekonyolan Ryan yang rela berhari-hari meninggalkan kerjaannya untuk menemaninya, ia tetap ngotot untuk tetap tinggal walaupun berukangkali Mayang mencoba untuk menyuruhnya kembali ke jakarta, sedikit pun tidak menghiraukan penolakan Mayang , tapi tak ia pungkiri kedatangan Ryan dengan segala   kekonyolan dan candaan dapat menghibur Mayang, walaupun ia sering mengusir Ryan untuk berhenti mengunjunginya,  tapi setelah itu ia menghilang tak pernah lagi berkunjung lagi,


Dan setelah ia tidak datang lagi jauh dalam lubuk hatinya ia merasakan ada sesuatu yang kurang, ia tidak tahu kenapa belakangan ini ia selalu kepikiran Ryan  bahkan merindukan wajah itu, tak terasa air mata Mayang meluncur di pipinya, dengan cepat ia menghapusnya kembali saat mendengar ketukan pintu.


Mama Mayang datang dengan wajah diliputi kegembiraan segera menghampiri putrinya, “ sayang besok kita sudah boleh ke Indonesia, ucap Mama Nia sambil memeluk Mayang haru,”kita akan control sekali sebulan ke sisni


sayang.” Mayang pun mengiyakan tentu ia sangat senang dapat kembali pulang, ia semakin mengertakan pelukannya, ia tidak menyangkah akan  dapat pulang dengan masih bernapas dan jauh lebih baik ,  dulu ia sudah pasrah semuanya terserah Tuhan saja, ia sudah ikhlas  kalaupun harus kalah dimeja operasi, tapi  ini untuk kedua kalinya Tuhan memberinya kesempatan untuk dapat hidup kembali, ucapan Syukur yang tak henti ia ucapkan disetiap sujutnya.


****


Tiga bulan kemudian,


Mayang tergesa-gesa masuk ke dalam restoran, ia segera melambaikan tangannya begitu melihat Dila dan Aldo yang sedang duduk disana dan kebetulan juga sedang menatap ke arahnya, ia pun segera mendudukan tubuhnya di salah satu kursi yang masih kosong , mereka pun segera memesan makan dan minuman untuk makan siang


mereka. Meraka pun menobrol sambil menunggu pesanan mereka, seseklai terdengar tawa krenyah dari mereka, sesekali Mayang mengerdarkan pandangan kesekeliling  restoran yang tidak terlalu ramai oleh pengunjung, tiba-tiba matanya menangkap bayangan seorang pria masuk bersama seorang wanita, ia ingin memanggil Ryan tapi saat wanita itu bergelayut di lengan Ryan, Mayang pun mengurungkan niatnya, tapi terlambat karena Aldo keburu memanggil Ryan dan seketika ia memalingkan wajahnya, matanya terpaku melihat kehadiran Mayang  disana,


sesaat pandangan mereka bertemu, Ryan pun menghampiri dan mengajak  wanita itu untuk   ikut juga  dengannya,


“Hai kebetulan sekali kita bertemu disini, ucap Ryan sambil mendudukan tubuhnya di kursi yang masih kosong , lalu menarik satu kursi disebelahnya untuk wanita bersamanya, Mayang menyentuh dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri ,

__ADS_1


“Senang melihat kau sudah Kembali May, bagaimana kabarmu... sapa Ryan sambil menatap Mayang yang tepat duduk didepannya.


"Seperti yang kau lihat,”sahut Mayang tanpa berani menatap Ryan, ia tidak tau perasaan apa yang sedang dirasakannya saat ini, tapi dadanya begitu sesak melihat Ryan duduk dekat wanita itu. Aldo dan Dila menatap Mayang yang tiba- tiba saja sikapnya berubah saat kedatangn Ryan keduanya pun saling pandang.


“Oh ya perkenalkan ini Nanda, ucap Ryan sambil menatap wanita yang duduk disampingnya , ketiganya pun bersalaman sambiil menyebut nama masing-masing, seorang pelayan datang menghampiri meraka, Ryan pun segera memesan makanan untuknya, sedangkan Mayang pun pamit untuk ke toilet, Ryan menatap punggung Mayang sampai menghilang dari pandangannya,


“ Sampai kapan kau akan menyembunyikan semua  ini darinya, kasihan Mayang ia juga berhak tau," ucap Aldo mengikuti pandangan Ryan


Sejenak Ryan menarik napas Panjang,” lebih baik ia tidak tau, aku tidak ingin ia semakin membenciku, sahut Ryan pelan.


“Aku yakin Mayang tidak akan marah," imbuh Dila.


“Tidak Dil, lebih baik seperti ini saja, aku juga tidak akan mengganggunya lagi, biarlah ia menemukan lelaki yang sesuai dengan pilihan hatinya, walaupun sebesar apa pun cintaku, aku akan mencoba untuk melepaskannya kalau itu yang terbaik untuknya."


yang baru saja kembali dari toilet  memejamkan matanya melihat pemandangan yang menyakiti hatinya itu.


Ia Kembali mendudukan tubuhnya disana tak lama pelayan pun datang membawa pesanan mereka, dan mereka pun segera menikmati makanan dan minuman yang ada didepan mereka sambil mengobrol, tapi Mayang lebih banyak diam selama makan siang itu, ia bahkan tak berani mengangkat wajahnya untuk melirik Ryan yang ada di depannya, apalagi ia melihat Ryan tidak seperti Ryan yang pernah dikenalnya dulu, tak ada kata-kata rayuan yang meluncur dari bibirnya kalau mereka sedang bersama, walaupun terkadang ia sering memarahi Ryan dengan kekonyoalnya itu, tapi ketika sikap itu tak ada lagi justru ia merasakan sesuatu yang hilang .


****


‘Al, apakah ini  perasaanku saja atau kau sependapat denganku, kau ikut memperhatikan  bagaimana sikap Mayang berubah begitu Ryan ada disana? Tanya DIla sambil melirik Aldo yang sedang mengemudikan mobilnya.


“Iya, aku juga merasa begitu, ia lebih banyak diam," sahut Aldo melirik Dila sekilas.

__ADS_1


“Kalau menurutku kita harus memberi tahu Mayang, aku tidak tega saja melihatnya, dan sepertinya Mayang mulai menyukai Ryan, dan Ryan malah ingin mundur dengan perasaannya , ucap DIla sambil menghela napas Panjang.


“Sayang.., jika mereka berjodoh akan banyak cara untuk Tuhan mempertemukan mereka, ucap Aldo sambil menggengam tangan DIla dengan satu tangannya.


Sementara Mayang ikut dengan mobil Ryan karena kantor mereka searah, Mayang sampai saat ini  memang belum berani untuk mengemudikan mobil sendiri, sebelumnya Mayang menolak untuk diantarkan oleh Ryan tapi karena Nanda memaksanya untuk ikut akhirnya  ia pun mengalah  terpaksa ikut dengan mobil Ryan, tapi saat Nanda menawarkan Mayang untuk duduk didepan ia menolaknya dengan tegas, ia memilih untuk duduk dibelakang saja, itu pun ia sudah tidak enak hati karena sudah menjadi pengganggu diantara mereka, Ryan sesekali melirik


Mayang dari spion tengah mobilnya, ia sangat sedih melihat Mayang yang menatap kosong keluar jendela mobilnya.


Setelah mengantar Nanda ke kampusnya, tinggallah Ryan dan Mayang dalam mobil, Mayang yang masih tak berniat untuk memindahkan duduknya dan Ryan pun tidak mekasanya, ia pun kembali melanjutkan perjalannya, tak jauh berbeda dengan sebelumnya hanya ada kesunyian dalam mobil, dan sampai akhirnya mobil itu berhenti di kantor Mayang, dan ia pun beranjak untuk membuka pintu mobil ,


“Terima kasih untuk tumpangannya Ian, ucap Mayang pelan lalu ia pun keluar tanpa memberi Ryan kesempatan untuk membalasnya, ia pun melangkah menjau dari mobil tanpa menolehkan wajahnya sedikit pun, sedengkan Ryan hanya memukul kesal stir mobilnya, mengutuk dirinya yang begitu pengecut.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2