
...Belum bisa ditamatin cerita ini, banyak reader request Laras Arga punya anak dulu 🤔...
...Emm.., aku aja yang pingin cepet-cepet tamat tapi ternyata reader masih mau memperpanjang, udah kayak sinetron iihh...😵...
*****
Dua minggu kemudian...
Setelah mengikuti kursus latihan mengemudi dengan rutin setiap hari dan tidak pernah absen sang suami selalu mendampingi serta menyemangati, akhirnya wanita berparas cantik itu telah berhasil lulus latihan mengemudi dan telah mahir menyetir, dan bahkan dia mulai berani membawa mobil ke jalan protokol walau pun masih didampingi sang suami.
Arga yakin, melihat skill Laras dalam mengemudikan mobil, sebenarnya Laras tidak perlu didampingi lagi karena dia telah sangat baik dan mahir dalam menyetir, hanya saja wanita itu belum cukup percaya diri untuk pergi ke jalan protokol seorang diri.
Di sisi lain, Laras telah bertekad dalam hati harus berhasil menyetir secepat mungkin, kalau bisa dalam jangka waktu dua minggu atau tiga minggu, karena dia sadar, sudah banyak yang Arga korbankan untuk dirinya.
Pria itu mengorbankan waktu kerja dengan hanya masuk ke kantor dari pukul 14:30 siang hingga pukul 17:00 sore, tetapi tak jarang Arga sering pulang kemalaman sampai di rumah dan terkadang terpaksa melanjutkan pekerjaannya di rumah.
Dari pukul 08:00 pagi hingga Pukul 13:00 siang, pria kaya itu dengan setia menemani dan mengawasi istri cantiknya belajar mengemudi.
Dan Pukul 13:00, setelah Laras selesai latihan mengemudi, mereka baru bisa shalat dan makan siang, yang sengaja Laras bawa dari rumah, jadi mereka tidak perlu repot-repot dan menghabiskan waktu mencari makanan untuk mengisi perut.
Setelah itu, Laras naik taxi pulang ke rumah, sementara sang suami segera berangkat ke kantor menggunakan mobil barunya, begitulah aktivitas mereka selama dua minggu terakhir.
Arga sengaja menyewa Instruktur pribadi dengan bayaran cukup mahal untuk mengajari Laras setiap hari tanpa libur, dengan durasi belajar selama Lima jam per-hari. Dan hasilnya, hanya dalam dua minggu wanita itu telah mahir mengemudi.
Pagi ini pukul 08:00.
Laras sudah bisa bersantai di rumah, karena jadwal latihannya telah usai dan wanita itu telah dinyatakan lulus latihan mengemudi.
"Mas, nanti siang aku mau pergi dengan Tina, boleh gak?," tanya wanita cantik itu di sela-sela sarapan pagi mereka.
"Mau kemana?," Arga bertanya sambil terus mengunyah roti dan menghirup secangkir teh hangat buatan tangan sang istri.
"Paling ke kontrakan Tina, terus makan siang dan jalan-jalan ke mall,"
"Iya boleh, tapi hati-hati ya, jangan lupa seperti biasa beritahu aku kalo kamu sudah sampai..," pesan sang suami.
"Iya, aku gak akan melupakan itu, terima kasih mas..," sahut Laras tersenyum senang menatap suami tampannya.
"Baiklah, aku berangkat dulu," Arga mengulurkan tangan dan istrinya segera menyambut tangan itu kemudian mencium punggung tangan suaminya.
Dan seperti hari-hari sebelumnya, setiap akan berangkat ke kantor, pria itu mencium pucuk kepala Laras dan mengusap rambut panjang itu lembut.
"Aku mencintaimu sayang," ucap pria tampan itu mengecup pucuk kepala wanitanya.
"Aku juga mencintaimu mas, hati-hati di jalan..," pesan Laras melambaikan tangan, terlihat dari kejauhan Sapri telah membuka pagar menunggu mobil tuannya keluar dari halaman rumah.
Pukul 12:00.
Laras telah sampai di depan kontrakan Tina, wanita cantik itu memarkirkan mobil CRV mewahnya di depan rumah warga, karena memang sulit sekali mencari area parkir di Jakarta, apalagi di kawasan padat penduduk di daerah kontrakan Tina.
"Pak, saya boleh minta izin parkir sebentar di sini?," tanya wanita cantik itu ramah pada seorang bapak yang memiliki kelebihan tanah di depan rumahnya.
"Iya, boleh saja neng, tapi gak bisa lama-lama neng, maklum daerah sini sempit, jadi sering macet," ujar bapak si pemilik rumah.
"Baik pak, saya cuma sebentar, terima kasih ya pak," Laras membungkukkan badan sedikit kepada pria yang telah ditumbuhi uban di kepalanya.
Laras segera menapaki anak tangga menuju lantai dua dimana kontrakan Tina berada.
Benar saja, sahabat karibnya tersebut telah membuka pintu dengan lebar menyambut tuan puteri yang cantik dan juga kaya.
"Wah, wah, ternyata istri konglomerat sekarang udah pinter bawa mobil, tadi aku ngintipin kamu dari atas sini," ujar Tina dengan senyum khasnya, berdiri di depan pintu menyambut kedatangan wanita kaya itu.
"Apaan sih Tin, jangan ngomong begitu, gak enak didenger orang," Laras cemberut melirik sahabat karibnya.
Wanita berkulit putih itu langsung masuk dan menaruh tas di kamar.
"Kita mau kemana Tin hari ini?," sambung Laras seraya menggulung dan mengikat rambutnya.
"Terserah kamu, aku ngikut aja tuan puteri," gurau Tina tersenyum menggoda Laras.
"Jangan ngikut aja, kamu yang tentuin, kan kamu lebih tua daripada aku, tuh liat aja muka kamu udah mulai keriput, hehe, hehe," Laras terkekeh memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Tina pun ikut terkekeh mendengar gurauan sahabat yang sudah seperti adiknya itu.
"Gimana kalo kita ke taman aja, kan udah lama kita gak main ke taman sambil makan es cream, habis itu baru kita cari makan siang," Tina memberi ide.
"Ayo, aku setuju, tapi shalat Dzuhur dulu baru kita berangkat," ucap Laras segera pergi ke kamar mandi, mengambil wudhu.
Selang beberapa menit, Laras dan Tina sudah berada di dalam mobil.
"Wah Ras, aku bener-bener gak nyangka, sekarang aku duduk di mobil milik janda miskin yang sekarang udah jadi istri kaya," Tina kembali terkekeh mempermainkan Laras yang sedang fokus menyetir.
Laras ikut tersenyum mendengar Tina yang tak henti-henti menggodanya.
"Alhamdulillah Tin, Allah udah mengatur hidupku, selama ini aku udah terlalu banyak melalui penderitaan, mungkin ini saatnya aku menikmati kebahagiaanku, Ayah, Ibu dan nenek pasti ikut bahagia..," Laras menjawab sambil terus memfokuskan mata melihat ke depan.
"Iya ya, aku tau perjalanan hidup kamu, dan aku orang pertama yang merasa bahagia melihat kehidupan kamu sekarang, beruntung kamu mendapat suami seperti Arga, meski pun di awal dia nyebelin dan nyakitin banget, tapi sekarang dia udah kayak budak kamu, haha, haha..," Tina kembali tertawa sambil menepuk-nepuk dasboard mobil.
"Iiihh, gak boleh kamu jelekin mas Arga kayak begitu, aku gak terima suamiku dijelekin, gak mungkin aku tega jadiin mas Arga budakku, ada-ada aja sih kamu..," Ujar Laras menoleh sejenak ke samping menatap Tina, lalu tersenyum.
"Iya deh iya, maaf, bukan budakmu, tapi pemuas hasratmu, haha, haha..," Tina kembali tertawa lebar, terus mengolok-olok sang sahabat.
__ADS_1
Laras pun ikut tertawa, menggelengkan kepala. Kelakuan Tina memang slebor dan apa adanya, itulah yang membuat Laras merasa nyaman berteman dengan gadis itu.
"Iya Tin, jujur aku puas..," sahut wanita cantik yang masih memegang setir, sambil nyengir kuda membayangkan wajah Arga yang setiap hari dan setiap malam selalu mengendus tubuhnya.
"Pasti puas dong kamu, secara Arga keliatan agresif banget sama kamu, aku yakin kamu pasti puas tiap kali habis bercinta..," Tina semakin mengolok Laras lalu tertawa keras.
"Iiih Tin kamu.., udahlah, jadi malu sendiri nih aku!," Laras kembali membayangkan muka Arga yang selalu tersenyum puas dan lemas di detik-detik terakhir percintaan mereka.
Wanita bermata redup itu terus saja tersenyum mendengar ocehan Tina dan fikirannya terus saja membayangkan wajah tampan suaminya, suami yang selalu ingin mengajaknya bercinta di hampir setiap malam, maklum namanya juga pengantin baru, pasti Arga masih buas-buasnya seperti singa kelaparan yang menyantap mangsa.
Pukul 13:00.
Mereka telah sampai di taman dan di tangan mereka masing-masing telah memegang es cream rasa vanila dan coklat.
Laras sangat menyukai es cream vanila, sedangkan sang sahabat sangat menyukai es cream rasa coklat.
Kedua sahabat itu duduk berdampingan di kursi sambil menikmati es cream kesukaan mereka.
"Ras, Rico ngelamar aku," tiba-tiba saja Tina mengeluarkan suara di sela-sela keasikan mereka menikmati es cream.
Mata dan mulut Laras secara bersamaan terbuka lebar, mulutnya refleks berhenti menjilat es cream di tangannya lalu menoleh ke samping menatap Tina serius.
"Yang benar saja Tin? kamu serius?," tanyanya tidak percaya.
"Iya, aku serius, masa' masalah ini aku bohong sih!," jawab Tina kembali menjilat es cream coklatnya.
"Terus, Rico udah ngadep Ibumu di kampung?," tanya Laras menggeser duduknya lebih mengarah ke samping ke arah Tina.
Ayah Tina telah lama meninggal dunia sejak gadis itu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.
"Udah," Tina masih asik mengecap es cream di tangannya.
"Kapan?," tanya Laras cepat ingin tahu, wanita cantik itu justru menghentikan kegiatan menjilat es cream, saking dirinya terkejut bercampur senang mendapat berita bahagia dari sahabatnya.
"Baru dua hari lalu, aku sengaja belum cerita ke kamu, karena aku nunggu waktu yang pas, nunggu kita ketemu langsung,"
"Terus, kamu terima?," Laras mulai penasaran, lalu menjilat kembali es cream yang mulai mencair.
"Iya dong, masa' gak," jawab Tina santai, sambil nyengir.
"Alhamdulillah, aku bahagia banget Tin, akhirnya kamu ketemu jodohmu juga, setelah kesulitan hidup yang kita berdua lalui, akhirnya kita menemukan pria yang akan menjaga dan melindungi kita buat selamanya," Laras merangkul Tina dan mengusap punggung sang sahabat.
"Terus, kapan rencana pernikahan kalian?," Laras semakin penasaran, seraya melepas pelukannya.
"Rencananya dua atau tiga bulan ke depan,"
Laras mengangguk.
Tina mengangguk mendengarkan cerita Laras, lalu tersenyum dengan wajah tak kalah berseri.
Satu jam lebih kedua wanita itu berada di taman, bertukar cerita dan tertawa gembira, sampai akhirnya mereka memutuskan meninggalkan taman untuk mencari makan siang.
*****
Beberapa hari kemudian.
Hari Sabtu, Pukul 09:00.
Laras dan Arga baru selesai menghabiskan sarapan, dan keduanya berencana pergi ke rumah Mayang.
"Mas, bagaimana kalo hari ini kita menginap di rumah mama?, sudah satu bulan kita gak ke sana," ujar Laras menyarankan.
"Iya benar juga, kamu siap-siaplah, sebentar lagi kita berangkat," ucap Arga menyetujui.
"Nanti kamu saja yang menyetir," pinta Arga.
"Mengapa aku mas?," Laras bertanya heran.
"Aku mau memberi kejutan pada mama, kalo menantu kesayangannya ini sudah bisa menyetir sendiri,"
"Iihh, mas ada-ada saja, aku gak mau mas, aku malah malu," Laras tersenyum simpul.
"Mengapa malu sayang? mama pasti akan sangat senang melihatmu sudah bisa menyetir sendiri, kamu kan menantu kesayangannya, pasti mama akan sering mengajakmu jalan-jalan setelah mama tau kamu sudah bisa menyetir mobil," puji sang suami ikut tersenyum.
Pukul 11:00.
Pasangan suami istri itu hampir sampai di rumah Mayang, sekitar 10 menit lagi.
Pria kaya itu mengambil ponsel dan menelepon sang mama.
"Ma, mama tunggu di halaman ya," Arga menelpon sang mama saat sebentar lagi mau sampai di rumah Mayang.
Mayang heran, mengapa Arga menyuruhnya menunggu di teras namun wanita setengah baya itu tidak sempat bertanya, karena Arga telah mematikan sambungan telepon.
Dan benar saja, mertua Laras yang baik hati itu telah lebih dulu berdiri di teras sebelum mobil Laras memasuki halaman rumah.
Baru kisaran Lima menit Mayang berdiri di teras, sebuah mobil mewah berwarna merah merk Mercedes Benz memasuki halaman, Mayang senang menyambut kedatangan anak serta menantunya tanpa dirinya tahu, pengemudi di dalamnya.
Saat mobil berhenti dan kedua kesayangan Mayang turun dari mobil, wanita paruh baya itu seketika terpana saat Laras keluar dari pintu kemudi. Dia pun langsung tersenyum berjalan mendekati sang menantu.
"Waduh, ternyata anak mama udah bisa menyetir, mama benar-benar bangga sama kamu nak..," Mayang tersenyum bangga memeluk Laras, mengusap lembut punggung menantu kesayangannya.
__ADS_1
"Iya ma, ini semua berkat mas Arga ma, mas Arga yang meminta Laras belajar mengemudi dan terus memberi semangat pada Laras," ucap Laras mengurai pelukan mertua lalu mencium punggung tangan wanita baik hati itu.
Sang putra pun tidak ketinggalan ikut mencium tangan mamanya.
"Bagus dong, itu namanya suamimu itu peduli dan perhatian sama kamu, ayo kita masuk," ajak Mayang menggandeng menantunya memasuki rumah megah itu.
Sore harinya. Pukul 17:00.
Saat Laras masih berada di kamar mandi membersihkan diri, Arga dan sang mama duduk di ruang tengah berbincang santai.
"Bagaimana sayang? apa pendapat kamu tentang istri pilihan mama? dia istri yang baik atau sebaliknya?," wanita paruh baya yang masih memancarkan aura kecantikan tersebut bertanya pada putra kesayangannya.
Arga tersenyum dengan mata memancarkan sorot kebahagiaan.
"Laras wanita yang luar biasa dan sangat baik ma, gak ada satu pun kekurangannya di mata Arga, Arga berterima kasih sekali mama sudah memilihkan istri yang tepat untuk Arga,"
"Alhamdulillah mama senang mendengarnya, dari awal mama sudah yakin kalo Laras itu wanita yang Sholehah dan bisa mengurusmu dengan baik, apalagi dia kan masih perawan, hehe, hehe," tiba-tiba sang mama menggoda putranya seraya memandang Arga yang kini bersungut malu.
"Mengapa mama gak pernah menceritakan kalo Laras sebenarnya masih perawan?," kali ini Arga ingin mendengar penjelasan dari sang mama.
"Mama sengaja gak memberitahumu, mama ingin kamu tahu sendiri, sekarang kamu tahu kan kalo Laras itu bukan janda sembarang janda, bukan hanya wajahnya yang cantik tapi hatinya juga sangat cantik, apalagi dia belum pernah disentuh suami pertamanya, mama yakin kamu pasti gak akan menyesal mendapat janda seperti dia,"
"Iya ma, Arga beruntung memiliki Laras, Arga berterima kasih mama sudah menikahkan Arga dengan Laras walaupun awalnya mama harus memaksa Arga, sekarang Arga sadar, istri pilihan mama memang luar biasa,"
"Iya, sama-sama sayang, mama bahagia kalo melihatmu bahagia," ucap sang mama tersenyum menatap anaknya penuh kasih sayang.
Saat keduanya tengah sibuk mengobrol membahas Laras, tiba-tiba orang yang dibahas telah berdiri di dekat mereka.
"Mas, mau mandi sekarang?," tanya Laras menatap Arga dengan rambutnya yang basah menambah kecantikan wajahnya.
Namun kali ini, Laras tidak menggunakan lingerie seperti malam-malam kemarin, tidak mungkin di hadapan mertua dia menggunakan pakaian minim dan seksi.
Sore ini dia hanya menggunakan baju tidur dengan atasan kemeja dan dengan bawahan celana selutut, bermotif angry bird.
Arga menatap tak berkedip wanita cantik itu, dia menelan saliva mengamati lekuk tubuh sang istri, meski pun hanya dilihat dari balik baju tidur setelan.
Tiba-tiba saja miliknya mendadak bereaksi, berdenyut meminta sesuatu, sepertinya malam ini pria tampan itu ingin melakukannya lagi di rumah sang mama, karena sudah Empat hari ini dia tidak mengabsen tubuh istrinya dikarenakan Laras yang sering kelelahan belajar mengemudi sementara Arga pun sering kelelahan karena sibuk menemani Laras ditambah sibuk di kantor.
"Eh, eh, eh, matanya harus dikondisikan itu, sampai gak berkedip melihat istrinya, memangnya kamu baru sekali ini melihat Laras?," goda mamanya yang membuat Arga terkejut lalu segera mengalihkan pandangan ke arah mamanya.
"Gak ma, Arga hanya terpana saja melihat kecantikan Laras sehabis mandi," pria itu kelepasan bicara dengan sejujurnya.
"Memangnya selama ini kamu belum pernah lihat Laras mandi dengan rambut basahnya?," Mayang kembali menggoda Arga melirik ke arah putranya.
Laras mendadak menelan saliva kasar mendengar gurauan sang mertua, wanita cantik itu mendadak menjadi malu dan mukanya bersemu merah.
Arga pun ikut terdiam, hanya senyuman yang tak henti terukir di bibir, sambil sesekali mencuri pandang pada wanita cantik yang masih berdiri.
"Sayang, duduklah di sini," pinta Mayang mengusap sofa di sebelahnya.
Laras menurut, dan duduk di samping mertuanya, Arga yang sedari tadi memandangi Laras, tak hentinya terus menatap sang istri tanpa berkedip, dan tanpa sengaja Laras pun melirik ke arah pria tampan itu, dan mata mereka pun bertemu, saling menatap lekat.
Tiba-tiba Arga mengedipkan sebelah mata ke arah wanita itu, membuat Laras mengernyitkan alis, mengerti kode yang diberikan Arga.
Dari tatapan sang suami, dia yakin, malam ini pria itu pasti akan meminta sesuatu di ranjang, apalagi setelah Empat hari, memang keduanya tidak melakukan apa pun dikarenakan kesibukan dan kelelahan, namun malam ini keduanya sama-sama fresh dan siap jika akan melakukan kembali penyatuan yang melelahkan di atas tempat tidur.
Pria beralis tebal itu untuk kedua kalinya kembali mengedipkan sebelah mata ke arah wanita cantik itu sambil dengan sengaja menjilati bibir berulangkali dan membasahi dengan lidahnya.
Kini bibir pria itu terlihat basah dan menggairahkan, Laras langsung memejamkan mata membayangkan sentuhan bibir Arga, karena sejujurnya, dia juga menginginkan sentuhan Arga yang sejak Empat hari tidak memberinya rasa nikmat itu.
Laras melihat bibir basah itu langsung mengalihkan pandangan ke arah sang mertua, dia tidak ingin terus-menerus melayani kelakuan Arga yang sengaja memancingnya, namun rupanya wanita itu masih sedikit menggerakkan ekor mata melirik sang suami yang duduk dua meter darinya yang masih dengan mata tajamnya memandang lekat ke arahnya.
"Nak, apa kamu sudah melakukan testpack?," Mayang bertanya tiba-tiba yang membuat Laras tersentak.
Laras langsung terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Mayang yang sama sekali tidak diduganya.
"Sayang, kamu gak apa-apa?," Arga panik dan berpindah duduk merapat ke samping Laras seraya menepuk pelan bagian punggung sang istri.
Mayang yang melihat perhatian Arga, tersenyum bahagia akhirnya sang anak bisa dengan tulus menerima Laras sebagai istrinya.
Wanita setengah baya itu tahu, sang putra begitu mencintai istrinya, dari caranya menatap serta dari sikapnya memperlakukan Laras, terlihat jelas jika putranya itu begitu menyayangi dan mencintai istrinya.
"Aku gak apa-apa mas..," Laras berusaha menetralkan rasa keterkejutannya.
"Kamu pasti kaget karena mama bertanya masalah testpack?," Mayang bertanya tersenyum pada Laras.
Laras hanya mengangguk, merasa malu.
"Laras belum mengeceknya ma..," sahut wanita berparas ayu itu.
"Iya gak apa-apa nak, nanti kalo kamu udah telat satu minggu atau lebih, kamu boleh menggunakan testpack untuk mengeceknya," saran sang mertua.
Laras mengangguk menyetujui saran mertuanya.
"Mama itu pengen cucu dari kalian, pasti cucu mama lahir tampan dan cantik, sama seperti mama dan papanya, kalo cucu mama perempuan, pasti sama cantiknya dengan Laras, kalo laki-laki pasti sama gantengnya dengan dengan Arga, mama jadi gak sabar nunggu kelahiran cucu mama," Mayang berdecak senang membayangkan betapa bahagianya menggendong cucu dari anak dan menantu kesayangannya.
"Mama gak perlu khawatir, Arga akan penuhi keinginan mama, Arga ingin anak perempuan biar cantik seperti mamanya..," ujar Arga memeluk pinggang Laras erat.
Wanita cantik itu hanya tersenyum simpul mendengar percakapan mertua dan suaminya.
...*******...
__ADS_1