
...Jangan membaca sekedar membaca, apalagi membaca sampe End novel ini tp gak ngasih support, Bintang 5 dan Subscribe....
...Jangan difikir menulis itu gampang, jadi jika kalian membaca sebuah cerita sampe End, budayakan menghargai jerih payah Author, siapa pun itu Authornya, utk ngasih Bintang 5 dan Subscribe....
...Ini episode terakhir di Novel pertamaku ini......
...Dan menjadi episode terpanjang di sepanjang cerita di novel ini....
...Makasih untuk kalian semua🙏...
*****
Laras dan Arga telah tiba di Rumah Sakit terbesar di Jakarta Pusat.
Dokter Sylvia, dokter kandungan yang menangani kehamilan Laras dan Tina setiap bulan telah lebih dulu tiba di rumah sakit, dan kemarin dokter Sylvia jugalah yang membantu persalinan Tina di rumah sakit tersebut.
Saat Laras tiba di depan IGD, Arga langsung memapah tubuh Laras dan meletakkan di ranjang yang telah disiapkan para perawat.
Dokter Sylvia langsung memberi instruksi kepada beberapa perawat untuk segera memasukkan wanita yang akan segera melahirkan itu ke ruang bersalin, Arga pun ikut membantu mendorong ranjang dan dengan menguatkan diri ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.
Jika boleh jujur, sebenarnya laki-laki itu sangat takut harus melihat persalinan Laras, seumur hidup dia belum pernah merasa setakut ini, namun demi Laras, pria itu bertekad akan melawan rasa takut itu dan akan berusaha memberi kekuatan serta semangat untuk sang istri yang akan mempertaruhkan nyawa demi melahirkan kedua calon bayi kembar mereka.
"Sayang berjuanglah, aku akan terus di sini menemanimu..," Arga mengusap kepala Laras lalu memberi kecupan di kening sang istri, bibirnya dibuat setenang mungkin dalam berucap namun di dalam hati, pria itu menahan rasa takut yang begitu besar.
Laras menggapai tangan Arga, lalu mencium punggung tangan suaminya.
"Sayang, maafkan aku kalau selama jadi istrimu, aku pernah melakukan kesalahan, aku mohon doakan agar aku bisa melahirkan anak-anak kita dengan sehat dan selamat," ucap wanita itu meneteskan air mata.
Dan tanpa sadar lelaki itu ikut meneteskan air mata saat melihat Laras menangis, entah mengapa lelaki itu semakin takut saat Laras telah berada di ruang persalinan.
"Tidak sayang, tidak ada yang perlu dimaafkan, kamu tidak pernah melakukan kesalahan satu kali pun. Aku yakin Allah akan membantumu melahirkan kedua anak kita dengan lancar dan sehat," sahut Arga mengusap air mata Laras dan memeluk sang istri kemudian kembali mencium keningnya.
"Aamiin, terima kasih sayang, aku hanya perlu doa darimu," ucap Laras masih berusaha tersenyum meskipun rasa sakit semakin terasa membelit perut dan punggungnya.
Laras merasakan perutnya semakin sakit dan melilit, dan dokter Sylvia pun tidak membuang waktu, segera membantu Laras untuk memulai persalinan.
Arga yang terus berdiri di samping Laras, menggenggam erat tangan istrinya, dengan tak hentinya berdoa dalam hati meminta kelancaran dan keselamatan untuk istri dan kedua calon anaknya.
Pria itu merogoh saku celana hendak mengambil sapu tangan untuk mengeringkan keringat Laras, namun dia baru sadar, jika saat ini dia mengenakan piyama, tidak ada sapu tangan yang bisa dia temukan di dalam piyama yang dipakainya.
Arga mengedarkan mata ke sekitar ruangan mencari kotak tissue, dan untungnya ada tissue di atas meja tak jauh dari tempatnya berdiri.
Dengan langkah panjang Arga langsung mengambil seluruh tissue, membawa dan meletakkannya di dekat kepala Laras, dengan cekatan pria itu menghapus keringat yang mulai menetes di dahi Laras.
Arga heran, ruang bersalin itu telah menggunakan AC dan terasa dingin tetapi Laras masih tampak berkeringat, Arga yakin, jika keringat istrinya itu dikarenakan Laras menahan rasa sakit.
"Sayang, aku percaya kamu kuat, aku mencintaimu, sangat mencintaimu..," ucap Arga mengelus rambut Laras seraya memegang tangan sang istri dengan erat.
"Sudah bukaan sepuluh, Ibu Laras akan segera melahirkan," jelas dokter wanita kepada Arga seraya dengan cepat memasang sarung tangan karet untuk membantu Laras bersalin.
"Ibu Laras tenang saja, setiap bulan kita sudah mengecek keadaan bayi di dalam, mereka baik-baik saja, dan Ibu pasti bisa melahirkan secara normal," dokter Sylvia berusaha memberi semangat dan menenangkan pasiennya.
Dokter Sylvia memandu Laras agar menarik nafas secara teratur, kemudian menghembuskannya pelan, tarik nafas melalui hidung, lalu membuang nafas dari mulut, ulangi berkali-kali.
Laras pun mengikuti panduan sang dokter, sementara Arga dengan raut tegang menatap cemas wajah Laras.
Setelah itu dokter Sylvia kembali memandu Laras menarik nafas dalam-dalam dan menyuruh wanita itu untuk mengejan perlahan-lahan.
Laras dengan patuh menuruti semua petunjuk sang dokter, wanita cantik itu menarik nafas lalu perlahan-lahan mengejan.
Saat mengejan, rasa sakit semakin mencengkeram tubuh wanita itu, sehingga tangan wanita cantik itu berpegangan kencang pada tangan Arga, Arga pun terus menggenggam tangan sang istri dengan terus menenangkan serta memberikan semangat kepada wanita cantik itu.
"Sayang, sayang, berjuanglah! Kamu istri yang kuat untukku! Ibu yang hebat untuk anak-anak kita! Aku yakin kamu pasti bisa melalui semua ini! Aku sangat mencintaimu sayang..," sang suami terus memberi semangat di sela-sela Laras yang berusaha mengejan mengeluarkan kedua bayi kembar mereka.
Suara Arga yang terus berdengung di telinga Laras, menjadi penyemangat untuk wanita itu. Laras terus berusaha sekuat tenaga untuk mengejan, menarik dan mengatur nafas kemudian menghembuskannya, dengan tidak henti berdoa di dalam hati, untuk keselamatan dirinya serta kedua bayinya.
Sampai akhirnya, sebuah suara tangisan memecah ketegangan, seorang bayi laki-laki telah berhasil dikeluarkan dan langsung disambut oleh dokter dan memindahtangankan bayi laki-laki itu kepada perawat.
Tugas Dokter Sylvia belum selesai, tugas Laras pun masih panjang karena harus mengeluarkan satu bayi lagi. Dokter Sylvia terus memandu Laras agar mengejan dan menarik serta menghembuskan nafas secara teratur.
Selang beberapa menit, kembali terdengar lengkingan suara bayi menangis menghilangkan semua ketegangan di dalam diri Arga, bayi perempuan itu pun disambut sang dokter dan kembali menyerahkan bayi merah itu kepada perawat yang lain.
Pandangan Arga langsung tertuju pada Laras yang tampak terlihat lemah dan lelah, pria itu mencium kening Laras dan mengusap keringat yang membanjiri dahi putih sang istri hingga kering, dengan tissue yang telah dia persiapkan.
"Alhamdulillah sayang, kamu sehat dan anak-anak kita juga selamat," ucap Arga tersenyum lega mencium tangan Laras.
Laras mengangguk tersenyum penuh rasa syukur dan bahagia.
Beberapa menit kemudian, perawat telah membawa kembali bayi kembar yang baru saja selesai dimandikan, kedua bayi merah itu sekarang telah bersih, tampak begitu lucu dan menggemaskan.
Tidak menunggu lama, Arga dengan cekatan mengambil bayi laki-laki, lalu bertanya kepada sang dokter arah kiblat, Arga pun menghadap kiblat sesuai petunjuk dokter.
Pria tampan yang saat ini telah resmi menjadi ayah segera mengumandangkan Adzan pada telinga kanan dan mengumandangkan Iqamah pada telinga kiri.
Arga sengaja melantunkan dengan suara rendah dikarenakan telinga bayi yang masih sensitive, agar bayi tidak terganggu dan merasa nyaman mendengar suara lantunan adzan dan Iqamah dari sang ayah.
Setelah selesai mengumandangkan adzan dan Iqamah pada telinga bayi laki-laki, Arga pun mengumandangkan adzan dan Iqamah pada telinga bayi perempuan.
Dengan mengumandangkan adzan di telinga kedua bayi nya, Arga berharap dapat menanamkan nilai islam kepada kedua buah hatinya sejak mereka baru terlahir ke dunia, agar keduanya bisa tumbuh dan berkembang dengan sehat dan baik serta menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah.
Laras yang memperhatikan dari atas ranjang tersenyum bahagia melihat ketiga orang yang sangat dicintainya.
Beberapa menit kemudian, Laras telah selesai dijahit, dan wanita yang tampak masih kelelahan itu langsung memejamkan mata dan tertidur.
Beberapa jam kemudian.
Laras telah dipindahkan dan berbaring di kamar Presidential suite yang dikelilingi beberapa orang terdekatnya, sang suami, mama mertua, bik Lina serta tak ketinggalan tampak sahabatnya Tina, duduk di kursi roda.
Tina yang masih berada di rumah sakit setelah kemarin bersalin di tempat yang sama dengan Laras, merasa bahagia melihat keadaan Laras yang sehat dan telah melahirkan kedua anaknya dengan lancar.
Rico juga turut hadir di sana, mendorong kursi roda sang istri, lalu pria itu berjalan ke arah Arga dan memeluk boss sekaligus sahabatnya itu.
"Selamat boss!," ucapnya tersenyum sumringah.
"Terima kasih," Arga mengangguk dengan rasa bahagia.
__ADS_1
Laras kini telah diapit di kanan dan kirinya oleh kedua bayi kembar yang tampak sedang tertidur.
Arga berjalan mendekat ke ranjang Laras, lalu duduk di atas ranjang di dekat kepala sang istri lalu membelai rambut Laras dengan lembut.
"Kalian sudah mempersiapkan nama anak kalian kan?," tanya Mayang memandang bergantian Laras dan Arga.
"Sudah ma," Arga menjawab cepat.
"Siapa nama bayi-bayi lucu ini tuan? Bik Lina ingin segera memanggil mereka dengan sebutan tuan dan nona kecil," bik Lina ikut bertanya sambil nyengir kuda.
"Nama mereka, Zafran dan Zafira," sahut Arga tersenyum menatap kedua bayi yang ada diapitan Laras.
"Masya Allah nama yang bagus tuan, Zafran dan Zafira artinya apa? Bik Lina boleh tahu kan tuan?," kembali bik Lina bertanya dengan antusias, yang membuat orang-orang di sana menjadi tertawa dengan sikap super cuek bik Lina.
"Zafran artinya kejayaan. Aku berharap kelak Zafran akan bisa melanjutkan mengelola perusahaan keluarga kita. Sedangkan Zafira artinya keindahan atau keelokan. Aku berharap kelak Zafira akan seperti mamanya, memiliki wajah yang sangat cantik dan memiliki keelokan hati yang begitu baik dan tulus. Aku berharap kedua anakku kelak bisa menuruni sifat seperti mamanya..," Arga menjelaskan dengan muka penuh semangat.
"Loh tuan, mengapa kedua anak tuan disuruh menuruni sifat mamanya semua? Mengapa tidak disuruh menuruni sedikit sifat papanya?," bik Lina masih bertanya penuh keheranan dan tanda tanya dengan mimik muka melongo semakin terlihat lucu.
"Karena sifatku tidak sebaik sifat mamanya, hehe, hehe," sahut Arga jujur sambil terkekeh dan membelai rambut Laras dengan lembut.
Semua orang di sana tertawa serempak mendengar perkataan Arga.
"Terus, nama panjangnya siapa?," Tina yang duduk di kursi roda ikut bertanya.
"Zafran Laksana Wibawa dan Zafira Mutia Wibawa," Arga kembali menjelaskan.
"Nama yang bagus, mudah-mudahan menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah," ucap Tina memanjatkan doa terbaik untuk kedua anak sahabatnya.
"Aamiin" semua orang menjawab doa baik Tina.
"Oh iya, aku kemarin kelupaan menanyakan nama anakmu siapa?," Arga menatap Rico yang berdiri di belakang kursi roda Tina.
"Fariz Erlangga," jawab Rico memberitahu.
"Nama yang bagus, mengambil nama belakangmu, Rico Sandy Erlangga," sahut Arga manggut-manggut.
"Kalau mereka sudah dewasa, bisa kita nikahkan Zafira dengan Fariz," seloroh Rico yang langsung disetujui oleh Tina.
"Aku setuju, aku tahu persis mamanya wanita baik. Insya Allah anaknya juga akan dididik dengan baik oleh mamanya. Dan anak kita pasti akan bahagia didampingi istri yang baik seperti mamanya. Aku yakin itu!," ucap Tina tersenyum penuh keyakinan.
"Itu urusan nanti, yang penting kita keluar dari rumah sakit ini dulu," jawab Arga yang membuat semua orang tertawa.
Satu persatu orang di ruangan tersebut keluar dari kamar, tinggal Laras, Arga dan kedua anak mereka yang masih tertidur.
"Sayang, aku haus..," Laras beringsut berusaha duduk.
"Eeehh, jangan duduk dulu, kamu ini ya, kamu baru selesai dijahit. Kalau kamu butuh sesuatu tinggal perintahkan saja padaku, aku yang akan mengambilkannya," Arga sedikit memarahi Laras.
Laras tersenyum melihat Arga yang begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Ini minumlah," Arga mengangkat dan menopang punggung Laras, lalu menyodorkan gelas ke mulut Laras, membantu istrinya memegang gelas.
"Terima kasih sayang," ucap Laras setelah menghabiskan hampir seluruh air di dalam gelas dan kembali berbaring.
"Aku yang harusnya berterima kasih, karena kamu sudah melahirkan bayi-bayi lucu kita untukku," ucap Arga tersenyum sambil menarik kursi dan duduk di samping ranjang.
"Tanganmu tergores, pasti gara-gara cakaranku waktu di ruang bersalin tadi," wanita cantik itu menggapai tangan Arga dan mengusap pelan goresan luka di tangan suaminya.
"Iya tidak apa-apa sayang, ini hanya luka kecil. Aku malah rela jika kamu melukai aku lebih besar daripada ini. Luka ini bukanlah apa-apa dibanding rasa sakit yang kamu alami tadi," sahut Arga sama sekali tidak mempermasalahkan bekas kuku sang istri.
"Kamu tahu sayang? Aku tadi sungguh ketakutan. Aku takut terjadi sesuatu denganmu dan anak-anak kita, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu dan tidak sanggup jika sampai kamu meninggalkanku. Bagiku kamu adalah nafasku dan aku tidak bisa kehilanganmu," ucap pria itu menggenggam tangan Laras, menatap istrinya dengan penuh cinta.
"Benarkah? sebegitu berartinya aku untukmu sayang?," Laras tersenyum, terus mengusap tangan Arga.
"Lebih dari nyawaku sendiri," ucap pria tampan itu dengan pasti.
Hati Laras terenyuh, ditatapnya pria tampan yang duduk di kursi tanpa berkedip, hati wanita itu tersentuh merasakan betapa besarnya cinta Arga kepada dirinya.
Laras juga merasa sikap Arga telah berubah drastis, sangat baik dan penyayang, setelah satu tahun lalu sang suami berjanji akan berubah, sejak saat itulah Laras tidak pernah merasakan sedih apalagi menangis, setiap hari wanita itu hanya disuguhi cinta, kasih sayang serta kebahagiaan dari pria itu.
"Kamu juga sangat berarti bagiku sayang," ucap Laras menarik tangan Arga supaya mendekat ke arahnya.
Arga berdiri dari duduk, mendekatkan tubuh ke arah sang istri, sedikit membungkuk, pria itu mendekatkan wajah ke arah Laras dan wanita itu pun segera menempelkan bibir di kening Arga, cukup lama.
"Terima kasih untuk semua yang sudah mas berikan untukku. Terima kasih doamu sehingga aku bisa melahirkan dengan lancar dan cepat," ucap wanita cantik itu tersenyum lembut menatap suaminya.
"Mendoakanmu adalah kewajibanku sayang," pria itu membelai rambut Laras.
Keduanya pun tersenyum lalu mengalihkan pandangan pada kedua bayi merah yang masih tertidur pulas.
"Zafira sama sepertimu, sangat cantik. Pasti banyak laki-laki yang akan menyukainya kelak," puji Arga membelai kepala bayi perempuannya.
"Terus Zafran? Apa dia tidak tampan?," tanya Laras tersenyum.
"Pasti tampan, sama seperti papanya," jawab Arga terkekeh lalu membelai pipi sang bayi laki-laki.
Laras pun tersenyum menatap kedua buah hatinya lalu menatap pria tampan belahan jiwanya. Hati wanita itu begitu bahagia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mencintai dan dicintainya.
*****
Dua hari kemudian.
Setelah kepulangan Laras dari rumah sakit, Arga serta Mayang sibuk mengurus bayi kembar itu. Mayang pun memutuskan akan selalu menginap di rumah anak dan menantunya untuk menemani dan membantu Laras mengurus si kembar saat Arga tidak di rumah.
Sementara Laras tidak pernah putus mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna yang dimasakkan oleh Bik Lina dan terkadang Mayang pun ikut membantu di dapur untuk membuatkan makanan sehat untuk sang menantu.
Laras merasa beruntung memiliki mertua sebaik Mayang, meski pun Ibu kandungnya telah tiada, namun dengan kehadiran Mayang di dalam hidupnya membuat wanita cantik itu merasakan kasih sayang seorang Ibu kandung.
Hari berganti minggu, minggu pun terus bergulir berganti bulan.
Genap satu bulan Laras, Arga serta Mayang mengurus bersama-sama kedua bayi tampan dan cantik itu, keduanya tumbuh semakin gemuk, bersih serta putih.
Tidak dapat dipungkiri, kedua bayi itu mewarisi wajah Arga dan Laras, sangat tampan dan cantik, meski umur kedua bayi itu baru beranjak satu bulan tetapi dari raut wajah, alis, mata, hidung, bibir serta rambut sudah dapat ditebak jika keduanya terlahir dari orang tua yang rupawan serta postur tubuh bayi kembar yang tampak montok dan putih menunjukkan jika keduanya terlahir dari keturunan yang memiliki harta melimpah.
Pukul 21:30.
__ADS_1
Malam ini, Laras baru selesai memberi ASI untuk kedua buah hatinya, meletakkan kedua bayi mungil dan gendut tersebut ke dalam ranjang lalu memperbaiki letak kelambu.
Wanita cantik itu bersiap akan tidur dan naik ke ranjang, namun ada yang kurang, sang suami tidak berada di kamar.
Laras merasa heran, mengapa Arga belum masuk ke kamar, padahal sudah pukul 21:30 malam.
Saat wanita cantik itu masih dalam fikiran bingung memikirkan sang suami, tiba-tiba pintu terbuka, tampak pria tampak masuk ke kamar dengan membawa nampan.
"Sayang, dari mana? Mengapa belum tidur?," Laras bertanya seraya matanya melirik ke dalam nampan yang dibawa Arga.
"Apa yang mas bawa?," Laras kembali bertanya.
"Ini aku memasakkanmu spaghetti dan juga membuatkanmu susu hangat. Kemarin kamu mengatakan padaku jika kamu ingin sekali makan spaghetti," ucap pria itu meletakkan nampan di atas meja.
Laras yang masih berdiri, menjadi tertegun, wanita itu terkejut melihat sang suami telah bersusah payah memasakkan makanan untuknya dan dengan telaten telah membawakan ke dalam kamar.
"Ya Allah sayang, mas yang memasaknya sendiri? seharusnya mas tidak perlu melakukan ini. Besok aku bisa memasaknya sendiri dan makan di dapur, tidak perlu repot-repot membawakan ke kamar," ucap Laras masih dengan perasaan tertegun.
"Sudah, tidak perlu kamu fikirkan. Sini duduklah," ajak Arga menggandeng tangan istrinya.
Mereka pun duduk di sofa, pria tampan itu langsung menyendok spaghetti lalu menyuapkannya ke mulut Laras.
Wanita yang masih sama cantiknya seperti semasa gadis itu pun menyeruput spaghetti dari garpu yang disodorkan Arga, mengunyahnya pelan kemudian mengecap berulang kali mencoba merasakan cita rasa spaghetti masakan sang suami.
"Enak sekali mas, aku suka, mas belajar darimana bisa memasak spaghetti seenak ini?," puji Laras membuka mulut supaya Arga menyuapinya kembali.
Pria tampan itu menyendok kembali spaghetti dan menyuapkan ke mulut istri cantiknya, Laras mengunyah spaghetti itu dengan cepat.
"Waktu kuliah di luar negeri, temanku yang mengajarinya," jawab Arga memberitahu.
"Oh, pantas spaghetti nya enak. Sini, gantian aku yang menyuapi mas," Laras mengambil garpu dari tangan Arga dan menyuapi suaminya.
Setelah selesai menghabiskan satu piring penuh spaghetti, keduanya pun menggosok gigi lalu naik ke tempat tidur.
Ternyata tugas Arga belum selesai sampai di situ, di tangannya telah memegang baby oil.
"Ulurkan kakimu sayang," perintahnya pada Laras.
"Untuk apa sayang?," Laras bertanya heran.
Pria itu tidak ingin istrinya terlalu banyak pertanyaan, dengan kedua tangannya, dia menarik kaki jenjang Laras dan meluruskannya, kemudian mengusapkan baby oil dan mulai memijat betis sang istri.
"Ya Allah sayang, mengapa kamu baik sekali?," Laras terpana memandangi suaminya dengan tatapan kagum.
Padahal sore tadi Arga baru pulang dari kantor, hanya sempat melepas jas dan langsung ikut membantu memandikan bayi kembar mereka, dan seharusnya malam ini Arga beristirahat namun pria itu justru mengesampingkan rasa lelahnya demi memasakkan makanan sang istri.
"Aku tahu, satu bulan ini kamu pasti lelah mengurus anak-anak kita. Sembilan bulan kamu juga sudah berjuang mengandung mereka sampai terlahir dengan sehat ke dunia ini. Aku akan melayanimu sayang, selamanya," ucap pria tampan itu mulai memijat pelan betis sang istri.
Laras terenyuh mendengar perkataan Arga, ingin rasanya dia menangis, wanita itu tidak menyangka, suami yang di awal pernikahan bagaikan penjahat yang selalu menyakiti hati bahkan fisiknya, namun saat ini telah berubah menjadi sosok suami yang menurut Laras tidak ada duanya di dunia, berhati baik, Sholeh, tampan, mapan bahkan memiliki harta melimpah.
Hampir dua puluh menit Arga memijat dengan penuh kesabaran istri yang tampak lelah itu, dari kaki, pergelangan tangan, tengkuk, kepala hingga punggung sang istri.
"Terima kasih sayang, aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu. Aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan suami sebaik mas. Allah sangat baik padaku, telah mengirimkanmu ke dalam hidupku. Kalau aku tidak bertemu denganmu, entah bagaimana kehidupanku sekarang," ucap Laras menarik kakinya, lalu beringsut mendekati Arga.
Wanita itu memeluk Arga dan meneteskan air mata kebahagiaan di pelukan sang suami.
"Bukan kamu yang beruntung sayang, tapi aku yang sangat beruntung karena Allah telah menghadirkanmu dalam hidupku. Karena kamu, aku sekarang menjadi orang yang jauh lebih baik. Aku selalu mencintaimu.., Aku ingin menghabiskan sisa umurku denganmu, aku ingin menua bersamamu, selamanya.., Aku mencintaimu sayang," ucap Arga menghapus bulir air bening di wajah Laras dan mencium kening wanita berparas cantik itu.
"Aku juga mencintaimu sayang," Laras menjawab dengan penuh keharuan mendengar perkataan cinta dari sang suami.
Setelah beberapa menit saling memeluk, menumpahkan seluruh perasaan cinta di hati masing-masing, Laras pun mengurai pelukan.
"Sudah malam, ayo kita tidur sayang," ajak wanita cantik itu.
Arga yang memang telah merasa sangat lelah, segera membaringkan tubuh. Laras pun ikut berbaring di samping Arga.
Dan seperti biasa, rutinitas setiap malam, Laras langsung menyelimuti tubuhnya serta tubuh Arga dari ujung kaki hingga dada.
Arga meraih kepala sang istri, menaruh di dada.
"Aku akan menjagamu seumur hidupku sayang. Tidak akan ada yang bisa merubah perasaan cintaku padamu. Selamanya rasa cinta di hatiku ini hanya untukmu, sampai kita tua," ucap Arga membelai rambut panjang istrinya.
"Aku percaya padamu, aku bisa merasakan cintamu yang besar untukku, terima kasih sayang," ucap Laras memeluk Arga dengan perasaan bahagia.
"Sama-sama istriku, selamat tidur, aku mencintaimu sayang," ucap Arga mencium lembut pipi Laras lalu memeluk erat tubuh wanita itu, wanita yang akan menemaninya hingga akhir usia.
"Selamat tidur sayang, aku juga mencintaimu," ucap Laras tersenyum dalam pelukan pria yang akan mendampinginya hingga di ujung usia.
Tiada yang lebih indah di dalam hidup selain cinta yang besar dari pasangan, kesetiaan yang kokoh tanpa ternoda dari wanita atau pria mana pun, serta kasih sayang tulus yang tak lekang dimakan waktu.
Cinta seperti inilah yang dimiliki oleh Laras dan Arga, begitu besar, suci, kokoh dan kuat, yang akan mereka jaga selamanya.
Keduanya telah berjanji akan sehidup semati, menua bersama dalam suka maupun duka, hingga rambut keduanya akan memutih dan sampai di ujung waktu, mautlah yang akan memisahkan mereka.
END.
Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh🙏🙏
...******...
Laras Mutiara
Arga Trilaksana Wibawa
Laras Mutiara
Arga Trilaksana Wibawa
__ADS_1
...*******...