Istri Pilihan Mama

Istri Pilihan Mama
Bab 46 Fitnah (Part 2)


__ADS_3

Aditya duduk termenung di meja kerjanya, ia sangat heran melihat sikap istrinya yang sungguh berbeda. Selama mereka menikah ia belum pernah melihat sikap Hana yang dingin kepadanya.


Hana seperti malas berdekatan dan berbicara dengannya, bahkan saat berangkat kerja Hana tidak mengantarnya kedepan, istrinya balik lagi ke kamar.


"Aku harus mencari tau kenapa tiba-tiba istriku berubah, guman Aditya.


Lamunan Aditya terhenti karena ponselnya berdering, Aditya begitu kesal melihat siapa yang menelponnya, ia tidak mempedulikan ponselnya yang berdering, ia sungguh tidak berminat mengangkatnya. Tak lama berselang Aditya melihat sebuah pesan masuk,


*Karin tahu Kak Adit membenci Karin, tapi apakah Kak Adit mau bertemu Karin sekali ini saja, setelah itu Karin berjanji tidak akan mengganggu Kak Adit lagi. Karin tunggu Kak Adit di restoran X.


"Apa sebenarnya yang diinginkan wanita ini, guman Aditya kesal.


" Baiklah untuk sekali ini aku akan memenuhi keinginannya, semoga ia menepati janjinya tidak menganggu saya dan Hana lagi.


****


Hana merasakan tubuhnya sangat lemah tidak seperti biasanya, Hana meminum vitamin agar tubuhnya gak lemas lagi. Hana di antar Mang Ujang pergi ke rumah sakit, di tengah perjalanan ia teringat pesan yang di kirim Karin semalam,


"Mang bisakah mengantarkan aku sebentar ke restoran X?


" Baik Non Hana!


Mang Ujang segera memarkir mobilnya begitu sampai di restoran,


"Mang tunggu di sini saja, aku hanya sebentar, perintah Hana keluar dari mobil.


Langkah Hana terasa gemetar, ia mencoba menguatkan dirinya, ia berharap tidak akan melihat suaminya di sana. Jantung Hana semakin berdebar kencang saat masuk kedalam restoran, Hana menyapu sekeliling restoran dengan pandangannya, ia sangat beruntung karena pengunjung restoran tidak terlalu ramai, belum berapa langkah Hana berjalan ia melihat suaminya sedang duduk berhadapan dengan Karin, dan ia melihat tangan Karin sedang mengenggam tangan suaminya,


"Mas Adit, suara Hana tercekat di tenggorokannya.


Dan Aditya sangat terkejut ketika melihat ke pintu masuk ia melihat istrinya, mata mereka sejenak beradu pandang, Aditya sungguh tidak tega melihat pandang mata istrinya yang begitu terluka, Hana langsung berlari keluar.


Aditya menatap Karin dengan tatapan membunuh, darahnya terasa mendidih melihat perbuatan Karin yang sudah keluar batas.


Aditya mengejar istrinya dengan cepat sambil berteriak memanggil istrinya,


"Sayang..! berhenti..! dengarkan Mas dulu!


Hana tidak memperdulikan teriak suaminya ia masuk ke mobil dan menyuruh mang Ujang untuk segera pergi. Mang Ujang menjadi bingung karena ia di luar melihat Tuan Aditya mengejar istrinya.


" Cepat Mang! perintah Hana.


Akhirnya Mang Ujang melajukan mobilnya, Adit segera ke mobilnya untuk mengejar istrinya. Begitu duduk di mobil ponselnya berdering,


"Ada apa Al?

__ADS_1


" Segera kembali ke kantor Al, rekan yang dari kalimantan sudah menunggu mu!


"Batalkan saja aku ada urusan lebih penting!


"Mereka sore ini harus kembali ke kalimantan!


"Shiitt!! Baiklah, aditya melemparkan ponselnya.


Dalam mobil Hana menangis tersedu-sedu, mang Ujang tidak tega melihat majikannya menangis, ia heran ada masalah apa antara tuan dan nonanya. Tapi Mang Ujang juga tidak mau bertanya takut ikut campur urusan majikannya


Pikiran Aditya sungguh tidak berada di ruang meeting, ia hanya diam tidak banyak bicara. Aldo yang dari tadi memperhatikan sikap Aditya mencoba untuk mengambil alih semua bagian Aditya. Dan akhirnya meeting dapat berjalan lancar walaupun dengan keadaan Aditya yang terlihat kacau.


Aldo segera menahan langkah Aditya yang hendak keluar dari ruang meeting, ia menarik Aditya menjauh agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh sebagian orang yang masih berada di dalam ruangan,


"Kenapa kamu kacau sekali?, tanya Aldo heran.


Aditya menarik napas panjang kemudian membuangnya kasar. Ia pun menceritakan semuanya kepada Aldo, Aldo menggertakan tangannya menahan amarah,


" Wanita itu biar menjadi urusan ku! ucap Aldo dingin.


"Aku juga tidak ingin melihat wajahnya lagi!


***


dengan mata dan kepadanya sendiri.


Aditya mancari istrinya ke rumah sakit, tapi ia sangat kecewa karena tidak bisa bertemu dengan istrinya karena sedang sibuk, ia tahu itu hanya alasan istrinya untuk tidak mau bertemu dengannya. Kalau saja istrinya sekarang tidak lagi di ruang IGD mungkin ia akan memaksa masuk.


Lama Aditya menunggu tapi ia tidak menemukan istrinya, Aditya merasa sangat frustasi. Apalagi ia mendapat kabar kalau hari ini istrinya dinas malam. Akhirnya Ia memerintahkan pihak rumah untuk sakit mengosongkan satu ruangan di lantai atas untuk di jadikan kamar, beberapa pegawai rumah sakit nampak sibuk mengurusnya. Aditya memutuskan untuk ikut bermalam di rumah sakit.


Sudah tengah malam Aditya melihat istrinya berjalan ke ruangan istirahat, ia sangat sedih melihat keadaan istrinya yang terlihat sangat lemas, ia mencoba menyusul istrinya ia mengintip dari balik pintu istrinya berbaring di ranjang yang kecil, ia mengurungkan niat untuk berbicara dengan istrinya karena melihat istrinya sudah tertidur. Begitu Suaminya menutup pintu Hana membuka matanya, ia mencoba menahan untuk tidak menangis.


****


pagi harinya,


Hana berjalan pelan di Koridor rumah sakit ia ingin segera pulang mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lemas. Hana sangat terkejut tiba-tiba ada yang menarik tangannya,


'Sayang jangan menghindari Mas, Ucap Aditya pelan sambil menatap istrinya lembut.


Hana sangat sedih melihat penampilan suaminya yang terlihat kacau, suaminya bahkan masih memakai pakaiannya yang kemarin.


"Ayo kita pulang, ajak Aditya menggenggam tangan istrinya.


Hana hanya menurut ajakan suaminya, Aditya membukakan pintu mobil untuk istrinya, baru kemudian ia duduk di belakang kemudi, perlahan ia melanjutkan mobilnya. Aditya menatap istrinya yang memandang lurus ke depan, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Aditya mencoba manahan dirinya untuk tidak berbicara pada istrinya ia ingin menjelaskan semuanya nanti di rumah kepada istrinya.

__ADS_1


"Mas..., ucap Hana pelan sambil menatap suaminya.


Aditya menatap istrinya melihat wajah istrinya yang sangat pucat, Aditya menghentikan mobilnya,


" Kenapa sayang, tanya Aditya cemas sambil menanggkup kedua pipi istrinya.


Belum sempat Hana menjawab, muntahnya sudah meloncat dan mengenai baju suaminya. Aditya sangat panik melihat keadaan istrinya,


"Kita kembali ke rumah sakit ya sayang? ucap Aditya sambil membersihkan mulut dan pakaian istrinya. Aditya juga membersihkan tangan dan pakaiannya yang penuh dengan muntahan istrinya menggunakan tissue.


Hana menggelengkan kepalanya pelan, aku ingin pulang Mas, ucap Hana pelan.


" Tapi sayang..


"Mas aku mohon, aku ingin pulang ke rumah, ucap Hana pelan.


Akhirnya Aditya memutuskan untuk membawa istrinya ke rumah, Aditya menggendong tubuh istrinya ke kamar dan membaringkan nya di ranjang. Hana yang sudah lemas hanya menurut pada suaminya. Baru saja Aditya melangkah ke ruang ganti, ia melihat istrinya bangun dari ranjang dan melangkah sempoyongan sambil menutup mulutnya ke kamar mandi. Dengan cepat Aditya mengikuti istrinya, ia melihat istrinya yang sedang muntah lagi, Aditya mengurut tengkuk istrinya pelan.


"Sayang kamu kenapa, Mas panggil dokter ya? bujuk Aditya pada istrinya.


" Gak usah Mas, mungkin aku masuk angin aja, tolak Hana pelan


"Ya udah udah, Mas akan mengganti pakaian mu dulu, Hana hanya menganggukan kepalanya.


Aditya mendudukkan tubuh istrinya di atas closed. Aditya membuka pakaian dan melap tubuh istrinya, setelah mengeringkan tubuh istrinya dengan handuk Aditya mengangkat istrinya dan membaringkannya di ranjang lalu menutup tubuh istrinya dengan selimut, ia segera mengambil pakaian ganti untuk istrinya dan memakaikannya pada istrinya. Hana tidak dapat lagi menahan air matanya melihat sikap suaminya yang sangat perhatian kepalanya,


Apakah ini memang karena kamu menyukai ku, atau merasa kasihan padaku Mas.


"Sayang kenapa menangis, ucap Aditya pelan sambil mengusap air mata istrinya.


'Istirahatlah, Mas mau mandi dulu.


Hana hanya menganggukan kepalanya, ia menatap punggung suaminya yang berjalan ke kamar mandi.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2