
Aditya dan Aldo menunggu di pintu masuk IGD, Aditya mondar-mandir di depan pintu dengan gelisah, Aditya terlihat sangat kacau, Aldo yang sedang duduk, segera bangun dan menghampiri Aditya,
"Sebaiknya kamu duduk dulu, hampir satu jam kamu mondar-mandir seperti itu, berdoa saja semoga Hana dan bayimu baik-baik saja, ucap Aldo sambil memegang pundak Aditya.
Aditya pun menurut, mereka duduk di bangku yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk IGD, Aditya duduk dengan gelisah, ia meremas tangannya gelisah, terkadang ia mengepalkan tangan sambil menggigit jari-jarinya, ia merasa waktu begitu lama berjalan, semua pikiran terburuk berputar di kepalanya.
Dila keluar dari IGD, dengan cepat Aditya menghampiri Dila,
"Bagaimana keadaan Hana Dila? tanya Adit sangat kwatir.
" Suhu badan Hana sangat tinggi, itu tidak bagus untuk bayinya, tapi dokter sudah memberikan perawatan yang terbaik untuk Hana, semoga suhu tubuhnya cepat turun kembali, jelas Dila.
"Aku ingin masuk! seru Aditya sambil membuka pintu IGD.
" Dila mengikuti Langkah Aditya dari belakang, tim jaga yang ada di IGD hanya menatap Aditya,
Aditya menatap istrinya dengan pandangan penuh penyesalan, sungguh ia sangat terluka melihat kondisi Hana yang tidak berdaya seperti itu, bibirnya begitu pucat, ia perlahan memegang kedua pipi istrinya, lalu mendekatkan wajahnya, ia menciumi semua wajah Hana,
"Sayang bangunlah, Mas disini sayang, Mas minta maaf sayang, bisik Aditya lirih di telinga Hana sambil memegang tangan Hana yang satu lagi yang tidak terpasang infus.
Aditya mengusap perut istrinya yang mulai terlihat sedikit membuncit, wajah kuyu Aditya menggambarkan perasaannya saat ini, tapi penyesalan selalu datang terakhir, kalau seandainya ia tidak terbakar cemburu seperti itu dan mendengarkan istrinya sekali saja, mungkin Hana tidak akan seperti ini.
Aditya tidak tahu entah sudah berapa lama ia duduk sambil memandangi dan menggenggam tangan istrinya, berharap Hana membuka matanya, lamunan Aditya terhenti ketika seorang dokter menyapanya,
"Maaf Pak Aditya, saya ingin memeriksa kondisi istri Anda dulu, sapa dokter itu.
" Iya dokter, silahkan, jawab Aditya bangkit dari duduknya.
Aditya memperhatikan dokter yang memeriksa istrinya, mengukur suhu tubuh Hana, tidak lupa memeriksa kandungan Hana, Aditya mendengar suara hentakan seperti detak jantung saat dokter itu menempelkan sebuah alat ke perut istrinya,
"Itu suara detak jantung bayi anda pak Aditya, alhamdulillah kondisi baik-baik saja jelas dokter itu menatap Aditya sambil tersenyum.
Ada sedikit kelegaan dari wajah Aditya, sungguh tak dapat Aditya menggambarkan kebahagiaannya, setiap mendengar detak jantung bayinya selalu ada perasaan yang sangat sulit Aditya ungkapan dengan kata-kata.
"Suhu tubuh Hana sudah hampir normal kembali, sepertinya Hana sudah boleh masuk kamar perawatan, tambah dokter itu.
Beban berat yang menekankan dada Aditya sedikit berkurang, para perawat dengan segera mempersiapkan sebuah kamar perawatan VVIP yang akan ditempati oleh Hana.
***
Aldo dan Dila duduk di sofa, sedangkan Aditya duduk di sofa di samping tempat tidur Hana, lama mereka terdiam sampai akhirnya Aditya buka mulut,
"Sebaiknya kalian istirahat di kamar Hana di lantai atas, ini sudah sangat larut, biar aku disini menjaga Hana, ucap Aditya pelan.
__ADS_1
Dila dan Aldo pun mengiyakan, mereka segera keluar, tak ada yang berbicara sampai mereka tiba di kamar, Aldo segera merebahkan badannya di sofa dan memejamkan matanya, sedangkan Dila segera berjalan ke ranjang, sebelum naik ia memberikan bantal dan sebuah selimut kepada Aldo,
" Aldo ambilah ini, ucap Dila.
"Terima kasih, jawab Aldo sambil mengambil bantal dan selimut dari tangan Dila.
Dila hanya menganggukan sambil tersenyum, kemudian ia segera melangkah untuk mematikan lampu kamar, setelahnya ia pun segera merebahkan tubuhnya, tak lama keduanya segera tertidur karena memang mereka sudah sangat lelah.
****
Aditya menatap jam dinding yang ada dikamar, jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, ia masih betah duduk di samping Hana sambil menggenggam tangan istrinya, perlahan Aditya merebahkan kepalanya dikasur tanpa melepaskan genggaman tangannya, tiba-tiba tangan Hana dalam genggamannya bergerak, Aditya segera mengangkat kepalanya, dan memperhatikan wajah istrinya.
Hana mengerjapkan matanya, perlahan ia membuka matanya, Hana mendesis pelan karena merasa sangat pusing, ia kembali menutup matanya dan menggerakan kepalanya gelisah,
"Sayang, kamu sudah bangun, ucap Aditya pelan sambil mengusap pipi istrinya.
Mendengar suara suaminya, Hana kembali mencoba membuka matanya,
" Mas Adit, ucap Hana sangat pelan tapi bisa didengar oleh Aditya.
"Iya sayang, ini Mas, ucap Aditya mendekatkan wajahnya pada Hana.
Keduanya saling menatap, mata Hana berkaca-kaca, ia mencoba menyentuh pipi Aditya,
Aditya segera menghapus air mata istrinya, ia mengecup kening Hana lembut, lalu ia menempelkan keningnya ke kening istrinya,
"Mas yang salah sayang, maaf yang seharusnya minta maaf, ucap Aditya lirih.
" Gara-gara Mas, kamu harus menderita seperti ini.
Hana menangis sesegukan sambil menempelkan tangannya di dada Aditya, Aditya merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya, Hana membenamkan wajahnya di dada Aditya, sehingga air matanya membasahi kemeja yang dipakai Aditya, Perlahan Aditya melepaskan pelukannya,
"Jangan menangis lagi sayang, nanti bayi kita ikut sedih, ucap Aditya lalu mencium bibir istrinya lembut.
" Bagaimana bayi kita sayang, tanya Hana kwatir.
"Alhamdulillah bayi kita sehat sayang, tadi barusan dokter memeriksa detak jantungnya, kalau kamu masih kwatir besok kita cek lagi sama dokterdokter kandungan kita.
Hana pun mengiyakan sambil tersenyum senang, tiba-tiba senyum Hana pun berganti dengan tatapan sedih
" Mas, aku sungguh tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Rian, percayalah padaku Mas. Aku sangat mencintaimu Mas, ucap Hana menatap Aditya dengan pandangan sayu
Aditya mencium tangan istrinya, lalu berkata,
__ADS_1
" Iya Mas percaya sama kamu sayang, Aditya menghentikan bicaranya sebentar, lalu kembali melanjutkannya,
"Waktu dia memeluk kamu, ingin rasanya Mas menghajarnya saat itu juga, sungguh Mas tidak rela melihat ada pria lain menyentuhmu sayang, Mas sangat takut kehilangan mu, Mas sangat mencintaimu sayang, berjanjilah untuk kita akan selalu bersama, apa pun yang akan terjadi kedepannya, selalu tetaplah disisi Mas sayang. Hana hanya menganggukan kepalanya sambil menatap mata Aditya bergantian.
"Sekarang tidurlah kembali, biar cepet sembuh sayang, ucap Aditya membelai kepala Hana.
" Iya sayang, tapi aku ingin minum, aku haus,
"tunggulah sebentar Mas ambilkan, ucap Aditya sambil berlalu.
Aditya membantu Hana meminum airnya, kemudian ia meletakkan gelas itu kembali di tempatnya, ia kembali duduk di sofa menatap Hana yang telah memejamkan matanya,
" Sayang, panggil Hana membuka kembali matanya.
"Ada apa?
" Aku ingin tidur tapi dalam pelukan Mas, sahut Hana dengan tatapan memohon.
"Sayang, ranjang ini sangat kecil , nanti kamu tidurnya tidak nyaman,
" Ini cukup besar untuk kita berdua sayang, seru Hana pelan.
Melihat tatapan istrinya Aditya pun segera naik ke ranjang dan membaringkan tubuhnya disamping istrinya, Hana segera marangkul tubuh suaminya dan membenamkan wajahnya ke dada Aditya, perlahan Aditya mengusap lembut kepala istrinya, dan tidak lama ia mendengar suara napas istrinya yang mulai teratur, Aditya yang juga sudah lelah dan mengantuk tak lama pun segera terlelap sambil memeluk pinggang istrinya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Aduh babang Aditya, cemburu ny kelewatan, tu para readers jadi kesal sama babang Aditya 😁😁😁
pokoknya readers tenang aja, ntar Thor bilangin sama babang Aditya, biar cemburunya pakai logika😂😂😂
Salam sayang untuk readers 😘😘
__ADS_1