Istri Pilihan Mama

Istri Pilihan Mama
117 - BERDUA DI KANTOR


__ADS_3

Tinggal Laras dan Arga di lobby, Arga langsung menatap wanitanya, terpana melihat kecantikan sang istri yang mengenakan gaun putih dengan rambut terikat ke atas, dan anak rambut sengaja dibiarkan sedikit menutupi dahinya.


Baru kali ini Arga melihat Laras mengenakan gaun, membuat pria kaya itu terbengong dan terpesona melihat kecantikan alami Laras yang makin cantik berpuluh kali lipat dari biasanya.


"Kamu sungguh cantik sayang, setiap hari kamu terlihat semakin cantik," Arga berdecak kagum menatap istrinya tak berkedip dari ujung kaki hingga ujung rambut


"Cantik? apa benar mas?," Laras bertanya ingin tahu.


"Iya sayang, tidak ada orang yang tidak mengatakanmu cantik, istrinya Arga memang harus cantik, harus disesuaikan dengan Arga yang tampan dan juga kaya, hehe, hehe," pria sombong itu tertawa, berusaha belajar menciptakan humor di hadapan sang istri.


"Mas, humornya kurang lucu, kurang gemes," Laras tersenyum sambil mencubit pelan lengan suaminya.


"Biar saja kurang lucu, yang penting kamu masih bisa tersenyum, ini buktinya kamu tersenyum kan?," sahut pria kaya itu mengetuk pelan bibir Laras.


Laras hanya senyum simpul melihat tingkah pria berbadan tinggi itu.


"Ehem, ehem..," suara seseorang berdehem mengejutkan suami istri yang sedang asik mengobrol.


Pria itu yang tak lain adalah Rico, berjalan mendekati pasangan suami istri itu.


"Kapan kamu datang Ras?," pria itu bertanya, ikut berdiri di depan Arga dan Laras.


"Eh Co, baru saja," sahut Laras tersenyum ramah melihat kedatangan Rico.


"Angin apa yang membawamu kemari? pasti atas perintah tuan kaya ini kan?," Rico mengerlingkan mata ke Arah Arga.


"Tidak Co, aku yang menawarkan diri datang ke sini, mau mengantar makan siang untuk mas Arga,"


"Oh begitu, enak sekali kamu, sejak punya istri, semuanya serba disiapkan," Rico melirik Arga yang masih berdiri di samping Laras.


"Makanya jangan jadi perjaka tua terus, cari istri sana! jangan kerjanya hanya memantau rumah tanggaku saja," tukas Arga menyunggingkan senyum ejekan pada sang sahabat.


"Mas, tidak boleh begitu..," Laras menggoyang lengan Arga mendongak menatap pria tampan itu, melarang sang suami agar tidak menghina sahabatnya.


"Biarkan saja Ras, dia juga nyaris jadi duda tua dan hampir saja stress karena ditinggal istri, beruntung istrinya masih mau kembali pada pria sombong ini, kalau tidak, aku tidak tahu bagaimana nasibnya sekarang ini, haha, haha," Rico tertawa lepas, merasa puas karena telah membalas hinaan Arga.


Pria kaya itu terdiam, hanya matanya menatap tajam seakan ingin mengelupaskan serta mencabik-cabik tubuh asisten sekaligus sahabatnya itu.


"Ayo sayang, kita naik ke ruangan kita, tidak perlu melayani perjaka tua ini," ajak Arga merangkul pinggang Laras dan melangkah menuju lift untuk mengantarkan mereka ke lantai paling atas.


"Katakan pada Siska, jangan masuk ke ruanganku dulu kecuali jika aku yang memanggil, aku mau makan siang bersama Laras," pesan Arga yang telah masuk ke dalam lift.


"Aahh, alasan saja! makan siang atau makan apa?," rutuk Rico mencibirkan bibir ke arah Arga yang telah menghilang karena pintu lift telah tertutup.


Sesampai di dalam ruangan Arga, Laras terpana, mengelilingkan pandangan ke segala sudut, ruangan yang begitu luas, ada meja, sofa panjang, televisi, beberapa lemari, bahkan ada sebuah kamar pribadi untuk sang Presdir beristirahat.


"Ayo, duduklah sayang," Arga menggandeng Laras duduk di sofa yang tak kalah empuk dengan sofa di rumah mereka.


Laras meletakkan semua barang bawaannya seperti tas, wadah makan, satu paper bag beserta rangkaian bunga di atas meja, lalu ikut duduk di samping suaminya.


"Tolong lepaskan jasku," Arga mengulurkan tangan agar Laras membantu melepaskan jas-nya.


Sang istri menuruti permintaan suaminya, segera melepas jas lalu menggantungnya di sandaran sofa.


"Mas, mau makan sekarang?,"


"Iya boleh, aku juga sudah lapar,"


Wanita itu segera membuka wadah makanan.


Mereka pun makan bersama, penuh perhatian Laras menyuapi sang suami, si pria langsung menyantap dan mengecap rasa masakan Laras yang terasa begitu nikmat di lidahnya, wanita itu sengaja membawa porsi makan siang lebih banyak, karena dia juga ikut makan bersama Arga.


"Enak sekali masakanmu, ini salah satu yang membuatku takut kehilanganmu, aku takut tidak bisa makan seenak ini lagi," Arga berkata sambil terus menyantap makanannya dengan lahap.


"Benarkah? Mas pernah merasa takut kehilanganku? kapan?," Laras bertanya ingin tahu, seraya menyuapi kembali nasi ke dalam mulut Arga.


"Waktu kamu pergi dari rumah dan meninggalkan cincin serta kalung pernikahan, saat itu aku merasa hatiku ikut pergi bersamamu, terus waktu kamu meninggalkanku di pasar, saat itu hidupku terasa mati, aku takut sekali kamu tidak akan kembali padaku. Saat itu aku merasa sangat kehilanganmu dan membuatku merasa sangat sedih dan terpukul..," tutur Arga mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


Laras terpaku mendengar penuturan Arga, ditatapnya pria itu, lalu dibelainya wajah tampan itu.


"Apa benar yang mas katakan?," Laras menatap lekat netra laki-laki di sampingnya itu.


"Benar sayang, aku tidak pernah berbohong dengan perasaanku, aku merasa ada yang hilang saat kamu pergi meninggalkan rumah bahkan meninggalkan cincin dan kalung pernikahan kita, hatiku saat itu benar-benar hancur dan dipenuhi rasa sesal..,"


Laras terdiam, hening mendengarkan penuturan Arga. Sampai akhirnya wanita itu membuka suara.


"Saat itu hatiku juga benar-benar sakit mas, mas tidak pernah peduli dengan perasaan dan keadaanku bahkan mengundang wanita lain di rumah. Aku fikir mas tidak membutuhkan aku dan tidak akan pernah menerimaku menjadi istrimu, makanya aku memilih pergi, dan aku tidak tahu kalau ternyata mas merasa kehilanganku,"


"Iya, setelah kamu pergi, aku baru sadar kalau sebenarnya kamu sangat berharga dalam hidupku, aku belum pernah merasa kehilangan seperti itu setelah papa meninggal, aku baru merasakan kehilangan lagi. Untuk kedua kalinya aku merasa sangat kehilangan, karena itu aku bertekad mencari dan membawamu kembali ke rumah," tutur Arga menceritakan masa-masa sedihnya saat harus kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu kalau mas bersikap baik padaku, ada alasan membuatku memilih pergi..,"


"Iya sayang, aku tahu, itu semua salahku, sekarang jangan tinggalkan aku lagi, aku tidak akan mengulangi kesalahanku yang dulu," pinta Arga menatap sang istri.


Laras tersenyum menganggukkan kepala.


"Tidak akan mas, aku bukan wanita yang mudah meninggalkan pria kalau bukan karena sesuatu yang memang fatal,"


"Aku tahu, kamu wanita baik, tidak akan melakukan itu jika bukan karena terpaksa,"


Laras mengangguk membenarkan kata-kata Arga.


"Sudah kenyang belum? atau mau nambah lagi nasinya?," tanya wanita itu setelah melihat nasi serta lauk di piring telah habis.


"Tidak perlu, aku sudah kenyang,"


Laras mengambil tissue dan membersihkan sisa kuah balado di bibir sang suami. Lagi dan lagi pria tampan itu begitu tersentuh dengan semua pelayanan serta perhatian istrinya.


"Mas, boleh tidak aku masuk ke kamarmu?," Laras tiba-tiba bertanya sambil meraih paper bag dan tas-nya yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Tentu saja boleh, ini juga kamarmu, ayo masuklah," Arga menggandeng tangan Laras lalu membuka pintu masuk ke kamar.


Arga berfikiran jika sang istri akan mengajaknya mencari peluh lagi di atas tempat tidur seperti malam-malam kemarin, dengan senyum sumringah pria itu duduk di bibir tempat tidur, menunggu sang istri, sedangkan Laras masih berdiri.


Laras kembali mengedarkan pandangan ke ruangan kamar, ada tempat tidur beserta kasur empuk, lemari pakaian, sofa dan meja, lemari es serta televisi, kamar mandi juga ada di dalam kamar tersebut.


"Ayo mas, kita shalat Dzuhur dulu," ajak wanita itu.


Laras meletakkan paper bag serta tas-nya ke atas kasur, membuat Arga menjadi malu sendiri karena sempat berfikiran lain dengan maksud Laras mengajaknya ke kamar.


"Oh, ternyata kamu mengajakku ke kamar untuk shalat?," pria tampan itu nyengir kuda sambil menggaruk kepala.


"Iya, mas fikir apa?," Laras mengernyitkan dahi menatap curiga pada sang suami.


"Tidak ada, aku tidak berfikiran apa-apa," elak sang pria masih dengan menggaruk kepala.


"Aku tahu yang mas fikirkan, pasti mas mau meminta itu lagi kan?," Laras menertawakan Arga sambil menutup mulut dengan kelima jari.


Melihat sang istri tertawa, Arga tak terima, kemudian mencoba menarik wanita itu ke hadapannya untuk memberinya pelajaran.


"Mengapa kamu tertawa? apa ada yang lucu?," Arga menarik tangan Laras dan menariknya jatuh ke kasur, lalu menggelitiki perut wanita cantik itu.


"Mas, hentikan mas, iya maaf, aku minta maaf..," Laras mencoba menghindar dan menyingkirkan tangan Arga dari perutnya, namun pria itu justru memegang kedua tangan Laras menekannya ke kasur, lalu membaringkan dan menindih tubuh Laras, sehingga kini tubuh Laras telah tertimpa oleh tubuh besar laki-laki tampan itu.


Mata mereka saling berpandangan. Kepala Laras terdongak, mata redupnya menatap lekat pria yang berada di atasnya.


Perlahan-lahan Arga menundukkan wajah, mendekatkannya ke wajah cantik itu lalu menempelkan bibir ke bibir lembut milik Laras.


Untuk beberapa saat sang wanita tidak membalas ciuman itu, namun lama kelamaan refleks si istri ikut memejamkan mata meresapi ciuman lembut sang suami, kemudian bibirnya mulai bergerak membalas sentuhan bibir Arga.


Pria tampan itu terus mencium sang istri, dari bibir, leher, dan kini tangannya bergerak meraba bagian dada yang masih tertutup gaun.


Tiba-tiba sang wanita tersadar dan berusaha melepaskan tangannya yang dicekal dan ditekan Arga ke kasur, wanita itu menahan tangan prianya dengan tangan kiri agar tidak semakin liar menyentuh dadanya.


"Mas, jangan lakukan di sini," tatap Laras pada pria di atasnya.


"Mengapa sayang? ini kamar pribadiku, aku bebas melakukannya di sini," suara pria itu terdengar lirih.


"Tapi aku kurang nyaman melakukannya di sini. Ini kantor mas, bukan rumah atau hotel, ini tempatmu bekerja, karyawanmu juga keluar masuk ke ruangan ini. Rasanya kurang etis kita melakukan kegiatan pribadi di sini, aku merasa tidak nyaman kalau urusan ranjang dilakukan di kantor seperti ini. Aku mau tempat yang nyaman dan tenang seperti di rumah kita, aku malu kalau harus melakukannya di sini," ucap wanita itu yang masih berada di bawah, dihimpit tubuh sang suami.


Arga tertegun mendengar penjelasan Laras, pria itu sangat mengerti maksud serta rasa malu sang istri, pria itu langsung duduk dan ikut mengangkat tubuh Laras. Kini mereka duduk berhadapan.


Memang benar, Laras berbeda dengan wanita kebanyakan, yang jika disentuh akan langsung terbuai dan terlena bahkan terkadang wanita-lah justru yang sering duluan memancing nafsu para pria, seperti yang sering dilakukan Amellya padanya.


Namun berbeda dengan Laras, wanita itu masih bisa mengontrol hasrat serta gairahnya, dia lebih mengutamakan adab, norma serta sopan santun daripada mementingkan gejolak gairah dan hawa nafsunya.


"Kamu memang benar sayang, karyawanku pasti akan keluar masuk ke ruangan ini, aku tahu, kamu pasti merasa tidak nyaman melakukannya di sini,"


"Bagaimana kalau karyawanmu tiba-tiba ada yang mengetuk pintu? apa mas dan aku masih bisa melanjutkan dan menikmati kegiatan kita? kalau aku, aku jelas tidak akan menikmatinya lagi, dan aku pasti akan memilih berhenti, apa mas mau putus di tengah jalan seperti itu?," tanya Laras mencoba memberi pengertian pada suami tampannya.


"Aku pasti akan sangat tersiksa kalau sampai kamu memilih berhenti dan putus di tengah jalan..,"


"Kalau begitu, tempat ternyaman adalah di rumah kita, tidak akan ada yang mengganggu..,"


"Apalagi mas tahu, suara desahanku sering tidak terkontrol. Mas tidak mau kan kalau sampai karyawan laki-laki di luar sana mendengar ******* istrimu?..," Laras tertawa menutup mulut, menakuti sang suami.


"Tidak boleh, tidak ada satu orang pun yang boleh mendengar desahamu!," sungut pria itu tak terima menatap tajam istrinya.


"Iya, iya, hanya mas yang boleh mendengarnya, makanya jangan pernah memintaku untuk melayanimu di kantor ini," ucap wanita itu tersenyum menatap lembut pria tampan itu.


"Iya sayang, aku tidak akan melakukan ini lagi," pria itu menurut.


"Mas baik sekali, terima kasih sudah mengerti aku..," ucap Laras lalu mencium pipi Arga dengan cepat, ciuman kilat itu sanggup membuat sang suami terhibur dan tidak memaksa untuk melanjutkan kegiatan yang tidak pada tempatnya.


"Ayo, shalat mas," ajak wanita itu turun dari tempat tidur.


"Tapi sayang.., di sini tidak ada mukena," Arga bingung.


"Aku sudah membawanya dari rumah, aku juga telah membawakanmu sajadah serta peci khusus untuk di ruanganmu ini, jadi setiap hari mas bisa shalat menggunakan sajadah ini, aku mengambilnya di kamar, dari lemari pakaianmu," jelas Laras membuat Arga tertegun.


Pria itu tidak menyangka, sampai sejauh itu sang istri memikirkan perlengkapan shalatnya.


Laras membuka paper bag dan mengeluarkan mukena dari dalamnya serta dua lembar sajadah.


"Kamu memang luar biasa sayang," decak Arga kagum menatap Laras yang sudah membentangkan sajadah di lantai.


"Mas, ambillah wudhu'," suruh sang istri yang langsung dituruti oleh pria kaya itu.


Suami istri itu selesai shalat Dzuhur berjama'ah, sang istri mencium punggung tangan suaminya dan sang suami mencium dahi istrinya.


"Terima kasih sayang, kamu sudah membuatku kembali ingat pada kewajibanku menjalankan shalat lima waktu. Dan hari ini kamu juga sudah mengingatkanku untuk tidak meninggalkan shalat selama aku berada di kantor," ucap Arga mencium dahi istrinya.


"Iya mas, demi kebaikanmu, aku akan selalu mengingatkanmu," Laras malipat mukena dan sajadah lalu meletakkannya di lemari.


Kemudian Laras duduk bersandar di kepala tempat tidur dan Arga pun ikut duduk di sampingnya.


Arga merebahkan tubuh dan membaringkan kepala di paha sang istri.


"Kalau hanya seperti ini, bolehkan sayang?," gurau pria itu tersenyum, mendongak menatap wajah Laras yang ada di atasnya.


"Kalau hanya berbaring seperti ini, aku juga tidak akan melarang mas..," sahut Laras menoel hidung mancung Arga yang diikuti senyuman dari bibir suaminya.


"Apa kamu mengantuk sayang?," tanya Arga mengamati wajah Laras dari bawah.


"Aku belum mengantuk, mas mau tidur?,"


"Iya, aku tidur sebentar, kamu jangan kemana-mana, tetap di sini," pesan pria kaya itu.


"Iya, tidurlah," wanita itu membelai penuh kasih sayang rambut suaminya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Arga telah tertidur.


Laras meraih tas-nya yang tak jauh dari tempatnya duduk, dia mengambil handphone dan melihat ada pesan masuk di layar depan.


Pesan dari sahabatnya, Tina.


"Bagaimana, pas tidak gaun dan sandalnya?,"


Laras mengernyitkan dahi membaca isi pesan Tina, dia heran mengapa sahabatnya itu bisa tahu jika saat ini dia sedang memakai gaun serta sandal.


Rasa penasaran yang besar, membuat Laras menekan kontak Tina dan menelponnya.


"Hai, hai, hai, pengantin baru, bagaimana malam pertamanya? enak tidak? atau kamu malah menjerit? hik, hik, hik," suara di seberang terdengar sangat senang.


Laras tersenyum, menggelengkan kepala mendengar godaan Tina.


"Enak, makanya kamu cepat nikah," sahut Laras memanasi sang sahabat.


"Wah, wah, wah, jadi berapa ronde malam itu? suasana hujan di kampung, pasti Arga minta terus ya?," tebak Tina dengan tepat.


"Dua ronde, mau ronde ketiga sudah keburu subuh, mana aku juga sudah lelah..," jawab Laras tersenyum sengaja memanasi Tina sekaligus mulai curhat pengalamannya.


"Haha, haha, baru dua ronde saja kamu sudah lelah, pengantin baru yang lain itu ada yang sampai tujuh ronde, aman-aman saja kok," goda Tina tertawa keras.


"Itu sih mereka, bukan aku," jawab Laras tersenyum.


"Tapi besoknya, pagi, siang sampai sore tiga ronde lagi Tin, hik, hik," Laras mendadak tertawa menceritakan sejujurnya kisah malam pertamanya dengan Arga.


"Wah, wah, wah, sepertinya kalian berdua sangat menikmati malam pengantin kalian ya," decak Tina menggelengkan kepala.


Laras tersenyum.


"Oh ya Tin, tadi kamu tanya gaun dan sandalku, mengapa kamu bisa tahu?,"


"Aku yang pergi ke butik, semua aku yang memilihkan,"


"Oh pantas, semuanya pas di badanku, sandalnya juga semuanya pas, ternyata kamu di balik semua ini?," Laras tampak terkejut.


"Arga sangat mencintaimu Ras, aku bisa melihat dari caranya memenuhi semua kebutuhan kamu, ternyata ada Hikmah dari kejadian di awal pernikahan kamu,"


"Iya, Alhamdulillah Allah memberi yang terbaik untukku, setelah di awal memberi yang terburuk," sahut Laras tersenyum sambil menunduk menatap Arga yang tertidur di pangkuannya.


"Iya, aku ikut bahagia melihatmu bahagia Ras, tapi aku kadang rindu sama kamu..," suara di seberang terdengar sedih.


"Besok-besok kita ketemu dan jalan bareng ya, aku akan minta izin pada mas Arga," hibur Laras setelah mendengar suara sedih sang sahabat.


"Oke, benar ya, awas kalau kamu bohong!," sahut Tina senang.


"Iya, aku tidak akan bohong, aku janji!,"


"Oke deh, kalau begitu aku tutup dulu ya, salam buat Arga,"


"Oke, kamu hati-hati ya..," pesan Laras lalu mematikan handphone nya.


Laras kembali menunduk, memperhatikan pria yang tidur di pangkuannya, wanita itu tersenyum lalu membelai rambut tebal sang suami.


"Terima kasih mas, demi aku, kamu sudah berubah menjadi pria dan suami yang baik, tetaplah seperti ini selamanya..," gumamnya terus membelai rambut sang suami.


Sembari menunggu Arga bangun, Laras memainkan handphone, membuka YouTube.


Tiga puluh menit berlalu, Arga terbangun.


"Sayang, kamu tidak tidur?," tanyanya masih dengan wajah malas.


"Aku tidak mengantuk mas,"


Arga meraih tangan kanan wanita itu lalu mengusap-usapkan di wajahnya. Laras hanya tersenyum melihat kelakuan Arga.


"Mas, apa di sini ada air panas untuk menyeduh teh? aku mau membuatkanmu teh hangat," ujar Laras kemudian.


"Ada di pantry, nanti sekretarisku yang akan mengambilkannya,"


Arga beranjak dari rebahan dan duduk di samping Laras.


"Terima kasih sayang, sudah memberikan pahamu untuk menjadi bantalku," ucapnya mencium kening wanita itu.


Laras tersenyum menganggukkan kepala.


"Tunggu sebentar, aku akan menyuruh Siska mengambilkan air panas,"


Arga berjalan keluar kamar, menuju ke mejanya, lalu mengangkat gagang telepon dan menekan tombol angka, yang menyambungkan ke meja sekretarisnya.


"Siska, tolong ambilkan air panas, teh dan gula, antarkan ke ruangan saya sekarang,"


"Baik pak," sahut Siska menaruh gagang telepon, dengan raut wajah bengong dan melongo.


Sang sekretaris terkejut dengan kata "tolong" yang diucapkan Presdir nya, yang sudah hampir Empat tahun Siska bekerja di Perusahaan ini, belum sama sekali dia mendengar Boss nya itu mengucapkan kata "tolong" kepada karyawannya.


Dan si sekretaris sudah bisa menebak, pasti ada andil besar istrinya yang telah merubah Boss nya menjadi lebih sopan dan bicara lebih terarah.


Tak berapa lama, Laras telah selesai membuatkan teh hangat kesukaan sang suami.


Kini, pasangan suami istri itu sudah keluar dari kamar, dan duduk di sofa.


Arga menghirup teh buatan Laras.


"Teh buatanmu memang selalu enak, terima kasih sayang," ucap pria itu tersenyum senang menatap sang istri, yang dijawab dengan sebuah anggukan kepala dari Laras.


Semakin hari pria itu semakin mencintai Laras dan semakin ketergantungan dengan keberadaan sang istri.

__ADS_1


Hidup pria kaya itu kini semakin berwarna dan hatinya pun selalu merasa bahagia sejak Laras resmi memberikan hati, cinta, tubuh untuk dirinya.


...*******...


__ADS_2