
Satu bulan kemudian,
Nena terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya
putih, walaupun wajahnya sedikit gugup karena sebentar lagi ia akan berganti
status menjadi istrinya Rendi, Nena langsung tersenyum senang melihat
kedatangan Hana dan Dila,
“Ciee yang sebentar lagi ganti status, goda Hana
tersenyum.
“Hana, aku senang sekali kamu datang, aku gugup dan
deg-degan nih, ucap nena memegang dadanya.
“Wajarlah Nena, ini hal sacral yang akan kita lakukan
sekali seumur hidup, tapi kamu tenang aja Rendi pasti lancar kok ijab kabulnya,
berdoa aja ya, sahut Hana memegang lengan Nena, “Sekarang ayo keluar Rendi
pasti sudah tidak sabar ingin melihat pengantennya, lanjut Hana.
Tak berapa lama pengiring pengantin wanita datang ,
Nena melangkah dengan begitu anggun menuju tempat pengucapan akat nikahnya,
semua mata tertuju kepada pengantin wanita yang terlihat begitu sangat cantik,
Rendi begitu terpesona melihat Nena, rasa malu menyelimuti Nena membuat ia
tidak berani mengangkat kepalanya, gemuruh di dadanya semakin kencang berdegup.
Sementara Hana yang sudah duduk kembali di samping
suaminya berbisik ke telinga Aditya,
“jadi teringat waktu kita nikah dulu sayang, aku
begitu deg-degan bukan karena gugup tapi takut sama kamu, bisik Hana sambal
terkekeh. Aditya melirik istrinya itu lalu menggenggam erat tangan istrinya
Kalau seandainya waktu bisa di putar, aku
akan mengulang kembali waktu itu sayang,
Acara yang dinanti-nanti pun tiba , semua undangan
hening ketika rendi mengucapkan ijab Kabul,
Saya terima nikah dan kawinnya Nena Amalia Wijaya dengan Mas kawin tersebut
tunai!
“Bagaimana saksi?
Sah!
******
Hana sedang sibuk berdanda , semenjak selesai sholat
magrib ia sudah bersolek di depan cermin, Aditya hanya mengamati istrinya sambil
memakai jasnya, kemudian memeluk tubuh istrinya dari belakang,
“Sayang jangan berdandan terlalu cantik aku tidak
ingin ada pria lain yang menikmati kecantikan istriku, sahut Aditya. Hana
terkekeh mendengar ucapan suaminya, ia pun membalikkan tubuhnya, dan melingkarkan
tangannya di leher suaminya sambil tersenyum, perut buncit Hana memberi jarak
dirinya dengan Aditya,
“Aku berdandan cantik biar tidak dipandang sebelah
mata sama tamu di sana, masa suaminya tampan begini, istrinya jelek, aku tidak
mau ada wanita nanti mengoda suamiku, sahut Hana . Aditya terkekeh mendengar
ucapan isrtinya lalu mengusap lembut perut istrinya,
“Tidak ada wanita yang mampu membuatku berpaling
darimu sayang, ucap Aditya mengecup bibir Hana sekilas.
“Ayo kita berangkat sayang nanti kita terlambat, ajak
Aditya , Hana pun mengiyakan Aditya mengandeng tangan istrinya keluar dari
kamar.
****
Mereka tiba di Gedung dan terlihat sudah banyak tamu
yang datang, Hana melinggarkan tangannya di lengan suamianya, mereka pun
melangkah masuk, baru beberapa langkah mereka berjalan tiba-tiba ada yang
memanggil mereka, Aditya dan Hana memalingkan wajahnya, pasanagn itu segera mengahampiri mereka ,
“Hana kamu cantuk sekali, seru Dila memeluk Hana.
“Kamu juga sangat cantik, sahut Hana,” apakah kalian
sudah lama menunggu?
__ADS_1
“Belum, kita tinggal menunggu Frans, imbuh Dila.
Sambil menunggu mereka mengobrol dan tak lama orang yang mereka tunggu pun
datang, Mata Hana membulat sempurna begitu melihat pasangan Frans,
“Kamu rayu pakai apa adikku sampai mau pergi dengan
mu, sungut Hana sambal menatap tajam pasangan yang ada di depannya.”Lana kamu
baik-baik saja sayang, sahut Hana sambal memperhatikan adiknya itu.
“Kakak ipar ini ngomong apa sih, adikmu masih utuh dan
tersegel, aku menunggu halal dulu baru membuka segelnya ucap Frans cenggesan.
Sedangkan Hana melototkan matanya,
“Sayang biarkan saja mereka sudah dewasa, imbuh
Aditya.
“Kalau dia macam-macam tinggal potong aja asetnya,
sahut Dila,
“Kalian pacaran? Tanya Hana penasaran, Frans hanya
menyengir sambal menunjukan gigi putih rapinya,
“Kak Frans selalu mendesakku, hampir tiap hari dia
nyamperin aku ke kampus, ya udah akhirnya aku terima aja, sahut Lana polos.
“Sudahlah ayo kita masuk, nanti acaranya keburuh
mulai, ajak Aditya, ia pun menggandeng tangan istrinya.
****
Mereka sampai di dalam ketika acara pesta hampir di
mulai, Nena terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantinnya dan Rendi terlihat sangat tampan dengan tuxedo
warna putih serasi dengan gaun Nena, senyum kebahagian tidak lepas dari bibir
kedunya, kedua pengantin begitu menikmati setiap rangkaian acara pesta.
Aditya melirik istrinya yang berdiri di sampingnya
yang terlihat begitu menikmati acara,
“Sayang kita belum melakukan resepsi pernikahan,
apakah kamu juga ingin kita melakukannya, tanya Aditya.
Hana melirik suaminya dengan tatapan heran,
ada pengantin berperut buncit seperti ini, sahut Hana terkekeh.
“Kita bisa melakukannya setelah kamu melahirkan, ujar
Aditya.
Hana menatap suaminya itu intens,”sayang aku tidak
perlu resepsi atau apapun itu, aku sudah Bahagia dapat menikah denganmu.
Percakapan mereka terhenti begitu Frans dan Lana menghampiri mereka,Tak lama
Aldo dan Dila pun datang menghampiri, ketika mereka asyik mengobrol Rendi dan
Nena menghampiri,
“Wuiih pengantin baru , anget nih, sapa Frans. Semua
tertawa mendengar ucapan Frans,
Hana memeluk Nena begitu pun dengan Dila,
“Nena kamu terlihat sangat cantik, seru Hana girang.
“Kalian berdua juga sangat cantik malam ini, imbuh Nena tersenyum.
Mereka bergantian mengucapkan selamat kepada Rendi dan
Nena,Mereka mengobral terlihat begitu senang, beberapa kali terdengar tawa
mereka dari selah obrolannya, mereka tak henti menggoda penganti baru itu,
“Semoga setelah ini Aldo dan Dila menyusul, seru Rendi,
Keduanya hanya tersenyum mendengar ucapan rendi.
“Nanti malam langsung setoran ya biar bisa cepat
menyusul kita, goda Aditya sambal memegang perut buncit istrinya, Rendi
langsung tertawa mendengar perkataan, sedangkan Nena tersenyum malu mendengar
perkataan Aditya.
“Sayang aku capek nih berdirinya dan juga lapar, ujar
Hana pada Aditya,
“Iya kasihan bumilnya dari tadi berdiri terus ,
sebaiknya kita acari meja sekalian makan, ajak Rendi. Mereka pun mencoba
mencari tempat untuk duduk diantara kerumuman tamu yang begitu ramai, mereka
segera mendudukan tubuhnya begitu menemukan bangku, Rendi dan nena pun pamit
__ADS_1
untuk menyapa tamu lain, sedangkan mereka segera menikmati menu yang telah di
siapkan oleh penyelenggara pesta.
****
Nena masih mematung diam di kamar mandi sudah lebih
lima belas menit ia berdiam diri setelah mandi dan berganti pakaian, sampai
tergengar teriakan Rendi dari luar,
“Sayang, kenapa lama, aku juga mau mandi nih ,seru
Rendi.
“Iya, sebentar, jawab Nena, akhirnya dengan mengumpulkan
keberaniannya Nena membuka pintu kamar mandi, Rendi memandang istrinya itu yang
keluar dengan menundukkan kepalanya, melihat istrinya yang malu, Rendi semakin
tertarik untuk menggodanya,
“Aduh istriku begitu wangi, dan terlihat begitu
seksi, kamu sengaja ya ingin menggodaku, kamu sudah tak dabar ingin
melakukannya ya, goda Rendi sambil berjalan kea rah Nena.
Mendengar ucapan Rendi membuat Nena panas dingin,
Rendi semakin tersenyum usil meliahat wajah istrinya yang sudah merona karena
malu,
“Tunggulah sebentar sayang aku mandi dulu, ujar Rendi
sambil melangkah ke kamar mandi.
Melihat Rendi sudah masuk ke kamar mandi Nena langsung
naik ke ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, ia sangat
deg-degan dan malu, apalagi tak lama ia mendengar pintu kamar mandi terbuka, ia
semakin megeratkan selimutnya,
Perlahan ia meraskan seseorang yang sedang naik ke
ranjang, dan menarik selimutnya, dan ia melihat Rendi yang bertelanjang dada
berada di depannya dengan posisi yang sangat dekat,
“Kenapa bersembunyi, ucap Rendi mengusap bibir Nena
dengan ibu jarinya. Nena hanya menggelengkan kepalanya, membuat Rendi tersenyum
melihat tingkah istrinya itu,
“Apakah kamu malu? Tnya Rendi, Nena kembali
menganggukan kepalanya, “kenapa harus malu, kita kan sudah menikah .
“Aku merasa aneh sekamar dengan lelaki, sahut Nena
pelan, yang membuat Rendi terkekeh mendengarnya,
“Mulai sekarang kita bukan hanya berbagi kamar sayang
kita juga akan berbagi ranjang, dan berbagi yang lainnya, ucap Rendi, yang
kembali membuat wajah Nena kembali memanas,
“Aku akan mengajari kamu biar tidak malu lagi sayang,
ujar Rendi mulai menghimpit tubuh Nena, “ Ini adalah hal yang pertama bagi
kita, kecuali bibir ini aku sudah pernah mencobanya sekali, ucap Rendi mengusap
bibir Nena lembut,
“Dan ini untuk kedua kalinya, ucap Rendi, ia langsung
melumat bibir Nena lembut.
Bukan hanya bibir, malam itu Rendi menikmati setiap
inci tubuh Nena, membuat mereka merasakan kenikmatan yang belum perna mereka
rasakan, teriak kesakitan Nena saat Rendi mulai memasuki tubuhnya, bertanda ia
telah menyerahkan dirinya seutuhnya kepada suaminya. teriak kesakitan itu pun berganti dengan desahan dan
erengan keduanya saat mereka mengejar puncak kenikmatannya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1