
Jangan lanjutkan membaca novel ini ya, jika kalian tidak memberi support.
Subscribe, Bintang 5.
Menulis itu lelah, jika gak ada support dari kalian tp kalian tetep membacanya. Gak adil untuk kami para Penulis. Bener kan? Coba deh kalian yg nyobain JD penulis. Novel kalian dibaca terus sama pembaca tapi gak diberi support. Gimana rasanya? Enak gak? ðŸ¤
*****
Kelima orang itu masih berdiri mengelilingi Laras dengan tatapan mata menghina serta senyum yang sinis.
Dan Laras pun masih tetap memandang dengan muka datar dan sorot mata tajam tak berkedip ke arah Lima orang yang sudah memasuki rumahnya tanpa permisi, masih ingat jelas di benak wanita itu, perlakuan buruk mereka dulu terhadapnya.
Ema yang semakin geram melihat tatapan tajam Laras, langsung berjalan lebih mendekat ke Laras, namun Laras sedikit mundur menjauhi wanita jahat itu, dia tahu perlakuan Ema selama dia menjadi istri Athar tidak pernah baik dan dia tidak mau hal serupa terjadi lagi kepadanya di hari ini.
"Heh! janda! darimana kamu dapat uang membangun rumah jelekmu ini menjadi seperti sekarang?," tanya Ema kembali menatap Laras dengan muka bengis.
Laras tetap diam, hanya sorot matanya tidak bisa menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya, sorot mata wanita itu menunjukkan kebencian pada orang-orang di hadapannya.
Orang-orang yang dulu selalu menghina bahkan hingga detik ini sikap mereka tetap sama, tidak ada perubahan sedikit pun.
"Heh! Mengapa kamu diam saja? apa kamu bisu dan tuli?," tanya Ema kembali, semakin berang melihat Laras seakan sengaja diam tidak menggubris dan tidak menjawab pertanyaannya.
"Dia itu bisu ma, lihat saja mukanya terlihat sangat bodoh, bisa-bisanya papa menikahkan aku dengan wanita dungu seperti dia!," timpal Athar terbahak.
"Papa menikahkan kamu ada alasan yang kuat Thar, apa kamu lupa? waktu itu Amy tidak bisa hadir saat acara akad nikah karena dia disekap oleh mantan pacarnya. Mantan pacarnya sengaja menyekap Amy supaya kalian batal menikah. Setelah tiga bulan barulah Amy bisa menyelamatkan diri dari sekapan itu, beruntung Amy hanya disekap, tidak dilecehkan, makanya papa terpaksa menikahkan kamu dengan wanita bodoh ini. Kalau bukan karena alasan yang kuat, papa juga tidak sudi punya menantu keturunan miskin seperti dia!," Hermanto ikut menimpali.
Sementara dua wanita lainnya, Amy, yang berumur 26 tahun dan Vera, gadis 23 tahun itu ikut tertawa mendengar penuturan Hermanto yang mengatakan Laras adalah wanita bodoh dan miskin.
"Ras, kamu itu aneh ya, berharap mas Athar sungguhan mau menjadikan kamu istri, itu tidak akan terjadi Ras, selamanya cinta mas Athar itu hanya untuk aku. Kamu itu terlalu percaya diri bisa membuat mas Athar jatuh cinta padamu, sungguh memalukan!," Amy yang sedari tadi diam, akhirnya buka suara, ikut menghina mantan sahabatnya.
"Kasihan sekali nasib mantan kakak iparku, mas Athar saja tidak mau denganmu apalagi laki-laki lain, sampai sekarang pasti tidak akan ada laki-laki yang mau menjadikan kamu istri!," Vera tak ketinggalan ikut merendahkan Laras.
Serempak kelima orang itu tertawa lebar, raut wajah mereka begitu senang mengolok serta menghina Laras, hanya saja ada yang belum mereka ketahui dengan siapa mereka berhadapan saat ini, seorang wanita sederhana istri dari seorang CEO kaya raya dan tampan.
"Heh! janda jelek! dari tadi kamu tidak menjawab pertanyaanku! apa kamu sekarang memang bisu? siapa yang merenovasi rumah reyot-mu ini? jawab pertanyaanku!," teriak Ema tak hentinya bertanya, kali ini dia semakin maju mendekati Laras.
"Aku tahu ma.., aku tahu.., pasti dia habis jual diri biar dapat uang banyak untuk membangun rumah tua-nya ini hingga berubah mewah seperti ini!," sambung Athar menjelaskan.
"Haha, haha, haha,"
Serempak kelima orang itu tertawa, saking senangnya, sampai bahu mereka terlihat bergoncang.
Pada saat kelima orang itu tengah asik menertawakan Laras dengan mulut mereka yang terbuka lebar, tiba-tiba...
"Byuur, byuur, byuur, byuur, byuur..,"
Arga telah berdiri membawa ember berisi air, menyiram satu persatu mulut kelima orang itu secara bergantian dengan menggunakan gayung.
Sehingga kelimanya secara bersamaan terbatuk-batuk dan berusaha memuntahkan air dari dalam mulut mereka, apalagi air itu terasa bau dan aromanya menyengat, tercium tidak sedap.
Saat kelimanya masih terbatuk-batuk, Arga kembali menyiramkan satu gayung lagi ke muka mereka satu persatu secara bergantian.
Kini muka, mulut dan rambut kelima orang sombong itu menjadi basah dan berminyak sampai ke pakaian mereka ikut basah dan menjadi lengket.
Tadi saat selesai mandi dan sudah mengenakan pakaian, celana selutut dan kaos hitam pendek, Arga mendengar ada suara-suara keributan di teras dan dia berjalan ke ruang tamu mengintip dari balik gorden.
Matanya membelalak merah melihat istrinya diperlakukan dengan kasar oleh kelima orang yang secara bergantian menghina Laras, darah Arga mendidih, rahangnya merekat dan tangannya mencengkeram keras gorden jendela.
Pria kaya itu secepat kilat pergi ke dapur, mengambil satu ember air lalu memecahkan sepuluh butir telur kemudian memasukkan ke dalam air tersebut beserta kulit telurnya, tak lupa pria pintar itu mencampur air di dalam ember dengan minyak goreng bekas Laras menggoreng cumi yang masih ada di dalam wajan.
"Apa-apaan ini! siapa kamu beraninya menyiramku!," teriak Ema marah menghapus tetesan air berbau tidak sedap di mukanya lalu langsung mengalihkan pandangan ke arah Arga.
"Aku yang seharusnya bertanya pada kalian! Siapa kalian? orang gila dari mana yang berani masuk ke rumahku!," suara Arga menggelegar mengejutkan kelima orang yang tadi telah mengolok dan menghina Laras, pancaran matanya penuh kemarahan menatap kelima orang di depannya satu persatu.
Arga melihat Ema masih berdiri tak jauh dari sang istri, hanya kepalanya menoleh ke arah Arga dengan sorot mata tajam penuh kebencian.
"Berani sekali kamu wanita tua menatapku seperti itu! hah! kamu belum tahu siapa aku!," bentak Arga dengan mata merah serta melotot.
Dengan langkah panjang Arga segera mendekati Ema kemudian mencengkeram muka mantan mertua Laras dengan sekuat tenaga, rasanya dia ingin sekali menghancurkan mulut wanita jahat itu.
Arga meremas rahang Ema, sehingga wanita itu tampak menjerit kesakitan.
"Lepaskan! lepaskan aku!," pekiknya sambil berusaha mencekal lalu menepis tangan Arga supaya terlepas dari mukanya.
Namun bukannya terlepas, cengkeraman tangan Arga semakin keras meremas rahang Ema sehingga mulut wanita itu terlihat menganga ke depan.
__ADS_1
Athar maju mendekati Arga berniat membantu Ema dari cengkeraman pria itu, namun melihat musuh sedang berjalan ke arahnya dengan cepat Arga melayangkan kaki ke perut mantan suami Laras itu, menendangnya dengan keras, Athar jatuh tersungkur di dekat ban mobil yang terparkir.
Arga kembali memfokuskan diri ke wanita yang telah menghina Laras, pria itu sedikit mengangkat rahang Ema ke atas sehingga wanita itu semakin terpekik lalu menyeretnya berjalan ke luar pagar dan membanting tubuh wanita itu keluar.
"Byuuuur"
Sekali lagi Arga menyiram muka Ema dengan air campuran telur dan minyak bekas cumi goreng tepat di wajah wanita jahat itu yang telah terkapar di tanah.
Athar segera bangun, mukanya tampak begitu marah melihat ibunya diperlakukan seperti itu, begitu pun dengan Hermanto, dia tak terima Arga memperlakukan istrinya sekasar itu.
Spontan secara bersamaan keduanya berlari mendekati Arga dan memegang kedua tangan pria besar itu dari arah samping kanan dan kiri, sehingga ember yang tadi dipegang Arga terlepas dari tangannya.
Laras yang melihat keadaan sang suami tengah terancam, langsung berteriak cemas.
"Mas, hati-hati!," pekiknya memperingatkan Arga dengan raut wajah penuh kecemasan.
Kedua pria itu serentak menarik tubuh Arga dengan maksud ingin membanting dan menjatuhkannya ke lantai, namun tidak semudah itu bisa menumbangkan tubuh menjulang serta kokoh si tuan kaya.
Arga dengan seluruh kekuatan yang ada, menarik balik kedua pria yang memegang tangannya, sehingga terjadilah tarik menarik, dua lawan satu, namun dengan gerakan cepat Arga melayangkan kaki panjangnya menghantam perut kedua pria itu secara bergantian.
"Brukkgg! Brukkgg!"
Hantaman keras telah mendarat di perut Athar dan Hermanto, sehingga tak dapat ditahan lagi, tubuh anak dan ayah itu terlepas dari tangan Arga lalu terjatuh ke lantai.
"Aku akan memberi kalian pelajaran dengan tanganku sendiri! seumur hidup kalian pasti akan mengingatnya!," teriak Arga penuh kemarahan, masih terngiang di telinganya perkataan yang diucapkan Athar dan Hermanto kepada Laras beberapa menit lalu.
Pria tampan itu semakin marah tatkala mengingat semua penghinaan mereka kepada Laras, ingin rasanya dia menghabisi kelima orang itu sampai tak meninggalkan jejak sedikit pun.
Arga tidak membuang waktu, dia langsung mendekati Athar dan Hermanto yang masih tersungkur, menarik rambut mereka lalu menyeret tubuh keduanya supaya merapat, lalu dengan mudahnya pria tampan itu membenturkan kening Athar dengan kening Hermanto, begitu keras.
"Duugkk, Duugkk"
Arga membenturkan kening orang-orang yang telah bermulut serta bersikap jahat kepada sang istri.
"Aaahhh! aduuuhh!"
Athar dan Hermanto berteriak kesakitan, kepala mereka saling beradu keras, saling menghantam satu sama lain.
Tidak puas dan tidak cukup hanya sekali benturan, Arga kembali membenturkan kepala keduanya berkali-kali hingga kening mereka terlihat biru memar dan kulit kening mereka sedikit terkelupas lalu keduanya jatuh terkapar di lantai dengan suara rintihan sambil memegangi kepala masing-masing.
Arga kembali berjalan mendekati kedua wanita yang belum diberinya pelajaran karena telah berkata kasar kepada Laras.
"Aku tidak akan memaafkan orang-orang yang telah berani memasuki rumahku!," Arga mengalihkan mata tajamnya ke arah Amy dan Vera.
Amy dan Vera yang menyadari Arga tengah mengincar mereka, menjadi ketakutan.
Dengan cepat mereka berlari keluar pagar, tetapi belum sempat tubuh mereka keluar dari pagar, Arga telah menjambak rambut kedua wanita itu lalu menariknya dan membantingnya ke kaki Laras, sehingga kedua wanita itu telah terjerembab di kaki Laras.
Laras terperanjat melihat semua yang dilakukan Arga, dia tahu jika suaminya saat ini sedang benar-benar marah dan emosi.
Arga berjongkok di depan kedua wanita itu, lalu kedua tangannya mengapit rahang Amy dan Vera dengan sangat keras.
Kedua wanita itu berteriak menahan sakit akibat cengkeraman tangan Arga yang dengan sengaja semakin memperkeras cengkeramannya.
"Ampun, lepaskan aku!," pinta Vera memohon.
"Tidak akan ada ampun untuk wanita bermulut jahat seperti kalian!," desis Arga geram.
Tak cukup sampai di situ, setelah merasa puas mencengkeram rahang kedua wanita jahat itu dan memberinya pelajaran, Arga mengambil ember yang masih ada sisa air sedikit lalu menyiramkan kembali ke muka Amy dan Vera.
"Byuuur, byuuur"
"Tolong ampuni kami tuan," kini Amy yang ikut memohon dengan mukanya yang tampak kotor terkena siraman air telur.
"Apa kalian tahu kesalahan kalian?!," bentak Arga kepada kedua wanita yang masih terduduk di dekat kaki Laras.
"I-iya, kami tahu kesalahan kami, maafkan kami tuan, kami telah lancang masuk ke rumah tuan dan menghina Laras, aku mohon lepaskan kami," Amy merintih dan memohon supaya Arga melepaskan mereka.
Arga menarik rambut kedua wanita itu dan menyeretnya lalu melempar mereka keluar pagar hingga terjatuh tepat di atas tubuh Ema yang masih duduk terkulai di tanah.
"Keluar kalian dari rumahku! manusia kotor seperti kalian tidak pantas menginjakkan kaki di rumah ini!," Arga mendesis melihat ketiga wanita itu telah terduduk di tanah.
"Aduuh, sakit, kalian menimpaku!," teriak Ema berusaha melepaskan diri dari tubuh kedua wanita yang berada di atas tubuhnya.
Kini ketiga wanita itu, duduk saling berdempetan, dengan muka ketakutan memandang ke arah Arga, wajah mereka pucat pasi dan tubuh mereka telah basah serta berbau amis.
__ADS_1
Arga berjalan mendekati ketiga wanita itu lalu sedikit memelintir tangan ketiganya secara bergantian.
"Kalian tetap di sini! jangan berani berdiri dari tempat kalian! kalau kalian berani bergerak, maka aku akan mematahkan tangan dan kaki kalian! faham?!," bentak Arga memberi perintah.
"Fa-faham..," ucap ketiganya bersamaan dengan raut wajah pucat, menahan rasa sakit di tangan, nasib mereka masih beruntung karena Arga tidak memelintir tangan mereka hingga patah.
Arga melangkah masuk ke pagar, lalu menarik rambut Athar dan Hermanto yang masih meringis dan meringkuk di keramik lantai.
Dengan terhuyung-huyung keduanya memaksakan diri untuk berdiri dan mengikuti langkah Arga keluar pagar.
"Keluar kalian dari rumahku! kalau sampai kalian berani masuk ke sini lagi, maka kalian akan rasakan akibatnya!,"
"Bruugkhh, bruugkhh"
Arga melempar tubuh kedua pria itu ke arah ketiga wanita yang mana telah terduduk lemas di tanah.
"Aduuuhh!"
Ema, Amy dan Vera mengaduh saat tubuh Athar dan Hermanto menimpa tubuh mereka.
"Sayang, kemarilah..," Arga memanggil Laras yang masih berdiri mematung dengan perasaan tak kalah cemas dan takut.
Laras pun berjalan mendekati Arga, dan pria tampan itu langsung merangkul pinggang Laras lalu mengajaknya berdiri di depan kelima orang yang terduduk lemas di tanah.
"Kalian tahu, siapa yang telah kalian hina ini? dia adalah istriku!," sentak Arga dengan suara yang terdengar bergaung.
Kelima orang yang masih terkulai lemas di tanah menjadi terperanjat, mata dan mulut mereka membulat lebar, kepala mereka terdongak menatap ke arah Arga dan Laras, mereka seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan laki-laki kejam di depan mereka.
"Dan kalian tahu siapa aku? aku adalah pemilik Perusahaan PT. Satya Wibawa Group. Dan aku adalah suami dari wanita yang kalian hina ini. Dan rumah ini bukan hasil istriku menjual diri, tapi aku yang membangunnya dengan uang dan kekayaanku yang melimpah, jangankan hanya untuk membangun rumah ini, rumah kalian pun aku bisa membeli dan merobohkannya dalam sekejap! kalian faham!," ucap Arga kembali menyentak indera pendengaran kelima orang tersebut.
Athar, Hermanto, Ema, Amy serta Vera terperanjat bukan kepalang, mereka tidak menyangka jika mereka berhadapan dengan seseorang yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis, yang sering muncul di televisi bahkan di internet.
Selama ini mereka sudah sering mendengar nama perusahaan PT. Satya Wibawa Group, tetapi baru kali ini mereka melihat langsung sang pemilik perusahaan, yang ternyata selain tampan dan kaya, tetapi juga memiliki tenaga yang kuat dan sulit dilumpuhkan.
"Aku juga akan memberi pelajaran kepada mulut kalian yang telah berani menghina istriku!,"
Arga memungut dan mengumpulkan kulit telur yang berserakan di tanah, lalu memasukkan paksa kulit telur ke mulut ketiga wanita itu.
Ketiganya pun kembali terbatuk-batuk dan berusaha memuntahkan kulit telur yang telah memenuhi rongga mulut mereka.
"Ini pelajaran untuk kalian! jika kalian berani menghina apalagi mengganggu istriku, aku akan memberi kalian pelajaran yang lebih kejam dari pada ini!," Arga membentak semakin keras.
Nyali kelima orang itu seketika menciut, tidak berani melakukan perlawanan apalagi mengeluarkan kata-kata hinaan lagi.
"Kalian telah menyakiti istriku, dan aku yang akan membalasnya!," geram Arga, lalu melayangkan pukulan ke muka Athar dan Hermanto, masing-masing satu kali pukulan mendarat di muka mereka.
"Ini adalah hukuman karena kamu telah memaksa istriku untuk menikah dengan anak iblismu ini! dan ini juga hukuman karena kamu telah menceraikan istriku tanpa tahu apa kesalahannya!," Arga kembali bergilir melayangkan satu pukulan ke muka Athar dan Hermanto.
"Aduuh ampuun tuan!" teriak Hermanto memegangi mukanya.
"Aku tidak akan memaafkan orang-orang yang telah menghina serta menyakiti istriku!! Berlutut sekarang! minta maaf pada istriku! berlutut kataku!" bentak Arga berang.
Dengan tenaga yang hampir habis, kelima orang itu berusaha mengubah posisi duduk kemudian berlutut di kaki Laras.
"Laras maafkan kami, kami menyesal telah bersikap jahat padamu, kami tidak akan mengulanginya lagi, ini terakhir kali kami menghinamu, tolong katakan pada suamimu, lepaskan kami..," ucap Ema tersedu dan menghiba, wanita itu merasakan sakit di rahang serta tangannya.
Laras hanya diam, memandangi kelima orang yang berlutut di kakinya, tidak ada kata yang terucap, hanya matanya yang tak lepas mengamati orang-orang di masa lalu, yang telah mendzalimi dirinya.
"Sekarang pergi dari sini! jangan pernah kalian memperlihatkan wajah kalian di sini!, cepat pergi!," bentak Arga yang membuat kelima orang itu bergidik, dan berusaha keras berdiri lalu tertatih berjalan memasuki mobil.
Hanya butuh waktu Dua menit, mobil itu pun telah melesat pergi meninggalkan istana mungil milik Laras.
"Mas, tidak apa-apa kan?," Laras segera memeriksa tangan serta tubuh Arga.
"Aku tidak apa-apa sayang, aku justru mengkhawatirkanmu, maafkan aku, tadi aku datang terlambat..," ucap Arga mengusap wajah Laras.
"Mengapa mas harus minta maaf? aku malah berterima kasih padamu karena datang di waktu yang tepat..," ucap Laras memeluk sang suami.
Arga tersenyum membelai rambut Laras lalu mengajaknya masuk dan membantu sang istri membersihkan tumpahan air yang mengotori teras rumah.
Sementara, Athar, Hermanto, Ema, Amy serta Vera yang sedang di jalan menuju pulang ke rumah, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka temui tadi.
Ternyata Laras yang mereka anggap miskin dan hina telah menikah dengan laki-laki kaya dan juga tampan.
Kelimanya merasa sangat malu dan menyesal karena telah menganggap Laras sebagai wanita bodoh dan miskin, pada kenyataannya, Laras adalah wanita kaya raya namun tetap tampil sederhana dan apa adanya.
__ADS_1
...*******...