
Bab ini aku bikin untuk penuhi request salah satu pembaca, minta Tina dan Rico nikah dulu, baru deh di END_in.
Semoga sesuai harapan ya...
*****
Dua bulan kemudian.
Hari Jumat, pukul 09:00 WIB.
Senyum bahagia terlukis di bibir ke empat sahabat itu.
Tampak seorang wanita cantik tengah berdiri dengan senyuman yang tak hentinya terukir di bibir.
Wanita itu terlihat sungguh menawan dan anggun dengan balutan gaun panjang hingga mata kaki berwarna merah maroon dan sandal heels 10 cm yang menghiasi kaki jenjangnya.
Rambut panjangnya digulung dan ditata sedemikian rapi dengan anak rambut dibiarkan sedikit menutupi kening, wajahnya hanya diberi polesan bedak sederhana serta lipstik tipis di bibirnya, namun tetap tidak mengurangi kecantikan alami yang terpancar dari wajah penuh kesederhanaan itu.
Wanita itu adalah Laras, sahabat karib sang mempelai wanita, Tina.
Arga pun terlihat sangat tampan memakai baju batik tangan panjang dengan warna merah maroon, senada dengan gaun sang istri, dipadu dengan celana bawahan serta sepatu kulit berwarna hitam.
Tina, sang pengantin wanita pun tak kalah cantiknya dengan Laras, terlihat mengenakan kebaya putih dengan riasan maxe up pengantin yang tampak begitu sempurna, semakin menambah kecantikan wajah gadis itu.
Rico yang berdiri berdampingan dengan Tina, tampak begitu gagah dan tampan, mengenakan setelan jas berwarna putih senada dengan kebaya sang pengantin wanita.
Kedua mempelai baru saja selesai melaksanakan Ijab Qabul.
Dan saat ini Rico dan Tina sudah sah menjadi suami istri, senyum bahagia terpancar di wajah keduanya, keduanya kini sedang bersalam-salaman dengan seluruh tamu.
Setelah cukup lama berdiri menyalami semua tamu, tiba giliran Laras dan Arga.
"Selamat ya Tin, aku ikut bahagia dan selalu mendoakan yang terbaik untuk pernikahanmu, mudah-mudahan langgeng, saling menyayangi hingga kakek nenek, Aamiin..," ucap Laras memeluk sang sahabat dengan wajah berseri ikut merasakan kebahagiaan Tina.
"Aamiin, makasih ya Ras, semoga doamu dikabulkan Allah..," Tina memeluk Laras yang sudah seperti adiknya itu dengan sangat erat.
Arga juga terlihat memeluk Rico, asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Mulai sekarang aku sudah tidak bisa menjulukimu perjaka tua lagi, akhirnya hari ini kamu berhasil merubah statusmu dari perjaka tua menjadi suami," ucap Arga terkekeh sambil menepuk keras punggung sang sahabat, yang membuat Rico pun ikut terkekeh.
Mayang yang juga turut hadir di sana, memberikan pelukan untuk Tina dan Rico serta memberikan selamat kepada orang tua Rico dan juga Ibu Tina serta paman gadis itu selaku wali nikah dikarenakan ayah Tina sudah lama meninggal dunia.
Resepsi pernikahan akan langsung digelar siang ini, setelah makan siang.
Laras dan Arga memutuskan akan setia mengikuti setiap prosesi pernikahan sahabat mereka, hingga acara selesai.
Pukul 17:00.
Acara pun selesai, para tamu satu persatu telah meninggalkan gedung resepsi.
Laras dan Arga pun pamit pulang ke rumah, karena mereka juga tampak lelah dan ingin segera beristirahat di rumah.
*****
Pukul 21:00.
Di sebuah hotel termewah dan termahal di Jakarta Pusat, tampak kedua mempelai telah membersihkan diri masing-masing.
Hotel menginap selama satu minggu di hotel tersebut merupakan hadiah pernikahan dari Laras dan Arga untuk sahabat mereka.
Tina sudah memakai lingerie dan sedang duduk di kursi rias, tengah membersihkan wajah di depan cermin.
Matanya melirik ke arah Rico yang sedari tadi sedang mengotak atik ponsel nya.
"Sayang, apa kamu mau makan lagi? Aku akan memesankannya," tanya Rico meletakkan ponsel lalu melihat ke arah Tina yang masih sibuk membersihkan wajah.
"Tidak perlu mas, aku sudah kenyang," sahut Tina masih duduk di depan cermin seraya mengoleskan kapas ke wajahnya.
Sepuluh menit berlalu, Tina sudah selesai membersihkan wajah, namun gadis itu bingung mau duduk di ranjang, karena ada Rico, gadis itu merasa canggung harus duduk di atas tempat tidur, karena ini pertama kali dia satu kamar dengan seorang pria.
"Apakah kamu tidak ingin tidur?," Rico tersenyum melihat Tina yang tampak kebingungan.
"I-iya, ini juga sudah mau tidur," sahut Tina terbata sambil beranjak dari tempat duduk.
Gadis itu melangkah ke arah tempat tidur lalu dengan perasaan ragu mendudukkan tubuh di atas ranjang bersebelahan dengan Rico.
Beberapa waktu lalu, dia pernah menakuti Laras saat sahabatnya itu akan melakukan malam pertama, namun kini dia merasakan sendiri bagaimana perasaan Laras pada waktu itu, canggung serta takut.
Rasakan kamu Tina, makanya jangan suka menakuti Laras, sekarang tiba giliranmu 🤣🤣
Rico yang sedari tadi duduk menunggu sang istri, segera beringsut mendekati Tina, membuat gadis itu semakin gugup.
"Sayang, kita lakukan sekarang?," tanya Rico meminta izin.
"I-iya sayang..," Tina menjawab pendek.
Setelah meminta persetujuan dari sang istri, Rico mulai bergerak, mencium kening pipi, bibir, dan leher gadis itu.
Dalam beberapa menit, keduanya telah tampil polos, Rico telah melepas piyamanya sendiri serta lingerie Tina.
Kamar hotel menjadi saksi bisu penyatuan tubuh pasangan pengantin baru itu.
Hingga di akhir percintaan, terdengar ******* dari mulut keduanya, mereka tampak lelah dan keringat mengalir dari tubuh masing-masing, nafas mereka terengah-engah mencapai nikmat secara bersamaan.
Tina merasa bahagia bisa memberikan mahkota berharga yang dia miliki kepada laki-laki yang dia cintai, dan Rico pun merasa sangat bahagia karena untuk pertama kali bercinta dengan seorang wanita apalagi wanita tersebut pun masih dalam keadaan ORI.
Kini keduanya langsung tertidur dalam satu selimut, entah berapa kali mereka melakukannya malam ini? apakah akan sama halnya dengan Laras dan Arga pada waktu malam pertama? biarlah cukup mereka yang tahu...
*****
Satu bulan kemudian, setelah pernikahan Tina dan Rico.
Pukul 01:30 dini hari.
__ADS_1
Laras tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena merasakan perutnya mual, segera wanita itu turun dari ranjang dan sedikit berlari pergi ke kamar mandi.
Arga yang masih terlelap memejamkan mata, ikut terbangun mendengar suara gaduh dari derap langkah kaki Laras yang menapaki lantai menuju ke kamar mandi.
Terdengar dari tempat Arga tertidur, suara Laras yang sepertinya sedang memuntahkan sesuatu.
Rasa khawatir yang besar memaksa pria itu segera membuka mata dan langsung turun dari tempat tidur ingin melihat keadaan sang istri, dengan langkah panjang dia mencari Laras di kamar mandi.
Tampak wanita itu sedang membungkuk di wastafel sambil memegangi perut.
"Sayang, kamu sakit?," Arga langsung memijat tengkuk Laras.
"Huuk, huuk..," Laras kembali memuntahkan isi perutnya tetapi tidak ada makanan yang keluar, hanya sedikit air menetes dari sela bibirnya.
Arga terus memijat tengkuk Laras dengan wajah cemas.
Setelah dirasa puas, Laras pun membasuh mulutnya dengan guyuran air dari wastafel.
Wanita itu berbalik menghadap Arga yang ada di belakangnya dengan wajah yang sedikit pucat.
"Sayang, apa kamu masuk angin? mukamu terlihat pucat," sang suami kembali bertanya sambil mengusap bibir Laras yang masih ada bekas air.
"Tidak tahu mas, perutku mual, kepalaku juga agak pusing," ujar Laras dengan suara pelan dan lemas.
"Apa kamu sakit?," Arga meraba kening Laras, terasa agak panas dan dahi wanita itu juga sedikit berkeringat.
Pria itu langsung meraih tubuh Laras lalu membopongnya membawa ke tempat tidur.
Dengan penuh kasih sayang, sang pria merebahkan tubuh Laras dan meletakkan kepalanya di bantal, pria itu mengusap kening Laras yang berkeringat, menghapus keringat itu hingga kering.
Arga meraih gelas air putih yang ada di meja kecil di samping tempat tidur dan memberikannya kepada Laras.
"Sayang duduklah sebentar, minum air ini dulu,"
Tangan kanan Arga memegang gelas, tangan kiri meraih tubuh Laras, mengangkat dan membantu Laras untuk duduk.
"Ini minumlah, pelan-pelan..," dengan penuh perhatian Arga menyodorkan gelas air putih ke mulut sang istri.
Laras menghabiskan setengah gelas air putih, cukup membuat tenggorokannya merasa sejuk dan segar.
Arga meletakkan gelas ke tempatnya semula lalu dengan hati-hati kembali merebahkan tubuh Laras.
Pria itu menarik selimut dan menutupi tubuh Laras dari kaki sampai dada, kemudian memijat pelan kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Sayang, aku panggilkan dokter saja ya?," Arga menatap cemas wajah Laras yang terlihat lemas.
"Tidak perlu mas..," tolak Laras.
"Aku khawatir melihatmu seperti ini sayang, kalau kita panggil dokter, dia pasti bisa memberitahu kita, sebenarnya kamu sakit apa?," Arga terus memijat kepala Laras dan tak hentinya menatap cemas pada sang istri.
"Mas, apa.., apa.., aku hamil mas?," Laras mencoba menjelaskan dengan terbata.
Arga terkejut bukan kepalang mendengar satu kalimat yang keluar dari bibir Laras. Mulut pria itu seketika menganga, tangan yang tadinya memijat kepala Laras tiba-tiba terhenti, matanya fokus menatap Laras tak berkedip.
"Kamu serius sayang?, kamu tidak bohong kan?," tanyanya dengan muka terlihat sangat senang.
"Jadi bagaimana cara memastikannya? beli alat itu saja, apa itu namanya? yang mama katakan waktu itu?," Arga memutar mata ke atas, mencoba mengingat kembali nama alat yang disebutkan mamanya beberapa waktu lalu.
"Apa itu sayang namanya, alat kehamilan itu? Taspen?," tanya Arga kembali dengan raut wajah bingung menatap Laras, tampak seperti anak kecil yang kebingungan saat mainannya rusak.
Laras spontan tertawa mendengar perkataan suaminya, wanita itu merasa Arga terlalu polos dan tidak mengerti dengan alat test kehamilan yang dimaksud Mayang, pria kaya itu hanya pintar menangani masalah saham dan keuangan saja, namun untuk hal-hal kewanitaan seperti ini nilainya NOL.
Laras masih tertawa melihat kelakuan Arga, semakin hari dia melihat kelakuan sang suami seperti anak kecil, tampak lucu dan menggemaskan, sehingga membuat Laras yang tadinya merasa pusing mendadak sembuh.
"Namanya testpack mas, bukan Taspen, Taspen itu Tabungan Asuransi Pegawai Negeri, memangnya mas mau mengambil gaji pensiun di Taspen?," tanya Laras memberitahu masih dengan tertawa.
"Nah iya, itu maksudku sayang, aku lupa, hehe, hehe," pria itu terkekeh menggaruk kepala.
"Kita beli testpack saja ya malam ini?," sambung pria itu lagi.
"Ya Allah mas, ini sudah tengah malam, besok saja membelinya," ucap Laras terkejut.
"Sayang, di sini banyak apotik yang buka 24 jam, aku akan menyuruh Sapri atau Imam yang membelinya," ujar Arga tak sabaran.
"Kamu tunggu sebentar,"
Arga turun dari ranjang. mengambil ponsel dan menelpon Sapri.
"Sapri, tolong ke apotik sekarang, beli testpack 1 lusin atau 2 lusin lah, yang penting kamu beli sekarang dan bawa secepatnya ke rumah,"
"Mas!," panggil Laras.
Arga menoleh ke ranjang, menghentikan pembicaraan dengan Sapri, lalu berjalan mendekati Laras.
"Ada apa sayang?,"
"Mengapa mas beli sampai dua lusin? itu terlalu banyak, kita bukan mau jualan. Beli dua saja, itu sudah cukup," Laras memberitahu.
Arga mengangguk menuruti kata-kata Laras.
"Sapri, beli dua saja, pergilah sekarang memakai motor, jangan lama, karena aku menunggumu," perintah Arga langsung mematikan sambungan ponsel.
Arga juga telah memfasilitasi pekerja di rumahnya dengan membelikan dua buah sepeda motor, untuk para pekerja rumah jika sewaktu-waktu ingin pergi keluar, baik untuk urusan pekerjaan rumah atau untuk urusan mereka pribadi.
Sang majikan kaya itu tidak melarang jika pelayannya ingin pergi berkencan dengan menggunakan motor pembeliannya.
Sejak menikah dengan Laras, sikap Arga jauh lebih baik dan bijaksana dalam mengambil keputusan atau pun bertindak.
Untuk dua buah motor itu pun merupakan ide Laras, wanita itu yang menyarankan kepada Arga untuk membeli Dua buah motor sebagai fasilitas para pekerja, karena Laras tidak tega jika pekerja rumah harus berjalan kaki atau naik ojek jika hendak pergi kemana-mana.
Dan tanpa berfikir panjang apalagi membantah saran Laras, Arga langsung menuruti kata-kata sang istri, hari itu juga dia membeli Dua buah motor sesuai saran wanita cantik itu.
Pria tampan itu kembali duduk di sebelah Laras, yang masih berbaring.
__ADS_1
"Ayo mas, kita tidur lagi,"
"Hah? mengapa kamu malah ingin tidur? bukankah testpack nya belum dibeli?," Arga bertanya heran.
"Testpack nya untuk subuh saja mas, sekarang kita tidur dulu, aku juga sudah mengantuk, ayo kita tidur," sahut Laras memejamkan mata.
Arga yang tampak bingung, tidak mengerti dengan maksud istrinya langsung menggoyang pelan bahu Laras.
"Sayang, jangan tidur dulu, terus bagaimana dengan testpack nya?," tanyanya bingung.
Laras membuka mata, melihat Arga yang masih duduk memandanginya dengan tatapan bingung.
Wanita cantik itu menarik tangan Arga.
"Sini berbaringlah," pintanya pada sang suami.
Arga menuruti permintaan Laras, membaringkan kepala di bantal di samping sang istri.
Wanita cantik itu mengulurkan tangan menyentuh dan mengusap wajah sang suami dengan ibu jari sembari tersenyum menatap lembut pria di sampingnya.
"Melakukan testpack itu sebaiknya setelah bangun tidur di pagi hari, karena jika dilakukan saat buang air kecil pertama kali di pagi hari, hasilnya akan lebih akurat, sekarang tidurlah dulu, nanti subuh aku pasti akan mengeceknya," Laras menjelaskan.
Arga mengangguk-anggukkan kepala, baru mengerti mengapa Laras menyuruhnya tidur.
Pria tampan itu mendekap tangan Laras lalu beringsut, mencium kening sang istri.
"Selamat tidur, aku mencintaimu sayang..," ucapnya seraya kembali berbaring di samping Laras.
"Aku juga mencintaimu mas," ucap Laras sambil menyelimuti tubuh Arga.
Keduanya pun kembali melanjutkan tidur, meski sang lelaki tidak sabar menunggu jarum jam berputar ke angka Empat.
Arga memeluk tubuh Laras lalu mencoba ikut memejamkan mata, karena dia melihat sang istri telah hanyut dalam tidurnya, dengan helaan nafas tampak tenang dan teratur.
Pukul 04:30.
Seperti biasa, Laras telah lebih dulu bangun.
Wanita itu menyibak selimut lalu mencium pipi Arga, seperti rutinitasnya setiap bangun tidur atas permintaan sang suami, siapa yang lebih dulu bangun tidur, dia yang harus memberikan ciuman di pipi.
"Selamat pagi mas, ayo bangunlah, kita shalat Subuh," ucap Laras menempelkan bibirnya di pipi Arga.
Pria itu langsung terbangun, dia teringat testpack yang mereka bahas dini hari tadi.
"Selamat pagi sayang..," ucap pria itu segera duduk di samping Laras lalu mencium pipi wanitanya dengan penuh cinta.
"Sayang, kamu mau melakukan testpack? Ayo aku temani," ucapnya penuh semangat.
Laras tersenyum.
"Sebentar ya,"
Arga turun dari tempat tidur, berjalan ke arah pintu lalu keluar.
Tak lama Arga telah membawa testpack di tangannya, ternyata Sapri telah menaruh alat itu di meja luar.
"Ini sayang," Arga memberikan alat itu kepada Laras.
Wanita cantik itu segera ke kamar mandi, dan sang suami ikut masuk membuntuti istrinya.
"Mas? Mengapa ikut masuk?," tanya Laras melongo menatap heran ke arah Arga yang telah berdiri di belakangnya.
"Menemanimu," jawab Arga jujur.
"Mas tunggu di luar saja," pinta Laras.
"Tidak, aku mau ikut masuk dan melihat,"
Laras mengernyitkan dahi lalu menggeleng-gelengkan kepala.
"Baiklah, terserah mas saja," Laras mengalah.
Beberapa menit kemudian, Laras telah selesai melakukan test kehamilan tersebut.
Wajah wanita itu langsung berseri saat melihat dua garis merah muncul di alat test kehamilan yang dipegangnya.
"Bagaimana sayang? Apa hasilnya? Aku tidak bisa membacanya," tanya Arga memegang tangan Laras lalu ikut mengamati benda yang dipegang istrinya namun dia sama sekali tidak mengerti garis-garis yang ada di benda itu.
"Mas..,"
Seketika Laras menghambur memeluk tubuh Arga dan wanita itu menangis terharu di pelukan sang suami.
"Ada apa sayang? Apa yang terjadi?," Arga bertanya dengan sangat cemas lalu melepas pelukan menatap Laras yang kini telah meneteskan air mata.
"Mengapa kamu menangis? Katakan padaku? Apa hasil testpack itu?," tanya Arga masih dengan raut muka cemas lalu mengusap air mata sang istri.
"Alhamdulillah, hasilnya positif mas," terang Laras.
"Alhamdulillah, akhirnya doa kita terkabul sayang..," ucap Arga dengan tawa penuh suka cita.
Saking bahagianya, pria tampan itu langsung mengangkat tubuh Laras dengan kedua tangan setinggi-tingginya hingga melebihi tinggi badan sang pria.
"Terima kasih sayang," ucapnya dengan raut gembira seraya memutar badan dalam beberapa kali putaran.
"Mas sudah, turunkan aku, aku takut jatuh..," pinta Laras yang merasa badannya menjadi sangat tinggi melebihi tubuh Arga.
Pria itu menurunkan tubuh Laras lalu memeluk wanita itu dengan penuh rasa bahagia.
"Sayang, aku sangat bahagia, akhirnya aku akan menjadi seorang papa, dan kamu akan menjadi seorang mama, terima kasih sayang..," Arga memeluk erat tubuh Laras lalu memberi kecupan di pucuk kepala wanita itu.
"Iya mas, aku juga sangat bahagia..," ucap Laras membalas pelukan Arga dengan sangat erat.
Keduanya pun segera mengambil wudhu' dan menunaikan shalat Subuh berjama'ah.
__ADS_1
Di dalam doa, keduanya tak lupa mengucapkan rasa syukur kepada Allah telah memberikan anugerah luar biasa yang akan segera hadir di tengah-tengah kehidupan mereka.
...*******...