
Laras Mutiara
Arga Trilaksana Wibawa
*****
Satu minggu telah berlalu.
Laras dan Arga telah kembali ke Jakarta.
Jakarta.
Pukul 07:30.
Pagi ini, suami kaya itu hendak berangkat ke kantor.
Keduanya tengah berada di kamar, berdiri saling berhadapan.
"Cara pasangnya seperti ini sayang," Arga mempraktekkan memasang dasi mengajari istrinya.
Laras memperhatikan dengan saksama, mengangguk, mengikuti lalu mempraktekkan arahan Arga untuk memasang dasi di leher sang suami.
Maklum, seumur hidup Laras belum pernah memasangkan dasi untuk seorang pria, pagi ini adalah pertama kali dia melakukan pekerjaan ini.
Mereka pun melangkah keluar kamar, Laras berjalan mendampingi suami mengantarnya hingga ke mobil.
"Sayang, nanti siang aku pulang ke rumah," Arga berpesan pada sang istri.
Alis Laras mendadak bertaut, menatap heran suaminya, tidak biasa-biasanya pria kaya itu pulang ke rumah di waktu siang. Laras mulai curiga Arga mempunyai maksud tertentu.
"Mengapa mas pulang ke rumah?," tanya wanita cantik itu menatap Arga penuh selidik.
"Aku mau makan siang di rumah saja, pengen masakanmu,"
Laras mengamati wajah Arga, wanita itu mencoba membaca fikiran sang pria, mungkin ada sesuatu yang difikirkan laki-laki itu.
"Hanya makan siang kan? tidak ada yang lain?," tanya Laras curiga sambil tersenyum melirik pria tampan itu.
"Memangnya ada yang lain selain makan siang? oh iya, aku mau makan kamu saja," bola mata Arga melirik nakal ke dada istrinya. Dan Laras menyadari tatapan suaminya itu.
"Genit ya..," protes Laras karena menangkap basah lirikan Arga ke dadanya.
"Tidak apa-apa genitnya hanya dengan istri, selama ini aku tidak pernah genit dengan wanita, baru kali ini aku menjadi sangat genit, itu karena kamu sangat cantik dan memabukkan sayang," seloroh pria itu mengelus perut tipis Laras.
"Benarkah mas tidak pernah genit dengan wanita? bagaimana kalau dengan...," Laras tidak melanjutkan kalimatnya.
"Dengan Amellya maksudmu?," sambung Arga cepat.
Laras hanya tersenyum lalu mengangguk-anggukkan kepala menjawab pertanyaan Arga.
"Dia yang genit, aku tidak pernah genit dengannya, kamu boleh tanyakan langsung padanya," Arga menyombongkan diri.
"Iya iya mas, aku percaya kamu," Laras tersenyum mengangguk.
"Oh iya, bagaimana kalau aku saja yang mengantarkan makan siangmu ke kantor?," sambung Laras menawarkan diri.
Pria kaya itu berfikir sejenak mendengar tawaran Laras, kepalanya terdongak sedikit sembari memutar mata.
"Baiklah aku setuju, kamu juga belum pernah ke kantorku, aku ingin mengenalkanmu kepada seluruh karyawanku bahwa kamu adalah istriku," sahut Arga dengan senyum bahagia merekah di bibir.
"Memangnya mas tidak malu memperkenalkan aku sebagai istri? aku hanya tamatan SMA dan seorang janda, aku takut karyawan mas akan menertawakan mas," Laras menundukkan wajah, tidak percaya diri.
Arga melihat kemurungan di wajah sang istri, langsung merangkul pinggang Laras dan meletakkan kepala wanita itu di bahu.
"Mengapa aku harus malu? istriku cantik, putih, tinggi, langsing, baik, sabar, dan sholeha, belum tentu para gadis lulusan Sarjana bisa mengalahkan kecantikan dan kebaikan istriku, jadi tidak ada alasan bagiku untuk malu. Jangan pernah berkata seperti itu lagi sayang, sekarang aku tidak akan mempermasalahkan lagi tentang status jandamu, dulu aku memang bodoh sempat salah menilaimu, tapi sekarang kamu harus tahu, aku sangat bangga dan beruntung memilikimu. Kamu itu adalah istri pilihan mama, dan sekarang aku baru sadar kalau istri pilihan mama memang jauh lebih baik daripada pilihanku sendiri," Arga memuji Laras dengan sejujurnya, menghibur hati Laras lalu mencium kening istrinya.
Laras mendongak menatap Arga, wajah suaminya itu begitu tampan dan tenang, jauh berbeda dengan beberapa bulan lalu, tampak seperti singa yang menakutkan.
"Terima kasih mas, mas mau menerima kekuranganku," ucap wanita itu tersenyum mendengar perkataan suaminya.
"Bagiku, kamu tidak memiliki kekurangan sayang, jadi jangan pernah berkata seperti itu lagi," Arga mengelus-elus rambut Laras.
Laras mengangguk, merangkulkan tangan ke pinggang Arga.
Sejenak mereka berdiri saling merangkul, sesuatu yang begitu sejuk bagi setiap mata yang melihatnya.
Apalagi jika yang melihat itu adalah Mayang, pasti wanita paruh baya itu begitu bahagia menyaksikan keharmonisan rumah tangga anaknya. Akhirnya sang putra mengakui jika dia tidak salah memilihkan seorang istri untuknya. Istri pilihan mama untuk putra kesayangannya.
"Nanti aku suruh Rico yang menjemputmu," saran Arga mengurai pelukan lalu memandang wanita di sampingnya.
"Tidak perlu mas, aku kurang nyaman kalau Rico yang menjemputku, biar aku naik angkot saja," tolak Laras tidak menyetujui saran suaminya.
"Apa? Naik angkot? mana ada istri seorang Presdir naik angkot?," Ucap Arga terkejut membulatkan mata memandang Laras penuh keheranan.
"Tidak apa-apa mas, aku sudah terbiasa naik angkot, aku tidak pernah mencintaimu karena kekayaan atau jabatanmu. Aku mencintai hatimu, jadi bagiku mau naik angkot atau ojek, itu sama saja, aku tetap istri Arga yang manja dan suka ngambek..," ujar Laras tertawa sembari mencubit pelan pipi Arga.
Arga tersenyum mendengar perkataan istrinya.
"Selama ini aku tidak pernah seperti ini sayang, hidupku selalu mandiri dan tidak pernah bergantung pada siapa pun, tapi tidak tahu sejak denganmu, aku menjadi seperti anak kecil, manja dan ingin selalu diperhatikan..," ucap pria itu berkata dengan jujur.
"Iya, saking manjanya, aku sering kewalahan melayanimu..," gurau Laras tersenyum menatap Arga.
"Kewalahan di ranjang maksudmu?," Arga melirik wanitanya dengan senyum nakalnya.
Laras tidak menjawab, apa yang dikatakan Arga, itu memang benar. Laras sering kewalahan melayani Arga di ranjang, yang selalu manja bahkan terkadang merajuk jika Laras tidak segera memenuhi keinginannya.
Selama di kampung, setiap hari Arga tidak pernah absen menidurinya, Laras juga heran mengapa prianya itu tidak pernah bosan melakukan kegiatan itu.
"Oh iya sayang, mengenai keinginanmu tadi mau naik angkot ke kantor, sepertinya bukan ide yang bagus. Aku mengerti kamu sudah terbiasa naik angkot, tapi kamu juga harus memikirkan reputasiku, kalau semua orang melihatmu naik angkot, nanti mereka fikir, aku tidak memberimu fasilitas dan tidak peduli padamu..,"
__ADS_1
Laras terdiam mencerna kata-kata sang suami, apa yang disampaikan Arga memang masuk akal, orang yang melihat Laras turun naik angkot, pasti akan berfikiran jika Arga tidak peduli dengan istrinya sehingga membiarkan sang istri naik angkot tanpa memfasilitasinya dengan kendaraan pribadi.
"Iya baiklah, kalau begitu aku naik taxi saja mas,"
"Mengapa masih mau naik taxi? Biar Rico yang akan mengantar dan menjemputmu," Arga memberitahu.
"Tidak mas, kalau bukan keadaan yang mendesak atau urgent, aku tidak mau diantar atau dijemput Rico,"
"Mengapa sayang? Rico itu asisten pribadiku, selain melayaniku, dia juga bisa melayani istriku,"
"Itu yang aku hindari mas, aku tidak mau Rico terlalu sering melayaniku, aku hanya ingin mas yang melayaniku,"
"Maksudmu?," Arga bertanya, masih tidak mengerti arah pembicaraan sang istri.
"Mas, Rico itu masih muda, usianya tidak jauh beda dariku, kalau aku terlalu sering diantar dan dijemput olehnya, aku takut akan menjadi fitnah, jadi akan lebih baik aku naik taxi saja," ujar Laras menjelaskan.
Arga seketika tersadar dari kelalaiannya, ucapan Laras itu membuka mata dan fikirannya, apa yang dikatakan Laras memang benar, Rico memang asisten pribadinya, tetapi bukan berarti harus melayani, mengantar dan menjemput istrinya setiap saat.
Arga semakin kagum dengan pemikiran dan kesolehahan hati Laras, dia tidak berfikir sejauh itu, dia hanya berfikir Rico adalah asistennya dan tidak ada salahnya jika Rico juga melayani istrinya.
"Aku sangat kagum padamu sayang, keputusan mama memang tepat, memilihkanku seorang istri sepertimu, istri pilihan mama memang luar biasa, aku tidak pernah berfikiran seperti yang kamu fikirkan, terima kasih sayang, kamu sudah mengingatkanku," ucap Arga penuh kekaguman menatap istrinya.
"Baiklah, aku pergi sekarang, kamu hati-hati di rumah, jangan bukakan pintu sembarangan, pagar biar aku yang menutup, kamu masuk saja ke dalam," ucap Arga memberi pesan.
"Iya mas," Laras mengangguk mengerti.
Wanita itu mencium punggung pria tampan yang telah seutuhnya menjadi suaminya itu.
"Aku mencintaimu, sayang," ucap Arga mencium pucuk rambut wanitanya.
"Aku juga mencintaimu mas, hati-hati di jalan, pelan-pelan saja bawa mobilnya," wanita itu pun memberi pesan.
Setelah Arga menutup pagar dan hilang dari pandangannya, Laras pun segera masuk ke rumah dan mengunci pintu.
Wanita itu bergegas ke dapur untuk memasak menu makan siang Arga. Dia hanya memasak stok seadanya saja yang ada di lemari es. Capcay bakso, ayam goreng, udang balado.
Pukul 11:00.
Terdengar suara klakson di depan pagar rumah, Laras mengintip dari jendela, ada sebuah mobil box dan beberapa orang kurir berdiri menatap dari kejauhan ke arah pintu rumah.
Laras melangkah keluar dan berdiri di depan pagar.
"Cari siapa Pak?," tanya Laras sopan.
"Apakah ini dengan Ibu Laras?," tanyanya membungkukkan tubuh.
"Iya, saya sendiri pak,"
"Ini ada paket dari Pak Arga," jelas kurir itu menunjuk beberapa kardus yang ada di dalam box mobil yang terbuka.
Laras terkejut, Arga tidak menelponnya untuk memberitahu jika dia mengirimkan paket.
"Sebentar ya pak, saya telpon suami saya dulu,"
Laras bergegas masuk ke rumah mengambil ponsel dan menelepon sang suami.
"My life", calling.
"Assalamu'alaikum mas, di sini ada kurir, apa benar, dia suruhan mas mengantar paket untukku?," tanya Laras panjang.
"Wa'alaikumsalam, iya sayang, itu paket dariku, ambil saja," sahut suara pria di seberang.
"Mengapa mas tidak memberitahuku kalau mengirim paket?,"
"Itu surprise untukmu,"
"Apa isinya mas?," tanya wanita itu penasaran.
"Kamu buka saja sendiri,"
"Iya, baiklah, aku tutup telponnya sekarang,"
"Baiklah, aku merindukanmu sayang," ucap Arga.
"Iya mas," sahut Laras singkat.
"Iya apa?," pria itu merasa tidak puas dengan jawaban singkat dari sang istri.
"Iya, aku juga merindukanmu mas," Laras kembali menjawab.
"Mesra sekali istriku ini," pria di seberang tersenyum senang.
"Sudah ya mas, aku tutup telponnya, Assalamu'alaikum," ucap Laras mengakhiri dengan salam pembicaraan dengan suami.
"Wa'alaikumsalam sayang," Arga menjawab salam sang istri lalu mematikan sambungan ponsel.
Laras kembali menemui kurir dan tetap berada di dalam pagar.
"Pak, tolong taruh di luar saja, nanti saya akan mengambilnya," ucap Laras dari dalam pagar.
"Baik bu, saya taruh di sini," kurir meletakkan tiga kardus di depan pagar.
"Terima kasih pak," ucap Laras disusul anggukan dari sang kurir kemudian segera permisi meninggalkan rumah mewah itu.
Laras sengaja menyuruh kurir meletakkan kardus itu di luar pagar, tanpa membuka gembok pagar terlebih dahulu, karena wanita itu ingat pesan Arga, tidak boleh membukakan pintu untuk sembarang orang, meski pun itu orang suruhan Arga, namun ada baiknya dia menjaga diri dari orang-orang yang baru dikenal, ditambah dengan kondisinya yang saat ini sedang sendirian di rumah, apalagi zaman sekarang susah mencari orang-orang yang bisa dipercaya.
Setelah kedua kurir itu pergi, Laras baru membuka gembok pagar dan langsung mengangkut tiga kardus itu satu persatu.
Sesampai di ruang tengah, Laras segera membuka kardus itu, betapa terkejutnya wanita itu melihat semua isi di dalamnya, puluhan lingerie, puluhan gaun, beberapa pasang sandal heels serta tas, yang bisa ditafsir harganya bukan jutaan namun puluhan jutaan.
"Banyak sekali kamu membelikan aku semua pakaian ini mas," gumam wanita itu tersenyum sambil memandangi lingerie, gaun, sandal dan tas itu satu persatu.
"Kring, kriiing,"
__ADS_1
Ada panggilan masuk di handphone Laras, dan Laras sudah bisa menebak siapa yang menelponnya.
"My life" calling.
Arga sendiri yang telah membuat nama ini di handphone Laras, tanpa meminta persetujuan dahulu dari sang istri.
"Assalamu'alaikum mas," Laras membuka salam.
"Wa'alaikumsalam, sayang, apa kamu sudah membuka hadiahku?," suara di seberang sana terdengar girang.
"Sudah mas, tapi mengapa membeli pakaian sebanyak ini mas? apalagi lingerie, kemarin kan sudah banyak, mengapa membelinya lagi?,"
"Biar kamu bisa ganti setiap malam, aku sangat menyukaimu saat memakai lingerie, tubuhmu sangat indah sayang," sahut pria di seberang dengan penekanan suara terdengar menggoda.
"Jangan terlalu menghamburkan uang untuk membelikanku barang mas, kasihan kamu sudah bekerja bersusah payah mengumpulkan uang setiap hari," pesan wanita itu mengingatkan suaminya.
"Iya sayang, aku hanya ingin membuatmu senang, nanti kamu pilih salah satu gaun, kamu pakai ke kantor, jangan lupa kabari aku kalau sudah di taxi, dan jangan lupa catat dan kirimkan padaku nomor plat taxi-nya,"
"Iya mas, sudah dulu, aku mau mandi lagi dan siap-siap,"
"Iya sayang, mandi yang bersih, aku suka wangi tubuhmu, membuatku selalu ingin memeluk dan menciummu," suara di seberang kembali menggoda.
Laras mendadak tersenyum mendengar rayuan sang suami, semakin hari Arga semakin sering merayunya bahkan semakin menunjukkan sikap mesra dan keinginannya yang selalu minta diperhatikan oleh sang istri.
"Di telpon masih saja genit," gurau Laras tersenyum.
"Aku tidak peduli kamu mengatakan aku genit, yang penting aku genit hanya dengan istriku,"
"Iya, terima kasih mas, aku senang mendengarnya," ucap Laras sembari mengukir senyum di bibirnya.
"Kembali kasih istriku," sahut Arga tak kalah senang.
"Sudah ya mas, tutup dulu telponnya, Assalamu'alaikum," ucap sang istri.
"Wa'alaikumsalam sayang," pria tampan itu tersenyum bahagia mendengar sang istri akan segera datang ke kantornya.
Selesai mandi, wanita cantik berkulit putih itu segera memilih gaun, dan pilihannya jatuh pada sebuah gaun putih dengan lengan dan dada tertutup, panjangnya sebatas lutut.
Wanita itu telah selesai mengenakan gaun, memakai bedak tipis serta mengoleskan lipstik seadanya di bibir indahnya, namun wajah itu sungguh tetap terlihat luar biasa meski pun penampilannya sangat sederhana, lebih cantik dibanding wanita di luaran yang telah memakai bedak tebal, alis melengkung serta bulu mata panjang melintir.
Laras berada di dalam kamar, menatap pantulan tubuhnya dari depan kaca, dari ujung rambut sampai kaki yang memakai heels serta tas putih senada dengan warna gaunnya, rambut panjangnya diikat seadanya ke atas dengan pita putih, dengan anak rambut yang sedikit menutupi keningnya.
Di cermin itu, Laras terlihat sangat cantik, namun wanita itu tetap saja tidak percaya diri dengan penampilannya, dia merasa Arga terlalu rupawan untuk ditandingi.
Pukul 11:45.
Kini, wanita itu telah siap berangkat menemui sang suami untuk pertama kali di kantornya, dia telah keluar dari rumah.
Setelah mengunci rumah dan memastikan semua jendela, listrik dan lainnya dalam keadaan aman, wanita itu segera melangkah ke depan pagar, tak lupa di tangannya membawa wadah makanan untuk suaminya.
Bibir wanita itu tersungging senyum bahagia, dia merasa tidak percaya dan seperti bermimpi, apa yang telah dia lakukan sehingga mampu meluluhkan hati Arga yang sekeras batu.
Dulu Arga adalah laki-laki bengis dan sombong, memperlakukannya sangat tidak layak sebagai istri, namun kini laki-laki jahat itu telah menjadi suami yang sangat baik dan begitu mencintainya.
Besar rasa terima kasih wanita itu kepada Sang Pencipta telah memberikan anugerah seorang suami seperti Arga, meski pun rintangan sebelum dia mendapatkan anugerah ini bukanlah suatu rintangan yang mudah untuk dilalui, namun dengan kesabaran dan ketabahan, pada akhirnya dia mampu melalui rintangan tersebut dan melunakkan hati keras pria kaya itu.
Laras telah keluar dari pagar dan menguncinya, beberapa menit yang lalu taxi blue bird telah menjemput wanita cantik itu yang terparkir di depan pagar, suami kayanya yang telah memesankan taxi tersebut.
Pukul 12:15.
Dalam waktu Tiga puluh menit, wanita itu telah sampai di lobby kantor dan dengan perasaan gugup, takut, malu, wanita itu dengan langkah ragu-ragu segera memasuki gedung bertingkat mencapai Empat puluh lantai itu.
Ruangan Arga berada di lantai paling atas.
Saat wanita itu memasuki lobby, dia merasa heran karena di sana banyak orang berdiri membentuk dua buah lingkaran di sisi kanan dan kiri pintu masuk.
Saat kaki Laras memasuki pintu lobby, semua orang orang yang berdiri serentak membungkukkan setengah badan memberi hormat kepada wanita bergaun, ber-tas, ber-heels putih dan berambut panjang itu.
Laras heran, mengedarkan pandangan kepada semua orang yang sekarang telah berdiri di kanan kirinya membentuk lingkaran mengelilingi dirinya.
Seorang wanita memakai baju kemeja, dengan rok selutut maju mendekati Laras dan memberikan satu rangkaian bunga.
"Selamat datang Ibu Laras, Pak Arga menyuruh kita menyambut Ibu di sini," ucapnya memberikan bunga tersebut pada Laras.
Sekarang Laras baru sadar, jika semua orang yang tengah berkumpul di lobby adalah para karyawan Arga.
Laras dengan ragu-ragu menyambut bunga tersebut dan tersenyum ramah, ikut membungkukkan tubuh pada wanita di depannya, kemudian membungkuk dua kali kepada semua orang yang ada di sekelilingnya.
Terdengar sayup-sayup suara beberapa orang berkomentar dari belakang.
"Istri Pak Arga cantik sekali,"
"Iya ya, serasi dengan Pak Arga,"
"Polesan wajah istrinya juga biasa saja, tapi tetap kelihatan cantik,"
"Pintar sekali pak Arga mencari istri,"
"Dibanding semua karyawan di sini, istri Pak Arga jauh lebih cantik,"
Beberapa komentar sempat tertangkap di telinga Laras. Hati Laras sedikit tenang mendengar komentar para karyawan Arga, setidaknya dia tidak membuat Arga merasa malu karena mempunyai istri seperti dirinya.
"Selamat datang istriku..," sebuah suara bergema di ruangan itu, suara yang sangat dikenal Laras.
Serentak semua orang menoleh ke arah datangnya suara itu, terutama Laras, wanita cantik itu langsung mengalihkan pandangan menatap sesosok pria tampan dan tinggi mencapai 185 cm memakai jas hitam, dasi putih, yang tengah berjalan ke arahnya.
Arga langsung menggandeng tangan Laras yang membuat wanita lugu itu tercekat dan mendadak merasa malu diperlakukan Arga seperti itu di depan semua orang.
"Terima kasih pada semuanya, terima kasih atas partisipasi kalian menyambut kedatangan istri saya. Di lain waktu jika istri saya datang ke kantor ini lagi, kalian harus bersikap baik padanya seperti kalian hormat dan bersikap baik kepada saya," pria tampan itu berpesan sambil memandang semua karyawannya satu persatu.
"Baik pak," jawab semua karyawan hampir serempak.
"Baiklah, sekali lagi terima kasih, silakan kembali ke ruangan masing-masing," perintah Arga tersenyum hangat kepada semua bawahannya.
__ADS_1
Dan dalam hitungan detik, semua karyawan Arga pun bubar lalu kembali ke ruangan masing-masing.
...*******...