
Aldo melihat jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, Aldo mencoba untuk bangun walaupun masih sedikit pusing Aldo pun segera ke kamar mandi untuk berwudhuk karena ia belum sholat ashar.
Selesai sholat Aldo pun segera mencari ponselnya dan benar saja ponselnya mati, pantasan Aditya tidak bisa menghubunginya, Aldo pun segera mengisi daya baterai nya, setelah itu ia pun ingin berbaring kembali, namun ia penasaran apa yang sedang dilakukan oleh Dila, Aldo pun segera melangkah dengan pelan keluar dari kamar, begitu keluar dari kamar, ia menyapukan seluruh pandangannya ke setiap sudut apartemennya, dan ia melihat Dila sedang di dapur, dengan langkah pelan ia melangkah ke dapur,
"Apa yang sedang kamu lakukan di dapur ku, teriak Aldo menatap Dila tajam.
" Tidak perlu berteriak, aku tidak budeg, balas Dila sambil menatap Aldo balik. "Kamu tidak lihat saya lagi memasak bubur untuk kamu, tambah Dila lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
Aldo hanya mendengus mendengar jawaban Dila, kemudian duduk dekat meja makan sambil sesekali menatap Dila yang sedang memasak, Dila mencoba untuk mengendalikan dirinya karena ia sendiri tidak tahu dapat keberanian dari mana berani bicara seperti itu pada Aldo.
Tak beberapa lama bubur yang dibuat oleh Dila pun siap, ia pun segera memasukkan kedalam mangkuk lalu meletakkan di depan Aldo, dan ia pun segera mengambilkan air putih dan menuangkan ke dalam gelas dan ditaroh di depan Aldo.
"Sebaiknya di makan selagi panas, ucap Dila.
Aldo menatap tajam Dila, lalu berkata,
" Kamu tidak menaruh sesuatu yang aneh pada makanan ini kan?
"Untuk apa aku melakukannya, jawab Dila kesal, kamu ini suka sekali marah, kalau sikap mu begini terus, mana ada wanita yang mau dekat sama kamu, kamu akan jadi jomblo seumur hidup.
Aldo menarik sedikit sudut bibirnya tersenyum,
"Tidak ada wanita yang mau dekat denganku? lalu ngapain kamu kemari!
Dila membulatkan matanya dan menatap Aldo kesal,
" Kalau bukan Mas Adit yang menyuruh aku ke sini, mana mau aku ketemu kamu, dengus Dila kesal dan melipat tangannya didadanya dan membuang mukanya.
"Untuk apa Aditya menyuruh mu kesini, tanya Aldo mulai menyuapi buburnya. " Boleh juga nih cewek,masakannya enak juga, guman Aldo dalam hati.
"Mas Aditya tadi nelpon kamu, untuk menjemput file yang di tinggalkannya di kamar Hana yang ada di rumah sakit. tapi ponsel kamu gak aktif, makanya aku di suruh kesini untuk mengantarkannya, jelas Dila.
" Sebenarnya Mas Adit ingin mengantarkan langsung tapi karena takut kemalaman sampai di tempat ibunya Hana terpaksa ditinggal disana.
"Jadi pin apartemen aku, kamu dapat dari Aditya?, tanya Aldo sambil terus memakan buburnya.
" Aku sudah memencet bel kamu berkali-kali tapi tidak ada yang membukakan pintu, aku telpon Mas Aditya, karena dia kwatir sama kamu, makanya aku di suruh untuk mengecek kamu,
"Untuk saja aku datang tepat waktu kalau tidak.., Dila tidak meneruskan ucapnya.
" Kalau tidak apa, dengus Aldo kesal.
"Tidak apa-apa, kilah Dila.
__ADS_1
" Kamu pikir aku akan mati, gara-gara demam kecil seperti ini, seru Aldo.
"Aku bukan cowok manja, nanti juga baikan sendiri.
" Tidak tahu Terima kasih, kalau tau begini aku biarin aja, guman Dila pelan.
"Kamu menyesal sudah membantu aku, seru Aldo.
" Bukannya menyesal, setidaknya kamu mengucapkan terimakasih padaku, karena sudah menunggui kamu hampir dua jam, aku menemukan dirimu dalam keadaan setengah sadar karena suhu badanmu terlalu panas,
"sebaiknya kalau sudah tidak enak badan kamu langsung ke dokter, sekurangnya simpanlah obat penghilang nyeri untuk antisipasi sebelum ke dokter, papar Dila menatap Aldo.
Aldo menatap kedua mata Dila, ia dapat melihat kekuatiran dari ucapan dan tatapannya kepadanya. Sadar dengan apa yang barusan di bicarakan yang, Dila segera menundukkan kepalanya.
Lama tak ada suara diantara mereka, melihat Aldo yang sudah menghabiskan makanannya, Dila segera mengambil mangkuk kotor dan gelasnya, lalu segera di cuci Dila, dan diletakan di raknya.
"Aku akan sholat magrib, apakah kamu tidak sholat, tanya Aldo.
Dila hanya menggelengkan kepalanya sambil menunduk karena merasa malu, Aldo pun melangkah ke kamarnya. Dila pun segera meninggalkan dapur dan duduk di sofa ruang tamu, tak beberapa lama Aldo pun keluar dari kamar, dan ikut duduk di sofa,
Dila pun permisi pada Aldo masuk kedalam kamar Aldo untuk mengambil tasnya, ketika ia keluar dari kamar ia berpapasan dengan Aldo yang juga akan masuk,
"Minumlah obat ini sebelum kamu tidur, dan ini file kiriman Mas Aditya, ucap Dila menyerahkan kepada Aldo.
" Badan kamu tidak terlalu panas lagi, istirahatlah aku ingin permisi pulang, ucap Dila menatap Aldo, dan Aldo juga sedang menatapnya, dengan cepat Dila menundukkan kepalanya.
"Aku akan mengantarkan kamu pulang, ucap Aldo sambil meneruskan langkahnya ke kamar,
" Tidak usah Al, aku pulang Naik taksi aja, kamu sebaiknya istirahat, jangan mengemudi kan mobil dulu, ucap Dila menahan tangan Aldo, Aldo menatap tangannya yang di pegang Dila, dengan cepat Dila melepaskan pegangannya.
"Baiklah aku akan memesankan taksi untuk mu, ucap Aldo yang ingin mengambil ponselnya yang sedang di cas.
***
Aldo mengantarkan Dila sampai ke depan apartemennya, tak ada yang bersuara diantara mereka sampai akhirnya mereka sampai di lobby apartemen, Taksi telah menunggu diluar, begitu Dila akan naik taksi Aldo kembali memanggilnya,
"Beri aku nomor ponselmu, ucap Aldo sambil memberikan ponselnya kepada Dila.Dila kaget mendengar Aldo meminta nomor ponselnya, tapi ia mencoba untuk menyembunyikannya, Dila segera mengetik nomornya di ponsel Aldo, setelah itu ia kembalikan pada Aldo.
Aldo hanya memperhatikan taksi itu sampai menghilang dari pandangannya, kemudian ia memeriksa nomor Dila yang telah disimpan dalam kontaknya.
Sambil melangkah kembali ke apartemennya, Aldo menelpon Aditya, dan menjelaskan semuanya kepada Aditya, kemudian ia menutup telponnya.
"Kenapa Aldo sayang, tanya Hana sambil turun dari mobil karena mereka baru saja sampai di rumah ibu Hana.
__ADS_1
" Ternyata Aldo sakit sayang, untung saja tadi aku suruh Dila untuk menghantarkan filenya, jawab Aditya sambil menggandeng tangan Hana.
"Bagaimana keadaannya sayang, tanya Hana kwatir.
" Udah lebih baik, tadi Dila sudah memberikan obat, jelas Aditya.
"Pasti cepat sembuh lah sayang, apalagi di rawat sama dokter secantik Dila, seru Hana terkekeh.
" Eeh sayang, ngomong-ngomong mereka itu cocok juga, walaupun Aldo sangat jutek sama Dila, sama kayak Mas dulu sama aku, ucap Hana menatap suaminya itu.
"Kenapa harus bawah-bawah Mas sih, seru Aditya mencubit hidung istrinya.
****
Aldo sedang membaringkan tubuhnya di sofa, ia melirik jam dindingnya, ini sudah setengah jam sejak kepulangan Dila, Aldo pun mengambil ponselnya di atas meja.
Dila baru saja membuka pintu kamarnya, ketika ponselnya berdering, Dila pun segera mengambil ponselnya dari dalam tas, ia melihat ada panggilan dari nomor yang tidak dikenalinya. Dila mengabaikan panggilan itu dan meletakan ponselnya di atas tempat tidur, kemudian ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Aldo mulai kwatir ketika ponsel Dila tidak diangkatnya, Aldo pun mencoba untuk menghubungi lagi, tapi hasilnya tetap sama. Sehingga ia mencoba untuk mengirim pesan.
ini aku Aldo, apakah kamu sudah sampai rumah?
Setelah selesai mandi Dila pun menganti pakaiannya dengan baju santai, kemudian ia membaringkan tubuhnya di ranjang, Dila menatap kosong langit-langit kamarnya, kemudian ia mengambil ponselnya dan melihat ada tiga panggilan dan satu pesan, Dila pun segera membukanya, Dila tersenyum manis sambil berguling di atas ranjang karena kegirangan mendapat pesan dari Aldo, Lalu ia membalas pesan Aldo.
Begitu pesan terkirim ponsel Dila kembali berdering, dan Dila pun segera menjawab panggilan itu,
"Kenapa tidak mengangkat telponku."
Terdengar nada kwatir dari bicara Aldo, yang membuat senyum Dila semakin mekar.
" Maaf, aku kira itu bukan nomor kamu, karena aku punya kebiasaan tidak mengangkat nomor yang tidak aku kenali.
"Baiklah , selamat malam!
Aldo langsung memutuskan panggilannya, sebelum Dila sempat menjawab.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung