Istri Pilihan Mama

Istri Pilihan Mama
Eksra Part 9 Aku rela melepaskanmu...


__ADS_3

Dila masuk ke dalam ruangannya dan segera mendudukan tubuhnya di salah satu bangku yang ada disana, wajahnya datar dengan tatapan kosong, Frans yang melihat Dila tak seperti hari biasanya pun mencoba mencari tahu,


“Kau kenapa Dil ? kosong begitu ? “. Tak mendapat jawaban dari Dila,  Frans pun menghampirinya dan menepuk Pundak Dila sehingga membuat Dila tersentak


“Kenapa memukulku! Sakit tau,” sahut Dila kesal sambil mengusap pundaknya dengan satu tangannya.


“Makanya kalau orang lagi bertanya di jawab gak diam aja seperti patung!” Seru  Frans ikut kesal


“Memang tadi kau bertanya?” Dila malah balik bertanya .


“Kayaknya kau harus mengikuti jejak Hana, ntar aku bilangin Aldo agar cepat melamar kamu!


“Apa hubungannya, bantah Dila sambil mengerucutkan bibirnya, Dila melirik Frans yang duduk tak jauh darinya, ia terlihat sedang asyik menulis,


“Frans aku boleh tanya sesuatu, ehmmm… lebih tepatnya memintah pendapatmu, ucap Dila sedikit ragu. Frans mengalihkan pandangannya ia balik menatap Dila yang sedang menatapnya juga, melihat wajah Dila yang begitu


serius Frana pun menghentikan kegiatannya dan menutup bukunya , lalu menarik kursinya agar lebih dekat dengan DIla,


“Kenapa?” Ucap Frans menatap Dila serius.


“Kau kan orangnya punya banyak mantan pacar, apakah kau masih menyimpan rasa tidak pada salah satu mantanmu itu?” Tanya Dila hati-hati sambil menatap Frans lekat.


“Kenapa kau bertanya seperti itu, apakah mantanmu mintah balikan? Frans balik bertanya,


“Aku bertanya padamu tapi kenapa kau balik bertanya padaku,” sungut Dila sedikit kesal.


“Ya jelas dong, tiba-tiba kau bertanya mantan, kalau bagiku mantan untuk apa diingat lagi, karena itu sudah berakhir saat kita memutuskan untuk udahan”.


“Bagiaman kalau kau berpisah bukan karena tidak ada cinta, tapi keadaan yang membuat cinta kalian tidak bisa Bersatu?.


Frans mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Dila yang membuatnya sedikit kesulitan untuk menjawab karena ia tidak memiliki pengalaman seperti itu,


‘kalau aku dulu mutusin cewek karena sudah bosan, tentu saja cintanya sudah menguap juga, ucap Frans terkekeh, Frans beranjak bangun ketika mendengar ketukan pintu, saat ia membuka pintu ia melihat Aldo berdiri disana,


Frans pun mengajak Aldo masuk, tapi Dila dengan cepat menyusul Aldo keluar , sehingga Aldo pun mengurungkan langkahnya untuk masuk.


*****

__ADS_1


Keduanya mendudukan tubuhnya di salah satu bangku yang ada di taman rumah sakit, Dila mencoba mengumpulkan kata-kata yang tepat untuk berbicara, Aldo pun segera memecah kesunyian diantara mereka,


“Jadi kau menelponku dan memintahku datang hanya untuk menemanimu duduk disini, ucap Aldo sambil mengusap lembut puncak kepala Dila, seketika Dila memalingkan wajahnya pada Aldo,


“Tentu saja tidak, sahut Dila cepat,


“ Ini tentang Mayang, lanjut Dila sambil menatap lekat wajah Aldo, mendengar ucapan Dila Aldo pun menautkan kedua alisnya,


“Kenapa, apakah penjelasan aku dulu belum cukup meyakinkanmu? Tanya Aldo, Namun dengan cepat Dila menggelengkan kepalanya,


“Bukan, bukan itu tadi aku secara tidak sengaja membaca hasil labor penyakit Mayang,Dila memberi jeda sebentar sebelum melanjutkan ucapannya, “ dia terkena kanker hati, perkataan Dila tercekat di tenggorokannya, Aldo yang mendengar perkataan Dila  langsung tersentak,


“Apa….! Kanker hati!  ulang Aldo pelan untuk memastikan pendengarannya tidak salah, Dila pun menganggukan kepalanya dengan air mata mulai jatuh satu - persatu di wajah cantiknya,


“Dia pernah mengkosumsi obat yang berlebihan , itu salah satu pemicuhnya,” imbuh Dila pelan, Aldo mengusap kasar wajahnya perkataan Mery dan mamanya Mayang terngiang di telinganya, Dila pun memperhatikan perubahan raut wajah Aldo, Dila pun memeluk Aldo dan mengusap punggungnya lembut.


*****


Aldo dan Dila masuk ke dalam kamar perawatan Mayang, terlihat Mayang duduk sambil membaca majalah, wajahnya masih terlihat pucat dan infus masih terpasang di tangannya, melihat kehadiran Aldo dan Dila  dengan segera Mayang menutup majalah di tangnnya sambil tersenyum memandang keduanya bergantian.


“Hai! Sapa Mayang ramah masih tersenyum seolah tak ada beban disana,  keduanya pun membalas sapaan


“Heiii… kalian kenapa? Serius amat! Seru Mayang.


“Kenapa kau tidak pernah bercerita kepadaku, kenapa kau biarkan dirimu menanggung ini seorang diri, sekarang kau itu temanku, kau sudah berjanji akan bercerita tentang apa pin dariku dan tidak akakn pernah menutupi apa pun dariku, ucap Aldo akhirnya tak tahan melihat sikap Mayang seolah tidak terjadi apa pun.


“Kau sudah tahu? Tanya Mayang berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


“Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun dari kalian atau pun keluargaku, aku baru tahu saat dokter memberitahuku, sahut Mayang pelan.


“Dan kau terlihat sangat baik sekali, kau tahu Mayang penyakitmu bukan sesuatu yang bisa dianggap main-main, kau bisa….Aldo tidak lagi melanjutkan ucapannya.


“Lalu aku harus bagaimana, menangisi ini sepanjang hari, apakah dengan aku seperti itu akan membuat aku baik-baik saja, ucapa Mayang dengan tangis yamg mulai pecah.Mayang yang terlihat menutup wajahnya dengan


kedua telapak tangannya, sedangkan Dila berdiri jauh di depan pintu, perlahan Aldo menyentuh Pundak Mayang,


“Maafkaan aku,” ucap Aldo pelan yang membuat isakan Mayang mereda  perlahan ia menurunkan kedua telapak tangannya, terlihat wajahnya yang basah oleh air mata,

__ADS_1


“Untuk apa kau memintah maaf, tidak ada yang perluh di maafkan, kau tidak bersalah, semua salahkan karena aku terlalu lemah,” gumam Mayang pelan.


“Mungkin ini sudah takdir Tuhan untukku, aku akan menerima dengan ikhlas, jika ini jalan yang harus kulalui aku tidak akan pernah takut, jangan pernah kau menyimpan rasa bersalah padaku,jika ada yag salah itu hanya diriku, biarlah kalau memang sakit ini yang akan membawa aku untuk pergi.”


Dila pun keluar dari ruangan itu memberikan ruang untuk Aldo dan Mayang, Aldo pun menatap Dila yang melangkah menjauh, tapi Aldo tidak mencoba untuk mencegah,


“Tidak, kau harus sembuh jangan pasrah seperti ini, kau pantas bahagia May….


“Al, pergilah susul Dila , aku tidak ingin terjadi kesalah pahaman diantara kalian, ucap Mayang lagi.


“Kita mungkin tidak akan bisa seperti dulu lagi, tapi aku akan tetap ada disampingmu sebagai sahabat, jangan pernah menolakku May, kita akan Bersama-sama memberi dukungan untuk kesembuhanmu, ucap Aldo sambil


menggenggam tangan Mayang, setelah itu ia pun beranjak pergi menyusul Dila. Mayang hanya menatap punggung Aldo sampai menghilang di balik pintu dengan air mata yang kembali berlinangan


****


Keduanya hanya diam membisu selama  perjalanan , hanya suara radio yang menyanyikan lagu sendu seakan mewakilkan perasaan mereka, perlahan Dila melirik pada Aldo yang terlihat fokus menyetir,


“Al…kita akhiri saja hubungan kita ini, ucap Dila pelan, perkataan Dila membuat Aldo tersentak dan seketika menghentikan mobilnya mendadak, untuk   kendaraan tidak terlalu ramai sehingga tidak menimbulkan tabrakan ,


“Apa yang kau bicarakan, seru Aldo sangat kesal mendengar ucapan Dila ia pun kembali melajukan mobilnya untuk mencari tempat yang lebih luas untuk memarkir mobilnya,


“Temanilah dia melewati ini, aku tau Mayang masih sangat mencintaimu Al, bagaimana kalau ia tidak memiliki waktu yang banyak lagi, biarkan dia menikmati kebahagian sebelum dia benar-benar pergi selamanya , selama ini dia terlalu banyak menderita, aku ikhlas melepaskan dirimu untuk Mayang,  ucap Dila pelan, ia tidak mampu untuk menahan air matanya karena sebenarnya ia juga sangat sakit berbicara seperti ini.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2