
Hana menatap nanar gundukan tanah merah di depannya, dadanya
begitu sesak untuk menarik napas saja ia
susah, Hana meremas gundukan tanah merah di depannya, teriakan dan tangisan histeris tak henti
keluar dari bibirnya yang pucat, bujukan keluarganya dan keluarga suaminya
sedikitpun tak di dengar oleh Hana,
“Sayang , jangan seperti ini, suamimu akan sedih disini
melihat kondisimu seperti ini, bujuk bibi memeluk Hana.
“Ikhlaskan kepergian suamimu, ingat anakmu bertahanlah demi
buah cinta kalian, lanjut bibi, tapi hana semakin histeris memanggil-manggil
suaminya,
“Sayang….bangun!…jangan tinggalkan aku!, aku tidak sanggup
bila harus menjalani nya seorang diri, aku ikut Mas..,aku ikut saja denganmu,
teriak hana di selah tangisnya, suara sudah parau karena terus-rerusan menangis
dan berteriak.
Semua yang hadir tidak dapat menahan tangis melihat kondisi
hana yang begitu sangat menyedihkan, kepergian Aditya membuatnya seakan ikut
kehilangan nyawanya,
“Ayo sayang kita pulang , bujuk mertuanya dalam tangisnya.
“Tidak mama , hana tidak mau pulang Hana disini saja
menemani mas Adit, kasihan Mas Adit tidak ada temannya, aku akan menunggu mas
Adit disini, kami sudah berjanji tidak
akan perna saling meninggalkan , ucap hana pelan dengan bibir bergetar.
“Sayang ikhlaskan kepergian suamimu , ini takdir Tuhan yang
tidak bisa kita hindari, semua sudah tertulis kita hanya menjalaninya saja, ayo
kita pulang nak, bujuk Mertuanya lagi.
Melihat Hana yang bersikeras tidak mau pulang, kakak Aditya
yang sulung menggendong Hana dalam pangkuannya, yang membuat Hana merontah
untuk di turunkan ,
“Tidak kak Niko..!, aku tidak mau pulang!, turunkan aku,
teriak Hana sambil terus merontah.
“Aku mau disini, aku
mau dekat Mas Adit, Hana kembali berteriak.
“Mas Adit…!
“Mas Adit…..!
Hana langsung terbangun dari tidurnya, Dila yang baru saja
tertidur terkejut mendengar teriak Hana, dengan cepat ia bangun kembali dan
menghampiri tempat tidur Hana,
“Dila, mana Mas Adit, Mas Adit …! tangis Hana langsung pecah
.
“Hana tenanglah, Mas Adit sekarang lagi dalam perawatan,
sahut Dila memeluk sahabatnya itu.
Hana melepaskan pelukan Dila dan menatap mata Dila
bergantian,
__ADS_1
“Kamu tidak berbohongkan, tanya Hana. Dila menggelengkan
kepalanya, Hana kembali memeluk Dila, berarti tadi ia cuma bermimpi, Hana
sedikit bernapas lega,
“Dimana Mas Adit sekarang Dil, tanya Hana melepaskan
pelukannya.
“Mas Adit masih belum sadar, tapi ia sudah melewati masa
kritisnya, ia baru saja keluar dari ruang ICU, jelas Dila.
“Aku ingin melihat Suamiku, ucap Hana hendak turun dari
tempat tidur.
“Iya aku akan membawamu kesana, tapi tunggulah sebentar kamu
harus di periksa dokter dulu, kamu pingsan cukup lama, sahut Dila.
“Aku baik-baik saja Dila, aku angin bertemu Mas Adit, akau
tidak akan tenang sebelum bertemu dengannya, bujuk Hana dengan mata kembali
berkaca-kaca,
“Baiklah, ucap Dila menyerah,” Tapi kamu harus pakai kursi
roda, kondisimu masih terlalu lemah, tambah Dila, Hana pun menganggukan
kepalanya tanda menyetujui pendapat Dila.
*****
Sampai di ruangan perawatan suaminya, ia melihat Lana yang
sedang menunggui kakak iparnya itu, kedua orang tua Adit baru saja pulang untuk
beristirahat, karena semalam beliau tidak tidur menunggui kondisi Aditya,
sampai sesudah subuh tadi Aditya dapat melewati masa kristisnya. kondisi
nanti malah mereka yang jatuh sakit. Sementara Aldo sekarang lagi di kantor
polisi sedang memeberikan keterangan tentang kasus penculikan dan penembakan
yang di lakukan Karin.
Melihat kedatangan kakaknya Lana segera bangkit dari sofa
dan berjalan menghampiri kakaknya itu,
“Kakak..! Syukurlah kakak sudah sadar, ucap Lana sambil
memeluk kakaknya itu. Hana pun membalas pelukan adiknya itu,
Hana menatap suaminya yang terbaring di tempat tidur ,
perlahan Hana turun dari kursi rodanya
dan melangkah mendekati suaminya, begitu sampai di pinggir tempat tidur
suaminya, ia menatap dan mengusap lembut pipi suaminya itu, wajahnya terlihat
begitu pucat, hana menciumi semua wajah suaminya, ia tidak dapat kembali
menahan air matanya, ia sungguh sangat bersyukur masih dapat menyentuh suaminya
itu, teringat mimpi yang baru saja dialaminya membuat Hana kembali sesak ,Perlahan
Hana mendekatkan bibirnya ke telinga suaminya,
“Sayang…., bangunlah, apakah kamu tidak merindukan aku?,
tanya Hana mencoba tersenyum.
“Cepatlah bangun sayang, Mas sudah berjanji tidak akan
pernah meninggalkan aku, ucap Hana menempelkan keningnya di kening
suaminya,”Jangan terlalu lama tidur aku dan bayi kita sangat merindukan suaramu
sayang.”
__ADS_1
******
Setelah memeberikan keterangan pada Polisi, Aldo
meneyempatkan untuk mengunjungi Karin yang ada dalam penahanan polisi. Aldo
melihat Karin yang sedang meringkut di sudut sel, keadaannya begitu sangat
kacau, ia mengangkat wajahnya ketika mendengar langkah yang mendekat , ia
sangat terkejut melihat kedatangan Aldo, dengan jelas Aldo dapat melihat wajah
Karin yang yang dipenuhi bekas air mata yang mengering, matanya bengkak karena
menangis, tapi tak sedikit pun ada rasa kasihan di hati Aldo melihatnya,
“Penjara ini belum cukup untuk membalas perbuatan kejimu,
ucap Aldo dingin.
“Aku akan membuat kamu biar membusuk disini, dula aku masih
sedikit menyeganimu karena persahabatan Adit dengan Kakakmu, kau tidak pernah
mengubris ancamanku, tapi kau malah melakukan perbuatan gila seperti ini.”
Karin hanya diam mendengar perkataan Aldo, air matanya
kembali jatuh, melihat Aldo yang akan melangkah pergi Karin berani bertanya,
“Bagiamana Keadaan Kan Adit Al? tanya Karin pelan tapi masih
bisa di dengar oleh Aldo. Aldo menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya
kembali,
“Jangan pernah sebut nama itu dengan mulut kotormu itu,
karena kamu tidak akan pernah lagi bertemu dengan nya selamanya, ucap Aldo lalu
kembali melanjutkan langkahnya,
Karin memcona mencerna perkataan Aldo, kemudian ia menutup
mulutnya dengan kedua tanganya, air matanya mengalir bertambah
deras,”jangan-jangan kak Adit….
Karin tidak dapat melanjutkan ucapanya, ia menagis
meraung-raungnya mulutnya tak henti berteriak memanggil nama Aditya dan
memintah maaf.
“Kak Adit…!!!! Maafkan aku..!!! maafkan aku kak, jangan
pergi…!
Beberapa polisi datang melihat Karin yang begitu histeris,
beberapa polisi wanita mencoba untuk menenangkannya, tapi ia terus merontah tak
henti menjerit dan berteriak menyebut
nama Aditya, sampai akhirnya Karin lemas dan pingsan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
Ada yang ngomen kok lama banget up nya sampe lupa alurnya 🤔🤔
kalau readers lupa ulang baca lagi ya🤣🤣🤣
Akhir-akhir ini susah banget dapat inspirasi untuk menulis 😔😔, soalnya pikiran lagi banyak cabang nya 😁😁😁
__ADS_1