Istri Pilihan Mama

Istri Pilihan Mama
Bab 82 Menyesali


__ADS_3

Hana menatap nanar gundukan tanah merah di depannya, dadanya


begitu sesak  untuk menarik napas saja ia


susah, Hana meremas gundukan tanah merah di depannya,  teriakan dan tangisan histeris tak henti


keluar dari bibirnya yang pucat, bujukan keluarganya dan keluarga suaminya


sedikitpun tak di dengar oleh Hana,


“Sayang , jangan seperti ini, suamimu akan sedih disini


melihat kondisimu seperti ini, bujuk bibi memeluk Hana.


“Ikhlaskan kepergian suamimu, ingat anakmu bertahanlah demi


buah cinta kalian, lanjut bibi, tapi hana semakin histeris memanggil-manggil


suaminya,


“Sayang….bangun!…jangan tinggalkan aku!, aku tidak sanggup


bila harus menjalani nya seorang diri, aku ikut Mas..,aku ikut saja denganmu,


teriak hana di selah tangisnya, suara sudah parau karena terus-rerusan menangis


dan berteriak.


Semua yang hadir tidak dapat menahan tangis melihat kondisi


hana yang begitu sangat menyedihkan, kepergian Aditya membuatnya seakan ikut


kehilangan nyawanya,


“Ayo sayang kita pulang , bujuk mertuanya dalam tangisnya.


“Tidak mama , hana tidak mau pulang Hana disini saja


menemani mas Adit, kasihan Mas Adit tidak ada temannya, aku akan menunggu mas


Adit disini, kami  sudah berjanji tidak


akan perna saling meninggalkan , ucap hana pelan dengan bibir bergetar.


“Sayang ikhlaskan kepergian suamimu , ini takdir Tuhan yang


tidak bisa kita hindari, semua sudah tertulis kita hanya menjalaninya saja, ayo


kita pulang nak, bujuk Mertuanya lagi.


Melihat Hana yang bersikeras tidak mau pulang, kakak Aditya


yang sulung menggendong Hana dalam pangkuannya, yang membuat Hana merontah


untuk di turunkan ,


“Tidak kak Niko..!, aku tidak mau pulang!, turunkan aku,


teriak Hana sambil terus merontah.


“Aku  mau disini, aku


mau dekat Mas Adit, Hana kembali berteriak.


“Mas Adit…!


“Mas Adit…..!


Hana langsung terbangun dari tidurnya, Dila yang baru saja


tertidur terkejut mendengar teriak Hana, dengan cepat ia bangun kembali dan


menghampiri tempat tidur Hana,


“Dila, mana Mas Adit, Mas Adit …! tangis Hana langsung pecah


.


“Hana tenanglah, Mas Adit sekarang lagi dalam perawatan,


sahut Dila memeluk sahabatnya itu.


Hana melepaskan pelukan Dila dan menatap mata Dila


bergantian,

__ADS_1


“Kamu tidak berbohongkan, tanya Hana. Dila menggelengkan


kepalanya, Hana kembali memeluk Dila, berarti tadi ia cuma bermimpi, Hana


sedikit bernapas lega,


“Dimana Mas Adit sekarang Dil, tanya Hana melepaskan


pelukannya.


“Mas Adit masih belum sadar, tapi ia sudah melewati masa


kritisnya, ia baru saja keluar dari ruang ICU, jelas Dila.


“Aku ingin melihat Suamiku, ucap Hana hendak turun dari


tempat tidur.


“Iya aku akan membawamu kesana, tapi tunggulah sebentar kamu


harus di periksa dokter dulu, kamu pingsan cukup lama, sahut Dila.


“Aku baik-baik saja Dila, aku angin bertemu Mas Adit, akau


tidak akan tenang sebelum bertemu dengannya, bujuk Hana dengan mata kembali


berkaca-kaca,


“Baiklah, ucap Dila menyerah,” Tapi kamu harus pakai kursi


roda, kondisimu masih terlalu lemah, tambah Dila, Hana pun menganggukan


kepalanya tanda menyetujui pendapat Dila.


*****


Sampai di ruangan perawatan suaminya, ia melihat Lana yang


sedang menunggui kakak iparnya itu, kedua orang tua Adit baru saja pulang untuk


beristirahat, karena semalam beliau tidak tidur menunggui kondisi Aditya,


sampai sesudah subuh tadi     Aditya dapat melewati masa kristisnya. kondisi


nanti malah mereka yang jatuh sakit. Sementara Aldo sekarang lagi di kantor


polisi sedang memeberikan keterangan tentang kasus penculikan dan penembakan


yang di lakukan Karin.


Melihat kedatangan kakaknya Lana segera bangkit dari sofa


dan berjalan menghampiri kakaknya itu,


“Kakak..! Syukurlah kakak sudah sadar, ucap Lana sambil


memeluk kakaknya itu. Hana pun membalas pelukan adiknya itu,


Hana menatap suaminya yang terbaring di tempat tidur ,


perlahan Hana  turun dari kursi rodanya


dan melangkah mendekati suaminya, begitu sampai di pinggir tempat tidur


suaminya, ia menatap dan mengusap lembut pipi suaminya itu, wajahnya terlihat


begitu pucat, hana menciumi semua wajah suaminya, ia tidak dapat kembali


menahan air matanya, ia sungguh sangat bersyukur masih dapat menyentuh suaminya


itu, teringat mimpi yang baru saja dialaminya membuat Hana kembali sesak ,Perlahan


Hana mendekatkan bibirnya ke telinga suaminya,


“Sayang…., bangunlah, apakah kamu tidak merindukan aku?,


tanya Hana mencoba tersenyum.


“Cepatlah bangun sayang, Mas sudah berjanji tidak akan


pernah meninggalkan aku, ucap Hana menempelkan keningnya di kening


suaminya,”Jangan terlalu lama tidur aku dan bayi kita sangat merindukan suaramu


sayang.”

__ADS_1


******


Setelah memeberikan keterangan pada Polisi, Aldo


meneyempatkan untuk mengunjungi Karin yang ada dalam penahanan polisi. Aldo


melihat Karin yang sedang meringkut di sudut sel, keadaannya begitu sangat


kacau, ia mengangkat wajahnya ketika mendengar langkah yang mendekat , ia


sangat terkejut melihat kedatangan Aldo, dengan jelas Aldo dapat melihat wajah


Karin yang yang dipenuhi bekas air mata yang mengering, matanya bengkak karena


menangis, tapi tak sedikit pun ada rasa kasihan di hati Aldo melihatnya,


“Penjara ini belum cukup untuk membalas perbuatan kejimu,


ucap Aldo dingin.


“Aku akan membuat kamu biar membusuk disini, dula aku masih


sedikit menyeganimu karena persahabatan Adit dengan Kakakmu, kau tidak pernah


mengubris ancamanku, tapi kau malah melakukan perbuatan gila seperti ini.”


Karin hanya diam mendengar perkataan Aldo, air matanya


kembali jatuh, melihat Aldo yang akan melangkah pergi Karin berani bertanya,


“Bagiamana Keadaan Kan Adit Al? tanya Karin pelan tapi masih


bisa di dengar oleh Aldo. Aldo menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya


kembali,


“Jangan pernah sebut nama itu dengan mulut kotormu itu,


karena kamu tidak akan pernah lagi bertemu dengan nya selamanya, ucap Aldo lalu


kembali melanjutkan langkahnya,


Karin memcona mencerna perkataan Aldo, kemudian ia menutup


mulutnya dengan kedua tanganya, air matanya mengalir bertambah


deras,”jangan-jangan kak Adit….


Karin tidak dapat melanjutkan ucapanya, ia menagis


meraung-raungnya mulutnya tak henti berteriak memanggil nama Aditya dan


memintah maaf.


“Kak Adit…!!!! Maafkan aku..!!! maafkan aku kak, jangan


pergi…!


Beberapa polisi datang melihat Karin yang begitu histeris,


beberapa polisi wanita mencoba untuk menenangkannya, tapi ia terus merontah tak


henti  menjerit dan berteriak menyebut


nama Aditya, sampai akhirnya Karin lemas dan pingsan.


.


.


.


.


.


.


Bersambung


Ada yang ngomen kok lama banget up nya sampe lupa alurnya 🤔🤔


kalau readers lupa ulang baca lagi ya🤣🤣🤣


Akhir-akhir ini susah banget dapat inspirasi untuk menulis 😔😔, soalnya pikiran lagi banyak cabang nya 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2