
Hana kembali duduk di sofa setelah memuntahkan kembali isi perutnya, Aditya memberikan minum pada istrinya, setelah meminum air yang di berikan suaminya, Hana kembali melanjutkan bicaranya yang tertunda, sebelumnya ia memperhatikan Rendi yang menatap Nena tajam, sedangkan Nena hanya menundukkan kepalanya,
"Nen sebaiknya kamu jelaskan biar aku tidak tambah pusing, dan mungkin bukan hanya diriku saja.
Nena mengangkat kepalanya dan memandang Hana, Nena memandang Rendi sekilas lalu ia dengan cepat memalingkan wajahnya kembali pada Hana,
" Aku sebenarnya bekerja di sini hanya ingin mencari tahu seperti apa pria yang sudah menolak ku mentah-mentah, ini sangat melukai harga diri ku, karena biasanya aku yang menolak pria dan sekarang aku menerima penolakan itu, tentu saja aku tidak bisa menerima tanpa tau apa pun.
Agar tidak ada yang mengenaliku, aku terpaksa menyamar untuk bekerja di sini, dan akhirnya aku tau alasan kenapa dia menolak ku, ucap Nena menatap Rendi dan ternyata juga masih menatapnya, sejenak mata mereka bertemu sebelum Nena mengalihkan pandangannya.
"Dan masalah aku dan suamiku yang pernah memarahi dan memaki-maki ku masa aku tidak mengingatnya sedikitpun, apakah karena waktu itu aku bekerja tidak konsentrasi sedikitpun, atau jangan-jangan Mas mengingatnya tapi pura-pura lupa.
Hana menatap suaminya curiga, melihat tatapan istrinya Aditya langsung angkat bicara,
" Soal itu Mas benar-benar tidak tahu.
"Hana mana mungkin kamu bisa mengingatnya, saat itu kamu hanya menundukkan kepalamu, seperti orang kebingungan, kalau kamu tidak percaya kamu bisa melihat rekaman CCTV-nya.
" Boleh juga usulan mu Nen, Al ! tolong kamu copy kan rekaman CCTV-nya untuk ku, perintah Hana.
"Baik Han, jawab Aldo singkat.
"Sayang untuk apa kamu memintanya? seru Aditya heran.
" Aku hanya ingin melihat ekspresi Mas ketika sedang memarahi ku, ucap Hana polos.
Aditya merengkuh rambutnya kebelakang dengan kedua tangannya karena mendengar Jawaban istrinya.
"Terserah, sekarang ayo kita sholat dulu habis itu kita makan aku sudah lapar, ucap Aditya sambil menarik tangan istrinya untuk bangun dari duduknya.
" Kalian selesai kan urusan kalian berdua, ucap Aditya sebelum keluar dari pintu.
"Dan satu lagi pecat karyawan mu yang bernama Nia, karena ia sudah menyakiti istriku.
Aldo dan Dila hanya mengikuti langkah Aditya dan Hana yang ada di depannya, keduanya masih bingung dengan apa yang baru saja mereka lihat, terutama Dila yang sedari tadi hanya melongoh heran.
Tinggal Rendi dan Nena dalam ruangan itu, keduanya tidak ada yang bersuara, dan akhirnya Rendi membuka suaranya,
"Kalau kamu sudah tahu kalau aku menyukai wanita lain untuk apa kamu masih bekerja di sini.
Nena tidak tahu harus menjawab apa dan akhirnya kata itu keluar begitu saja dari bibirnya,
" Setidaknya aku masih bisa dekat dan melihat mu, ucap Nena sambil memutar tubuhnya untuk keluar dari ruangan Rendi.
Sungguh ia sangat berharap bukan kalimat itu yang ingin ia dengar keluar dari bibir Rendi, mungkin sudah saatnya ia menyerah.
***
Rendi pagi-pagi sudah sampai ke restorannya, ia ingin menemui Nena karena hari ini ada jadwal dirinya untuk masuk bekerja. Ia segera menuju dapur restoran tapi ia harus menelan kecewa karena ia tidak menemukannya, ia bergegas menemui menejer restorannya,
"Apakah kamu melihat Nena?
" Maaf Chef kemarin Nena sudah mengundurkan diri.
Rendi melangkah ke ruangannya dengan pikiran kacau, ia memang sedikit egois ketika ayahnya berniat menjodohkannya dengan anak sahabatnya, Rendi langsung menolak tawaran ayahnya, bahkan untuk datang berkunjung ke rumah Nena ia menolaknya. Ia sungguh tidak menyukai perjodohan itu dan ia pun tidak ingin bertemu dengan Nena walaupun hanya satu kali saja, karena ia tidak akan pernah tertarik pada Nena. karena waktu itu hatinya sudah terpaut pada Hana.
__ADS_1
Ketika ia bertemu dengan Nena sungguh tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan selama ini, ia menyangkah Nena gadis manja yang tau hanya shoping dan ke salon tapi kenyataannya ia bahkan rela bekerja kasar di restorannya Hanya untuk bisa dekat dan melihatnya.
Rendi menarik rambutnya frustasi, ia sedang mencoba berpikir untuk bisa bertemu dengan Nena. Rendi bergegas mengambil kunci mobilnya untuk menemui ayahnya di kantor, Rendi memacu mobilnya dengan cepat.
Begitu ia sampai di kantor ayahnya ia segera bergegas menuju lift tanpa menghiraukan karyawan ayahnya yang menegurnya. Begitu sampai di lantai lima ia bergegas ke ruangan tanpa mengetuk pintu ia menerobos masuk, membuat ayahnya terkejut,
"Tumben kamu datang ke sini? tanya ayahnya Heran.
" Apakah perjodohan itu masih berlaku?
"Bukankah kamu sudah menolaknya, karena kamu tidak akan pernah menyukai Nena.
" Aku menarik kata-kataku ayah, ucap Rendi menatap ayahnya serius.
Sesaat ayahnya menarik napas panjang,
"Sebaiknya kamu tanyakan itu langsung pada Nena.
***
" Maaf buk, ada yang ingin bertemu.
"Apakah ia sudah membuat janji.
" Aku rasa aku tidak perlu membuat janji untuk bertemu dengan mu, seru Rendi masuk.
Nena sangat kaget melihat Rendi berada di kantornya, ia pun menyuruh sekretarisnya untuk segera keluar.
"Untuk apa mencari ku, ucap Nena berdiri dari kursinya.
"Dari siapa kamu tahu kantor ku?
" Aku rasa aku tidak perlu menjawabnya!
Rendi mengamati Nena yang sangat cantik dengan setelan kerjanya berwarna hitam dengan lengan sebatas siku dan bawahnya sebatas lututnya. Ini pertama kali Rendi melihat Nena berpakaian seperti ini.
"Kantor mu sangat bagus ini tapi kamu masih betah bekerja sebagai pelayan di restoran ku, apakah kamu benar-benar begitu sangat menyukai ku, tanya Rendi semakin mendekat dengan Nena.
Nena memundurkan tubuhnya agar menjauh dari Rendi,
"Kenapa menjauh bukankah kamu ingin selalu dekat dengan ku, tanya Rendi menatap Nena tajam.
"Aku tidak akan datang lagi ke tempat mu, ucap Nena melangkah mundur dan langkahnya tertahan ketika terhalang oleh meja kerjanya.
" Kenapa? kamu tidak menyukai ku lagi, ucap Rendi tepat di depan wajah Nena.
Rendi mengungkung tubuh Nena di balik meja kerjanya dan menatap Mata Nena tajam,
Nena dapat merasakan hembusan napas Rendi di wajahnya, dengan cepat ia memalingkan wajahnya. Rendi menarik dagu Nena lalu mencium bibir Nena, Nena yang sangat terkejut dengan serangan Rendi yang tiba-tiba berusaha melepaskan ciumannya, tapi Rendi menarik tengkuk Nena dan memperdalam ciumannya. Melihat Nena yang sudah kehabisan napas ia melepaskan ciumannya.
"Kamu brengsek berani mencuri ciuman pertamaku, ucap Nena mencoba melepaskan diri dari rengkuhan Rendi.
Rendi terkekeh mendengar ucapan Nena,
" Kita impas sayang, itu juga ciuman pertama ku, bisik Rendi di telinga Nena.
__ADS_1
"Ayo kita menikah, ucap Rendi mendekap kedua pipi Nena.
Nena sangat terkejut mendengar ucapan Rendi, namun dengan cepat ia mengusai dirinya.
" Apakah karena ia sudah punya suami sehingga kamu melarikan diri padaku, Nena balas menatap Rendi.
"Terserah apa pun yang ingin kamu katakan, sekarang tujuan hanya satu.. memiliki mu.
" Kalau aku menolak, tantang Nena
"Aku akan memaksamu, ucap Rendi mengusap bibir Nena dengan ibu jarinya.
" Kamu percaya diri sekali, dengus Nena.
"Aku akan membuktikan ucapan ku.
Rendi mencium bibir Nena sekilas, lalu melepaskan rangkulannya.
****
Hana baru saja membaringkan tubuhnya di ranjang, ponselnya berdering Hana melihat ada satu pesan masuk ternyata itu dari Aldo, Hana bergegas memutar video yang dikirimkan Aldo,
"Mas...! kamu sungguh kejam tega kamu memarahiku seperti itu, lihat ekspresi mu membuat ku takut, teriak Hana menangis.
Aditya yang baru saja selesai sholat sangat terkejut, dan segera menghampiri istrinya, dan mengambil ponsel di tangan istrinya,
" Jangan dekat-dekat aku membenci Mas, sungut Hana kesal.
"Sayang tapi ini sudah lama dan kita juga tidak saling kenal, bujuk Aditya pada istrinya.
'Tapi Mas juga tidak boleh seperti itu, walaupun bukan dengan orang yang Mas kenali.
Aditya menarik istrinya ke pangkuannya,
" Sayang Mas minta maaf, Mas janji tidak akan seperti itu lagi.
"Aku tidak akan mau menikah dengan Mas kalau tau aku pernah Marahin seperti itu, sungut Hana kesal.
" Tapi sekarang kamu sudah jadi istri Mas dan sekarang kamu lagi hamil anak kita sayang, rayu Aditya membelai perut istrinya lembut.
"Brengsek si Aldo ngapain dia mengirim video kayak gini, bilang aja udah hilang kan beres urusan, gimana Aditya dalam hati.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1