
Ini hari keempat setelah kepulangan Hana dari tempat ibunya, pertemuan singkat dengan keluarganya dapat mengobati setitik rindu untuk dapat berkumpul dengan keluarganya yang sudah jarang dilakukan sejak ia kuliah hingga segera ia sudah menjadi istri Aditya.
Hari ini menjelang dzuhur kegiatan rutinnya di rumah sakit akan berakhir, begitu pun dengan Dila, sehingga ia memutuskan untuk mengajak Dila pergi berbelanja, kegiatan yang sangat jarang ia lakukan, dulu ia jarang pergi shopping seperti kebanyakan wanita karena ia memang tidak memiliki uang yang cukup untuk di belanjakan, bisa membiayai kuliahnya saja itu sudah membuat Hana senang.
Sekarang ia sudah menikah dengan pria yang kaya raya, tentu ia akan mudah mendapatkan semua keinginannya, namun Hana tetaplah Hana gadis yang tetap sederhana walaupun sekarang hidup bergelimang harta.
Namun hari ini ia ingin mentraktir Dila belanja, dulu Dila sangat sering membelikan Hana barang-barang, seperti baju, tas bahkan sepatu. Walaupun Dila bukan dari keluarga kaya, tapi ia juga bukan orang susah seperti Hana.
Setelah selesai sholat dzuhur mereka segera berangkat ke salah satu Mall yang sangat terkenal di jakarta, surga belanja bagi orang berduit itu memiliki fasilitas lengkap dengan hotel dan restoran yang tentu saja Highclass.
Tentu seja Hana pergi setelah mendapat ijin dari suami tercintanya, sebenarnya Aditya sempat melarang Hana untuk pergi dengan taksi, ia menyuruh Mang Ujang saja untuk mengantarkan, tapi Hana menolak karena kasian dengan Mang Ujang akan menunggu lama, karena kalau mereka berpergian akan lupa waktu.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai, Hana dan Dila segera turun dari taksi dan melangkah masuk ke dalam Mall. Sebelum memulai shoping, mereka memutuskan untuk mengisi bahan bakar dulu, dan restoran Italya menjadi pilihan mereka untuk mengisi perut mereka yang sudah kelaparan.
Keadaan restoran tidak terlalu ramai, mereka memilih meja yang dekat dengan pintu keluar, sehingga mereka bisa melihat para pengunjung restoran yang akan masuk. Pelayanan segera datang begitu mereka mendudukkan tubuh mereka di kursi, ayam parmigiana, Gnocchi, gelato, tiramisu dan pasta menjadi menu makanan mereka sedangkan untuk minuman mereka memilih vanila latte.
Sambil menunggu pesanan mereka Hana pergi ke toilet, sedangkan Dila memainkan ponselnya dengan sesekali melemparkan pandang pada pengunjung yang baru datang. Mata Dila membulat sempurna begitu melihat pengunjung restoran yang baru saja masuk, ada lima orang pria yang sedang melangkah masuk, tiga orang dari mereka merupakan wajah yang tidak asing bagi dirinya, teriakan dari salah satu pria yang memanggilnya dan segera melangkah ke mejanya, dan tentu saja empat pria yang lain segera mengalihkan pandangannya kepada Dila,
"Hallo Dila! apa kabar? spontan pria itu memeluk Dila yang baru saja bangkit dari duduknya.
" Kabar baik Kak Rian, sambil memandangi Aditya dan Aldo yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Sudah lama kita tidak bertemu, kamu makin cantik aja! ucap Rian sambil mengacak-acak rambut Dila.
" Hana mana Dil? aku sungguh sangat merindukannya, apakah dia sudah punya kekasih sekarang.
Dila hanya tersenyum kikuk menata Aditya, ia bingung harus bicara apa.
"Dia lagi pergi ke toilet, jawab Dila akhirnya.
Aditya, Aldo, dan dua rekan yang lain
memilih meja yang tidak jauh dari meja Dila, mereka hanya di batasi oleh sebuah kaca bermotif bunga tulip.
" Kalau begitu aku bergabung dengan kalian saja ya, tunggu sebentar aku mohon ijin sama papaku dulu, seru Rian sambil berjalan meninggalkan Dila.
Aditya dengan jelas dapat mendengar Rian menanyakan istrinya pada Dila, pikiran Aditya langsung teringat perkataan Dila bebrapa minggu yang lalu, jangan-jangan dia Rian yang di bicarakan Dila dulu, guman Aditya dalam hati. Aldo dapat melihat wajah gelisah Aditya yang duduk di sebelahnya, walaupun Aditya berupaya untuk menutupinya. Kondisi yang tidak jauh berbeda dengan Aldo, ia juga sangat kaget melihat Rian yang main peluk Dila begitu saja, mereka juga terlihat sangat akrab, tapi begitu Rian menyebutkan nama Hana, ia sedikit bernapas lega, tapi air muka Aditya langsung berubah setelah mendengarnya.
__ADS_1
Rian pun mohon ijin kepada papanya, Aditya, dan Aldo, setelah itu ia segera bergabung dengan Dila, yang duduk bingung dan gelisah, "aduh kenapa bisa runyam begini, ucap Dila dalam hati.
Hana yang baru saja keluar dari toilet dan melangkah kembali ke mejanya dimana Dila tengah menunggunya, ia melihat Dila sedang berbicara dengan seorang pria, namun Hana tidak dapat melihat wajahnya karena posisinya yang membelakangi Hana, ketika jaraknya mungkin sekitar satu meter dari mejanya pria itu menolehkan wajahnya ke belakang, dan
"Hana, aku sungguh merindukan mu baby, ucap Rian langsung memeluk Hana, Sedangkan Hana yang terkejut tidak dapat menghindar, ia hanya menarik kedua tangannya ke dadanya, untuk memberi sedikit jarak dengan tubuh Rian, kemudian dengan cepat Hana mendorong tubuh Rian agar menjauh darinya,
" Kak Rian, mana boleh begini! ucap Hana kesal sambil mendudukkan tubuhnya di kursi.
Wajah Aditya mengeras menahan emosinya, ia rasanya ia menghajar Rian yang sudah berani menyentuh istrinya, tapi ia berusaha untuk mengendalikan dirinya di depan rekan bisnisnya. Pandangannya sedikit pun tidak bergeser dari Hana,
"Lama tak bertemu kamu semakin cantik, rayu Rian tak henti memandangi Hana.
" Kakak menghilang kemana? tanya Hana.
"Aku pindah kuliah ke Australia, semenjak kamu tolak hidupku sedikit kacau, akhirnya papa memindahkan aku kuliah di sana, jawab Rian terkekeh.
" Kuliah ku baru saja selesai, dan aku akan kembali menetap disini, tambah Rian.
Mereka pun mengobrol sambil menyantap makanan mereka, Hana mengedarkan pandangannya ke sekitar restoran dan Hana langsung menghentikan kunyahan nya begitu pandangannya bertemu dengan suaminya,
Hana langsung menelan salivanya melihat ekspresi datar dan dingin suaminya, " Mas Adit, guman Hana dalam hatinya.
****
Hana dan Dila menunggu Aditya di lobby kantor, lama mereka menunggu di sana, karena Aditya sedang sibuk, ia tidak berani mengganggu Aditya, apalagi dalam keadaan nya yang dalam kondisi sedang marah seperti ini.
Hana membatalkan acara shoping nya dengan Dila karena ia ingin meluruskan keadaan sebenarnya kepada suaminya, Hana melirik jam tangannya, jam sudah menunjukkan hampir pukul lima sore, ia belum melihat tanda- tanda Aditya akan pulang, sedangkan karyawan Aditya sudah mulai pulang, Hana pun mengajak Dila untuk sholat Ashar dulu.
Begitu selesai sholat, ia kembali ke lobby dan ia melihat Aditya dan Aldo keluar dari lift, Hana pun mempercepat langkahnya, sambil memanggil suaminya,
"Mas Adit tunggu, teriak Hana.
Walaupun Aditya mendengar panggilan istrinya, namun ia tetap melangkah tanpa mengacuhkannya, karena ia masih sangat kesal dengan Hana. Sedangkan Aldo memperlambat langkahnya untuk menunggui Hana, sementara Dila mengikuti langkah Hana dibelakang.
Hana dapat memegang lengan suaminya ketika Aditya sudah sampai di depan mobilnya,
"Mas, dengarkan aku dulu, pinta Hana penuh harap.
__ADS_1
Aditya melepaskan pegangan Hana dengan menghentakkan tangannya kasar, lalu masuk ke mobil, Hana pun ikut masuk mengikuti Aditya.
Aldo menatap mobil Aditya yang berlalu di depannya, sedangkan Dila berdiri dua di belakangnya, Aldo pun menolehkan wajahnya ke belakang, keduanya saling menatap,
"Kasian Hana, kenapa Mas Adit tega sih sama Hana, ucap Dila sedih.
"Aditya terlalu mencintai Hana, sehingga posesif seperti itu, apalagi melihat Rian memeluk Hana, api cemburu membakar Aditya dengan ganas.
" Tapi kan ada aku juga disana, seru Dila.
"Apakah itu yang namanya cemburu buta, sehingga menghilang akal dan logika, tambah Dila.
" Mungkin, seru Aldo.
" Al, aku permisi dulu, selamat sore, ucap Dila melangkah pergi.
"Tunggu Dila, ucap Aldo, Dila pun menghentikan langkahnya.
" Terima kasih, karena sudah menolongku waktu itu, sebagai tanda terimakasih aku akan mengantarkan kamu pulang.
"Tapi aku harus singgah ke toko buku dulu, ucap Dila berusaha menyembunyikan keterkejutan nya.
" Tidak masalah, tidak jauh dari sini ada toko buku, kita bisa mampir kesan! ajak Aldo.
"Baiklah, ucap Dila. Dila menatap punggung Aldo dengan senyuman menghias bibirnya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung