
Mau ngucapin makasih :
@Yoo Anna
Udh follow, ngasih bintang 5, ngasih Komen dan ngasih kopi yang banyak❤️
Aku gak tau dari mana kotamu berasal, apalagi fotomu juga bukan foto asli, tp ttep aku ucapin makasih byk utk dirimu🫰
@Yayah
Paling rajin komen n ngasih kopi 🤗
@Asima Siagian
Eh kk Asima, aku liat kamu ngasih kopi byk bangeet🫰
Dan jg makasih bt yg selalu support dan paling sering komen manis sampai di detik-detik Episode terakhir :
Mimi Ayu, Warsito Seno, Widya Ningsih, Arkan Fadhila, Monica Tanung, Nabilla, Mma Ayu, Juwita Akbar, Lia Triyanti, Jasmine, Della Santya, Catrina Basuki, Maya Hermawan, Tya mahesti, Bita Ismail, Yuli Taniah dan masih byk lagi.
Dan juga makasih banyak buat temen-temen lainnya yang udah ngasih Bintang 5, Komen, Like, Subscribe, Vote, yang gak bisa aku sebutin satu persatu, karena terlalu banyak🙏
Happy Reading 🤗
*****
Satu Minggu kemudian.
Sudah dua malam Mayang menginap di rumah anak dan menantunya, sejak kehamilan Laras, setiap minggu wanita paruh baya yang berhati baik dan lembut itu menginap di sana.
Mayang begitu ketat mengawasi dan menjaga Laras di saat Arga sedang berada di kantor, wanita berumur 56 tahuan itu mengurus Laras layaknya seorang Ibu memperlakukan anak kandungnya.
Mayang selalu berfikiran, bahwa Laras seorang yatim piatu dan sebatang kara, maka sudah menjadi kewajibannya sebagai mertua untuk menggantikan posisi Ibu Laras yang telah lama meninggal dunia.
Dengan kehadiran Mayang di setiap minggu di rumah mereka, menjadikan hari-hari Laras semakin ceria, menjalani masa kehamilannya dengan bahagia, tak jarang dirinya dan mertua pergi keluar, keliling mall atau sekedar berjalan-jalan ke taman kota dengan diantar pak Wito, sopir setia Mayang.
"Ma, besok kan hari Sabtu, mas Arga libur kerja, sebelum Laras lahiran, Laras pengen jalan-jalan keluar bersama mama dan mas Arga, apa mama mau?," tanya Laras saat ketiga orang tersebut sedang menyantap makan malam.
"Iya pasti mau dong nak, asal kamu dan calon cucu mama senang, mama pasti ikuti semua mau kalian. Besok memang waktu yang tepat untuk kita bertiga bisa keluar bersama, kan jarang-jarang kita bisa jalan bertiga," sahut Mayang tersenyum menyetujui ide Laras.
"Kamu sendiri bagaimana sayang? Apa kamu mau ikut mama dan Laras?," Mayang bertanya pada Arga yang sedang asyik mengunyah makanan.
"Kalau Arga, terserah Laras ma, Arga akan ikut kemana saja Laras pergi," pria itu menjawab seadanya, sambil terus mengunyah makanannya.
"Waah.., mama baru tahu, sekarang kamu sudah tidak bisa jauh-jauh dari istrimu ya," Goda mayang tertawa, Laras dan Arga pun ikut tertawa dengan gurauan wanita baik itu.
Keesokan harinya.
Pukul 16:00 sore.
Mayang, Arga dan Laras telah sampai di resto apung Muara Angke Jakarta Utara, yang tidak jauh dari rumah mereka, dimana resto tersebut adalah resto favorite Mayang bersama mendiang suami.
Tadi setelah shalat Asar, mereka langsung meluncur menuju Muara Angke, Arga sendiri yang menyetir.
Tidak sampai tiga puluh menit, ketiganya telah sampai di resto apung, tampak para pengunjung telah memadati resto seafood tersebut.
Banyak pasangan muda mudi, pasangan suami istri bahkan satu keluarga tampak memenuhi di setiap sudut ruangan.
Di saat sore hari apalagi hari ini bertepatan malam minggu, pengunjung jauh lebih ramai dibanding hari biasa.
Mayang memesan beberapa menu, kepiting saos tiram, cumi goreng tepung, lobster bakar, ikan bakar, serta berbagai macam sayuran di pintu masuk resto yang memang telah stay petugas resto untuk mencatat pesanan pengunjung, kemudian petugas resto lainnya mengantarkan mereka ke ruangan.
"Di ruangan yang dekat jendela saja mas, jadi enak bisa langsung melihat ke pantai," pinta Mayang pada petugas resto.
Dan secara kebetulan, ruangan yang dimaksud Mayang baru saja kosong karena pengunjungnya baru saja keluar meninggalkan resto.
"Silakan duduk bu, makanannya akan diantar kurang lebih tiga puluh menit," petugas mengantar ke ruangan yang baru saja kosong dan mempersilakan tamunya duduk.
Ketiganya langsung duduk di kursi di dekat jendela.
"Terima kasih mas," ucap Mayang dan kemudian petugas resto segera meninggalkan ruangan.
Setelah mereka duduk dan menikmati suasana pantai dari ruangan mereka berada saat ini, Arga tiba-tiba mengajukan sebuah pertanyaan pada sang istri.
"Sayang, kamu ingat tidak kursi yang kamu duduki sekarang?," tanya Arga menatap Laras.
Laras tersenyum mengangguk.
"Iya ingat, kursi ini tempat kita duduk beberapa bulan lalu, waktu pertama kali mas mengajakku makan di sini," sahut Laras mengingat moment dimana Arga pertama kali mengajaknya makan di resto ini.
"Jadi kalian sudah pernah makan di sini?," tanya Mayang ikut menimpali.
"Iya ma, waktu itu Laras sedang kurang enak badan, Arga berinisiatif mengajaknya makan di sini," jelas pria tampan itu pada sang mama.
"Oh begitu, berarti ini kedua kalinya kamu datang ke sini nak?," Mayang bertanya menatap Laras.
"Iya ma, Laras senang datang ke sini, selain bisa makan seafood yang fresh, Laras juga bisa menikmati dari atas resto ini suasana pantai di sore hari," ucap Laras menebarkan pandangan ke debur ombak yang sedang bergulung pelan ditiup semilir angin sore.
__ADS_1
"Iya, dulu mama sering mengajak almarhum papa kalian datang ke sini, bersama Arga dan kakak-kakaknya," ujar Mayang memberitahu menantunya.
"Iya ma, Laras sudah tahu dari mas Arga kalau resto ini tempat favorite mama. Mas Arga pernah menceritakannya pada Laras,"
"Iya, yang diceritakan Arga itu benar, ini tempat kenangan mama bersama papa kalian," jawab Mayang tersenyum sambil mengenang masa-masa dirinya datang ke resto ini bersama mendiang suami.
"Dan ini juga menjadi tempat kenangan Arga bersama Laras ma..," tiba-tiba Arga menimpali perkataan sang mama.
Laras dan Mayang seketika saling bertukar pandang lalu tersenyum bersama mendengar perkataan Arga.
"Benar kan sayang? Ini juga menjadi tempat kenanganmu bersamaku dan juga tempat pertama kali kita makan bersama?," Arga bertanya pada sang istri.
"Iya sayang, ini juga jadi tempat kenanganku bersama mas, aku selalu mengingat saat itu," sahut Laras tersenyum menatap Arga yang diikuti senyuman dari Arga dan Mayang.
Tiga puluh menit menunggu, akhirnya makanan pun datang, dan ketiganya segera menyantap hidangan seafood fresh yang telah tersaji di meja.
"Mama tidak bisa lagi makan terlalu banyak makanan enak ini, menghindari kolesterol, kalian juga jangan terlalu sering makan berkolesterol tinggi, meski masih muda tapi kalian harus tetap menjaga pola makan dan kesehatan," nasehat Mayang pada kedua kesayangannya.
"Iya ma," sahut Laras dan Arga serempak.
Satu jam lebih mereka menikmati makanan serba laut di resto itu, Mayang yang memang hanya memakan sedikit, telah terlebih dahulu menyelesaikan makannya.
"Mama ke toilet dulu sekalian cuci tangan," ujar wanita itu berdiri dari kursi.
"Biar Laras yang temani mama," Laras hendak beranjak dari duduk.
"Tidak perlu, kamu itu sedang hamil, mama masih kuat ke toilet sendiri, kamu juga belum selesai makan," Mayang melarang menantunya.
Laras pun duduk kembali menuruti perkataan sang mertua.
Arga dan Laras kembali melanjutkan makan, Laras seperti biasa membantu membukakan cangkang kepiting untuk Arga dan menyuapkan ke mulut sang suami.
Pria tampan itu dengan lahapnya memakan daging kepiting dari suapan sang istri.
Tak lama kemudian, suami istri itu telah selesai makan dan mencuci tangan lalu duduk kembali di kursi menunggu Mayang dari toilet.
Arga melihat dahi Laras yang tampak berkeringat, pria tampan itu mengambil beberapa lembar tissue lalu mengeringkan keringat sang istri, lalu mengusap-usap perut wanita cantik itu dengan penuh kasih sayang.
Mayang yang baru keluar dari toilet tak sengaja melihat ke arah anak dan menantunya yang tengah tertawa bahagia.
Wanita paruh baya itu pun ikut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan Arga dan Laras.
Mayang sengaja tidak langsung menuju ke meja dimana anak dan menantunya duduk, wanita itu duduk di kursi kosong tak jauh dari keberadaan Arga dan Laras.
Dari tempatnya duduk saat ini, wanita separuh baya itu terus mengamati dan memperhatikan anak dan menantunya yang sedang mengobrol sambil tertawa, sesekali Arga mencium perut Laras, tampak senyum bahagia merekah di wajah Mayang yang mulai menua menyaksikan pemandangan di depannya.
Flash back beberapa bulan lalu.
Saat Laras baru mengetahui kehamilannya, keesokan harinya Laras langsung mengajak Arga menginap di rumah mertua kesayangannya untuk menyampaikan kabar gembira yang telah lama ditunggu dan dinantikan sang mertua.
Malamnya, saat mereka sedang duduk bersantai di ruang tengah sambil menikmati cemilan yang terhidang di atas meja, Arga berkata kepada sang mama.
"Ma, mama tahu sesuatu tidak?," tanya Arga yang duduk di depan mamanya.
"Sesuatu apa?," Mayang bertanya penasaran memandang Arga.
"Keinginan mama akan segera terwujud ma..," sahut Arga sengaja tidak menjelaskan secara rinci.
"Keinginan mama yang mana?," Mayang semakin dibuat penasaran dengan perkataan Arga yang tidak menjelaskan secara rinci.
"Cucu," ucap Arga pendek.
Sebuah kata yang pendek tetapi mampu membuat calon nenek itu terkejut.
"Hah?!," mata Mayang membulat dan langsung memandang Laras yang duduk di samping Arga.
"Cucu? Benarkah itu sayang?," kamu sekarang sedang mengandung?," Mayang bertanya kepada sang menantu dengan wajah berseri.
"Iya ma, benar," Laras tersenyum membenarkan pertanyaan sang mertua.
"Alhamdulillah, sebentar lagi mama akan menjadi nenek, mama jadi tidak sabar," ucap Mayang beranjak dari sofa dan duduk di samping Laras kemudian memeluk menantunya.
"Selamat ya sayang, jamu harus menjaga baik-baik kandunganmu, nanti mama satu minggu sekali akan menginap di rumah kalian untuk menemanimu," ucap mertua berhati baik itu.
"Iya ma, terima kasih, Laras beruntung sekali memiliki suami dan mertua seperti mas Arga dan mama," ucap Laras memeluk sang mertua dengan erat.
Mayang melepas pelukan, lalu memandang Arga yang ada di samping Laras.
"Ingat, kamu sebagai suami harus selalu menjaga dan melayani istrimu dengan baik, jangan pernah membuatnya sedih, marah apalagi stres. Ibu hamil harus selalu dijaga perasaannya, harus membuatnya bahagia dan tidak boleh membuatnya banyak fikiran," Mayang menasehati sekaligus memperingatkan sang putra.
"Iya ma, Arga pasti akan selalu di samping menantu kesayangan mama ini dan tidak akan membuatnya sedih," sahut Arga meyakinkan sang mama.
Flash back selesai.
Mayang tersenyum sendiri mengingat berita bahagia yang dibawa Arga dan Laras beberapa bulan lalu.
Mayang kembali masuk ke ruangan dimana Arga dan Laras berada, dan beberapa menit kemudian mereka pun pulang ke rumah.
__ADS_1
*****
Dua bulan kemudian.
Hari Kamis, pukul 08:00.
"Selamat ya Tin, baby mu tampan sekali," ucap Laras tersenyum mengelus bayi merah yang ada di samping Tina.
"Makasih ya Ras, jadi duluan aku dari kamu, perkiraan dokter sepuluh hari lagi, tapi si baby nya sudah tidak sabar mau keluar hari ini juga," ucap Tina terkekeh sambil melirik bayi mungilnya.
"Iya, sama seperti kamu yang sering tidak sabaran," sela Laras menggoda Laras yang membuat Tina tersenyum mengangguk, membenarkan perkataan Laras.
Arga dan Rico yang berdiri tidak jauh dari ranjang Tina, hanya tersenyum mendengar percakapan istri mereka.
Kemudian Arga pun memberi ucapan selamat kepada asisten sekaligus sahabatnya.
"Selamat ya! punya jagoan kecil!," Arga menepuk pundak Rico lalu memeluknya.
*****
Keesokan harinya.
Hari Jumat, pukul 05:00.
Arga dan Laras baru selesai menunaikan shalat Subuh.
Setelah melipat mukena dan sajadah, wanita hamil itu berdiri dari duduknya dengan dibantu sang suami.
Tiba-tiba Laras memegangi perut dan sedikit meringis, wanita itu merasakan sakit di perut.
"Ya Allah sayang, perutku sakiiit," Laras menyandarkan tubuh ke tubuh Arga, berusaha berpegangan kuat pada sang suami.
Arga yang melihat Laras meringis menahan sakit langsung bergerak cepat mengangkat tubuh sang istri dan membaringkan di tempat tidur.
"Sayang, jadwal persalinan masih satu minggu lagi, apa hari ini kamu sudah akan melahirkan?," tanya Arga cemas ikut meringis melihat Laras meringis.
"Sepertinya iya, sakitnya makin melilit, tolong antar aku ke rumah sakit," ucap Laras memegangi perut yang terasa semakin sakit hingga ke belakang punggung.
"Baik, tenang, sabar ya sayang, tahan sedikit, aku akan segera mengantarmu ke rumah sakit, tunggu sebentar, aku akan memanggil mang Gatot untuk mengantar kita," ucap Arga tak bisa menyembunyikan kepanikan.
Arga berlari kencang keluar dari pintu kamar, pria itu dengan langkah kaki cepat, berlari menuruni anak tangga memanggil mang Gatot, untung saja mang Gatot telah bangun dan sedang duduk di dapur bersama bik Lina.
"Mang Gatooot, mang Gatooot! cepat keluarkan mobil CRV! Istriku akan melahirkan!," teriak Arga panik lalu kembali berlari kencang ke atas.
"Sayang, sayang, kamu masih kuat kan?," Arga telah sampai di tempat tidur, terlihat nafasnya tersengal, memegang tangan Laras dengan tatapan cemas.
"Ya Allah, rasanya makin melilit, sakit sekali sayang..," Laras mulai berkeringat menahan rasa sakit yang mendera perut serta punggungnya, tampak kasur telah sedikit basah oleh air ketuban.
Arga merasa begitu khawatir melihat Laras yang tengah menahan sakit, Arga juga sempat melihat ada sedikit air merembes dari daster sang istri, rasanya pria itu tidak sanggup melihat keadaan Laras, hatinya menjadi ngilu.
"Mas jangan cemas begitu, aku tidak apa-apa, teruslah berdoa..," wanita itu masih berusaha menenangkan Arga saat melihat ketegangan di wajah sang suami, meski pun Laras sendiri sebenarnya sudah merasa kesakitan.
"Iya sayang, ayo kita berangkat sekarang," pria itu dengan cekatan membopong tubuh Laras, tak lupa mengambil ponsel di meja dan memasukkan ke saku piyama.
Dengan cepat pria itu keluar kamar dan menuruni anak tangga satu persatu dengan sangat hati-hati.
Arga langsung menuju ke mobil yang telah disiapkan mang Gatot dan segera memasukkan tubuh Laras ke dalam Honda CRV.
Tanpa menunggu lama, dengan cepat mang Gatot langsung menjalankan mobil keluar dari pagar yang sedari tadi telah dibukakan Sapri.
Arga membaringkan kepala Laras di dada, sambil memegangi tubuh istrinya.
Arga merogoh ponsel di saku piyama dan menelpon dokter Sylvia, dokter kandungan yang setiap bulan dikunjungi Laras dan juga Tina. Arga segera menelepon dokter Sylvia dan meminta sang dokter segera datang ke rumah sakit.
Sang dokter memenuhi permintaan Arga dan akan segera meluncur ke rumah sakit.
Beruntung pria itu tadi masih kefikiran untuk mengambil dan membawa ponselnya dari meja kamar, sehingga bisa memberitahu sang dokter jika istrinya akan segera melahirkan.
"Sayang, sayang, tahan ya, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," ucap Arga terus merasa cemas, mukanya tampak begitu panik, dibelainya kepala sang istri dengan perasaan cemas serta takut bercampur aduk.
"Iya sayang, aku masih kuat, Ya Allah..," Laras berusaha menahan rasa sakit yang semakin melilit.
Laras merasakan rasa kontraksi semakin menjalar, ngilu dan melilit semakin terasa mencengkeram perut.
"Kamu pasti merasa sakit sekali, sabar ya sayang, kita akan segera sampai ke rumah sakit," Arga berusaha menenangkan Laras lalu mengusap perut wanita itu, terus mengusapnya agar sang istri bisa tetap tenang.
Arga berusaha sekuat mungkin menenangkan sang istri, padahal di dalam dirinya pun merasa ketakutan luar biasa, dia sangat takut terjadi apa-apa terhadap Laras, dan dia tidak akan bisa hidup jika sesuatu terjadi pada istri yang sangat dicintainya.
Entah mengapa, tiba-tiba air mata meleleh begitu saja dari kedua sudut mata pria itu, saat melihat Laras masih meringis menahan sakit, pria itu sangat takut jika Laras meninggalkannya, dia tidak akan bisa menerima kenyataan jika hal terpahit akan terjadi pada sang istri.
Di saat darurat seperti ini, bayangan masa lalu, saat dia menyakiti bahkan melukai Laras tiba-tiba kembali berkelebat, hati pria itu rasanya semakin teriris, dan perasaan bersalah serta rasa penyesalan kembali menyeruak dalam hatinya.
"Sayang, sayang.., bertahanlah sayang.., maafkan kesalahanku yang dulu, aku mencintaimu, sangat mencintaimu.., Kamu harus bertahan demi aku dan calon anak-anak kita..," ucap Arga di sela-sela isakannya.
Laras hanya bisa mengangguk pelan menjawab perkataan Arga, hanya tangannya memperkuat pelukan ke tubuh Arga, sambil di dalam hati wanita itu tak henti berdoa meminta kelancaran dan keselamatan untuk dirinya serta calon anak-anaknya.
Arga pun tak putus-putusnya berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT untuk keselamatan istri serta calon buah hatinya.
__ADS_1
...*******...