JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Rencana Perjodohan


__ADS_3

Sesampainya di dalam Istana Kotaraja Daha, niatan Mapanji Jayabaya segera disampaikan kepada Dewan Sapta Prabu, dewan istana yang mengatur tentang jalannya penerus tahta Kerajaan Panjalu. Dewan yang terdiri dari 5 pejabat tertinggi dalam tata laksana pemerintahan itu dan dua kerabat dekat istana. Dari 7 orang anggota Dewan Sapta Prabu, tak satupun dari mereka yang menolak permintaan dari Jaka Umbaran yang ingin belajar tentang ilmu ketatanegaraan sebelum menjalankan tugas sebagai Yuwaraja. Kesemuanya malah mendukung keinginan dari sang putra mahkota.


Pada malam harinya, yang menjadi malam terakhir dari berbagai perayaan penyambutan kepulangan Pangeran Mapanji Jayabaya, penduduk Kotaraja Daha tumpah ruah di alun-alun Kotaraja. Selain karena ingin melihat sosok sang pangeran mahkota, malam ini juga merupakan pertunjukan kesenian tayub yang mendatangkan para penari cantik dari Kelompok Kesenian Nyi Widati dari Kadipaten Karang Anom yang sangat terkenal di Kerajaan Panjalu.


Wirani, primadona penari tledek dari kelompok ini yang namanya sedang naik daun, juga turut hadir dalam acara ini. Bersama Selasih dan Rara Sati, Wirani merupakan penghibur paling tersohor di kalangan masyarakat Kerajaan Panjalu wilayah timur. Tak hanya pintar menari, Wirani juga sangat cantik. Bahkan kecantikan wanita muda asal Pakuwon Gondang Kadipaten Karang Anom ini tak kalah dari para putri keraton.


Alunan suara gamelan terdengar merdu dari atas pentas. Beberapa penabuh gamelan nampak begitu lincah menggerakkan tangannya hingga menciptakan sebuah suara yang indah. Ribuan warga Kotaraja Daha nampak antusias mendengar suara merdu dari kelompok penghibur ini. Apalagi saat tiga primadona panggung tayub yakni Wirani, Selasih dan Rara Sati mulai memasuki pentas.


Dari panggung kehormatan, Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya yang menjadi pusat perhatian dari para penonton pun nampak duduk di atas kursi nya. Hanya Mapatih Mpu Baprakeswara alias Mpu Ludaka dan Rakryan Rangga Mapanji Amaraha saja yang menemani sang pangeran mahkota duduk di kursi kehormatan. Termasuk juga Mpu Gumbreg, Mpu Landung dan Mpu Rajegwesi. Sementara di bawahnya, para bawahan pejabat tinggi juga turut hadir dalam acara ini.


Gendol duduk di bawah kanan dari Mapanji Jayabaya bersama dengan Baratwaja dan Besur. Sedangkan Resi Simharaja duduk di bawah sebelah kiri. Mapatih Mpu Baprakeswara sendiri juga membawa seseorang yang tidak asing lagi bagi Jaka Umbaran dan kawan-kawan. Dia adalah Pradipta, cucu bekas Mapatih Warigalit. Sedangkan Mapanji Amaraha juga membawa dua orang pejabat muda yang mengapit tempat duduknya.


"Weh sepertinya, penari tledek yang bernama Wirani ini secantik putri dari keraton ya Ja?


Kau lihat saja tubuhnya, uhhhh...", ucap Besur sambil tersenyum penuh arti.


"Heh mata keranjang hidung belang..


Jaga mata mu itu. Bukankah kau sebentar lagi akan menikah dengan putri Akuwu Pakuwon Randu he? Apa kau pikir kau ini setampan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya hingga berani menggoda perempuan lain padahal sudah punya calon istri? Dasar buntelan nasi!", omel Baratwaja panjang lebar.


"Heh pokoknya kau tidak bocor cerita sama Wiyati, pasti dia tidak akan tahu..


Sudah dasarnya kalau lelaki seperti kita yang pejabat negara ini punya istri lebih dari satu. Sangat wajar dan umum, kau tahu..", sergah Besur tak mau kalah.


"Tapi kalau mau punya istri lebih dari satu, sebaiknya kau berkaca dulu Ndol..


Bibir tebal mu yang seperti bibir ikan mas itu, mana bisa buat menarik perhatian perempuan cantik apalagi secantik penari tledek itu. Huuuu mimpi...", ledek Gendol yang langsung membuat Besur naik darah.


"Eh saudara Gendol, jangan salahkan aku jika aku bicara kasar dengan mu ya?


Apa kau pikir wajah mu itu lebih baik dari ku heh? Gigi mu saja jarang seperti biji jagung dimakan kaki seribu begitu, sok-sokan pakai mengejek aku..", balas Besur sembari mencebikkan bibirnya ke arah Gendol.


"Tidak apa-apa gigi ku jarang yang penting aku setia. Daripada bibir tebal tapi itu bibir buaya darat. Ih ngeri ....", Besur nyaris saja tidak mampu menahan rasa amarah karena ejekan Gendol. Baratwaja pun langsung bergerak menengahi perdebatan antara mereka.


"Sudah cukup, jangan ribut!


Itu lihat si Wirani berjalan kemari. Sepertinya dia ingin menaruh sampur ( selendang penari ) pada orang-orang di panggung kehormatan ini. Siapa tahu, kalian orang yang beruntung itu", mendengar ucapan Baratwaja, Besur dan Gendol seketika menoleh ke arah pentas. Dan benar saja, Wirani sang primadona penari tledek berjalan mendekati panggung kehormatan dengan sampur merah di tangannya.


"Pasti dia akan mengajak ku menari. Itu karena aku begitu mempesona", ujar Besur segera.

__ADS_1


"Hah? Mempesona?!


Pepes udang dan tuna kali hahahaha", sahut Gendol seraya tertawa terbahak-bahak.


"Lantas siapa lagi yang pantas untuk menari bersama dengan primadona penari tledek itu heh? Kau? Phhuuuiiiiiihhhhh.. Gigi jarang mu itu pasti akan membuat para perempuan muntah melihat nya", balas Besur tak kalah sengit.


"Sudah jangan ribut lagi. Lihat saja Wirani memilih siapa?", ucap Baratwaja kembali menengahi keributan mereka.


Wirani menyembah pada Pangeran Mapanji Jayabaya sebelum dia mengalungkan sampur selendang merah itu ke leher sang pangeran muda. Tak ayal lagi, sang pangeran muda pun akhirnya di tarik oleh Wirani ke tengah pentas. Para penonton pun langsung heboh seketika.


Tak hanya Gendol dan Baratwaja, Besur pun kecewa berat karena tak dipilih oleh Wirani untuk menari dengan primadona penari tledek itu.


"Kalah ganteng kita..", ucap Besur memelas.


Semakin malam pertunjukan kesenian tayub itu semakin meriah. Hingga berakhir pada tengah malam, seputar pentas masih banyak orang yang tidak mau meninggalkan tempat itu. Mereka pun ramai-ramai melanjutkan pesta ini dengan menenggak minuman keras seperti twak, arak dan sidhdhu hingga pagi menjelang tiba.


Keesokan paginya, rombongan kecil Jaka Umbaran segera meninggalkan Istana Kotaraja Daha untuk menuju ke arah Pertapaan Harinjing yang terletak di dekat muara sungai Harinjing dengan Sungai Kapulungan. Bisa dikatakan bahwa tempat itu masih bagian dari Kotaraja Daha meskipun terpisah oleh tapal batas wilayah. Mulai hari itu, Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya berguru kembali untuk mempelajari ilmu tata negara yang menjadi keharusan bagi setiap kerabat dekat Istana Kotaraja Daha.


Kedatangan Pangeran dari Daha ini langsung disambut baik oleh para siswa Pertapaan Harinjing yang umumnya merupakan anak adipati maupun pejabat Kerajaan Panjalu. Mereka yang penasaran dengan sosok pangeran muda yang baru kembali dari penculikan nya itu berkerumun di dekat pintu gerbang pertapaan.


Putra kedua Adipati Cayaraja dari Kadipaten Matahun, Wiryanegara langsung mendekati kereta kuda yang ditumpangi oleh Pangeran Mapanji Jayabaya usai kereta kuda itu berhenti di depan pintu gerbang pertapaan. Begitu Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya turun, dia langsung menyembah pada sang pangeran muda.


"Tidak perlu bersikap seperti itu, Wiryanegara. Ini bukan Istana Kotaraja Daha jadi kau tidak perlu melakukan penyembahan yang berlebihan terhadap ku. Bangunlah..", ucap Jaka Umbaran segera.


"Tepat seperti berita yang beredar, Gusti Pangeran masih muda dan bijaksana. Hamba kagum dengan sikap yang Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya miliki..


Kalau kelak ada kesulitan dalam pembelajaran Guru Begawan Mpu Narada, Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya bisa bertanya pada hamba. Hamba sudah hapal seluruh isi Kitab Undang-undang Kutara Manawa, jadi pasti mampu menjawab setiap pertanyaan atas kitab itu ", ucap Wiryanegara sedikit menyombongkan diri.


"Terimakasih atas dukungan mu, Wiryanegara..


Aku perlu segera bertemu dengan Begawan Mpu Narada. Jadi mohon maaf jika tidak bisa menemani mu mengobrol", ucap Jaka Umbaran sembari tersenyum tipis.


"Kalau begitu, biar aku antar Gusti Pangeran ke dalam. Kebetulan saja hamba juga ingin bertemu dengan Guru Begawan Mpu Narada. Mari silahkan ikuti hamba", ucap Wiryanegara yang berupaya keras untuk terus membuat kesan baik pada Jaka Umbaran. Mereka pun segera melangkah ke arah bangunan besar yang ada di tengah Pertapaan Harinjing.


Besur yang ditugaskan oleh Mapatih Mpu Baprakeswara alias Mpu Ludaka untuk mengawal sang pangeran muda, langsung berbisik pada Baratwaja yang berjalan di sampingnya. Bersama dengan Resi Simharaja dan Gendol, keduanya mengikuti langkah sang pangeran muda dari belakang.


"Dasar penjilat! Aku tidak suka dengan sikap orang itu", ucap Besur lirih namun masih bisa didengar oleh Baratwaja maupun Gendol dan Resi Simharaja.


"Sama aku juga..

__ADS_1


Melihat gelagatnya saja, pasti dia punya niat dan tujuan kurang baik mendekati Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya. Kita harus waspada dengan dia", balas Baratwaja lirih pula.


"Ya kalau berani macam-macam ya sikat saja. Tak peduli dia anak adipati maupun pejabat negara, kalau membahayakan keselamatan majikan ku, akan ku kepruk kepalanya pakai gada kembar ku.


Benar kan apa yang ku bilang, Macan Tua?", sahut Gendol seraya menoleh ke arah Resi Simharaja yang berjalan di sampingnya.


"Kali ini aku setuju dengan pendapat mu Ndol", jawab Resi Simharaja sembari mengangguk mengerti.


Mulai hari itu, Pangeran Mahkota Mapanji Jayabaya belajar di Pertapaan Harinjing. Para siswa lama di tempat itu, berlomba-lomba untuk menjadi kawan baik sang pangeran muda. Ini bisa dimaklumi karena mereka butuh dukungan dari calon raja Panjalu itu jika ingin berkuasa dengan tenang di daerah mereka masing-masing. Namun, semua tindakan mereka masih dalam tahap kewajaran walaupun tak lepas dari pengawasan keempat pengawal setia nya.


Berita kembalinya sang pangeran mahkota Kerajaan Panjalu itu dengan cepat menyebar luas di kalangan masyarakat Kerajaan Panjalu bahkan hingga ke kerajaan tetangga seperti Jenggala, Blambangan, Galuh Pakuan maupun Sunda Pajajaran. Cepat nya penyebaran berita ini tak lepas dari peran para pedagang yang melakukan perdagangan jarak jauh maupun dekat. Dalam waktu satu purnama saja, berita kepulangan Pangeran Mapanji Jayabaya telah sampai di Kerajaan Galuh Pakuan.


Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri langsung tersenyum lebar ketika mendengar berita kembalinya sang pangeran muda itu ke Istana Kotaraja Daha. Dia segera memanggil putri kesayangannya, Padmadewi, dan memberi tahu kepada perempuan cantik itu tentang rencana perjodohan yang telah lama ia janjikan.


"Tidak Ayahanda.. Aku tidak mau menikah dengan seorang lelaki yang tidak aku kenal. Ayahanda sendiri tahu kalau aku sudah memberikan hati ku pada Akang Jaka Umbaran. Jadi aku tidak mau jika harus menikah dengan Pangeran Mapanji Jayabaya", ucap Padmadewi tegas menolak rencana ayahnya.


"Jaka Umbaran itu hanya seorang pengelana yang tidak jelas dimana tempat tinggalnya. Mau sampai kapan kau menunggu kedatangan nya ha?


Sudah ayahanda putuskan bahwa besok pagi kau ikut ayah ke Daha. Disana kau akan ayah nikahkan dengan Pangeran Mapanji Jayabaya. Titik ! Jangan membantah lagi..", ucap Pangeran Rakeyan Jayagiri dengan keras.


"Aku tidak sudi Ayahanda.. Sampai kapanpun, aku akan selalu menunggu kedatangan Akang Umbaran kemari", ucap Padmadewi tak kalah keras. Mendengar itu, Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri pun langsung naik pitam dan melayangkan tamparan keras ke pipi gadis cantik itu.


"Dasar anak tak tahu diri...!"


Plllaaaakkkkk..!


Aaauuuuggggghhhhh!!


Padmadewi meraung keras sembari jatuh terduduk di lantai kediaman putra mahkota Kerajaan Galuh Pakuan ini. Tamparan keras sang ayah meninggalkan bekas merah di pipinya yang putih.


"Dayang Istana!!


Seret anak durhaka ini sekarang juga dan kunci dia dalam kamarnya. Jangan ada yang berani untuk membantu nya jika kalian tidak ingin dapat masalah. Terutama kau Nyi Manik..!


Cepat, bawa dia!!", mendengar perintah dari sang pangeran mahkota, para dayang istana langsung memapah tubuh Padmadewi kembali ke kamar peristirahatan nya. Nyi Manik yang mengasuh Padmadewi sedari kecil, tak sampai hati melihat itu semua namun dia juga tidak berani berbuat apa-apa.


Seharian penuh, Padmadewi menangis tersedu-sedu di dalam kamar tidur nya. Makanan lezat masakan para juru masak istana pun sama sekali tidak disentuh oleh nya. Sembari menangis, dia memegang ikat kepala pemberian Jaka Umbaran sembari berkata,


"Akang Umbaran, kau ada dimana??"

__ADS_1


__ADS_2