JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Uphawasa


__ADS_3

Hattchhhiiiiiihhhhhh...!!


Hattchhhiiiiiihhhhhh...!!


"Gusti Pangeran lagi pilek?", tanya Gendol segera saat melihat Jaka Umbaran yang sedang membaca untaian lembar daun lontar bertuliskan huruf Jawa Kuno, mendadak bersin-bersin secara berulang.


"Aku tidak apa-apa, Ndol..


Tidak tahu kenapa tiba-tiba saja hidung ku gatal dan bersin", Jaka Umbaran mengusap cuping hidung nya beberapa kali.


"Biasanya kalau tiba-tiba saja bersin padahal tidak sakit ya berarti ada orang yang sedang membicarakan tentang Gusti Pangeran..", sahut Besur yang datang ke serambi tempat tinggal Jaka Umbaran selama di Pertapaan Harinjing sembari membawa nampan berisi piring yang penuh dengan singkong rebus dan pisang matang rebus. Nampak uap air masih mengepul dari atas pisang dan singkong rebus itu sebagai tanda bahwa dua makanan itu masih panas.


"Sok tahu.. Ilmu darimana itu? Ngawur dan sesat..", ucap Gendol sembari meraih potongan singkong rebus yang diletakkan Besur dekat tempat Jaka Umbaran duduk. Tangan Gendol langsung kena tepuk keras si Besur.


Plllaaaakkkkk..


"Dasar celamitan...


Ini bukan untuk mu, tapi untuk Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya. Kalau mau makan, ambil sendiri di dapur", ucap Besur sambil mendelik ke arah Gendol.


"Huh, dasar pelit.. Minta satu saja kog tidak boleh..", omel Gendol sambil mengelus punggung tangannya yang kena tepuk.


"Mungkin saja ada yang sedang merindukan kehadiran Gusti Pangeran, makanya ada isyarat dari Hyang Akarya Jagat. Semoga saja ini benar", ucap Baratwaja sembari melangkah menuju ke serambi kediaman Jaka Umbaran.


Hemmmmmmm..


"Kira-kira siapa ya? Putri Kerajaan Galuh Pakuan itu atau Dewi Rengganis si anak Adipati Prabhaswara?


Pasti salah satu dari mereka berdua..", ucap Gendol sembari menggaruk dagu nya seolah ingin secepatnya mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya sendiri.


Saat itu, Baratwaja datang bersama dengan Resi Simharaja. Dia membawakan 4 ekor ayam bakar utuh dan menyerahkan nya pada Gendol.


"Nah inilah namanya kawan sejati.. Tahu kalau kawannya lagi lapar, langsung bawa makanan enak..


Tidak seperti si buntelan nasi jagung itu. Pelitnya setengah mati", ucap Gendol saat menerima ayam bakar utuh itu sembari membuat isyarat ke arah Besur.


"Kog cuma 4 Ja? Untuk ku mana?", protes Besur segera. Belum sempat Baratwaja menjawab, Gendol lebih dulu angkat bicara.


"Makan saja pisang rebus mu. Lebih sehat, tidak ada lemaknya. Sekalian untuk mengurangi bobot tubuh mu yang mirip buntelan nasi jagung itu hahahaha..", ucapan Gendol langsung disambut gelak tawa oleh Baratwaja maupun Resi Simharaja. Besur langsung cemberut seketika. Sedangkan Jaka Umbaran hanya tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala melihat ulah keempat orang pengikutnya ini.


Mereka terus saja beradu pendapat, tak mau mengalah untuk menang. Namun kehadiran mereka menjadi warna tersendiri bagi Jaka Umbaran dalam mempelajari tentang ilmu tata negara di Pertapaan Harinjing ini.


Tak terasa hampir setengah purnama sudah Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya belajar di Pertapaan Harinjing. Hampir setiap malam, sang pangeran muda selain mempelajari tentang ilmu tata negara pada siang hari juga berlatih ilmu kanuragan yang dia miliki pada malam hari. Inipun tidak luput dari perhatian Begawan Mpu Narada yang memberikan perhatian khusus pada sang calon raja Panjalu itu.


Hingga malam itu, Begawan Mpu Narada mengunjungi tempat tinggal Jaka Umbaran. Kedatangannya sontak menghentikan perdebatan antara empat orang pengawal sang pangeran muda. Mereka pun segera menoleh ke arah sang guru pangeran muda.

__ADS_1


"Ada apa kau kemari, Brahmana tua? Tumben sekali, tidak ada angin tidak ada hujan kau kemari malam hari begini", ucap Resi Simharaja segera.


"Macan Tua, kenapa sekarang kau jadi cerewet sekali seperti para perempuan di pasar heh? Aku kemari tentu karena ada kepentingan..


Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya, apa sekarang Gusti Pangeran siap untuk meningkatkan kesaktian yang Gusti Pangeran miliki?", mendengar penuturan Begawan Mpu Narada segera tersenyum lebar.


"Tentu saja, Guru Begawan..


Selain karena ingin memperdalam ilmu ketatanegaraan, tujuan ku berguru kembali pada mu adalah aku juga ingin meningkatkan kemampuan beladiri yang aku miliki", ucap Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya penuh semangat.


"Baguslah kalau begitu..


Mulai besok, Gusti Pangeran akan melakukan uphawasa mutih selama 40 hari. Pada hari keempat puluh satu, saya akan membantu Gusti Pangeran memanfaatkan kekuatan besar yang tersimpan dalam tubuh Gusti Pangeran", ucap Begawan Mpu Narada menjelaskan.


"Apa itu uphawasa mutih Begawan Mpu Narada? Kog aku baru dengar ya..", Gendol langsung bertanya saking penasarannya.


"Uphawasa mutih itu adalah kita tidak boleh makan segala sesuatu selain makanan berwarna putih. Artinya kita tidak boleh makan setelah matahari terbit hingga matahari tenggelam di langit barat.


Makanan yang berwarna putih misalnya nasi, singkong. Aturan makan pun tak bisa makan sekencang-kencangnya saja setelah matahari terbenam di langit barat. Hari pertama sepiring, berikutnya sedikit dikurangi dan begitu seterusnya hingga hari keempat orang dia tidak akan makan apa-apa lagi.


Ini merupakan ujian kesabaran yang sangat berat terutama bagi orang pemarah maupun tukang makan. Karena pada dasarnya, dia tidak boleh marah ataupun tidak boleh makan sesuka hatinya saat menjalani ritual uphawasa mutih ini", urai Begawan Mpu Narada sembari tersenyum.


Gendol, Resi Simharaja dan Besur langsung melengos mendengar jawaban itu sedangkan Baratwaja hanya manggut-manggut saja meskipun masih belum sepenuhnya memahami.


"Terimakasih atas bimbingannya, Guru Begawan..


"Bagus Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya..


Kalau begitu, saya permisi dulu. Cepatlah beristirahat dan selamat malam", setelah berkata demikian, Begawan Mpu Narada segera berbalik badan menuju ke arah tempat tinggalnya sedangkan Jaka Umbaran dan para pengikutnya segera menghormat pada sang guru besar Pertapaan Harinjing.


"Ritual gila apalagi yang telah di tentukan oleh Begawan Mpu Narada, Gusti Pangeran?


Masak selama lebih satu purnama, tidak boleh makan daging dan sayur? Bisa kurus mendadak kalau aku yang disuruh", ucap Besur seolah tak percaya dengan apa yang akan dijalani oleh sang pangeran muda.


"Itu adalah untuk meningkatkan kesaktian yang Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya miliki, heh buntelan nasi..


Begini saja, demi meningkatkan kesaktian, Gusti Pangeran melakukan ritual uphawasa mutih ini. Maka sebagai pengikut setia nya, kita juga harus memiliki kemampuan beladiri yang tinggi agar kelak bisa membantu Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya dalam memerintah Kerajaan Panjalu ini.


Diantara kita berempat, hanya Resi Simharaja yang kemampuan beladiri nya bisa dikatakan sedikit dibawah Gusti Pangeran. Oleh karena itu, kita bertiga pun harus ikut ritual uphawasa mutih ini agar bisa menjadi kaki tangan Gusti Pangeran di masa depan ", ucap Gendol dengan penuh keyakinan.


"Kau benar saudaraku..


Aku setuju dengan pendapat mu. Aku mendukungmu. Sur, kau juga ikut serta dalam acara ini. Kau siap bukan?", Baratwaja pun segera menatap ke arah Besur.


"Haishh cuma begitu saja, siapa takut?", ucap Besur sok kuat. Resi Simharaja hanya sedikit mengangkat sudut bibirnya saja seperti mengejek sikap mereka bertiga.

__ADS_1


Waktu pun terus bergulir dengan cepat. Selayaknya perjalanan yang panjang, dia terus melangkah tanpa sedikitpun berhenti meskipun banyak yang tertinggal selama langkahnya menempuh jarak. Tak terasa malam hari begitu cepat diganti dengan pagi hari yang ditandai dengan munculnya suara kokok ayam jantan yang terdengar bersahutan dari sekitar Pertapaan Harinjing.


Hari pertama ritual uphawasa mutih, semuanya berjalan lancar meskipun Besur mengeluh karena hanya mendapat jatah makan nasi putih dan garam saja. Sedangkan Gendol dan Baratwaja pun tidak protes sama sekali, malah justru terlihat menikmati acara ritual ini. Resi Simharaja yang tidak ikut uphawasa mutih, menyeringai kecil melihat tingkah konyol para pengikut Jaka Umbaran ini.


Seterusnya hingga hari ke 30 uphawasa mutih, masalah kecil jadi besar kala bertemu dengan mereka. Senja itu tak sengaja Resi Simharaja yang baru saja keluar dari Pertapaan Harinjing, pulang sambil menenteng beberapa ekor ayam hutan yang entah darimana dia dapatkan. Meskipun tidak berniat untuk membuat gara-gara dengan Gendol, Besur dan Baratwaja, namun tindakan nya memanggang ayam hutan itu di dekat tempat tinggal mereka tentu saja memancing perhatian ketiga pengikut setia Mapanji Jayabaya ini.


"Apa maksud mu dengan ini semua, Macan Tua?


Kau mengajak ribut aku ya?", hardik Gendol yang mendatangi tempat Resi Simharaja memanggang ayam hutan.


"Maksud apa? Bukankah aku hanya sedang memanggang ayam hutan? Dimana salahnya, Gigi Jarang?", balas Resi Simharaja dengan santainya.


"Kau tahu aku dan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya sedang melakukan ritual uphawasa mutih, kau malah sengaja membakar ayam hutan disini. Jelas-jelas kami semua tidak bisa makan daging sebelum ritual ini selesai.


Kalau bukan sengaja menggoda kami dengan ayam hutan itu, lalu apa mau mu ha?", imbuh Gendol segera.


"Ya anggap saja ini ujian untuk kesabaran mu, Gigi Jarang..


Setiap niat baik pasti akan mendapatkan cobaan yang berat. Ya ini cobaan untuk uphawasa mutih mu", ucap Resi Simharaja sembari menggigit paha ayam hutan panggang nya yang telah matang.


"Kauuu...."


Gendol hampir saja menerjang ke arah Resi Simharaja namun Besur dan Baratwaja segera mencekal lengan tangan lelaki bertubuh tinggi besar itu.


"Sudah Ndol sudah...


Anggap saja omongan orang tua ini ada benarnya juga. Kita harus bersabar menghadapi tantangan ritual uphawasa ini. Ingat tinggal 10 hari lagi", ucap Baratwaja berusaha menenangkan diri Gendol sembari menggelandang nya menjauhi tempat itu bersama Besur.


Hari-hari pun cepat berlalu. Tak terasa hari ini adalah hari terakhir ritual uphawasa mutih. Menjelang sore hari, Begawan Mpu Narada mengajak mereka semua ke muara sungai Harinjing dengan Sungai Kapulungan. Ada tiga sesepuh Pertapaan Harinjing yang menyertai mereka ke muara sungai Harinjing. Jaka Umbaran, Gendol, Besur dan Baratwaja diharuskan untuk mandi di tempuran dua sungai itu sebagai tanda bahwa mereka telah menyelesaikan uphawasa mutih nya.


Setelah mandi keempat orang itu duduk bersila sembari bersemedi mengheningkan cipta, rasa dan karsa untuk satu tujuan berserah diri kepada Hyang Akarya Jagat. Terlebih dahulu, Begawan Mpu Narada menyuruh salah seorang sesepuh Pertapaan Harinjing yang bernama Resi Sapuangin untuk memberikan ilmu kanuragan pada Baratwaja. Sedangkan untuk Besur, Resi Mpu Kerta yang bertanggung jawab. Pada Gendol, ada Resi Mpu Anggara yang membimbing.


Sementara itu, khusus untuk Jaka Umbaran, Begawan Mpu Narada sendiri yang menangani. Mulut Begawan Mpu Narada segera komat-kamit merapal mantra lalu jempol jari tangan kanan nya dia tekan pada dahi Jaka Umbaran yang masih duduk bersila dengan tenang.


Seketika itu juga, waktu seolah langsung berhenti seketika. Alam bawah sadar Jaka Umbaran terbuka dan sang pangeran melihat dirinya sedang berada di dalam tempat yang luas seperti halnya samudera yang tanpa batas. Banyak hal aneh yang tidak pernah sekalipun dia lihat sebelumnya. Hanya Begawan Mpu Narada saja yang bisa dia kenali.


"Aku ada dimana Begawan?", tanya Jaka Umbaran segera.


"Ini adalah Kahyangan Utarasegara, Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya.


Ini adalah tempat tinggal Dewa Wisnu yang menitis dalam dirimu. Sedikit banyak kau tidak asing dengan tempat ini bukan?", ucap Begawan Mpu Narada sembari tersenyum penuh arti.


"Kalau begitu, pantas saja aku tidak merasa kalau semua ini adalah hal yang asing bagi ku. Kalau begitu, aku ingin kau menerangkan kenapa ada makhluk menyeramkan seperti itu di Kahyangan Utarasegara ini, Begawan Mpu Narada?", Jaka Umbaran menunjuk ke arah sesosok raksasa berwarna merah sebesar bukit yang nampak duduk bersila seperti sedang bersemedi di tengah sebuah pulau kecil yang ada di tempat itu.


Mendengar pertanyaan itu, Begawan Mpu Narada langsung tersenyum lebar sembari berkata,

__ADS_1


"Itu adalah wujud dari amarah yang ada dalam diri mu, Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya. Kau harus belajar untuk menundukkan nya agar dia bisa menjadi sumber kekuatan mu dalam menentramkan seluruh dunia.


Namanya adalah Butha Agni.."


__ADS_2