
Suasana di dalam Istana Kotaraja Daha sedang sedikit tegang karena perginya Prabu Bameswara dan Pangeran Mapanji Jayabaya ke Selopenangkep tanpa pengawalan. Ini tentu saja menimbulkan kepanikan tersendiri bagi para istri Prabu Bameswara.
Gayatri yang bolak-balik mondar-mandir di Keputren Istana Kotaraja Daha seolah tengah mengkhawatirkan sesuatu. Sedari tadi, ia tidak tenang sama sekali.
"Kangmbok Gayatri, hentikan langkah kaki mu? Tindakan mu ini semakin menambah perasaan was-was kami", protes Luh Jingga yang juga ikut panik.
"Bagaimana aku bisa tenang, Jingga?
Kangmas Prabu Bameswara kesana tanpa pengawalan. Suami kita itu sudah tidak muda lagi. Kalau terjadi apa-apa, bagaimana coba?", jawab Gayatri sembari berulang kali menatap ke arah langit tenggara.
"Sudah, jangan ribut sendiri. Kita doakan saja semoga Kangmas Prabu baik-baik saja", ucap Endang Patibrata sembari tersenyum tipis menengahi perdebatan antara mereka.
Tiba-tiba saja...
Jlleeeegggg jlleeeegggg jlleeeegggg!!
Prabu Bameswara muncul di tempat itu bersama dengan Jaka Umbaran dan Resi Simharaja. Namun yang membuat semua istri Prabu Bameswara terkejut bukan main adalah saat melihat wajah suami mereka terlihat pucat pasi.
Ratu Dyah Chandrakirana langsung berlari mendekati sang raja Panjalu itu bersama dengan para istri Prabu Bameswara yang lain. Endang Patibrata, Luh Jingga, Song Zhao Meng, Rara Kinanti, Ayu Ratna dan Gayatri segera mengikuti langkah sang ratu Panjalu.
"Jayabaya putra ku..
Ada apa dengan Romo mu? Kenapa dia jadi seperti ini?", tanya Ratu Dyah Chandrakirana dengan penuh kekhawatiran.
"Kanjeng Romo Prabu terkena kutuk pasu, Kanjeng Biyung Ratu..
Saat menghadapi musuh yang menghadang kami, Romo Prabu Bameswara menggunakan Ajian Waringin Sungsang. Namun sialnya, lawan yang dihadapi oleh nya memiliki kutukan dalam tubuhnya. Walhasil, kutukan itu berpindah pada Kanjeng Romo Prabu..", urai Jaka Umbaran segera.
Ratu Dyah Chandrakirana pun langsung terkejut bukan main mendengar penuturan sang putra. Sebagai seorang cucu angkat dari Maharesi Padmanaba, sedikit banyak dia tahu berbagai jenis ilmu sihir. Dan dari sekian banyak jenis ilmu sihir itu, kutuk pasu adalah yang paling ditakuti. Ini bukan tanpa alasan, karena kutukan itu hanya bisa dilepas jika yang melakukan membebaskannya sendiri.
"Ini masalah besar..
Sebaiknya kita bawa dulu Kangmas Prabu Bameswara ke tempat peristirahatan. Nanti akan kita cari cara untuk melepaskan kutukan itu dari tubuhnya.
Prajurit, kemari kalian!", dua orang prajurit penjaga gerbang Keputren Istana Kotaraja Daha segera datang begitu panggilan Ratu Dyah Chandrakirana terucap. Keduanya segera menghormat pada Ratu Dyah Chandrakirana.
"Bantu Pangeran Mapanji Jayabaya segera. Antar Kangmas Prabu Bameswara ke ruang pribadi raja", perintah Ratu Dyah Chandrakirana segera. Dua orang prajurit penjaga gerbang Keputren ini langsung bergegas membantu Pangeran Mapanji Jayabaya dan Resi Simharaja menggotong Prabu Bameswara ke ruang pribadi raja.
Segera setelah itu, Ratu Dyah Chandrakirana pun membagi tugas kepada para istri Prabu Bameswara yang lain. Song Zhao Meng yang ahli dalam bidang pengobatan langsung memeriksa keadaan suaminya. Di bantu oleh Gayatri dan Luh Jingga, perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik ini cekatan melaksanakan tugas.
Sedangkan Ayu Ratna, Rara Kinanti dan Endang Patibrata kebagian jatah untuk menyiapkan makanan dan pakaian ganti untuk suami mereka. Ketiganya pun segera mengerjakan tugas yang diberikan oleh sang ratu Panjalu itu.
Berita sakitnya Maharaja Panjalu itu segera menyebar ke seluruh Kotaraja Daha. Entah darimana mulainya, tetapi berita terbaru dari istana negara ini kini menjadi topik hangat dan menarik sebagai bahan perbincangan para penduduk Kotaraja Daha.
Indrawati yang juga seorang paricara hebat pun juga datang dari Istana Katang-katang atas permintaan suaminya. Bersama Secawiguna yang kini dipercaya sebagai tabib istana Katang-katang, Indrawati pun langsung bergegas menuju ke arah ruang pribadi raja dimana semua orang telah menunggu kedatangan nya
"Syukurlah kau sudah datang, Indrawati..
Sekarang coba kamu periksa keadaan ayah mertua mu. Semakin cepat semakin baik", ucap Ratu Dyah Chandrakirana begitu melihat Indrawati masuk lewat pintu depan.
__ADS_1
"Baik Biyung Ratu..", Indrawati pun segera menghormat sebelum mulai memeriksa denyut nadi dan melihat tanda-tanda kehidupan pada Prabu Bameswara.
Setelah cukup, dia kemudian komat-kamit merapal mantra. Jempol tangan kanannya segera menekan parutan kunyit yang sudah disiapkan sebelumnya. Setelah itu, ia mengoleskan jempolnya pada dahi Prabu Bameswara.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba kunyit di dahi Prabu Bameswara berubah menjadi hitam legam. Indrawati pun terkejut bukan main melihat hal itu. Perubahan mimik wajah cantik Indrawati ini juga tidak lepas dari pengawasan mata Gayatri.
"Ada apa Indrawati? Kenapa wajah mu tiba-tiba keruh begitu?", tanya Gayatri segera.
"Mohon ampun Biyung Selir Gayatri..
Ada sebuah berita yang mungkin tidak akan membuat semuanya gembira. Akan tetapi saya harus jujur mengatakan hal yang sebenarnya.
Waktu Gusti Prabu Bameswara tinggal 40 hari lagi..".
Bagaikan petir menyambar di siang bolong, berita itu langsung mengejutkan semua orang. Ayu Ratna dan Rara Kinanti langsung pingsan seketika mendengar ucapan Indrawati. Luh Jingga pun tak kuasa menahan air matanya yang mulai jatuh membasahi pipinya. Putri-putri Prabu Bameswara seperti Jinggawati, Dyah Paramita dan si kecil Dewi Retnowati pun ikut menangis tersedu-sedu. Rajadewi telah berangkat ke Kerajaan Bedahulu untuk menikah dengan seorang pangeran disana, sedangkan Mapanji Lodaya sedang menempuh pendidikan di Pertapaan Harinjing. Suasana di dalam ruang pribadi raja pun berubah menjadi muram seketika.
"Kalian tidak perlu bersedih hati seperti itu. Masih ada jalan untuk menyelamatkan nyawa Kanjeng Romo Prabu", ucap Jaka Umbaran yang langsung membuat semua orang menoleh ke arah nya.
"Benarkah apa yang kau bilang, Dhimas Pangeran?", tanya Dyah Paramita, putri Prabu Bameswara dan Ayu Ratna segera.
"Aku tidak akan berani untuk berkata dusta dalam suasana seperti ini, Kangmbok Paramita.
Akan tetapi untuk melaksanakan upaya mencari penyembuh sakit Kanjeng Romo Prabu Bameswara, aku perlu bicara dengan para punggawa Istana Kotaraja Daha lebih dulu.
Hari ini juga, aku akan mengumpulkan mereka semua", ucap Jaka Umbaran kemudian. Semua orang yang kini sedikit memiliki harapan indah tentang kesembuhan Prabu Bameswara, langsung mengangguk mengerti.
Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya duduk di kursi tempatnya yang ada di bawah singgasana Kerajaan Panjalu. Nampak Resi Simharaja duduk di belakangnya.
"Hari ini aku sengaja mengumpulkan kalian semua terkait dengan peristiwa yang baru saja terjadi.
Untuk kalian ketahui, Kota Kadipaten Selopenangkep hancur akibat adanya serbuan para prajurit Jenggala. Bahkan istana Kadipaten Selopenangkep pun hampir mereka duduki andaikata aku dan Kanjeng Romo Prabu Bameswara tidak datang tepat waktu.
Namun, hal ini juga harus di bayar mahal dengan jatuhnya Kanjeng Romo Prabu Bameswara dengan sebuah kutuk pasu yang kini menyerangnya. Oleh karena itu, aku meminta kalian bersiaga penuh karena aku masih belum tenang sebelum ada laporan dari Senopati Agung Sembada dan Senopati Naratama.
Satu hal lagi, aku bermaksud untuk mencari keberadaan obat penyembuh ajaib yang bisa mengangkat kutuk pasu yang kini sedang diderita oleh Kanjeng Romo Prabu Bameswara. Jadi untuk sementara waktu aku akan meninggalkan istana Kotaraja Daha", ucap Jaka Umbaran sembari mengedarkan pandangannya pada segenap hadirin yang hadir di tempat itu.
Mapatih Mpu Baprakeswara alias Mpu Ludaka segera menghormat pada sang Yuwaraja Panjalu sebelum berbicara.
"Tidak bisakah hal itu ditunda dulu Gusti Pangeran?
Dengan sakitnya Maharaja Sri Bameswara, maka keadaan Kotaraja Daha akan terlihat lemah di mata kerajaan tetangga. Hamba khawatir ini akan dimanfaatkan oleh mereka untuk menyerbu Panjalu lagi", ucap Mapatih Baprakeswara segera.
"Tidak bisa Paman Mapatih..
Waktu untuk mendapatkan nya tidaklah banyak jadi aku tidak boleh menunda waktu terlalu lama. Aku akan pergi selama satu purnama. Untuk urusan pemerintahan, aku serahkan sepenuhnya kepada Paman Mapatih Mpu Baprakeswara juga para Mahamantri Katrini untuk bekerja.
Setelah kedatangan Senopati Agung Sembada dan Senopati Naratama, segera minta mereka untuk melakukan penjagaan ketat di wilayah wilayah perbatasan dengan Kerajaan Jenggala. Jika sampai ada gerakan mencurigakan sekecil apapun, mereka boleh mengambil tindakan yang dianggap perlu. Sedangkan untuk Dhimas Tumenggung Mapanji Baguna, keamanan Kotaraja Daha dan juga Istana Katang-katang aku titipkan kepada mu. Jaga Kotaraja Daha sampai aku kembali", ujar Pangeran Mapanji Jayabaya sembari menghela nafas berat.
"Kami juga akan menunggu kedatangan Gusti Pangeran.
__ADS_1
Urusan Kerajaan Panjalu kami akan menjaga nya hingga Gusti Pangeran kembali", ucap Mapatih Baprakeswara segera.
Setelah menyampaikan perintah nya, Jaka Umbaran segera meninggalkan tempat itu bersama dengan Resi Simharaja. Mereka pun segera meninggalkan Istana Kotaraja Daha untuk berpamitan pada istri-istri Jaka Umbaran di Istana Katang-katang.
"Gusti Pangeran, sebaiknya kita membawa seorang pemandu yang hapal dengan Kerajaan Blambangan.
Dengan begitu, kita akan cepat sampai tujuan", ucap Resi Simharaja saat mereka masih dalam perjalanan menuju ke arah Istana Katang-katang.
"Pendapat mu benar juga. Tapi siapa orang yang bisa membantu kita dalam hal ini?", Jaka Umbaran menoleh ke arah Resi Simharaja.
"Bukankah murid Maharesi Wiramabajra itu masih hidup? Dia bisa menjadi pemandu kita", mendengar jawaban itu, Jaka Umbaran mengangguk mengerti dan segera menarik tali kekang kudanya hingga kuda berbelok arah menuju ke arah penjara Kotaraja Daha.
Di salah satu sudut penjara, nampak seorang wanita dengan pakaian lusuh dan penuh robekan disana-sini nampak sedang duduk di lantai penjara dengan kedua tangan terikat rantai. Rambutnya nampak awut-awutan tak teratur namun jika diperhatikan, perempuan itu masih nampak cantik walaupun dengan pakaian seperti itu.
"Apa kau betah di dalam penjara ini?"
Terdengar suara seorang lelaki yang sangat dikenal oleh perempuan itu. Segera dia mendongak ke arah luar jeruji penjara dan melihat Jaka Umbaran berdiri di samping Resi Simharaja.
"Pangeran Mapanji Jayabaya!
Mau apa kau kemari hah?!!", ucap perempuan cantik yang tak lain adalah Wara Andhira si murid Maharesi Wiramabajra sedikit keras.
"Tidak mau apa-apa, hanya mengunjungi seorang wanita yang sedang mendekam dalam tahanan. Apa kau baik-baik saja, Wara Andhira?", mendengar ucapan itu, Wara Andhira langsung mendengus keras. Tapi kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Tidak perlu basa-basi lagi, Pangeran Mapanji Jayabaya..
Katakan saja terus terang apa mau mu sebenarnya? Apa kau ingin menghukum mati aku? Ayo lakukan saja!", tantang Wara Andhira segera.
"Baiklah kalau itu mau mu..
Aku akan membebaskan mu dari penjara ini tapi ada satu syarat yang harus kau lakukan setelah keluar dari dalam penjara ini", ucap Jaka Umbaran sambil tersenyum tipis.
"Lekas katakan apa itu?", tanya Wara Andhira cepat.
"Kau harus mengantarkan ku ke Alas Purwo"
Jlleeeegggg....!!!
Dada Wara Andhira bagaikan di hantam palu godam mendengar jawaban Yuwaraja Panjalu ini. Dia tahu bahwa Alas Purwo bukan hutan biasa. Tempat itu adalah kerajaan siluman yang sangat di takuti oleh para manusia terutama di kawasan timur Jawadwipa.
"Apa kau tahu apa itu Alas Purwo, Pangeran Mapanji Jayabaya?", Jaka Umbaran hanya mengangguk saja mendengar pertanyaan Wara Andhira ini.
"Lantas apa yang membuat mu ingin masuk ke dalam hutan larangan itu? Kau sudah bosan hidup?", kembali Wara Andhira bertanya.
"Itu bukan urusanmu. Kau bersedia tidak mengantar ku kesana?", Jaka Umbaran menatap tajam ke arah Wara Andhira. Tak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa bebas dari penjara ini, Wara Andhira mengangguk cepat.
"Baik aku bersedia untuk mengantar mu ke Alas Purwo.
Tapi ada syaratnya...."
__ADS_1