
Setelah itu, Mpu Karnikeswara Matanggalaksana sang Rakryan Kanuruhan pun segera bergegas pergi menuju ke arah barat Kotaraja Daha. Ditemani oleh dua orang abdi setia nya, Mpu Karnikeswara menuju ke sebuah bangunan tersembunyi yang ada di tepi sungai Kapulungan. Letak bangunan ini benar-benar terlindung dari pandangan mata karena terletak di dalam sebuah hutan bambu berduri tajam atau dalam bahasa Jawa nya di sebut dengan nama bambu ori.
Sebelah luar hutan bambu berduri tajam ini masih tertutup oleh beberapa pohon besar seperti pohon wadang dan angsana yang membuat tak seorangpun akan menyangka bahwa di dalam hutan bambu berduri tajam ini ada sebuah bangunan tersembunyi. Beberapa orang pencari rumput pakan ternak nampak sedang sibuk menyiangi rumput di sekitar pohon-pohon besar ini. Sebenarnya ini adalah penyamaran para penjaga tempat ini. Dengan pakaian seperti ini, keberadaan mereka benar-benar sulit dibedakan dengan warga Kotaraja Daha lainnya.
Melihat kedatangan Mpu Karnikeswara, para pencari rumput itu nampak bersiaga dengan memegang gagang senjata yang tersembunyi di balik keranjang bambu tempat rumput, namun setelah tahu siapa orang yang datang, mereka menarik nafas lega dan kembali melanjutkan pekerjaannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Usai melewati penjagaan di sekitar pohon angsana, Mpu Karnikeswara dan dua abdi setia nya segera menambatkan tali kekang kuda mereka di balik rimbun semak belukar. Setelah itu mereka berjalan kaki menembus jalan setapak yang berbatasan dengan duri-duri tajam sebelum memasuki bangunan tua tersembunyi itu.
Di luar bangunan yang nampak berlumut dan daun-daun bambu kering ini, beberapa orang lelaki bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam langsung bangkit dari tempat duduknya begitu melihat Mpu Karnikeswara datang. Mereka langsung menghaturkan hormat pada lelaki tua itu.
Tanpa peduli dengan apa yang dilakukan oleh para lelaki bertubuh kekar ini, Mpu Karnikeswara terus berjalan memasuki rumah tua ini. Setelah ia membuka pintu rumah, beberapa orang lelaki berpakaian pendekar langsung menoleh ke arah nya. Salah satunya adalah lelaki tua berjanggut putih pendek dengan mata kanan berwarna putih yang sepertinya buta. Sebuah bekas luka memanjang di sebelah kanan wajah nya sepertinya menjadi penyebab kebutaan di mata kanan lelaki tua itu.
"Gusti Rakryan Kanuruhan, sudah lama sekali kau tidak berkunjung kemari.
Angin apa yang membawamu kesini?", ujar lelaki tua bermata buta sebelah ini segera. Dia meletakkan cangkir bambu berisi arak nira aren usai meneguknya setelah berbicara.
"Setan Picak, waktu yang telah lama kita tunggu sudah tiba. Istana Kotaraja Daha sedang kosong tanpa ada yang menjaga. Cuma Tumenggung Mapanji Baguna saja, bukan lawan yang patut diperhitungkan", ucap Mpu Karnikeswara sembari menyeringai lebar.
Mendengar perkataan itu, lelaki tua yang dipanggil dengan sebutan Setan Picak itu langsung berdiri dan berjalan mendekati Mpu Karnikeswara.
"Hahahaha, sesuai dengan rencana kita..
Para prajurit dari Jenggala yang menyusup ke Panjalu, sebagian telah sampai. Tinggal menunggu kedatangan prajurit pimpinan Senopati Widangkeling dan Tumenggung Jagasatru. Begitu mereka sampai, kita gempur Istana Kotaraja Daha", ujar Setan Picak sambil tersenyum lebar.
"Itu yang aku harapkan, Setan Picak..
__ADS_1
Kau selaku dedengkot pendekar pilihan Pangeran Jayengresmi tentu akan menjadi senjata pamungkas saat penyerbuan kita ke Istana Kotaraja Daha menemui kendala. Prabu Bameswara sedang sakit keras, jikalau pun dia bisa bertarung, dia tidak akan banyak membantu", ucap Mpu Karnikeswara segera.
"Hahahaha, baguslah kalau begitu..
Tanpa Senopati Agung Sembada dan Senopati Naratama, juga Pangeran Mapanji Jayabaya, kekuatan besar Kerajaan Panjalu hanyalah cangkang kosong belaka. Rapuh dan gampang untuk dihancurkan.
Sebentar lagi, Istana Kotaraja Daha akan banjir darah!", Setan Picak mengepalkan tangannya erat-erat dan Mpu Karnikeswara Matanggalaksana tersenyum lebar.
Asal mula persekongkolan antara mereka terjadi saat para abdi setia Mpu Karnikeswara mencari pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa Pangeran Mapanji Jayabaya. Namun setelah kematian pembunuh bayaran nomor satu dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur, Ki Lengkara dan kelompoknya, Mpu Karnikeswara menjadi sadar bahwa menghabisi nyawa Pangeran Mapanji Jayabaya tidak bisa dilakukan dengan mengutus satu atau dua orang pendekar berilmu tinggi saja akan tetapi harus menggunakan siasat licik.
Karena itu, dia mengutus Prapta dan Songkali dua orang abdi setia nya untuk berangkat ke Kahuripan guna mengirimkan surat kepada Pangeran Jayengresmi selaku suami pendamping Maharani Uttejana. Prapta dan Songkali diterima baik oleh Pangeran Jayengresmi yang memang sudah lama merencanakan penyerbuan ke Panjalu. Kedatangan Prapta dan Songkali ibarat pepatah pucuk dicinta ulam tiba.
Segera Pangeran Jayengresmi menyusun siasat licik dengan mulai menyusupkan para prajurit Jenggala ke Daha lewat sungai Kapulungan dengan menyamar sebagai buruh tani yang sedang dibutuhkan untuk pembukaan lahan pertanian besar-besaran di barat Kotaraja Daha tepatnya di wilayah Kadipaten Anjuk Ladang. Ini pas sekali dengan tugas Rakryan Kanuruhan yang ditugaskan untuk mengatur jalannya pembukaan lahan pertanian itu oleh Sinuwun Prabu Bameswara.
Kekuatan ini sudah cukup untuk memimpin pasukan besar Jenggala yang menyusup ke Panjalu. Namun orang kepercayaan Pangeran Jayengresmi yakni Senopati Widangkeling dan Tumenggung Jagasatru masih belum juga sampai di tempat ini, sedikit lebih lama dari yang direncanakan semula.
"Kita memang harus bersabar sedikit lagi. Saat Senopati Widangkeling dan Tumenggung Jagasatru, kita akan langsung bergerak menyerbu Istana Kotaraja Daha", mendengar ucapan Setan Picak itu, Mpu Karnikeswara mengangguk mengerti.
Selanjutnya, mereka mulai menyusun siasat untuk menggempur pertahanan Kotaraja Daha yang menjadi kewajiban Tumenggung Mapanji Baguna. Namun mereka juga tidak akan pernah menduga bahwa mereka akan mendapatkan kejutan besar saat hari itu tiba.
*****
"Gusti Pangeran, di depan bukit kecil itu adalah letak Ranu Mendalan.
Apakah kita akan membangun perkemahan kita di sekitar sini?", tanya Senopati Agung Sembada yang berkuda di samping kanan Sang Yuwaraja Panjalu ini.
__ADS_1
Jaka Umbaran pun segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat mereka berhenti. Padang rumput ini memang cukup luas akan tetapi juga dapat menjadi kuburan bagi para prajurit Panjalu jika ada serangan dadakan dari para prajurit Jenggala. Tiga bukit kecil di sekelilingnya bisa di gunakan untuk mengepung para prajurit Panjalu dari tiga sisi yang berbeda.
"Tidak boleh, Paman Senopati Agung...
Paman perhatikan sekeliling tempat ini. Tempat ini bisa menjadi benteng pertahanan alam yang sempurna tapi juga bisa menjadi ladang pembantaian massal para prajurit kita jika para prajurit Jenggala menguasai ketiga bukit kecil itu lebih dahulu. Lebih baik sekarang kita bagi pasukan menjadi 4 kelompok.
Kelompok pertama, Paman Senopati Agung pimpin dengan 10 ribu orang prajurit untuk menguasai bukit kecil di sebelah kanan. Tempatkan pasukan pemanah di barisan depan sebagai penyerang kejutan sebelum pasukan utama bergerak.
Kemudian Tumenggung Setawardana dan Tumenggung Besur akan melakukan hal yang sama di bukit kecil sebelah sana. Mereka akan memimpin pasukan dengan jumlah 5 ribu orang prajurit.
Juga dengan Tumenggung Baratwaja dan Demung Balarama akan memimpin pasukan kita dari bukit itu. Mereka harus cepat menguasai bukit kecil itu karena itu adalah jalan masuk ke padang rumput ini dari Ranu Mendalan.
Sisa pasukan kita akan membuat pertahanan di ujung barat padang rumput ini. Aku sendiri yang akan menjadi pimpinan prajurit ini. Apa kalian semua sudah mengerti?", Jaka Umbaran mengedarkan pandangannya pada para perwira prajurit Panjalu yang ada di sekitarnya.
"Kami mengerti Gusti Pangeran", ucap para perwira prajurit Panjalu ini segera. Mereka semuanya segera menghormat sebelum mulai bergerak melaksanakan tugas yang diberikan oleh Jaka Umbaran.
Siang itu, para prajurit Panjalu mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin untuk menyergap para prajurit Jenggala yang hendak menyeberang ke wilayah Kayuwarajan Kadiri dari jalur Hantang.
Pelbagai jenis jebakan maut dan berbahaya pun segera ditata sedemikian rupa. Yang di bukit bukit kecil menyiapkan jebakan maut mereka sendiri, sedangkan yang di padang rumput pun menata berbagai macam cara mereka untuk mengalahkan para prajurit Jenggala secepat mungkin.
Menjelang senja, saat matahari mulai terbenam di ufuk barat, suasana tegang dan mencekam mulai terasa di padang rumput luas ini. Jaka Umbaran pun segera melesat cepat kearah Ranu Mendalan karena penasaran dengan para prajurit Jenggala yang sedang berkemah di sana.
Saat dia sampai di tempat yang dituju, mata Jaka Umbaran segera terbelalak lebar tatkala ia melihat jumlah besar pasukan Jenggala ini. Dilihat dari jumlah tenda maupun obor yang menyala di sekitar Ranu Mendalan, sekurang-kurangnya ada lebih dari 70 ribu orang prajurit. Ini merupakan jumlah pasukan terbesar yang pernah dia lihat.
"Ini akan menjadi pertempuran yang sulit.."
__ADS_1