
Semua orang langsung terkaget-kaget mendengar jawaban si pendekar sewaan itu. Menjadi seorang pengatur wilayah tengah, diperlukan suatu kemampuan beladiri yang tinggi, sebab sang pengatur wilayah akan sering mendapatkan tantangan dari para pendekar yang diaturnya. Sebab pada dasarnya pendekar yang memiliki kemampuan beladiri tinggi akan bertindak sesuka hatinya. Ini karena setiap pemilik kemampuan beladiri tinggi pasti akan sangat dihormati.
Dengan adanya penghormatan kepada mereka, para pendekar dunia persilatan biasanya menjadi sedikit congkak dan susah diatur. Ini adalah tugas berat yang di emban oleh seorang pendekar pengatur wilayah dalam menjaga ketentraman di wilayah mereka masing-masing. Bukan para pendekar saja yang tahu aturan itu namun juga masyarakat awam yang berdiam di Tanah Jawadwipa, maka tak heran jika para penduduk Wanua Banjararum pun seketika menaruh hormat kepada Jaka Umbaran yang baru saja menyelamatkan nyawa mereka.
"Kalau begitu, kita tidak boleh berdiam diri saja Ki Lurah. Sang Pendekar Gunung Lawu telah menyelematkan desa dan kota semua, sebagai penduduk Wanua Banjararum kita bukan orang yang tidak tahu terimakasih.
Ku dengar tadi, dia bilang kalau dia bermalam di rumah Ki Wugu. Sebaiknya kita mengunjungi kesana sambil membawa sedikit oleh-oleh sebagai tanda ucapan terima kasih kita. Bagaimana menurut pendapat Ki Lurah?", Ki Lurah Mpu Rino langsung mengangguk setuju dengan pendapat Ki Barjo si dukun desa. Dia segera menoleh ke arah dua pelayan nya yang berdiri dekat pintu masuk rumah kediamannya.
"Warso, Mangir..
Bawakan beberapa ikat padi dan ubi jalar yang ada di lumbung. Setelah itu, ikut aku ke rumah Ki Wugu. Cepatlah..", mendengar perintah dari sang lurah, dua pelayan rumah Lurah Wanua Banjararum itupun langsung bergegas menuju ke arah lumbung pangan yang ada di samping rumah. Malam itu juga, beberapa orang penduduk Wanua Banjararum bersama dengan Ki Lurah Mpu Rino dan Ki Barjo si dukun desa mendatangi kediaman Ki Wugu.
Sesampainya di rumah Ki Wugu, Ki Lurah Mpu Rino langsung mengetuk pintu rumah Ki Wugu yang terkunci rapat.
Thhookkkk thhookkkk thhookkkk..!!
"Siapa di luar?", terdengar suara bicara dari dalam rumah Ki Wugu.
"Ini aku Ki Lurah Mpu Rino..
Bukakan pintunya, aku ada perlu", ucap Ki Lurah Mpu Rino segera. Dari dalam rumah, terdengar suara langkah kaki mendekati pintu. Sebentar kemudian, pintu rumah terbuka lebar dan Ki Wugu langsung mendekati pimpinan Wanua Banjararum ini.
"Ada apa malam-malam begini datang kemari Ki Lurah? Tumben sekali..", tanya Ki Wugu dengan sopan.
"Aku ingin bertemu dengan para tamu di rumah mu. Apa mereka ada di dalam?", mendengar pertanyaan itu Ki Wugu langsung berpikir keras. Tadi Jaka Umbaran sempat keluar sebentar bersama Resi Simharaja, takutnya ada sesuatu dengan keluarnya mereka tadi.
"Mereka ada di dalam Ki Lurah..
Memangnya kenapa Ki? Apa mereka melakukan sesuatu yang salah?", kembali Ki Wugu bertanya karena saking penasarannya.
"Tidak-tidak, mereka tidak melakukan sesuatu yang salah. Kami datang kemari untuk berterimakasih kepada mereka", jawab Ki Lurah Mpu Rino segera.
"Kalau begitu, silahkan masuk Ki Lurah.
Tapi mohon maaf rumah saya kotor dan sempit. Tidak seperti rumah Ki Lurah. Monggo silahkan..", ucap Ki Wugu sembari mempersilahkan mereka masuk.
Setelah itu, para penduduk Wanua Banjararum masuk ke dalam rumah Ki Wugu. Lantas mereka bercakap-cakap dengan Jaka Umbaran, Gendol dan Resi Simharaja yang memang bermalam di tempat itu. Dari pembicaraan mereka, Ki Wugu mengetahui bahwa Jaka Umbaran dan Resi Simharaja telah menyelamatkan desa mereka dari amukan Branjangkawat yang ingin mengambil para gadis remaja sebagai korban untuk meningkatkan ilmu kesaktiannya. Lelaki tua berjanggut pendek itu benar-benar tidak menyangka bahwa dia kedatangan tamu yang luar biasa.
Barang bawaan dari rumah Ki Lurah Mpu Rino dan beberapa barang dari warga sekitar yang ingin memberikan sesuatu kepada Jaka Umbaran langsung ditumpuk dekat tempat mereka berbincang. Karena tak ingin menolak niat baik dari para warga Wanua Banjararum, Jaka Umbaran menerima pemberian mereka namun langsung memberikan nya pada Ki Wugu dan Nyi Seti. Pasangan tua itu benar-benar tidak menduga bahwa menerima Jaka Umbaran dan kawan-kawan akan menjadi berkah bagi mereka berdua. Sepanjang malam itu, mereka terus berbincang hingga kantuk datang dan membawa mereka terbang ke alam mimpi.
__ADS_1
****
"Katiwasan Gusti Kundala katiwasan!!!"
Seorang lelaki tua bertubuh sedikit gemuk dengan janggut panjang terlihat berlari cepat menuju ke tempat tinggal Kundala sembari terus berkata seperti itu. Namun jika diperhatikan benar-benar, itu bukanlah janggut biasa melainkan kaki tangan gurita yang bergoyang kesana kemari. Ya, dia adalah Satrugeni, siluman gurita yang tinggal di dalam Istana Ratu Laut Selatan. Tugasnya setiap hari adalah mengawasi pelaksanaan pekerjaan para siluman rendahan yang di tugaskan untuk melakukan semua hal. Dengan menyimpan kepingan sedikit jiwa siluman yang tersegel di batu mutiara, Satrugeni siluman gurita melihat seluruh pekerjaan anak buah nya melalui air dalam belanga yang mampu melihat seisi dunia.
Tadi baru saja, mutiara tempat sekeping kecil jiwa branjangkawat sang siluman sungai mendadak retak dan hancur. Satrugeni yang melihat itu semua, segera melihat ke dalam air dalam belanga. Disana ia melihat Jaka Umbaran baru saja menghabisi nyawa siluman sungai itu berdiri di samping Resi Simharaja. Tentu saja hal ini harus segera dilaporkan kepada Kundala, sang siluman anjing laut yang menjadi salah satu punggawa Istana Laut Selatan.
"Ada apa Satrugeni? Kenapa kau bertingkah seperti orang gila begitu?", hardik Kundala sang siluman anjing laut keras.
"Ampuni hamba, Gusti Kundala..
Akan tetapi hamba punya berita penting yang harus Gusti Kundala dengar. Mutiara penyimpan jiwa milik branjangkawat retak dan hancur berkeping-keping Gusti", Kundala langsung bangkit dari tempat duduknya begitu laporan Satrugeni dia dengar.
"Branjangkawat adalah salah satu anak buah ku yang sakti mandraguna. Bagaimana mungkin dia bisa dibunuh?! Jangankan pendeta biasa, setingkat Maharesi pun akan kesulitan jika menghadapi amukan Branjangkawat", ucap Kundala lantang.
"Itulah sebabnya mengapa hamba bergegas kemari Gusti Kundala.
Yang membunuh Branjangkawat hanyalah seorang pemuda yang usianya tak lebih dari 2 dasawarsa. Dari kaca benggala terlihat, bahwa bekas raja siluman Alas Roban Simharaja juga turut serta di sampingnya", lapor Satrugeni selanjutnya.
"Simharaja??!!
"Jangan jangan apa?!"
Kundala dan Satrugeni segera menoleh ke arah sumber suara dan melihat Dewi Angin-angin sang Ratu Laut Selatan berjalan mendekati mereka.
"Sembah bakti kami Gusti Ratu", Kundala dan Satrugeni segera menghormat pada Ratu Laut Selatan.
"Hemmmmmmm cukup penghormatan kalian..
Sekarang aku tanya, ada masalah apa yang membuat kalian berdua ribut-ribut seperti ini?", Dewi Angin-angin menatap ke arah dua bawahannya itu segera.
"Ehh ini...", Kundala dan Satrugeni saling berpandangan satu sama lainnya. Keduanya ragu untuk memberikan jawaban.
"Cepat jawab, kenapa kalian diam saja?!", bentak Dewi Angin-angin sang Ratu Siluman Laut Selatan keras.
"Mohon ampuni kami Gusti Ratu..
Branjangkawat telah terbunuh oleh seorang pemuda. Dia sedang mengumpulkan para korban persembahan untuk menjadi dayang-dayang istana ini di bantaran Kali Progo. Tapi seorang pemuda tampan yang belum berusia lebih dari dua dasawarsa telah membunuhnya", lapor Kundala segera.
__ADS_1
"Seorang pemuda tampan yang belum genap berusia 2 dasawarsa kata mu?
Siapa pemuda itu? Kenapa aku tidak pernah mendengar laporan tentang dia baru-baru ini? Apa saja kerja mu Kundala?", mendengar itu, Kundala segera menghormat.
"Mohon ampun Gusti Ratu..
Sejauh ini pemuda yang usianya tak lebih dari dua dasawarsa di dunia persilatan yang memiliki kemampuan beladiri mumpuni hanya Jaka Umbaran saja. Tapi setiap kaca benggala ingin menelusuri jejak nya di masa lalu, ada pelindung gaib yang menjaga nya.
Satrugeni, apa pemuda tampan itu adalah Jaka Umbaran?", Satrugeni langsung mengangguk cepat. Dia memang telah melihat sosok Jaka Umbaran sekilas sebelumnya namun dia ingat betul wajah pemuda itu.
"Jaka Umbaran lagi Jaka Umbaran lagi..
Pemuda itu telah menggemparkan dunia persilatan Tanah Jawadwipa. Aku jadi penasaran ingin melihat sejauh mana kemampuan beladiri nya", ucap Dewi Angin-angin sang Ratu Laut Selatan sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam seolah sedang memikirkan sesuatu. Setelah itu, penguasa kerajaan siluman Laut Selatan itu segera menoleh ke arah Kundala.
"Satrugeni, Kundala besok pagi kalian berdua ikut aku...
Kita akan menyamar untuk mencoba menggoda Jaka Umbaran. Apa kalian mengerti?", mendengar perintah dari sang penguasa Kerajaan Siluman Laut Selatan, kedua siluman itu langsung menghormat.
"Kami siap melaksanakan perintah"
****
Pagi itu, Jaka Umbaran bersama dengan Resi Simharaja dan Gendol meninggalkan Wanua Banjararum. Ki Wugu dan Nyi Seti yang menerima pemberian para penduduk, berulang kali mengucapkan terima kasih atas pelimpahan hadiah yang diterima Jaka Umbaran. Setidaknya selama 2 purnama ke depan, mereka tidak akan kekurangan bahan pangan.
Setelah menyeberangi Kali Progo dengan bantuan rakit penyeberangan, Jaka Umbaran dan kawan-kawan menggebrak kuda tunggangan mereka ke arah timur. Melewati beberapa wanua kecil sepanjang perjalanan mereka, mereka tiba di sebuah hutan kecil di barat tapal batas Kota Kadipaten Bhumi Sambara.
Saat itu, mereka melihat sebuah kereta kuda yang sedang berhenti di tengah jalan. Karena jalan tidak terlalu lebar, maka mereka bertiga pun harus menghentikan perjalanan. Terlihat seorang lelaki bertubuh gempal sedang berusaha untuk mengeluarkan roda kereta kuda yang terperosok ke dalam lobang di pinggir jalan. Sementara itu, seorang lelaki paruh baya ikut berdiri di samping nya. Seorang perempuan muda berparas rupawan juga terlihat duduk di atas kereta kuda yang sedang mogok ini.
Melihat kedatangan Jaka Umbaran dan kawan-kawan, si lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan perut buncit dan berkumis tebal itu segera menghampiri mereka.
"Kisanak, bisakah kau membantu kami? Kusir kereta kuda kami masih baru dan belum hapal jalan hingga kereta kuda kami terperosok dalam lumpur", ujar si lelaki berpakaian bagus selayaknya seorang pedagang ini segera. Senyum lebar nya terukir jelas dan terlihat sedang mengharap pertolongan dari Jaka Umbaran dan kawan-kawan.
"Tapi kami..."
Gendol yang berkuda di samping Jaka Umbaran, langsung memotong omongan sang pendekar muda ini segera,
"Ndoro Pendekar, menolong orang lain itu besar pahalanya. Apalagi kalau ada gadis cantik yang melihat, itu lebih besar lagi pahala nya".
Jaka Umbaran menghela nafas panjang sebelum menoleh ke arah Gendol sambil berkata,
__ADS_1
"Tapi mereka bukan manusia, Ndol.."