JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Resi Gempurbhumi


__ADS_3

"Peduli setan dengan tujuan mu!


Kau sudah mengganggu perjalanan kami, wajah mesum!!", teriak Gendol tanpa mempedulikan lagi apapun omongan Anantawikrama.


Bhhhuuuuuummmmmmmmmm


Bhhuuuuummmmmmhh bhhuuuuummmmmmhh!!!


Gendol terus memburu pergerakan Anantawikrama kemanapun ia bergerak. Meskipun kecepatan Anantawikrama tinggi, namun Gendol tidak pantang menyerah mengejar pergerakan lelaki tampan bertubuh tegap ini.


Setelah berhasil menghindari gebukan gada Gendol yang mengincar pinggang, Anantawikrama melompat tinggi ke udara dan bersalto dua kali di udara dan mendarat pada jarak 5 tombak jauhnya dari tempat Gendol berada. Lelaki muda itu segera mengeluarkan sebuah seruling berwarna keperakan dari balik baju nya. Melihat pergerakan Gendol yang merangsek maju ke arah nya, Anantawikrama segera melompat mundur sambil meletakkan seruling berwarna perak.


Thulullliiiitttttttt....


Sebuah nada indah langsung mengalun merdu dari seruling perak milik Anantawikrama. Tiba-tiba muncul gelombang yang tak kasat mata menghantam Gendol yang sedang bergerak menuju ke arah Anantawikrama si Pendekar Tampan Berseruling Perak ini. Ajaibnya, gerakan Gendol seperti tertahan sesuatu hingga pergerakan tubuhnya melambat.


Saat hampir sampai di dekat Anantawikrama, Gendol tetap tidak bisa mempercepat gerakan tubuhnya. Anantawikrama segera memutar tubuhnya cepat dan melayangkan tendangan keras ke dada mantu Akuwu Mpu Setyaki ini.


Dhhiiieeeeesssshhh..


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Gendol melengguh tertahan saat tendangan keras Anantawikrama telak menghajar dadanya. Melihat Gendol berhasil dijatuhkan oleh Anantawikrama, Besur cepat hunus pedangnya dan meloncat tinggi ke udara. Dengan Ilmu Pedang Pemecah Langit nya, dia meluncur cepat kearah Sang Pendekar Tampan Berseruling Perak.


Anantawikrama yang waspada langsung mengarahkan seruling perak nya ke arah datangnya serangan cepat Besur. Suara seruling perak yang mengalun merdu pun langsung menghantam tubuh Besur. Dan hal yang sama seperti yang dialami oleh Gendol pun langsung terjadi pada Besur. Gerakan tubuhnya seketika melambat seperti tertahan gelombang bunyi seruling perak.


Gendol yang baru saja bangkit dari tempat jatuhnya, mengusap darah segar yang meleleh keluar dari sudut mulutnya. Dia yang masih penasaran dengan kemampuan beladiri Anantawikrama Sang Pendekar Tampan Berseruling Perak pun langsung menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah samping kiri lelaki tampan ini.


"Remuk pinggang mu, orang sok ganteng!", gembor keras Gendol sembari mengayunkan sepasang gada kembar di kedua tangan nya ke arah pinggang Anantawikrama.


Dari sudut ekor matanya, Anantawikrama melirik ke arah pergerakan Gendol. Pendekar asal Padepokan Gunung Kumitir ini pun segera meningkatkan kekuatan tenaga dalamnya untuk menaikkan suara seruling perak pada ilmu kesaktian andalannya, Ajian Seruling Lali Jiwa. Nada suara seruling perak nya yang semula rendah saja, kini meningkat tinggi dan cepat.


Sontak saja suara itu membuat gendang telinga siapapun orang yang mendengar nya berdenging sakit. Secawiguna langsung menarik tangan Nyai Paricara alias Indrawati untuk menjauh sambil berusaha menutup kedua telinganya. Para prajurit pengawal pribadi sang pangeran muda pun terpaksa harus berlari menjauhi tempat itu agar terhindar dari serangan suara Anantawikrama. Sedangkan Resi Simharaja dan Jaka Umbaran beserta Baratwaja langsung mengerahkan tenaga dalam mereka menghadapi alunan suara seruling yang seperti berasal dari neraka ini.


"Ajian Seruling Lali Jiwa!!


Ini ilmu beladiri pengecut yang menyerang lawan dengan suara. Kuncinya ada pada seruling perak di tangan nya itu Gusti Pangeran!", ucap Resi Simharaja segera. Jaka Umbaran mengangguk mengerti. Tubuh mereka basah kuyup oleh keringat yang keluar karena menahan suara seruling mempengaruhi pikiran mereka.


Gendol dan Besur mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya dan jatuh terduduk di tanah. Tiba-tiba saja, tubuh mereka berdua segera bergerak bangkit dengan bersikap seperti hendak bertarung satu sama lain.


"Ndol, cepat menjauh dari ku! Tubuh ku tidak bisa aku kendalikan!", teriak Besur sembari berusaha mati-matian menahan pergerakan tubuhnya yang dikendalikan oleh suara seruling perak Anantawikrama.


"Aku juga sama! Jangan dekat-dekat dengan ku Sur! Menjauh lah..!!", sahut Gendol yang juga dalam pengaruh suara seruling Sang Pendekar Tampan Berseruling Perak.


Besur dan Gendol pun langsung melesat ke arah satu sama lain dengan senjata tergenggam erat di tangan. Gendol mengayunkan gada kembar nya sementara Besur langsung menyambut dengan pedang.

__ADS_1


Thhrraaanggg thhrraaanggg!!!


Dua orang itu terus bertarung dengan sengit mengikuti alunan suara seruling perak Anantawikrama. Beberapa bagian tubuh mereka telah terluka akibat bertarung melawan kawan sendiri.


Jaka Umbaran segera menoleh ke arah pada Baratwaja yang sudah setengah mati bertahan menghadapi serangan suara Ajian Seruling Lali Jiwa ini.


"Keluarkan pisau belati mu, Baratwaja. Cepatlah!!"


Mendengar perintah dari Sang Pendekar Gunung Lawu, tangan kiri Baratwaja merogoh balik bajunya dan mengeluarkan sebilah pisau belati kecil miliknya. Segera dia melemparkan ke atas. Saat pisau belati kecil itu hendak jatuh ke tanah, Jaka Umbaran pun segera menendang gagang pisau belati kecil itu sekuat tenaga.


Shhhrrrriiiiiiinnnnnnngggggg!!


Pisau belati kecil itu mencelat cepat kearah Anantawikrama. Kaget dengan kemunculan tiba-tiba senjata rahasia ini, Anantawikrama segera melepaskan bibirnya dari seruling perak nya hingga alunan suara Ajian Seruling Lali Jiwa pun berhenti seketika.


Meskipun ini berlangsung sangat singkat, namun tak disia-siakan oleh Jaka Umbaran. Dengan Ajian Langkah Dewa Angin nya, sang pangeran mahkota Kerajaan Panjalu itu melesat cepat bagaikan kilat dari atas kudanya sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna putih kebiruan Ajian Guntur Saketi.


Gerakan cepat sang pangeran muda dari Kadiri ini mengejutkan bagi Anantawikrama. Sang Pendekar Tampan Berseruling Perak ini urungkan niat untuk meniup seruling perak nya lagi karena munculnya Jaka Umbaran dengan Ajian Guntur Saketi nya. Dia buru-buru menyilangkan seruling perak nya untuk menahan hantaman ilmu kesaktian ini.


Blllaaammmmmmmm!!!


Aaaarrrgggggghhhhh...!!!


Anantawikrama langsung mencelat jauh ke belakang dan menyusruk tanah hampir dua tombak jauhnya. Dia masih menggenggam seruling perak nya tapi langsung memuntahkan darah segar.


Hoooeeeeggggh..!!!


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!


Jaka Umbaran terdorong mundur beberapa tombak ke belakang. Seketika itu juga, dia langsung menatap ke arah sosok lelaki tua berjanggut pendek dengan dandanan seorang Resi ini. Disamping resi tua itu, ada sesosok wanita muda cantik yang sangat di kenal oleh Jaka Umbaran, Wara Andhira.


Kini, paham lah semua orang dengan apa maksud dari penghadangan yang di lakukan oleh Anantawikrama sang Pendekar Tampan Berseruling Perak ini. Wara Andhira lah dalang dari balik peristiwa ini.


Besur dan Gendol yang lepas dari pengaruh suara seruling perak Anantawikrama segera bergegas menjauh ke belakang di samping Resi Simharaja dan Baratwaja. Keduanya menderita beberapa luka akibat pertarungan sengit antara mereka berdua.


"Uhukkk uhukkk..


Brengsek kau Ndol, memukuli ku hingga babak belur seperti ini. Jangan-jangan kau sebenarnya tidak terpengaruh suara seruling keparat itu dan sengaja ingin membunuh ku ya?", kata Besur sambil mengurut dada nya yang sesak akibat terkena hantaman gada Gendol.


"Brengsek, seenaknya saja kau menuduh ku ingin membunuh mu!


Aku juga tidak berdaya melawan suara seruling keparat itu, Sur! Kau juga hampir membunuh ku. Nih liat tebasan pedang mu sudah hampir menebas punggung ku..", Gendol menunjuk baju nya yang robek akibat tebasan pedang Besur.


"Itu bukan mau ku ya..


Itu karena pengaruh ilmu suara keparat itu, tahu!", balas Besur tak mau kalah.

__ADS_1


"Sudah sudah, jangan ribut sendiri..


Sepertinya guru dari si seruling busuk itu sudah datang. Kita harus waspada dengan nya", Baratwaja melerai pertikaian antara kedua orang kawan nya itu. Gendol mendengus dingin sementara Besur langsung menoleh ke arah Resi Gempurbhumi, Wara Andhira dan Anantawikrama yang tertatih bangkit dari tempat jatuhnya.


"Rupanya kau tidak bisa menghargai kebaikan hati Kanjeng Romo Prabu Bameswara, heh perempuan Blambangan.


Kami mengampuni mu agar kau bisa memahami kesalahan yang dilakukan oleh guru mu. Tapi nyatanya kau datang kembali untuk membalas dendam", ujar Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya sembari menegakkan tubuhnya.


"Bukan dia yang patut kau salahkan, Pangeran Daha..


Asal kau tahu, aku yang memaksa nya untuk mencari keberadaan mu. Aku datang kemari untuk menuntut balas atas kematian saudara seperguruan ku, Maharesi Wiramabajra. Sekarang katakan pada ku, dengan cara apa kau ingin mati?", sahut Resi Gempurbhumi sembari menatap tajam ke arah Jaka Umbaran.


"Kau jangan besar omong dulu, Resi Tua. Perkara siapa yang mati, itu adalah rahasia Sang Maha Pencipta. Kau bukan malaikat maut yang bisa menentukan hidup mati seseorang.


Maharesi Wiramabajra ingin mati, jadi kau keliru jika ingin menuntut balas. Pulanglah ke Blambangan, tidak perlu lagi meneruskan niat salah sasaran mu itu", ucap Jaka Umbaran segera.


Phhuuuiiiiiihhhhh...


"Katakan saja kau takut pada ku, Pangeran Daha.


Aku tidak akan pulang ke Gunung Kumitir jika tidak membawa kepala mu sebagai sesajen untuk Kakang Maharesi Wiramabajra!", mendengar jawaban Resi Gempurbhumi itu, Jaka Umbaran menghela nafas panjang.


"Keras kepala!


Majulah kau resi tua kalau kau ingin menyusul saudara seperguruan mu ke Swargaloka!!", Jaka Umbaran segera memberi isyarat kepada Resi Gempurbhumi untuk segera maju dengan menggerakkan jemari tangannya.


Resi Gempurbhumi mendengus keras sebelum melesat cepat kearah Jaka Umbaran dengan kepalan tangan kanan dan kiri memancarkan cahaya merah kebiruan. Begitu sampai di dekat Jaka Umbaran, lelaki tua berjanggut pendek itu segera melayangkan pukulan cepat bertubi-tubi kearah sang pangeran muda.


Tepat sesaat sebelum kepalan tangan itu menghujani tubuh nya, sebuah cahaya kuning keemasan menutupi seluruh tubuh Jaka Tarub.


Blllaaammmmmmmm blllaaammmmmmmm


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr...!!!!


Debu beterbangan mengiringi ledakan dahsyat beruntun di dekat tapal batas selatan wilayah Kota Pakuwon Watugaluh ini. Dari awal, Resi Gempurbhumi langsung mengerahkan seluruh kemampuan beladiri nya. Tadi dia sudah cukup merasakan benturan tenaga dalam dengan Jaka Umbaran hingga merasa sudah tahu seberapa kuat lawan yang dia hadapi.


Melihat Jaka Umbaran masih berdiri kokoh di tempatnya semula dengan cahaya kuning keemasan menutupi seluruh tubuh, Resi Gempurbhumi mendengus murka dan langsung menghujani tubuh Jaka Umbaran dengan Ajian Panglebur Gangsa yang menjadi ilmu kesaktian kegemarannya. Biasanya, setiap lawan yang terkena hantaman Ajian Panglebur Gangsa akan hancur lebur tubuhnya menjadi abu. Namun sepertinya itu tidak berguna dalam menghadapi lawannya yang satu ini.


Bhhuuuuummmmmmhh bhhuuuuummmmmmhh..


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr....!!!!


Seputar tempat pertarungan mereka langsung porak poranda bagaikan tersapu gelombang badai yang menerjang apa saja yang dilalui nya. Resi Gempurbhumi ngos-ngosan mengatur nafasnya yang mulai tersengal akibat menghujani lawan dengan ilmu kesaktian tingkat tinggi nya. Matanya nyalang menatap ke arah tempat Jaka Umbaran yang tertutup asap tebal dan debu yang beterbangan di sekitar nya.


Saat debu dan asap tebal mulai menghilang, mata Resi Gempurbhumi melotot lebar tatkala ia melihat Jaka Umbaran masih tegak berdiri di tempatnya. Bahkan sehelai rambut pun tak ada yang hilang dari tubuh sang pangeran muda. Tak sengaja, sebuah ucapan tanda kekaguman atas kekuatan lawannya terlontar dari mulut Resi Gempurbhumi,

__ADS_1


"Edan!! Dia ini setan atau manusia?"


__ADS_2