
"Apa maksud mu dengan bau keringat yang sama, Resi Simharaja? Aku kurang mengerti", balas Jaka Umbaran lirih.
"Sepertinya kedua orang bercaping bambu itu memiliki darah yang sama dengan mu, Ndoro Pendekar. Sebaiknya kita amati saja dulu mereka, agar kita tidak salah menafsirkan..", ucap Resi Simharaja segera.
"Aku mengerti..."
Sore itu, keseluruhan pendekar yang ikut dalam sayembara pada kelompok Akuwu Sukowati berjumlah 182 orang. Kebanyakan peserta sayembara baru berasal dari Padepokan Bukit Asam yang dipimpin oleh Tirtonolo si Pendekar Golok Serigala Perak dan Sudhana si Pendekar Pedang Kembar dengan jumlah 58 orang. Ada lagi sekelompok pendekar misterius berjumlah 4 orang yang merupakan kelompok pendekar bercaping bambu tirai hitam itu. Oleh karena itu, sesuai dengan kesepakatan semula, mereka semua akan berangkat ke arah Alas Mruwak dimana markas besar Gerombolan Gagak Hitam berada pada esok pagi.
Karena kesulitan dalam mencari tempat bermalam, akhirnya Jaka Umbaran, Resi Simharaja dan Gendol memilih untuk beristirahat di lapak warung makan yang hanya digunakan pada saat siang hari saja. Untung saja mereka menyimpan sedikit makanan kering hingga tidak kelaparan pada malam hari itu. Meskipun harus ribut karena kerubungi nyamuk yang menggila di pasar besar dekat alun-alun Kota Pakuwon Sukowati, mereka cukup beruntung karena malam hari itu bisa berteduh dari hujan yang tiba-tiba mengguyur kawasan ini sebelum tengah malam.
Tepat sebelum hujan deras turun, ada dua orang pendekar yang ikut berteduh di samping tempat istirahat Sang Pendekar Gunung Lawu. Satu orang diantara mereka bertubuh sedikit pendek dengan tubuh gempal, memiliki wajah lucu karena kumis tipis yang tumbuh hanya di sudut bibirnya. Sekilas pakaiannya terlihat lusuh selayaknya seorang pendekar pengembara namun jika diperhatikan benar-benar, itu adalah pakaian mahal yang sudah cukup lama digunakan. Satu lagi lelaki yang masih cukup muda dengan pakaian sederhana namun bersih dan rapi. Di punggungnya tersandang sebuah tongkat besi yang sepertinya merupakan senjata andalannya. Jaka Umbaran mengenali mereka yang merupakan pengikut dari dua orang pendekar misterius yang mengenakan caping bertirai hitam tadi.
"Kisanak, kenapa kalian malah bermalam di tempat ini? Apa ini layak untuk menjadi tempat istirahat?", tanya si gemuk pendek sembari memperhatikan kondisi disekitar tempat itu. Cahaya api unggun yang dibuat oleh Gendol cukup menerangi tempat itu.
"Apa boleh buat, Kisanak?
Semua tempat penginapan di Kota Pakuwon Sukowati ini telah penuh. Kami sudah berkeliling kota namun tetap saja tidak ada tempat lagi. Terpaksa kami bermalam disini. Lumayanlah buat kami para pengelana, masih bisa berteduh dari hujan", balas Jaka Umbaran sembari tersenyum tipis.
"Sayang sekali, padahal sebagai peserta sayembara ini seharusnya kisanak bertiga mendapatkan tempat terhormat karena bagaimanapun kalian adalah orang yang akan bertaruh nyawa untuk kedamaian Kadipaten Lewa.
Oh iya perkenalkan aku pendekar dari Kadipaten Selopenangkep, nama ku Besur, kalau julukan ku Si Gendut Tapak Sakti dan ini kawan ku dari Kadipaten Gelang-gelang namanya Baratwaja, biasanya dia dipanggil dengan julukan Si Pisau Terbang Berkaki Kilat. Kalau boleh tahu, siapa nama mu Kisanak?", ucap lelaki gendut yang mengaku bernama Besur ini.
"Saya Jaka Umbaran, panggil saja Umbaran, Saudara Besur..
Ini kawan seperjalanan ku, Gendol dan Resi Simharaja. Terimakasih atas perkenalan yang baik ini. Menambah teman tentu saja akan lebih baik daripada menambah musuh. Salam hormat dari kami", balas Jaka Umbaran dengan sopan.
"Apa kalian tidak punya gelar? Atau jangan-jangan memang kalian hanya orang awam yang ingin mengadu nasib dengan ikut sayembara ini?", ucap Besur kemudian.
"Eh jangan salah ya Sur Besur.. Ndoro ku ini adalah Pen... Waaaddddaaaaauuuhhh, Ndoro kenapa kau injak kaki ku?", Gendol yang tak terima dengan omongan Besur hendak menunjukkan bahwa juragannya adalah seorang pendekar yang sedang naik daun saat ini, namun tidak sempat ia menyelesaikan omongannya, Jaka Umbaran keburu menginjak kaki kirinya.
"Ngomong pelan-pelan saja, nanti kau tersedak Ndol..
Kami memang orang awam, Saudara Besur tapi kami bisa sedikit ilmu beladiri jadi mungkin saja akan berguna jika nanti berhadapan dengan Gagak Hitam Lengan Seribu", potong Jaka Umbaran yang tidak ingin dua pendekar yang ada di hadapan mereka akan bermanis-manis kata setelah mendengar nama besar nya.
"Ah kalau begitu, jika nanti kita berhadapan dengan Gagak Hitam Lengan Seribu, sebaiknya saudara Umbaran menjauh saja. Biar aku dan Baratwaja yang menghadapi", ucap Besur segera.
"Huh sombong nya minta ampun..
__ADS_1
Apa kemampuan kalian berdua lebih hebat dari orang yang bercaping bambu itu? Aku lihat dari awal, kalian berdua seperti kacung bagi mereka berdua", gerutu Gendol yang langsung membuat wajah Besur dan Baratwaja merah padam menahan malu.
"Kau..."
"Tenangkan dirimu, Saudara Besur.. Kawan ku memang suka bercanda jadi tolong jangan diambil hati. Silahkan duduk, api unggun ini akan menghangatkan tubuh kita dari cuaca dingin ini", Jaka Umbaran segera mengalihkan pembicaraan mereka karena khawatir akan menjadi keributan.
"Tidak perlu, saudara Umbaran. Hujannya sudah mereda, sebaiknya kami segera pulang ke penginapan.
Kami permisi", ucap Besur yang segera mengangguk dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu bersama dengan Baratwaja. Hujan deras di luar memang telah mereda, menyisakan gerimis yang cukup membuat tubuh menggigil kedinginan. Setelah keduanya menghilang di balik kegelapan malam, Jaka Umbaran segera menoleh ke arah Gendol yang kembali duduk di depan api unggun.
"Lain kali jangan bersikap seperti itu Ndol..
Kita masih belum jelas siapa majikan mereka. Aku khawatir jika majikan mereka adalah orang yang tidak bisa di singgung, lalu membuat masalah dengan kita. Berani itu boleh tapi hati-hati itu juga perlu".
"Lha habisnya mereka menyebalkan loh Ndoro Pendekar..
Sok-sokan pakai nama julukan sebagai pendekar dunia persilatan untuk menyombongkan diri. Aku Gendol Si Pendekar Gada Pemecah Kepala, Macan Tua si Raja Siluman Alas Roban dan Ndoro Pendekar sang Pendekar Gunung Lawu. Kalau mereka dengar, pasti keder mereka. Ya kan Macan Tua?", Gendol menyenggol Resi Simharaja yang sedari tadi hanya diam saja.
"Aku tidak mau satu barisan dengan orang tolol yang keras kepala macam kau Ndol..
"Iya iya, aku salah..
Besok-besok tidak seperti itu lagi. Sekarang aku mau tidur. Besok pagi biar punya tenaga kalau mau berkelahi", usai berkata demikian, Gendol segera membaringkan tubuhnya. Tak sampai 3 kejap mata, terdengar suara dengkuran halus yang menandakan bahwa pria bertubuh tinggi besar itu telah terbuai dalam mimpi. Jaka Umbaran dan Resi Mpu menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kawan mereka ini.
Semenjak itu, Besur dan Baratwaja terus bergerak menembus kegelapan malam menuju ke arah penginapan yang ada di timur Kota Pakuwon Sukowati. Sesampainya di sana, keduanya segera menuju ke arah sebuah kamar tidur yang terletak paling ujung. Besur segera mengetuk pintu dan terdengar deheman dari dalam kamar tidur itu.
Ehheemmmm..
Besur dan Baratwaja segera masuk ke dalam kamar. Disana, dua orang yang mengenakan caping bambu bertirai hitam itu sedang duduk di kursi kayu dekat meja kecil di sudut ruangan. Besur dan Baratwaja segera menghormat pada mereka. Salah seorang mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat penerimaan hormat dua orang pendekar itu.
"Bagaimana? Apa kalian berdua sudah tahu siapa mereka?", terdengar suara lembut seorang wanita dari orang bercaping bambu sebelah kiri.
"Mohon ampun, Gusti..
Pemuda itu hanya mengatakan bahwa ia bernama Jaka Umbaran. Sedangkan dua pengikutnya bernama Resi Simharaja dan Gendol. Itu saja Gusti..", lapor Baratwaja segera.
Hemmmmmmm..
__ADS_1
"Jaka Umbaran ya..
Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya. Apa kau juga ingat nama itu Kakang?", si caping tirai hitam perempuan menoleh ke arah yang duduk di kursi sebelahnya.
"Jaka Umbaran.. Jaka Umbaran..
Tunggu dulu, bukankah itu nama seorang pendekar muda yang baru-baru ini menjadi salah seorang pengatur wilayah dunia persilatan? Dia mengatur wilayah tengah bukan?", suara seorang lelaki yang sedikit serak dan berwibawa terdengar dari si caping bambu bertirai hitam di sebelah kanan. Mendengar itu, baik Besur maupun Baratwaja terkejut bukan main. Jika benar orang yang mereka temui adalah Jaka Umbaran, maka keduanya tadi telah merendahkan martabat seorang pendekar besar yang sedang naik daun namanya itu.
"Tapi aku masih sangsi dengan nama besar itu, Kakang. Sebaiknya kita lihat saja nanti saat kita berhadapan dengan Gagak Hitam Lengan Seribu", ucap si caping bambu bertirai hitam perempuan itu segera.
"Kau benar, Nimas..
Besok pagi adalah pembuktian kemampuan beladiri pemuda itu. Jujur saja, aku penasaran dengan sosok pemuda ini. Entah kenapa, aku merasa memiliki hubungan dekat dengan nya.
Besur, Baratwaja..
Istirahatlah sekarang. Besok pagi kita berangkat ke Alas Mruwak ", ucap si caping bambu bertirai hitam laki-laki itu segera.
"Kami mengerti Gusti", Besur dan Baratwaja segera menghormat pada mereka berdua sebelum keduanya keluar dari dalam kamar tidur itu. Sesampainya di luar, keduanya segera menutup pintu dan bergegas menuju ke tempat istirahat mereka masing-masing.
Malam terus bergerak mendekati pagi. Menjelang pagi, hujan deras kembali mengguyur wilayah Kota Pakuwon Sukowati, menebarkan hawa dingin yang sanggup membuat orang semakin terlena dalam tidur mereka.
Setelah kokok ayam jantan terdengar bersahutan menandakan bahwa pagi telah datang, suasana Istana Pakuwon Sukowati kembali riuh dengan kedatangan para pendekar yang ingin berpartisipasi dalam sayembara yang dilakukan oleh Adipati Wangsakerta. Mereka terlihat telah bersiap dengan senjata mereka masing-masing. Meskipun tanah masih becek dan berlumpur karena hujan deras semalam, mereka tidak kehilangan semangatnya.
Setelah sebanyak 182 pendekar berkumpul, pagi itu juga Akuwu Mpu Winarka pimpinan Pakuwon Sukowati memimpin pasukan penantang maut itu berangkat menuju ke arah Alas Mruwak yang ada di lereng Gunung Wilis. Hampir semua menunggang kuda, kecuali beberapa orang yang mengandalkan kemampuan ilmu meringankan tubuh untuk bergerak cepat mengikuti rombongan ini.
Tepat setelah matahari pagi sepenggal naik ke langit timur, pasukan Akuwu Sukowati ini sampai di tempat yang dituju. Kesemuanya langsung di sambut dengan munculnya ratusan orang berpakaian hitam-hitam dengan mengenakan topeng burung gagak separuh wajah bercat hitam. Salah seorang diantara mereka, langsung maju ke arah Akuwu Sukowati yang memang berpenampilan mencolok dari yang lain.
"Rupanya ada lagi yang bosan hidup dan ingin mengantar nyawa kesini.
Hei kau orang berpakaian bagus, apa mau mu kesini ha?", hardik si lelaki bertubuh kekar dengan topeng burung gagak separuh wajah yang memiliki hiasan dari perak ini garang.
"Mau apa? Tentu saja aku kemari untuk menangkap Gagak Hitam Lengan Seribu yang telah membuat kekacauan di Kadipaten Lewa.
Mana dia? Suruh kemari dan berlutut di hadapan ku!", balas Akuwu Mpu Winarka dengan lantang. Si topeng burung gagak separuh wajah berhias ukiran perak ini hendak menjawab omongan Akuwu Sukowati ini, namun belum sempat dia bicara, dari dalam Alas Mruwak terdengar suara lantang yang memekakkan gendang telinga,
"Siapa yang mencari ku?!!"
__ADS_1