
"Untuk apa pergi dari sini? Bukankah kita akan menikah?", Jaka Umbaran tersenyum penuh arti.
"Tidak Akang Umbaran..
Padmadewi akan di nikahkan dengan Mapanji Jayabaya. Bukan dengan Akang Umbaran..", ucap Nararya Padmadewi dengan polosnya.
Semua orang yang ada di tempat langsung tertawa mendengar jawaban lugu sang putri dari Keraton Kawali ini. Prabu Bameswara sendiri sampai terpingkal-pingkal mendengar jawaban Nararya Padmadewi.
"Nakmas Putri, kau harusnya memahami kalau Pangeran Mapanji Jayabaya itu ya Jaka Umbaran. Dua nama itu punya satu orang lelaki yang ada di hadapan mu itu", ucap Ratu Dyah Chandrakirana sembari tersenyum lebar.
Nararya Padmadewi langsung melongo mendengar ucapan calon ibu mertua nya. Dia langsung menatap ke arah Jaka Umbaran dan melihat sang pangeran muda ini mengangguk tanda mengiyakan omongan sang ratu Panjalu.
"Tapi tapi bagaimana bisa itu terjadi?", tanya Nararya Padmadewi segera.
"Ceritanya panjang, nanti saja aku ceritakan. Sekarang aku tanya pada Nimas Padmadewi. Masih mau menolak menikah dengan Mapanji Jayabaya?", mendengar pertanyaan itu, Nararya Padmadewi langsung menggeleng cepat.
"Aku tidak keberatan..", Nararya Padmadewi langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam usai berbicara. Semburat merah menyala menghiasi wajahnya yang cantik. Jawaban itu langsung membuat seluruh tempat itu bergemuruh dengan tepuk tangan dari semua orang.
Dharmadyaksa ring Kasaiwan Mpu Panca pun melanjutkan ritual pernikahan ini. Sang pimpinan urusan keagamaan Kerajaan Panjalu itu segera memercikkan air suci yang telah diberkati pada kedua mempelai sambil terus mengucapkan mantra pemujaan terhadap Dewa. Bau harum setanggi dan kemenyan yang menyeruak di seputar tempat itu diiringi dengan suara gamelan terdengar semakin menambah kesakralan acara pernikahan ini.
Selesai ritual pemberkatan, Dharmadyaksa ring Kasaiwan Mpu Panca menjumput beberapa butir beras sesajen yang tertata di dekat tempat itu dan menempelkannya di dahi Pangeran Mapanji Jayabaya dan Nararya Padmadewi.
"Kini Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya dan Gusti Putri Nararya Padmadewi telah sah menjadi suami istri. Semoga Hyang Agung selalu memberikan kelimpahan rahmat nya agar keluarga kalian dapat langgeng dan bahagia selamanya. Om Namo Bhagavate Vasudevaya..", ucap Dharmadyaksa ring Kasaiwan Mpu Panca mengakhiri acara ritual pernikahan ini. Baik Jaka Umbaran maupun Nararya Padmadewi langsung tersenyum lebar.
Saat hendak turun dari pelaminan, tiba-tiba saja...
Whhhuuuuuuuutttttth!!
Sesosok bayangan berkelebat cepat kearah Jaka Umbaran. Dia dengan cepat menghantamkan kepalan tangannya ke arah Sang Putra Mahkota Kerajaan Panjalu. Sebuah cahaya merah kehitaman berbentuk seperti kepalan tangan besar dengan hawa panas menerabas cepat kearah Sang Pendekar Gunung Lawu.
Jaka Umbaran segera mengibaskan tangannya yang tiba-tiba saja muncul cahaya putih kebiruan. Kibasan tangan bercahaya ini segera menangkis serangan bokongan itu hingga membuat cahaya merah kehitaman itu berbelok arah dan menghantam salah satu bangunan yang ada di Istana Katang-katang.
Blllaaammmmmmmm!!!!
Kraaattttttttaaaaakk bhhuuuuummmmmmhh!
Suasana pernikahan yang semula sakral itupun langsung kacau balau seketika. Jerit ketakutan para perempuan yang berhamburan menyelamatkan diri di tambah kekagetan para tamu undangan pun sontak membuat keributan yang luar biasa.
Di tengah kekacauan ini, muncul puluhan orang orang berpakaian kuli panggul barang bersenjata lengkap menerjang maju ke arah Jaka Umbaran dan Nararya Padmadewi. Selain mereka, dari arah belakang muncul sekitar seratus orang yang mengenakan topeng berwarna merah separuh wajah yang juga bergerak menuju ke arah tempat pelaminan.
Hanya Prabu Bameswara dan Ratu Dyah Chandrakirana yang masih terlihat tenang. Dia melirik ke arah Mapanji Amaraha sambil menggiring Ratu Dyah Chandrakirana dan para istri nya juga anak-anaknya untuk menepi. Mapanji Amaraha Sang Rakryan Rangga segera mengangguk mengerti.
Gendol, Resi Simharaja, Besur dan Baratwaja yang tak pernah jauh dari Mapanji Jayabaya segera melesat ke sekeliling tempat Sang Pendekar Gunung Lawu berada. Mereka langsung mempersiapkan senjata mereka masing-masing untuk bersiap memulai pertarungan.
Begitu Demung Gombang, pimpinan pembunuh dari Jenggala kembali melesat ke arah Jaka Umbaran dan kawan-kawan, para pengikutnya langsung bergerak menuju ke arah yang sama. Pertarungan sengit pun segera terjadi di halaman depan Istana Katang-katang.
__ADS_1
"Ja, perempuan cantik itu bagian ku!", teriak Besur sembari mencabut pedang nya dan langsung memapak pergerakan Nyai Pu Karti yang bersenjatakan cambuk dengan ujungnya memiliki bilah besi tajam. Baratwaja menggeram dingin menanggapi omongan Besur sebelum menerjang ke arah beberapa lelaki bertubuh gempal bersenjatakan golok dan pedang.
Melihat kedatangan Besur, Nyai Pu Karti segera melecutkan cambuk nya ke arah lawan yang bertubuh sedikit pendek.
Ctttaaaaaaaaaaaaarrrrr..!!
Deru angin kencang berhawa dingin mengikuti kibasan ujung cambuk yang mengincar nyawa Besur. Putra Wredamantri Mpu Gumbreg ini segera menjatuhkan diri nya ke arah samping hingga ujung cambuk Nyai Pu Karti hanya melecut bekas tempat Besur berdiri.
Lolos dari maut, Besur langsung melesat maju sembari mengayunkan pedangnya kearah leher Nyai Pu Karti. Perempuan cantik itu buru-buru melompat mundur selangkah sambil mengangkat gagang cambuk yang terbuat dari besi dengan kedua tangan kearah serangan Besur.
Whhhuuuuuuuutttttth..
Thhrraaanggg....!!!!!
Saat serangan nya bisa di mentahkan, Besur secepat mungkin hantamkan tangan kiri ke arah pinggang ramping Nyai Pu Karti.
Whhhuuuuuggggghhhh!!
Sambaran cepat pukulan Besur yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi, menciptakan angin dingin yang mengikuti gerakan tangan kiri sang perwira prajurit Panjalu ini. Nyai Pu Karti kembali melompat mundur guna menyelamatkan pinggang nya dari serangan Besur sembari menarik ujung cambuk. Ujung besi tajam pada ujung cambuk seketika mencelat ke arah leher Besur dari belakang.
Shhhrrrreeeeettttth!!
Ekor mata Besur melihat kedatangan serangan bokongan itu. Buru-buru ia memutar tubuhnya dan menggunakan pedangnya sebagai senjata pertahanan. Ujung cambuk seketika tertahan dan membelit pedang Besur.
Cahaya hijau yang keluar dari tubuh Besur, menjalar cepat kearah pedang di tangan nya. Saat itu pula, cahaya biru redup berhawa dingin juga menjalar ke cambuk milik Nyai Pu Karti. Dan ...
Blllaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr!!!!
Besur dan Nyai Pu Karti sama-sama tersurut mundur beberapa langkah ke belakang. Rupanya ledakan keras itu membuat cambuk Nyai Pu Karti putus dan hancur berantakan, menyisakan gagang besi di tangan sang empunya.
"Hehehehe, senjata sudah hancur sekarang. Kau tidak punya senjata lagi, hehehehe..", ucap Besur sambil cengengesan yang langsung membuat Nyai Pu Karti mendengus keras.
"Perwira bangsat!!
Aku tetap bisa membunuh mu meski tanpa senjata!!", teriak Nyai Pu Karti sembari melesat cepat kearah Besur. Perempuan cantik itu segera menekan ujung gagang besi cambuknya yang telah hancur. Sebuah besi tajam seperti jarum besar mencuat keluar dari ujung gagang yang satunya. Bersenjatakan itu, Nyai Pu Karti menggembor keras penuh amarah ke arah Besur.
"Eh eh, setan betina ini masih punya senjata cadangan rupanya.. Aku tidak akan sungkan lagi pada mu, setan betina..!!", Besur langsung memutar pedangnya dan menggenggam erat gagang senjata itu dengan kedua tangan. Cahaya hijau terang muncul di pedang yang ada di tangan Besur.
"Ilmu Pedang Pemecah Langit..
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!"
Shhhrrrreeeeettttth......
Besur melenting ke udara dan membabatkan pedang nya ke arah Nyai Pu Karti yang bersiap untuk mencabut nyawa nya. Cahaya tipis hijau terang itu secepat kilat menerabas ke arah Nyai Pu Karti. Perempuan cantik berbaju coklat tua itu tidak punya ruang untuk menghindar hingga mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada senjata di tangannya untuk menahan serangan cepat Besur.
__ADS_1
Chhhrrraaaaaaasssssshhh..
Blllaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr...!!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!!
Nyai Pu Karti menjerit keras saat serangan Besur mampu mematahkan senjata nya meskipun telah dilapisi dengan tenaga dalam tingkat tinggi. Perempuan cantik berbaju coklat itu langsung mencelat ke belakang dan menyusruk tanah halaman depan Istana Katang-katang dengan keras. Dia langsung tewas seketika karena tebasan pedang Besur merobek dada hingga ke perutnya yang membuat luka menganga lebar di tubuhnya.
Melihat lawannya sudah tak bernyawa, Besur langsung melesat ke arah Baratwaja yang sedang sibuk di keroyok oleh beberapa orang. Pertarungan sengit di halaman Istana Katang-katang itu terus berlangsung sengit.
Resi Simharaja sendiri terus menerus menghalau siapapun yang mencoba untuk mendekati Jaka Umbaran dan Nararya Padmadewi. Puluhan orang tewas terkena cakaran mautnya.
Gendol sendiri langsung menghadang laju pergerakan Demung Gombang. Meskipun harus beberapa kali terjungkal menyusruk tanah, namun lelaki bertubuh tinggi besar itu tidak pantang menyerah menghadapi lawan yang memiliki kemampuan beladiri lebih tinggi dari nya.
Diam-diam, para prajurit Pasukan Garuda Panjalu menyelamatkan para tamu undangan agar mereka bisa keluar dari dalam istana ini. Begitu para tamu undangan hampir seluruhnya keluar dari dalam halaman istana, anggota Pasukan Garuda Panjalu langsung mengepung tempat ini. Selain para pemanah jitu sudah bersiaga di atas tembok istana, para prajurit pasukan elit Kerajaan Panjalu ini langsung menutup semua pintu gerbang istana.
Ini rupanya di sadari oleh salah seorang pembunuh. Dia segera melompat ke arah Demung Gombang sang pimpinan utama kelompok pengacau keamanan yang baru saja tersurut mundur beberapa tombak jauhnya usai beradu ilmu kesaktian dengan Gendol yang mengeluarkan Ajian Gada Petir nya. Lelaki berkepala plontos itu mengusap darah segar yang meleleh di sudut kiri bibirnya. Dia sungguh tidak menduga kalau Gendol yang terlihat pontang-panting menghadapi nya, masih menyimpan ilmu pamungkas yang sanggup membuat nya sampai luka dalam.
"Ki Demung Gombang...
Sepertinya kita telah terkepung. Lihatlah, para prajurit Panjalu sudah ada di sekeliling kita", ucap bawahan Demung Gombang ini segera. Mendengar itu, Demung Gombang segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Ratusan orang prajurit nampak sudah mengepung mereka.
"Bangsat! Rupanya mereka telah mempersiapkan diri menghadapi kita...
Sudah saatnya kita untuk memanggil dua tua bangka itu!!!", Demung Gombang segera mengeluarkan sebuah peluit dari bambu dan cepat meniup nya sekuat tenaga.
Prrrrriiiiiiiiiiittttttttt!!!!
Lengkingan suara peluit bambu terdengar keras hingga keluar tembok istana. Dari arah luar, dua sosok bayangan hitam berkelebat cepat seperti terbang melompati tembok istana. Dari dua sosok itu, 4 cahaya merah kebiruan langsung mengarah ke beberapa tempat dimana para prajurit Pasukan Garuda Panjalu berada.
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm..
Blllaaammmmmmmm...!!!!
Ledakan dahsyat beruntun terdengar. Para prajurit yang tidak siap dengan kedatangan serangan mendadak dua sosok bayangan itu langsung menjadi korban. Tak kurang 10 orang prajurit tewas dengan tubuh nyaris hangus.
Belum sempat kedua sosok bayangan itu mendarat, dua sosok lainnya melesat cepat kearah mereka dari belakang para prajurit Pasukan Garuda Panjalu. Berbekal cahaya biru kekuningan dan biru terang, dua sosok itu segera melepaskan pukulan berlapis ajian kanuragan tingkat tinggi pada dua orang yang tak lain adalah Sepasang Iblis Aneh dari Timur.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!
Getaran kuat seperti gempa bumi mengguncang tempat itu. Dua sosok yang baru saja menghadang laju pergerakan Sepasang Iblis Aneh dari Timur langsung melompat turun ke samping Jaka Umbaran dan Nararya Padmadewi yang berasa dalam pagar betis keempat orang pengikutnya.
Jaka Umbaran dan Nararya Padmadewi segera menghormat pada kedua lelaki paruh baya bertubuh kekar itu sambil berkata,
"Hormat kami Kanjeng Romo.."
__ADS_1