
Sosok yang tak lain adalah Ratu Racun Pembunuh ini segera membuka ikatan tali bungkusan kain panjang warna hitam yang baru saja dia letakkan tanah. Dia khawatir kalau-kalau benda yang dibawa nya itu nanti akan bermasalah hingga menimbulkan masalah besar.
Begitu tali terlepas, kepala seorang wanita menyembul keluar dari bungkusannya kain hitam bulat panjang itu. Mulut perempuan cantik itu terikat kain yang mencegah nya untuk bicara sedangkan tangan dan kakinya terikat tali. Perempuan cantik yang tak lain adalah Dewi Rengganis ini dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Buru-buru Ratu Racun Pembunuh memeriksa denyut nadi dan nafas Dewi Rengganis untuk memastikan apakah perempuan cantik itu masih hidup atau sudah mati. Setelah merasakan denyut nadi dan hembusan nafas halus Dewi Rengganis, Ratu Racun Pembunuh alias Nyi Dewayani menghela nafas lega.
Asal tahu saja, setelah kalah dari Resi Guru Ekajati, Ratu Racun Pembunuh langsung di bawa ke tenda tempat bermalam nya untuk memulihkan diri. Dia memiliki sebutir obat yang bernama Pil Penguat Nyawa yang mampu memulihkan tenaga dalam dan menyembuhkan luka secara cepat. Setelah minum pil obat itu, Nyi Dewayani si Ratu Racun Pembunuh segera bersemedi mengatur jalan darah agar sembuh lebih cepat.
Malam hari nya, sekelompok orang dari dua perguruan silat yaitu Sena dari Perguruan Pedang Keadilan dan Lugina dari Kedewaguruan Astanaraja mendatangi tempat peristirahatan Nyi Dewayani si Ratu Racun Pembunuh.
"Apa mau kalian berdua kemari ha?
Mau menantang adu kesaktian dengan ku?", Ratu Racun Pembunuh mendelik tajam ke arah mereka berdua.
"Sabar Nini Ratu..
Kami berdua kemari untuk membicarakan tentang kerjasama dengan mu. Jujur saja, Perguruan Pedang Keadilan merasa dirugikan oleh cara pengundian yang menurut kami berat sebelah dan cenderung merugikan perguruan silat kami. Karena itu, kami berniat untuk memberikan pelajaran kepada pengatur baru agar mereka tidak seenaknya sendiri.
Kebetulan saja, Astanaraja juga merasakan hal yang sama dan mereka punya dendam pribadi pada Resi Guru Ekajati. Musuhnya musuh adalah kawan Nini Ratu. Jadi kami minta kau tidak keberatan dengan permintaan kami", ujar Sena dengan nada lirih namun terasa sangat ingin balas dendam.
"Memang apa keuntungan yang aku peroleh jika bekerjasama dengan kalian?
Aku memang punya dendam pribadi pada Resi Guru Ekajati tapi lain kali masih bisa untuk membalasnya. Tidak perlu sekarang melakukannya", ujar Ratu Racun Pembunuh segera.
"Astanaraja akan memberi mu 2 butir Batu Nirmala Hijau yang bisa kau gunakan untuk meningkatkan tenaga dalam mu nanti, Nyi Dewayani.
Cukup menguntungkan bagi mu bukan?", ucap Lugina sambil mengulurkan tangannya yang memegang kantong kain hitam yang terbuka tali nya. Sebuah batu sebesar biji keluwih berwarna hijau muda ada disana. Mata Nyi Dewayani si Ratu Racun Pembunuh langsung melebar kala melihat batu hijau itu.
Tanpa pikir panjang, Ratu Racun Pembunuh langsung menyambar batu hijau muda itu dari atas tangan kanan Lugina.
"Sepakat!
Apa bagian ku dalam rencana jahat kalian ini?", tanya Ratu Racun Pembunuh sembari memasukan Batu Nirmala Hijau itu ke kantong baju hitam nya.
"Sena akan membuat berita palsu pada para penjaga tempat bermalam Nyai Larasati untuk melonggarkan penjagaan para murid Perguruan Golok Sakti. Lalu kau masuk dan gunakan racun mu untuk membuat muridnya itu tak sadarkan diri. Setelah itu kau antar dia ke bukit Gronggong.
Sesampainya di sana, aku akan memberikan sebutir Batu Nirmala Hijau lagi untuk mu", ujar Lugina sambil tersenyum licik.
"Urusan kecil..
Serahkan urusan kecil itu pada ku. Siapkan saja batu nya lagi di Bukit Gronggong", ujar Nyi Dewayani si Ratu Racun Pembunuh sambil memberi isyarat kepada mereka berdua untuk segera pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Dan begitulah ceritanya hingga Ratu Racun Pembunuh sampai di tepi Kali Pemali ( Cipemali atau Kali Brebes sekarang). Kali Pemali adalah batas alam wilayah Kerajaan Panjalu dan Galuh Pakuan meskipun sebenarnya pada ujung muara berdiri Kota Kadipaten Rajapura yang merupakan salah wilayah kecil di bagian paling barat Panjalu.
Setelah cukup beristirahat, Ratu Racun Pembunuh kembali merapikan ikatan tali bungkusan kain panjang warna hitam yang dibawanya. Begitu beres, perempuan cantik berbaju hitam itu segera melesat keatas pucuk pohon bambu yang melengkung di atas Kali Pemali. Menggunakan ujung bambu itu, Ratu Racun Pembunuh yang memiliki ilmu meringankan tubuh tinggi segera meloncat tinggi dan mendarat di dahan pohon besar di seberang sungai besar itu sebelum dia kembali berloncatan seperti terbang di atas pucuk-pucuk pepohonan. Tujuan nya hanya satu, sampai di Bukit Gronggong secepatnya.
****
Mengandalkan kemampuan hidung peka Resi Simharaja, Jaka Umbaran bersama dengan Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan dan Resi Guru Ekajati terus bergerak cepat mengejar penculik Dewi Rengganis. Kemampuan ilmu meringankan tubuh keempatnya nya memang sangat tinggi hingga jarak ribuan tombak jauhnya hanya di tempuh dalam beberapa kali tarikan nafas.
Menjelang sore hari tiba, ketiganya telah sampai di tepi Sungai Pemali. Resi Simharaja mengendus keberadaan bau keringat Dewi Rengganis dan itu menghilang di tepi sungai.
"Sepertinya mereka menyeberangi sungai ini, Ndoro Umbaran. Bau nya hilang disini", ujar Resi Simharaja sembari menunjuk tepian Sungai Pemali yang berair keruh.
Hmmmm..
"Senja sudah mulai gelap, sebentar lagi jarak pandang mata kita juga akan terbatas.
Resi Guru, menurut pendapat mu sebaiknya kita lanjutkan pengejaran atau beristirahat?", Jaka Umbaran segera menoleh ke arah Resi Guru Ekajati dan Nyai Larasati yang ikut berdiri di tepian Sungai Pemali.
"Semakin cepat kita menemukan penculik itu maka akan semakin baik tapi malam hari akan mempersulit pergerakan kita. Kalau aku lebih suka untuk beristirahat lebih dulu untuk memulihkan tenaga kita. Tapi aku ingin bertanya kepada Resi Simharaja, apakah jejak keberadaan Dewi Rengganis akan menghilang dari penciumannya jika berhenti?", Resi Guru Ekajati menatap ke arah Resi Simharaja yang berdiri di tepi sungai sambil terus berupaya untuk melacak bau yang ditinggalkan oleh penculik.
"Asal tidak menyeberangi air, maka bau itu tidak akan hilang meski sepekan pun hidung ku masih bisa merasakan nya", ujar Resi Simharaja acuh tak acuh.
"Baguslah kalau begitu..
"Aku punya seorang kenalan tak jauh dari tempat ini. Kita bisa sampai di kediaman nya sebelum gelap malam datang. Kita harus menyeberangi Sungai Pemali ini lebih dulu supaya segera sampai ke tempat kawan ku itu", imbuh Resi Guru Ekajati segera.
Keempat orang pendekar berilmu tinggi itu segera menyeberangi Sungai Pemali dengan cara mereka sendiri-sendiri. Resi Guru Ekajati misalnya, memilih untuk menjejak tanah tepian Sungai Pemali sekeras mungkin hingga tubuhnya melenting tinggi sekali di udara. Diatas, dia bersalto dua kali lalu meluncur turun ke seberang sungai.
Nyai Larasati menggunakan cara yang berbeda. Dengan cepat ia memanjat pohon kelapa yang tumbuh di tepi sungai besar itu. Setelah sampai di pucuk pohon, dia menebas satu pelepah daun kelapa dan menggunakan nya untuk meluncur ke seberang sungai.
Lain lagi cara Jaka Umbaran. Pendekar muda ini celingukan kesana kemari mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menyeberangi Sungai Pemali. Senyum lebar tersungging di wajahnya tatkala ia melihat beberapa bonggol gedebok ( pohon ) pisang berserakan di sekitar tempat nya berada. Dengan menggunakan tenaga dalam nya, dia menendang satu persatu bonggol gedebok pisang itu ke dalam sungai.
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!
Byyuurrrr bhyyyuuuurrrrrr!!
Setelah itu, Jaka Umbaran segera melompat ke atas bonggol bonggol gedebok pisang itu untuk menyeberangi Sungai Pemali. Resi Simharaja memilih mengikuti langkah sang tuan. Keduanya berloncatan di atas gedebok pisang hingga sampai di seberang sungai besar itu dengan selamat.
Setelah mereka berempat berkumpul lagi, keempat segera bergegas menuju ke arah barat daya dimana sebuah pemukiman penduduk yang dinamakan Wanua Tegalglagah berada. Mereka berempat pun segera menuju ke sebuah rumah yang ada di ujung kampung.
"Sampurasun...", ucap Resi Guru Ekajati di depan pintu rumah beratap daun alang-alang kering itu. Terdengar suara langkah kaki mendekati pintu masuk rumah.
__ADS_1
Krrriiieeeeetttttttthhh...
"Rampes...
Maaf Kisanak, ada apa sore-sore begini kau bertamu ke rumah ku?", tanya seorang lelaki tua berjanggut putih dengan pakaian sederhana khas rakyat jelata.
"Mundingjaya..
Kau sudah lupa dengan ku?", Resi Guru Ekajati tersenyum lebar. Lelaki tua berjanggut putih itu langsung memicingkan matanya sembari mengingat wajah tua yang ada di depannya itu. Saat ingatannya kembali lagi, mata kakek tua itu melebar seketika.
"Ekajati?? Benarkah kau Ekajati kawan lama ku?", ucap Mundingjaya setengah tak percaya melihat kawan lamanya yang sudah puluhan tahun tidak terlihat kini muncul di hadapan nya.
"Tentu saja ini aku, Mundingjaya..
Hehehehe tak terasa sudah puluhan tahun kita berpisah. Waktu berjalan begitu cepat", ujar Resi Guru Ekajati segera.
"Jagad Dewa Batara..
Ayo masuk Ekajati. Ada banyak sekali hal yang ingin ku tanyakan pada mu. Eh siapa mereka?", Mundingjaya menunjuk ke Jaka Umbaran, Nyai Larasati dan Resi Simharaja yang berdiri di belakang Resi Guru Ekajati.
"Mereka semua adalah kawan seperjalanan ku. Ini Jaka Umbaran, Nyai Larasati dan Resi Simharaja", Resi Guru Ekajati memperkenalkan kawan-kawannya pada kawan lamanya itu.
Malam itu, Resi Guru Ekajati dan Mundingjaya bernostalgia dengan membeberkan cerita mereka setelah keluar dari Kedewaguruan Astanaraja. Sebagai sesama bekas murid disana, keduanya akhirnya saling mengerti penyebab keluarnya Resi Guru Ekajati dari Kedewaguruan Astanaraja.
"Jadi kau juga menyadari ada yang tidak beres dengan pimpinan Astanaraja yang sekarang, Mundingjaya?", tanya Resi Guru Ekajati segera.
"Sebelum aku keluar, aku sempat memergoki Dewa Guru Resi Atmabrata membawa beberapa gadis muda ke bawah tebing batu sebelah timur. Aku tahu karena aku mengikutinya. Ada sebuah goa yang mulutnya tertutup rimbun tumbuhan menjalar hingga sekilas tidak akan terlihat. Aku tidak berani masuk ke dalam karena ada bau busuk menusuk hidung yang keluar dari mulut goa itu.
Kemudian aku mendengar suara teriakan keras dari mulut seorang perempuan di dalam goa itu, Ekajati. Aku berpikir gadis itu dijadikan sebagai tumbal. Aku berani berkata demikian karena setelah itu ada bau darah yang keluar dari dalam", ucap Mundingjaya penuh keyakinan.
"Hemmmmmmm rupanya benar dugaan ku..
Atmabrata bisa memperoleh kemampuan beladiri dan tenaga dalam tinggi dalam waktu singkat dan mengalahkan ku dulu, rupanya dia bersekutu dengan iblis. Benar-benar tidak bisa di maafkan", ucap Resi Guru Ekajati sembari mengepalkan tangannya erat-erat.
"Resi Simharaja, apa kau sudah mencium bau keberadaan murid Nyai Larasati?", tanya Resi Guru Ekajati sembari menoleh ke arah Resi Simharaja yang duduk di dekat pintu rumah.
"Barat laut. Penculik itu membawanya ke arah barat laut", jawab Resi Simharaja singkat. Mendengar jawaban itu, Resi Guru Ekajati terkejut bukan main. Nyai Larasati segera bertanya pada lelaki tua berpakaian serba putih ini.
"Ada apa Resi Guru? Kenapa kau terlihat seperti kaget begitu?"
Resi Guru Ekajati menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Nyai Larasati,
__ADS_1
"Penculik itu pasti membawa Rengganis ke tempat yang baru saja aku bicarakan dengan Mundingjaya.
Bukit Gronggong.."