JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Pralaya Kadipaten Selopenangkep ( bagian 4 )


__ADS_3

Prabu Bameswara tak segera menjawab pertanyaan itu tapi terus menerus mengeluarkan darah kehitaman dari dalam mulutnya. Ini membuat Jaka Umbaran khawatir dengan keselamatan sang ayah.


Wireswari pun langsung tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan yang dialami oleh Raja Panjalu itu.


Huahahahahahaha...


"Itu adalah karma dari perbuatan mu, Prabu Bameswara..


Kau menghisap daya hidup dan tenaga dalam milik Si Iblis Berwajah Setengah Dewa itu, maka kutuk pasu yang ada di tubuhnya juga berpindah kepada mu. Ini adalah karma, ini adalah karma huahahahahahaha", ucap Wireswari sembari terus tertawa terbahak-bahak meskipun sesekali dari mulutnya keluar darah segar akibat luka dalam yang dia derita. Lelaki setengah perempuan ini masih terkapar di tanah.


Resi Simharaja yang melihat kejadian itu, segera melompat ke samping sang pangeran muda dan raja Panjalu itu untuk melindungi mereka dari bahaya yang mungkin bisa terjadi.


"Gusti Pangeran, Kembang Wijayakusuma.."


Ucapan Resi Simharaja seketika itu juga menyadarkan Pangeran Mapanji Jayabaya tentang bunga putih dengan beberapa kelopak bawah berwarna merah yang dia miliki. Segera tangan kanannya membentuk sikap mudra di depan dada dan Jaka Umbaran pun segera menutup mata sebentar.


Sebuah bunga putih dengan beberapa kelopak bawah berwarna merah yang merupakan perwujudan dari Kembang Wijayakusuma, salah satu ciri khusus dari Awatara Wisnu muncul di telapak tangan sang pangeran.


Segera Jaka Umbaran meletakkan bunga itu diatas dada Prabu Bameswara. Namun anehnya tidak ada kelopak bunga yang gugur seperti biasanya saat benda pusaka itu menyelamatkan nyawa seseorang. Jaka Umbaran pun nampak kebingungan.


Meskipun demikian, wajah Prabu Bameswara yang semula pucat kini berangsur angsur membaik walaupun dia masih juga belum pulih seperti sedia kala.


"A-aku baik-baik saja, Putraku uhukkk uhukkk uhukkk..


Sebaiknya kau cepat selesaikan dulu tugas penyelamatan Kadipaten Selopenangkep ini. Kau tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan ku", ujar Prabu Bameswara segera.


Meskipun kekejaman peperangan ini sudah cukup membuat Jaka Umbaran, akan tetapi sakitnya Maharaja Panjalu sekarang semakin menambah murka sang pangeran muda. Kota dan Istana Kadipaten Selopenangkep telah rusak parah karena ulah para prajurit Jenggala.


"Resi Simharaja, jaga Kanjeng Romo Prabu!", perintah Pangeran Mapanji Jayabaya segera.


"Baik Gusti Pangeran..", ucap Resi Simharaja sembari mengangguk mengerti.


Setelah menurunkan perintah ini, Pangeran Mapanji Jayabaya segera bersedekap tangan di depan dada. Dari punggungnya sebelah kanan, muncul cahaya kuning keemasan yang selanjutnya membentuk sebuah untaian huruf Jawa Kuno. Huruf huruf itu langsung berputar cepat hingga berwujud lingkaran bulat besar seperti roda bergerigi tajam. Cakram besar ini bahkan terlihat jelas dari jarak jauh.


"Benda apa itu?", tanya Tumenggung Citragadha yang kebetulan sedang berdiri di samping kanan Senopati Tambakwedi. Segera pimpinan pasukan Jenggala ini menoleh ke arah yang ditunjuk oleh wakilnya.


HAAHHHHHHHHHH!!


"I-itu bu-bukan nya C-cakra Bhaswara, Citragadha?!!", Senopati Tambakwedi kaget bukan main melihat munculnya cahaya kuning keemasan yang berputar cepat di kejauhan.


"Cakra Bhaswara?


Benda apa itu Gusti Senopati? Baru kali ini hamba melihat nya..", tanya Tumenggung Citragadha yang memang tidak tahu sama sekali.


"Guru ku pernah bercerita bahwa suatu saat nanti akan muncul entah darimana sebuah benda besar berwarna kuning keemasan yang merupakan salah satu senjata titisan Dewa Wisnu. Saat benda itu telah muncul, guru menyarankan agar aku secepatnya menjauh dari tempat munculnya cahaya kuning keemasan itu.


Ini gawat! Citragadha, cepat perintahkan kepada para prajurit kita untuk segera mundur!!", teriak Senopati Tambakwedi segera.


Tumenggung Citragadha yang sedikit tidak percaya dengan omongan Senopati Tambakwedi, mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Namun sebagai seorang bawahan dia wajib untuk mentaati setiap perintah dari sang pimpinan tertinggi. Dia menoleh ke arah prajurit pembawa bende perang untuk menabuh alat isyarat itu.


Namun, sebelum isyarat untuk mundur dari bende perang terdengar, Cakra Bhaswara sudah lebih dahulu melesat ke arah para prajurit Jenggala.

__ADS_1


Shhhrrrriiiiiiinnnnnnngggggg!!!


Chhraasshh chhraasshh chhraasshh!!!


Aaaarrrgggggghhhhh..!!!


Puluhan orang prajurit tewas seketika saat Cakra Bhaswara memotong tubuh mereka. Jerit kesakitan langsung terdengar dari mulut para prajurit Jenggala yang menjadi korban ketajaman senjata para dewa ini. Dalam waktu singkat, ratusan mayat telah bergelimpangan dimana-mana. Istana Kota Kadipaten Selopenangkep benar-benar banjir darah.


Cakra Bhaswara terus berputar cepat dan memotong apa saja yang dilalui nya. Para pimpinan kelompok prajurit Jenggala berupaya untuk menghentikannya namun itu tidak berguna sama sekali. Mereka menggunakan tombak dan tameng untuk menahan gerakan cepat Cakra Bhaswara akan tetapi senjata kedewaan berbentuk bulat besar seperti roda bergerigi tajam itu tak bisa mereka sentuh.


Chhraasshh chhraasshh..


Aaauuuuggggghhhhh...!!!


Kengerian bercampur aduk dengan rasa takut pun mulai menyebar di segenap penjuru hati para prajurit Jenggala. Mereka yang melihat bahwa senjata kedewaan ini tak terhentikan, mulai bergerak mundur. Yang paling ujung bahkan telah keluar dari dalam istana Kadipaten Selopenangkep.


Melihat hal itu, para prajurit Selopenangkep dan anggota Pasukan Garuda Panjalu semakin bersemangat untuk mengusir para prajurit Jenggala.


Amukan Cakra Bhaswara di sertai dengan semangat berapi-api para punggawa Kerajaan Panjalu juga para prajurit Selopenangkep membuat para prajurit Jenggala semakin terjepit. Apalagi dari arah barat, muncul puluhan ribu prajurit Panjalu di bawah pimpinan Senopati Agung Sembada.


Sadar sudah di mungkin lagi untuk memenangkan pertempuran, Senopati Tambakwedi menarik nafas dalam-dalam sebelum berteriak lantang,


"MUNDUUUUURRRRRR!!!!!"


Di awali dengan Senopati Tambakwedi, para prajurit Jenggala yang tersisa mulai bergerak meninggalkan istana Kadipaten Selopenangkep yang hampir saja mereka kuasai. Meskipun sedikit kecewa karena kegagalan ini, tapi mereka juga tidak mau mati konyol karena mempertaruhkan sesuatu yang tidak bisa lagi mereka raih.


Pangeran Mapanji Jayabaya segera menarik kembali Cakra Bhaswara. Benda pusaka kedewaan ini perlahan berubah menjadi cahaya kuning keemasan yang masuk kembali ke punggung kanan Jaka Umbaran.


Senopati Naratama dan Senopati Agung Sembada segera melompat turun dari kuda tunggangan mereka masing-masing dan segera menyembah pada Prabu Bameswara dan Pangeran Mapanji Jayabaya.


"Mohon ampun Gusti Prabu, Gusti Pangeran..


Para prajurit Jenggala telah mundur dari Kota Kadipaten Selopenangkep. Mohon petunjuk selanjutnya apa yang harus segera dilakukan", ucap Senopati Agung Sembada segera.


Uhukkk uhukkk uhukkk..


"Putra ku Mapanji Jayabaya ...


Waktunya kau untuk membuat sebuah keputusan", ucap Prabu Bameswara dengan nada suara lemah.


Hemmmmmmm..


Jaka Umbaran menghela nafas berat mendengar perintah dari sang ayahanda tercinta. Lalu setelah berpikir keras beberapa saat lamanya, dia menoleh ke arah Senopati Agung Sembada dan Senopati Naratama.


"Jangan biarkan para pengacau itu meninggalkan wilayah Kadipaten Selopenangkep. Aku ingin kepala pimpinan pasukan Jenggala itu!"


Senopati Naratama dan Senopati Agung Sembada langsung menghormat cepat sebelum keduanya meninggalkan tempat itu. Bersama dengan 30 ribu orang prajurit Panjalu, mereka pun segera mengejar para prajurit Jenggala yang masih tersisa.


Besur, Gendol dan Baratwaja terlihat menundukkan kepalanya dalam-dalam melihat keadaan Prabu Bameswara yang sedang tidak baik-baik saja.


"Resi Simharaja, bagaimana ini? Kanjeng Romo Prabu sedang seperti ini, Kembang Wijayakusuma pun tak bisa menyembuhkan nya", Jaka Umbaran segera menoleh ke arah Resi Simharaja yang duduk di dekat nya.

__ADS_1


"Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya jangan lupa, Indrawati adalah seorang paricara hebat. Dia mungkin tahu cara menyembuhkan Gusti Prabu Bameswara", ucap Resi Simharaja kemudian.


Huahahahahahaha..


"Paricara hebat kata mu?


Huh, bahkan dewa pun tak sanggup untuk menyembuhkan nya apalagi cuma seorang tabib? Phhuuuiiiiiihhhhh, itu tidak akan mungkin terjadi.


Hoooeeeeggggh..!!", Wireswari yang sedang luka dalam parah dan sempat luput dari perhatian para penjaga setia Pangeran Mapanji Jayabaya kembali memuntahkan darah segar usai bicara demikian.


"Apa maksud dari ucapan mu, banci sialan? Cepat katakan pada ku!", Resi Simharaja melesat cepat kearah Wireswari dan segera menyambar leher perempuan jadi-jadian itu. Kuku tangan kanannya mencuat keluar seperti kebanyakan kuku harimau saat merasa sedang terancam.


Rupanya tindakan ini cukup membuat Wireswari ciut nyalinya. Apalagi saat dia melihat gigi taring milik Resi Simharaja sengaja dipamerkan untuk menakuti nya.


"Tu-tunggu dulu, ksatria Panjalu a-aku akan bicara.. I-iya aku akan bicara..", ucap Wireswari si perempuan jadi-jadian itu dengan terbata-bata ketakutan.


"Kutuk pasu itu datang dari putri Raja Siluman Alas Purwo..


Aku dengar, Raja Siluman Alas Purwo Prabu Tirtabawana memiliki air suci yang bernama Air Prawitasari. Konon kabarnya, air suci itu bisa melenyapkan seluruh kutuk pasu yang didapat oleh semua orang. Jadi satu-satunya harapan kesembuhan Prabu Bameswara adalah dengan mendatangi Kerajaan Siluman Alas Purwo dan meminta air suci itu kepadanya", imbuh Wireswari alias Wiropati segera.


Hemmmmmmm..


Terdengar suara dengusan nafas panjang dari mulut Resi Simharaja. Sepertinya ada sesuatu yang sangat menggangu pikiran nya. Dia segera melemparkan Wireswari ke tanah usai mengatakan semua hal yang diketahuinya.


"Aduh bajingan tua..


Apa kau tidak bisa halus sedikit sama perempuan?", gerutu Wireswari sambil mengelus sikutnya yang lecet karena ulah Resi Simharaja. Bekas raja siluman Alas Roban itu tak menanggapi omongan Wireswari tapi langsung bergegas mendekati Jaka Umbaran. Belum sempat dia bicara, Besur sudah lebih dulu buka mulut nya.


"Jangan kasar begitu sama perempuan, Macan Tua. Kasihan dia", ucap Besur sok perhatian.


"Kau yang biasanya bersikap halus, urusi saja dia kalau mau. Dia bukan perempuan tapi banci. Kau mau?", Resi Simharaja melotot ke arah Besur. Sontak saja Besur langsung bergidik geli mendengar kata banci.


"Hiiii amit-amit jabang bayi..


Emoh aku Macan Tua. Sama banci, bisa apa? Main pedang-pedangan? Hoooeeeeggggh!!", Besur langsung muntah-muntah berulang kali usai membayangkan jika sampai berduaan dengan seorang banci. Semua orang langsung berusaha keras untuk tidak tertawa meskipun ulah konyol Besur sangat menggelikan. Mereka hanya bisa menunduk sambil menahan tawa.


"Gusti Pangeran, sebaiknya kita bawa pulang Gusti Prabu Bameswara ke Istana Kotaraja Daha. Selain mendapatkan perawatan dari para tabib, Gusti Prabu Bameswara juga lebih aman disana.


Untuk urusan Alas Purwo, kita nanti bicara dengan para punggawa istana", usul Resi Simharaja segera.


"Aku mengerti Resi", ucap Jaka Umbaran sembari memapah tubuh Prabu Bameswara. Resi Simharaja pun segera ikut memapah tubuh sang penguasa Kerajaan Panjalu itu dari sisi kiri.


"Baratwaja, Besur dan kau Gendol..


Kalian bertiga aku tugaskan untuk menata kembali kehidupan Kota Kadipaten Selopenangkep. Lakukan pembersihan pada semua mayat dan bangunan yang rusak. Nanti akan ada orang dari Kotaraja Daha yang akan membantu kalian bertiga", perintah Jaka Umbaran segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ucap Besur, Gendol dan Baratwaja kompak bersamaan sambil menghormat pada Sang Yuwaraja Panjalu.


Sebentar kemudian, selubung kabut putih tipis menutupi seluruh tubuh Jaka Umbaran, Resi Simharaja dan Prabu Bameswara. Di kejap mata berikutnya, ketiga orang itu telah menghilang dari pandangan mata semua orang. Besur langsung menghela nafas panjang sebelum berkata,


"Yah, ditinggal lagi ..."

__ADS_1


__ADS_2